Aku dan Andela langsung memeluk erat Shania.
"Kita terima salam mereka, kok!" sahut Andela. Kedengar lagi sebuah isakan, namun sekarang dari Andela. Dan isakan berikutnya, datang dari tubuhku sendiri. Oke, jujur, aku mulai tersentuh dengan keadaan ini.
Kami melepaskan pelukan, Andela dan Shania sudah melirikku. Giliranku menjawab sekarang.
"Baiklah ... pertama. Aku ngeliat Jagad sebagai geng yang butuh perhatian. Kita bisa ngeliat kan, mereka sering banget dapet hukuman. Okelah, hukuman itu didapatkan karena ke-salahan mereka
sendiri. Dan tahukah kalian ke-salahan mereka semua dibuat cuma buat narik perhatian kita. Mereka pengin kita perhatiin. Cuma sayang, kita ngeliatnya dengan cara lain. Bahkan, kita nggak pernah ngerespons mereka kalo mereka mulai ngejek-ngejek kita. Padahal, mereka ngeharepin banget kita ngebales mereka. Jadi, seenggak-nya mereka bisa berinteraksi dengan kita."
"Tapi, kenapa mereka selalu ngeliat kita sinis. Selalu mendelik kalo kita udah di deket mereka," komentar Andela.
"Mereka itu tegang kalo ada di deket kita, Andela. Ya, sekaligus cari perhatian juga. Biasanya kan, cewek suka langsung marah kalo diliat kayak begitu. Tapi, kita tuh nggak pernah. Kita kan, cuek-cuek aja," jawab Shania, "Gue tau ini dari Boby."
Aku dan Andela berpandangan, kemudian kulanjutkan lagi bahasanku, "Kedua ... sangat pantas sekali Jagad menjadi teman kita. Alasannya sudah jelas. Alasanku sama dengan kalian. Kenapa sih, kita harus ngejauhin mereka. Nggak ngaruh, kok. Ada atau nggak ada mereka, kita tetep aja populer di sekolah."
Andela dan Shania manggut-manggut.
"Ketiga. Mungkin tinggal Key. Oke. Jujur aja, seminggu kemaren aku bersama Key, di rumahnya. Dan jujur aja, sebenernya Key nggak jijik-jijik amat ama yang namanya cewek. Sebenernya dia pengin temenan ama cewek. Cuma karena…
Aku menghentikan kalimatku.
Ups! Oh, my, God! Aku hampir keceplosan.
Alasan Key menjauhi cewek kan, karena dia childish dan manja. Dan aku nggak mungkin bilang hal ini pada Andela dan Shania.
"Cuma karena apa, Ve?" tanya Andela.
Aku berpikir keras, mencari jawaban bohong yang tepat. "Karena ... karena dia nggak pengin cewek yang lain sirik kalo dia deket ama seorang cewek!" Andela dan Shania mengerutkan alis, heran dengan jawabanku. Sedikit nggak masuk akal memang. Kesannya si Key tuh pede banget gitu loh. Tapi kan, semestinya mereka percaya-percaya aja berhubung aku seminggu ini serumah ama dia.
Untuk menghindari Andela-Shania bertanya yang macam macam, kuputuskan segera menjawab pertanyaan keempat, "Terakhir ... gimana dengan memulai dari diri kita sendiri, introspeksi diri, kemudian minta maaf sama yang lain. Nggak ada salahnya kalo kita minta maaf pertama kali meskipun kita nggak punya salah apa pun."
Andela dan Shania diam.
"Sebenernya, gue mah lebih tertarik elo nge-bahas Key," ungkap Shania.
"Iya. Urusan baikan sih, belakangan. Gue pengin banget tau gimana sih, sosok Key tuh actually? Pasti banyak cewek yang penasaran. Dan gue yakin, you know all about him. Right?" tambah Andela.
Aku sedikit tegang. "K-kalian ........ pengin tau
alasan yang gue sebutin barusan?" Aku mencoba mengungkitnya meski berharap mereka menjawab "tidak".
"Nggak," kata Shania.
"No” kata Andela.
Bagus! Harapanku terkabul. Mereka nggak begitu penasaran dengan alasan Key menjauhi cewek. Meski ternyata dugaanku meleset, mereka bilang "nggak" dan "no", sedangkan aku mengharapkan mereka bilang "tidak". Sudahlah.
"Oke ... Key tuh, jujur aja, hatinya baik. Kekurangannya cuma bandel, jahil, ngeselin, dan ... belagu mungkin. Dan kelebihannya ... kelebihannya apa, ya? Oh, iya. Kelebihannya adalah, dia punya empat kekurangan."
Kami semua tertawa, terbahak-bahak. "Yang bener aja, deh," kata Andela.
"Nggak deng, cuma bercanda, kok! Key tuh ro-mantis abis."
"Apanya yang romantis?" tanya Shania. "Apa, ya ... paling juga ... oh, iya! Dia nolongin aku dari Dino brengsek!"
Shania dan Andela tersentak kaget, tiba-tiba saja menunjukkan wajah bersalah.
"Oke, sebelum lanjut ceritanya. Gue mau marahin kalian dulu!" ujarku bernada tinggi. Shaniadan Andela memejamkan matanya. " Andela! Kenapa sih, kamu chatting ama cowok brengsek kayak Dino?! Shania! Kenapa sih, kamu ninggalin aku ama si Dino brengsek itu?!"
Sejenak, dunia terasa hening, sunyi dan senyap. Namun sejurus kemudian, helaan napas lega mulai mengisi keheningan ruangan. Shania dan Andela membuka matanya.
"Elo udah marahnya?" tanya Andela ragu-ragu.
Aku mengembuskan napas. "Hm ... oke, berhubung ternyata Key yang nolongin aku, aku jadi batal marah ke kalian. Karena aku punya kabar baik dan kabar buruk ...."
"Apa itu?" tanya Andela.
"Kabar baik, Dino itu ganteng banget. Mirip Tom Cruise, aku baru inget wajahnya ternyata mirip dia." Kuhela lagi napas berikutnya, "Kabar buruknya, dia itu brengsek banget! Dia mulai ngegoda aku, dan hampir nyulik aku. Kayaknya aku bakal dinodai olehnya. Oh, untungnya, pangeranku datang pada waktu yang tepat. Kebetulan banget, Key ada di TKP, dan bisa nolongin aku."
"Ya ampun, Ve, maafin gue, ya!"
"Gue juga dihapunten atuh."
Shania dan Andela langsung memelukku.
Inget, Ya! Itu Pelembap Muka!
AKU mengikat rambut, rapi di belakang kepala. Kuletakkan lagi sisir di atas meja dan mengambil pelembap muka. Kuoleskan ke wajah, dan meratakannya agar mukaku terlihat lebih bersinar. Nabilah muncul dari balik pintu, menatapku penasaran, lalu menghampiriku dan merebut pelembap mukaku.
"Jangan pake buat luluran!" seruku cepat sebelum Nabilah melakukan kesalahannya lagi. Beberapa hari yang lalu, Nabilah menggunakan pencuci mukaku untuk luluran. Padahal, aku baru beli. Dan dalam sekejap, isinya habis. Padahal, aku belinya yang kemasan besar.
"Ya nggaklah. Emangnya gue bodoh, apa? Ini kan, deodoran." Ardia siap mengangkat tangannya, namun aku langsung merebut pelembap mukaku dan melemparnya ke dalam laci.
"Jangan sentuh barang-barangku. Kalau ingin deodoran atau krim untuk luluran, akan kubelikan nanti. Tapi untuk sekarang, jangan ganggu
barang-barangku. Mengerti?"
Nabilah mengangguk. "Oke, janji ya! Pokoknya, aku pengin dibeliin krim untuk luluran yang mereknya Bersih Darah Sehat Datang Bulan. Elo kan, seminggu kemaren kerja. Harusnya udah punya duit, dong. Pokoknya, gue pengin di-traktir."
"Iya-iya. Sabtu nanti kita jalan-jalan," sungutku. Huh, untung aku digaji dua belas juta. Dan Rabu besok bakalan nyampe uangnya. Beli notebook lima juta-nitip ke Om Johnny, kata mama, Om Johnny masih ada di Jakarta-lalu sisanya, yaaa ditabungin sama traktir-traktir juga, deh.
"Rapi bener ... mau ke mana, nih?" tanya Nabilah heran menatapku.
"Nggak ke mana-mana, kok!"
"Aaah ... mau ketemu Bison, ya?"
Aku nggak menjawabnya.
"Kalo gitu, pasti jawabannya, iya!" Nabilah langsung lari menuju ranselnya, mengambil sebuah buku dan menyobek belasan lembar kertas kosong. "Ini untuk Afie, ini untuk Ade, ini untuk Uci, yang ini Tety, yang ini Cika, yang ini Risma, yang ini Diah, yang ini Daus, yang ini Fazar, yang ini Angga, yang ini Roni."
"Heh! Ngapain, sih?"
"Buat tanda tangan Bison, terus gue jual ke temen-temen gue bareng fotonya. Yang ini buat Mira, yang ini buat Mumu, yang ini spesial buat Endih, Gasa."
"Iiih ...!" desisku berteriak. Aku keluar dari kamar.
Huh! Sepertinya semua orang mendadak gila. Si Key tuh apa, sih? Selebritis aja bukan! Heran deh, kok, cewek-cewek tergila-gila ama dia. Modal cakep aja pake ngefans segala, sih!
Aku menuruni tangga dan menemukan Sinka, Michele, juga Ilen sedang melihat tumpukan foto.
"Yang ini lucu nih ... eh, yang ini juga ... yang ini lucu banget, deh! Liat-liat, yang ini lebih lucu lagi," gumam Sinka senang.
Aku menatap foto yang bertebaran di sekitar mereka. Hah? Foto Key semua? Foto Key dari Internet? Rajin banget deh, sampe ngeprint semuanya! Dan aku jadi heran, apa sih, maksud Sinka dengan "yang ini lucu, yang itu lucu, yang ini lebih lucu" tapi yang dilihatnya adalah foto yang sama?!
Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu.
Aku bergegas ke ruang tamu dan menemukan Key sudah berdiri di depan pintu. Dia menggeng-gam sebuket bunga di depan dadanya. Macam-ma-cam mawar.
"Selamat malam!" sapanya tersenyum senang. Aku berjalan ke arahnya, tersenyum manis menyambut kedatangannya. Namun, tiba-tiba aku teringat kejadian malam kemarin ketika aku benar-benar direkam oleh sepupu-sepupu gilaku ke-tika aku berdebat dengan Key. Makanya, aku meminta Key untuk pindah.
"Hai! Selamat malam. Eh, bisa pindah nggak? Nggak aman ngobrol di sini."
Key celingak-celinguk menatap ke dalam rumahku, lalu kemudian menatap keluar rumah. "Ada lilin sama piring kecil, nggak?" tanyanya. "Hah? Buat apa?"
"Kita ngobrol di sana. Di luar. Pake cahaya lilin gitu."
So sweet, tapi ....
"Justru di sana lebih nggak aman, Key. Nanti saudara-saudaraku pada ngerekam kita ngobrol di luar."
"Biarin aja. Nggak apa-apa, kan? Mumpung malem ini nggak dingin-dingin amat. Ayo, ada nggak?"
"Tapi, Key, aku nggak mau kita direkam lagi. Aku takut nanti rekaman kita disebarin."
"Jadi ... kamu masih ogah barengan sama aku?"
"Kamu nggak ngerti. Saudara-saudaraku selama ini berusaha ngambil image kamu. Mereka nge-print foto kamu lewat Internet. Mereka ngerekam kita, terus mereka bakal ngejual gambar dan rekaman itu ke temen-temennya di Bogor atau di Garut. Malu, kan?"
Key tertawa. "Biarin aja. Nggak apa-apa. Aku kan, jadi makin terkenal kalo gitu," ungkapnya tersenyum manis.
"Mas-mas ... tanda tangannya, dong!" tiba-tiba Nabilah muncul di belakangku, menyodorkan setumpuk kertas dan sebatang pulpen. "Yang ini untuk Afie, yang ini untuk Ade, yang ini untuk Uci ...."
Key tertawa kecil mendapatkan saudaraku ternyata sangat gila!
"Ya udah, aku urus yang ini. Kamu cari lilin ama piring kecil aja. Jumlah piringnya harus sama ama
jumlah lilinnya. Plus korek api juga."
Aku mengembuskan napas besar. "Oke," kutoleh-kan mukaku menatap Nabilah. " Nabilah, awas ya, nanti kamu jangan ganggu kita. Inget itu!" ancamku.
"Sumpah! Gue nggak pake benda tadi buat deodoran balas Nabilah ketus.
Aku berbalik dan berjalan menuju dapur. Di bawah tangga, aku menemukan Sinka tergeletak, dan Michele sedang mengipasinya.
"Kenapa ama si Ovie, Le?"
"Itu tuh, ngeliat si Key. Malahan pingsan coba. Biasa aja deh, ah." Michele kembali mengipasi Sinka.
Ya-iyalah, Michele kan, udah sering ngelihat Key karena dia satu sekolah ama kita.
Aku melanjutkan langkah menuju dapur dan menemukan Ilen sedang menyantap puluhan kerat nanas. "Hm ... enak-enak!" ungkapnya nikmat, dengan mulut yang manyun dibuat-buat.
Huh! Ternyata sepupuku giia semua!
Lima belas menit kemudian ...
PENGGANGGU teratasi, diiming-imingi foto bareng Key, mereka nurut juga buat nggak akan ngeganggu kita selama satu jam ke depan.
Key dengan manisnya memasang tujuh lilin, yang kutemukan beserta piring kecil pola senada, yang kebetulan jumlahnya tujuh juga. Lilin itu dipasang di atas piring kecil. Dan ketujuh piring berlilin itu diletakkan di atas kap mobil Key, melingkar.
"Kamu ngapain, sih?" tanyaku heran, berdiri di
samping pintu mobil.
"Kamu cepet naik!" Key lalu melompati mobil, dan naik ke atas kapnya. Kemudian dia duduk bersila, lalu membantuku naik.
"Ini nggak apa-apa, Key?" tanyaku khawatir.
"Nggak apa-apa. Nggak usah cemas."
"Ntar lilinnya jatuh ke mobil ngerusak cat, lho!"
"Alaaa ... cuma cat ini, kok! Paling juga ngeganti catnya lima jutaan. Aku udah biasa mecahin guci tujuh juta, lho!"
Aku menggeleng pelan. Dasar orang kaya!
HOP! Aku berhasil menaiki kap mobil sekali berpijak, dan langsung duduk bersila di atasnya. Key duduk di hadapanku. Dan di antara kami, terlenggak tujuh lilin yang disimpan melingkar. Semuanya menyala sehingga aku bisa menatap wajah ganteng Key dalam remang-remang cahaya lilin. Apalagi bintang malam ini lagi muncul munculnya. Sungguh sangat menambah keromantisan dan kehangatan malam ini.
Kemudian, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol tentang banyak hal. Key ngomongin gimana kabar Mbok Jess, Nince, Bu Nira, bahkan Pak Agus. Juga kabar tentang dirinya yang mulai berubah. Atau, aku ngomongin tentang cowok brengsek bernama Dino. Obrolan kami sungguh akrab dan mengasyikkan.
Kemudian, kami berdua terdiam. Kami tenggelam dalam keheningan dan kesunyian. Obrolan kami terhenti dan aku tertunduk, nggak tau harus melakukan apa-apa lagi.
" Ve," kata Key merayu.
Aku mendongak, tersenyum menatap wajahnya. Iiih! Ganteng banget!
Adakah hal yang lebih romantis dari ini? Oke, ada. Leonardo Dicaprio di atas kapal Titanic beserta Kate Winslet. Namun, berhubung Leonardo nggak pernah meneleponku untuk mengajakku naik kapal Titanic dan memintaku untuk merentangkan tanganku di bagian depan kapal, sepertinya momen malam ini yang paling romantis dalam hidupku.
Duduk berdua, berhadapan di atas kap mobil mewah aku masih belum tau merknya sampai saat ini, sepertinya keluaran luar negeri yang diimpor khusus oleh Key karena bentuknya sangat canggih dan aku baru menemukan ini di Ban-dung. Dengan tujuh lilin putih menyala. Di bawah taburan bintang di angkasa, beserta bulan yang kebetulan purnama. Dan ... kehangatan senyuman Key.
"Aku punya hadiah buat kamu," ujar Key manis.
"Oya? Apa?" tanyaku agak genit.
Key turun dari mobil, mengambil sekotak besar kardus entah berisi apa, lalu duduk lagi di kap mobil, di hadapanku. Key mulai senyum-senyum mencurigakan.
"Ini ... buat kamu ... maksudnya, buat utang kamu," ujarnya, menyerahkan sebuah bingkisan kado segi empat yang dibungkus menarik.
Aku mengernyitkan dahi, tersenyum janggal."Apaan ini? Utang apaan?"
"Buka aja," pintanya.
Aku merobek pelan-pelan bungkus kado itu. Dan
menemukan ... ya ampun! Notebook!
Aku melongo menatap Key, nggak percaya dengan
apa yang diberikannya.
" Key... apa ini?" tanyaku masih nggak percaya.
"Itu notebook. Masa nggak tau, sih!?" ujar Key mengernyitkan dahi.
"Maksudku ... apa-apaan ini? Kamu ngasih ini buat aku?"
"Bukan. Sebenernya bukan buat kamu. Itu buat Naomi."
Wajahku langsung datar. Ya ampun, kirain buat gue!
"Tapi tenang aja. Aku punya yang lain buat kamu." Key mengambil lagi bingkisan kado lainnya dari kardus. Berbentuk hatHove berwarna pink dengan pita merah. Ternyata bungkusnya dari kain beludru. "Yang ini khusus untukmu."
"Apa ini?" tanyaku, menerima sodoran kado itu.
Ya ampun, lembut banget. Kado ini dibungkus dengan beludru, ditambah bulu-bulu halus yang lembutnya biasa kurasakan pada boneka kucing.
Oh ... bungkus kado ini harus kusimpan.
Aku mencari cara membuka kado ini. Oh, ada resletingnya! Ya ampun! Notebook lagi! Dan ... notebook-nya lebih canggih, lebih unik, lebih manis, cewek banget!
" Key!" Aku nggak percaya.
Dia tersenyum sangat manis. Jadinya, aku pun tersenyum manis, manja, dan sangat berterima kasih.
"Ini buatku?"
"Ya iyalah, buat kamu. Buat siapa lagi? Dan bunga ini ... eh, mana bunganya? Ya ampun, bunganya diambil ama saudara kamu." Key panik, menepuk dahinya sendiri.
"Nggak apa-apa, kok!" Aku memeluk notebook baru.
Biarin aja kali........ mahalan mana sih, bunga
ama notebook ini?!
Key menatapku serius, kemudian membungkuk, membuat keadaan menjadi semakin mendebarkan. Aku nggak sabar menunggu, seandainya ada kejutan lain. Tapi, senyuman Key yang sangat manis, dan tatapannya, membuatku harus menyadari bahwa keadaan sedang benar-benar serius sekarang.
" Ve…” panggil Key lagi, pelan, merayu lagi.
Aku menoleh menatapnya dan memeluk notebook baruku erat.
"Kamu ... kamu mau maafin aku, nggak? Maafin aku yang ... selama ini selalu ngejek kamu, ama temen-temen kamu. Aku yang mungkin, nyusahin kamu, ngeselin kamu, yang ... pokoknya bikin kamu repot."
Aku tersenyum. " Key.... aku nggak pernah marah sama kamu, kok. Kamu nggak usah minta maaf. Jujur aja ... aku nggak ngerasa repot ada di sekitar kamu. Kamu mau ngejek aku kek, mau ngeselin aku kek, mau ngapain juga kek, nggak akan ngaruh, kok. Kamu bisa lihat kan, aku juga Tweenies, nggak pernah nanggepin ejekin kalian. Kami tuh nggak peduli. Lagi pula sebenernya, kami
seneng, kamu ama temen-temen masih nyoba buat interaksi ama kami ... meskipun ngejek, se-enggaknya kita berinteraksi. Nggak terlalu perang dingin amat."
Key mengerutkan alisnya. "Kalian nggak marah?"
Aku menggeleng, lalu tertawa kecil.
"Terus ... apa kita ... bisa ... berteman?" lagi-lagi, Key bertanya hal tersebut.
Aku mengernyitkan dahi. "Emangnya hubungan kita selama ini apa?"
"Ngngng ... hubungan antara babysitter dan baby-nya."
Aku tertawa lepas, terbahak mendengar pernyataan itu. Key malah bingung. "Ya ampun ... Key. Udah aku bilang kan, aku bukan babysitter kamu lagi. Aku ini udah jadi temen kamu lagi. Temen sekolah kamu."
Key menunduk sedih. "Hanya ... temen sekolah?" tanyanya agak kecewa.
"Emangnya, kamu pengin kita temenan kayak gimana?" kataku balas bertanya, mengerutkan alis.
Key menyeka bagian belakang rambutnya kemudian menatapku lagi penuh harap. "Aku, kan ... pengin kita jadi temen dekat."
Aku sedikit cekikikan, kemudian menggerakan kobaran api di atas lilin. "Oh, kamu pengin kita sobatan?"
Key mengangguk-angguk senang. Wajahnya lebih baikan kali ini. Meskipun masih diisi dengan raut penuh harap.
"Yaaah ... kenapa nggak?!" jawabku tersenyum.
Key tersenyum riang. Dia sangat senang. Kemudian berikutnya, dia memandang lilin itu penuh ide.
"Kebetulan, nih!" seru. Key Kerutan dahinya menunjuk ke tujuh lilin di hadapan kami. "Lilinnya ada tujuh, jadi Kemudian Key mengatur-atur lilin itu.
Tiga lilin diletakkan di hadapanku, tiga lilin di hadapannya, lalu satu lilin yang paling besar diletakkan di tengah. "Masing-masing sebutin our wish. Lalu, tiup satu lilin, dan pindah ke lilin berikutnya. Sampe tiga lilin di depan kita padam. Dan ... satu lilin di tengah, kita tiup bersama, sambil ngucapin 'semoga Tuhan mengabulkan doa kita', mengerti?"
"Apa-apaan, sih?"
"Ayo, dong! Nggak apa-apa,kan? Dikabulin, syukur. Nggak dikabul juga nggak apa-apa. Seenggaknya, kita bisa saling tau keinginan masing-masing. Sobatan kan, harus terbuka."
"Nggak, ah. Nanti kita jadi serasa menyembah pada lilin ini, meminta-minta pada lilin ini."
"Ya ampun. Nggak dong, Ve. Kita nggak minta buat lilin ini ngabulin permintaan kita. Kita cuma berdoa pada Tuhan, diomongin, lalu tiup lilin ini, sebagai tanda bahwa kita udah ngasih tau keinginan ini pada dunia."
Aku tersenyum. Oke, aku mengerti. Nggak akan ada unsur magis di sini. Nggak juga musyrik pada Allah. Ini hanya permainan. Nggak terlalu berpengaruh.
"Oke ... siapa dulu?" tanyaku. "Kamu dulu," pinta Key.
Hm ... minta apa, ya? Aku nggak mau minta sesuatu yang aneh. "Ngngng ... aku pengin ... ada-nya perdamaian abadi di muka bumi ini. World Peace. Nggak ada perang. Nggak ada persaingan yang nggak sehat. Semua orang saling membantu dan saling menyayangi."
Fffuuuihhh. Aku meniup lilin itu. Dan apinya langsung padam.
"Giliranku!" Key membungkuk dan menutup matanya. "Aku pengin ... semua geng di sekolahku, berhenti bermusuhan. Aku ingin Mozon nggak lagi angkuh, Rebonding Galz nggak lagi galak, Kompilasi kembali baur sama murid lain. Aku ingin Jagad nggak lagi bandel, jahil, dan mengejek-ejek murid lain. Aku ingin semua murid di sekolahku muncul, menyalurkan kreatifitasnya buat hal positif, mengharumkan nama sekolah. Khususnya, aku ingin Tweenies, tetap hidup dalam keabadian, berprestasi, rame, cantik, dan rendah hati pada setiap orang."
Key meniup lilin itu, kemudian membuka matanya dan memandangku.
Ya ampun ... permintaannya sama banget dengan apa yang aku dan Tweenies minta tadi siang di rumah Andela.
Aku lalu memejamkan mata, dan meminta lagi, "Aku ingin hari-hari berikutnya yang semua orang di dunia ini hadapi, adalah hari-hari yang hangat, indah, dan nyaman. Aku ingin hari-hari berikutnya adalah hari yang penuh dengan cinta dan kasih
sayang."
Aku meniup lilin itu dan membuka mata. Rupanya, Key udah menutup mata lagi dan siap buat permintaan keduanya.
"Aku ingin ... cewek yang duduk di depanku sekarang, setiap malamnya, selalu diberikan mimpi-mimpi yang indah dalam tidurnya. Sehingga di setiap paginya, cewek ini bangun dengan segar, dan bersiap untuk melindungi bumi ini dalam kasih sayang dan cintanya." Key membuka matanya sekilas, menatapku, tersenyum, lalu menutup matanya lagi, "Namanya Ve," bisik Key, bergumam.
Key meniup lilin itu hingga padam, membuka matanya. Aku tersenyum menatap wajahnya, juga sedikit geli dengan permintaannya barusan. Kugelengkan kepala, dan bersiap dengan lilin terakhir.
Hm ... apa, ya?
"Ngngng ... aku ingin ... cowok yang duduk di depanku sekarang, dan aku, selalu berhubungan baik ... selamanya."
Kutiup lilin itu, dan menatap Key. Aku bersiap mendengarkan permintaan terakhirnya.
Sampai saat ini, menurut hipotesisku, Key selalu mengkhususkan permintaanku. Perdamaian dunia, dikhususkannya menjadi perdamaian antar geng di sekolah. Hari-hari yang indah penuh dengan cinta, dikhususkan menjadi mimpi-mimpi indah penuh dengan cinta. Sekarang, seandainya Key akan mengkhususkan lagi permintaan ketigaku, I'm
wondering, what he wiii wish now____
Key memejamkan matanya, "Aku ingin ... cewek yang sekarang duduk di depanku ... akan menjadi ... kekasihku ... selamanya."
Key meniup lilin itu, kemudian tersenyum menatapku.
Aku sedikit tersentak mendengar permintaannya barusan.
Oh-my-God! Key... menginginkanku ... untuk menjadi kekasihnya?! Ya ampyyyun! Kukira hanya Shania yang menerima cinta Boby kemudian berpacaran. Kukira hanya Andela yang ditembak jadian sama Hamids malam kemarin. Ternyata sekarang Key menginginkanku menjadi kekasihnya? Hah? Apa-apaan ini? Ya ampun ... bisa-bisa nikah massal nih antara Jagad ama Tweenies. Nggak kebayang deh, kalau BIP sekarang bakal nemuin, Jagad berpasangan ama Tweenies. Hihihi ...!
"Lilin terakhir, kita ucapin bareng-bareng ... 'se-moga Tuhan mengabulkan doa saya barusan, oke?"
Dengan ragu, aku mengangguk. Kami pun membungkuk, dan mengucapkan kalimat permintaan kami untuk lilin terakhir.
"Semoga Tuhan mengabulkan doa saya barusan ...!"
Fffuuuihhhf Lilin itu kami tiup berbarengan.
Lilin pun padam, lalu kami berpandangan. Wajah Key sedekat ini. Dia benar-benar di depanku. Nyata. Dia sedekat ini ....
Tiba-tiba, muncul sebuah tangan dan mencubit
hidungku, "Kamu ngegemesin banget, deh!" goda Key sambil tersenyum.
Aku yang menggeleng-geleng karena hidungku dicubit, langsung memberontak. Kubalas dengan mencubit hidung Key pula, hingga kepalanya menggeleng dan menunjukkan wajah bodoh.
Buuuk!
"Heh! Kalian teh sedang ngapain di situ? Malam-malam begini berpacaran saja. Pake cubit-cubitan lagi!"
Aku dan Key tersentak kaget mendengar suara barusan. Kami langsung menoleh, dan mendapatkan Bu Lina berkacak pinggang di bawah kami.
"Kalian teh bukannya belajar, malah pacaran di atas mobil. Nggak kedinginan kalian teh? Ih, Ibu mah heran, kenapa sih, baru aja pulang dari pengajian di rumah temen Ibu, malah menemukan murid-murid Ibu pacaran di atas mobil."
Ups, ada Bu Lina. Hehehe ... kebetulan banget. Huh, seharusnya ada lilin kedelapan untukku meminta "jangan ada yang mengganggu kami, siapa pun juga, termasuk wali kelas kami".
#
3 IPA 4
KUKEJAR kupu-kupu itu meski ternyata aku nggak berhasil. Kupu-kupu itu langsung melayang di antara bunga-bunga bagian lain.
Hm ... padang bunga yang sejuk. Di mana lagi aku bisa menemukan tempat seindah ini?
Key menyeretku ke bagian padang bunga yang lain. Kulihat dari kejauhan, Nabilah , Sinka, Michele, Elaine lagi asyik memetik bunga matahari.
Heh, Nabilah , jangan menyisipkan bunga mata-hari di telingamu. Nggak pantes!
Lalu di bagian lain, Shania dan Andela berbaring, asyik ngobrol, tepat di tengah kumpulan bunga tulip. Nince dan Mbok Jess juga berkejaran di antara anggrek liar berwarna ungu. Kulihat pula, mama dan Bu Nira tengah asyik minum teh di padang rumput ... oh, sungguh indah ... fenomena yang indah.
Dan Key, di sampingku, kini benar-benar me-lindungiku. Dia akan memerhatikan aku, akan men-jagaku ... begitulah ikrarnya sebelum aku benar-benar menerima cintanya.
Aku membuka mata. Huh! Mimpi lagi. Mimpi indah yang terulang. Oh ... kenapa sih, sejak permainan tujuh lilin itu, malam-malamku selalu diisi dengan mimpi yang indah ?
Tik, tok, tik, tok! Detak beker membuatku bangkit, dan mematikan beker yang akan nyala lima menit lagi.
Hm ... ternyata aku bangun lebih cepat daripada bekerku sendiri. Aku turun dari tempat tidur, lalu memakai sandal. Oh, menyedihkan. Aku nggak nemuin lagi Nabilah , Sinka , Michele, juga Elaine yang bertindihan di atas ranjang ini.
Pagi yang biasanya ramai, kami isi dengan teriakan-teriakan, "Siapa yang menjatuhkanku semalam?", "Siapa yang menendang perutku semalam?", "Siapa yang mengambil bantalku semalam?" kini harus kulewati dengan sepi. Seperti hari biasanya. Kamar yang kosong. Hanya ada aku, selimut tebal berwarna cokelat, juga lahan yang kini terbuka luas untuk tidurku.
Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke sekolah, sebagai kelas tiga SMA. Saudara sepupuku udah pulang kemarin. Sekarang rumahku benar benar sepi dari sepupuku yang gila semua.
Oke, aku marah saat tau Nabilah make pencuci mukaku buat luluran. Tapi, botol kosong pencuci muka itu yang masih tersimpan di kamar mandi, membuatkan aku kenangan-kenangan manis tentang. Nabilah Botol itu membuatku merindukannya.
Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang membuntutiku ke mana-mana. Cewek yang sok tau
dan selalu ingin tau. Cewek yang selalu duduk di antara orang lain. Pokoknya yang judes, tapi fun dan bodoh! Oh, aku nggak akan menemukannya lagi.
Sinka? Yah, kabel modem yang ketinggalan dimeja riasku, mungkin menjadi barang yang akan mengingatkanku padanya. Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang selalu kejedug pintu dan memarahi, "Siapa yang pasang pintu di sini?". Cewek yang selalu jatuh dari tangga dan berteriak, "Siapa yang pasang tangga di sini?".
Hm ... udah deh, nggak usah terlalu dipikirin. Aku yakin, liburan semester nanti, mereka pasti maen lagi ke sini. Aku yakin itu.
Apalagi setelah tau, aku mulai menjalin hubungan serius sama Key. Sepertinya, mereka akan bersemangat datang ke sini.
SEKOLAH dipenuhi anak SMA kelas satu yang masih berseragam SMP. Ya, sekarang hari pertama Masa Orientasi Siswa alias MOS. Dan beruntungnya, nggak ada kegiatan belajar mengajar untuk kelas tiga dan kelas dua. Yang ada hanyalah pengumuman pembagian kelas.
Oh, aku nggak sabar akan sekelas dengan siapa tahun ini. Masihkah dengan Andela dan Shania? Aku harap iya. Kami bertiga memang masuk IPA. Jadi, kemungkinan sekelas sangat besar. Dengan Key sih, nggak mungkin. Dia masuk jurusan IPS. Atau kecuali, dia minta pemindahan jurusan di atas materai, dan berkemungkinan berkompetisi sama aku di IPA.
Mading khusus kelas tiga dipenuhi murid. Semua murid berebutan melihat namanya masuk ke kelas mana. Aku hanya mengirimkan utusanku, Andela, buat ngecek nama kami ada di kelas mana. Dan dalam lima menit, Luna keluar dengan wajah aneh.
"O-ouw ungkapnya pertama kali. "Kita kita ... sekelas lagi!"
"YESSS!" Shania meloncat senang karena kami bertiga sekelas lagi.
Ya ampun ... tiga tahun, Kita semua sekelas. Hm ... pasti karena pihak kurikulum tau, kita ini satu geng, berprestasi, jadi ... kenapa juga nggak disatuin dalam satu kelas terus? Hehehe .... Ya, ampun! Makasih ... mudah-mudahan nggak berubah.
"Kita di kelas mana?" tanyaku.
"Di 3 IPA 4. Tapi ... ada kabar lain lagi ..." Raut muka Andela benar-benar serius kali ini.
"Kenapa?" tanyaku dan Shania berbarengan.
"Wali kelas kita ... lagi-lagi ... Bu Lina."
AKU menenteng notebook yang masih dibungkus kardusnya itu. Kutemui Naomi yang lagi duduk ba-reng Rebonding Galz di kantin. Aku langsung ber-diri menghampiri mereka, tepat di samping meja.
"Hai!" sapaku melambai pada mereka.
Rebonding Galz kaget, malah menatapku sinis dan mengejek. Ada jerapah nyasar kesini?DEemudian mereka tertawa-tawa, mengejekku.
Aku ... jerapah? Setinggi apakah aku di mata mereka ?
Aku yang sebetulnya kesal, mencoba tersenyum manis pada mereka. " Naomi... notebook kamu," ujarku terhenti.
Naomi langsung berdiri, menyilangkan tangannya di depan dada. "Hm ... tepat janji juga, ya? Mana?!" pintanya ketus, mendongak.
Ya ampun! Liburan dua minggu, tingginya nggak bertambah!
Aku mengangkatnya, namun nggak menyerahkannya. "Ada di sini. Tapi, sebelum aku ngembaliin notebook ini ...." Aku langsung mengulurkan tangan ke arah mereka, "Aku ingin minta maaf sama kalian. Aku ingin ... kita semua ... nggak musuhan lagi. Aku ingin ... selama setahun ke depan ... kita jalanin tahun terakhir kita di sekolah ini ... tanpa permusuhan satu pun." Aku memiringkan kepala, tersenyum manis sama mereka.
Semua personel Rebonding Galz langsung saling melirik, kemudian ... menertawakanku. "Ya ampun ... belum Lebaran Neng, ya?! Hahaha Mereka
menertawaiku lagi, mengejekku.
Sebetulnya aku gondok, kesal, marah, dan sakit hati. Ya ampun, udah baik-baik gini masih diejek juga? Dasar nggak tau diri. Awas, ya! Ntar, kalo aku
Tap! Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku, sambil menggigiti kukunya.
Aku menoleh dan mendapati Key yang tersenyum manis dan menatapku mesra. Kemudian, Key menoleh ke Rebonding Galz. "Sayang, kalo mereka nggak mau minta maaf, sih ... nggak usah
dikasih notebook-nya."
Sontak, lima anggota Rebonding Galz kaget melihat fenomena di depannya.
Seorang Bison mendekati Dearest-nya Tweenies?.'
Kutemukan mereka mangap lebar, membiarkan beberapa lalat masuk, gara-gara melihat aku didekati Key.
Nggak hanya mereka yang melongo. Ternyata, kutemukan juga beberapa murid lain di sekitarku.
Tiba-tiba, sengaja kumainkan hidung Key dan kupencet-pencet gemes. Semua yang melihat sangat heran.
Kuletakkan notebook itu di atas meja, "Biarinlah terserah. Nggak nerima maaf juga nggak apa-apa. Yang penting, aku udah minta maaf," sahutku sedikit kecewa.
Rebonding Galz rupanya nggak mendengarkan perkataanku barusan. Mereka lebih tertarik memandang wajah Key , yang ternyata bisa berada se-dekat mereka, ditambah lagi bersamaku. Hihihi ... tiba-tiba pikiranku serasa menang. Aku serasa udah mendapatkan semuanya. Ya, setelah cowok paling dikejar-kejar di sekolah itu berada di bawah asuhanku dua minggu lalu. Sekarang, cowok itu sangat dekat denganku.
Key memainkan rambutku. Kutarik tangannya untuk lepas, namun ....
Buuuk!
"Kalian teh di mana-mana pacaran saja. Nggak bosen kalian teh?" Bu Lina menggebrak meja,
berkacak pinggang lagi layaknya semalam.
Aku dan Key langsung bangkit tegak. Kami memandang Bu Lina penuh senyum dengan raut muka bertuliskan; "Nggak di mana-mana kok, Bu". Dan, aku masih bisa merasakan tangan Key memegang rambutku, menarikku mendekatinya.
"Ibu mau ikutan?" tawar Key tiba-tiba. Aku sempat mendongak menatapnya heran. Tapi, Bu Lina malah tertawa-tawa.
"Ibu harus ikutan? Ah, nggak usah. Ibu mah nggak mau selingkuh dari suami Ibu. Cukup dengan suami Ibu saja Ibu mah." Bu Lina menggeleng geleng sambil tersipu. Aku dan Key mengerutkan alis, heran, maksudnya si ibu apaan, sih?
"Bu Foto, Bu. Foto!" seru Luna dari belakang, mengambil fokus kami pake HP kameranya.
"Apa? Foto ini teh?" Bu Lina kaget dan mendadak membetulkan kerudungnya. "Sebentar atuh1."
"Sini, Bu!" Key menarik Bu Lina untuk berdiri di sampingnya.
Kami bertiga berfoto. Aku berada di kanan Key, Bu Lina di kirinya Key.
Klik. Klik.
Dua kali Luna nge-shoot kami. Hasil fotonya bagus. Dan Andela bilang, mau nge-print besok.
"Makan, yuk! Di sana!" seru Shania, kemudian duduk di kursi panjang.
Ternyata Ricky udah duduk di sampingnya, mengetuk-ngetuk meja menggunakan telunjuk, mencoba menciptakan sebuah irama.
Penghuni kantin lagi-lagi kaget. Another Tweenies with another Jagad. Dan, melihat keadaan itu, Shania malah membuat keadaan semakin menjadi-jadi. Shania tiba-tiba mencubit pipi Boby, gemas, menggeleng gelengkannya lucu. Boby hanya menunjukkan tampang culun, namun Shania tertawa-tawa geli.
Tiba-tiba, Hamids datang dan mencolek bahu Andela. Andela menoleh sekilas, tersenyum sama Hamids, lalu menatapku. Muncullah senyum-senyum kecil dari bibirnya, nggak tahan pengin teriak.
"Argh!" Andela berteriak kecil, dia langsung merangkulku. "Gue udah ... jadian!" bisiknya. "Kemaren ...!"
Kami berdua pun meloncat-loncat di tempat, seperti Sandra Bullock dalam film Miss Congeniality 2: Armed and Fabolous. Akhirnya, pasangan massal jadi juga, nih. Tweenies menjalin hubungan sama Jagad.
"Ayo! Makan!" Key udah mesenin sepiring nasi goreng hangat, lengkap dengan telur dan ayam suirnya. Kerupuk-kerupuk kecil pun ditaburkan di atasnya.
Kami semua duduk berpasangan, dan Bu Lina nyelip sendirian. Semua melahap makanannya, bahkan Bu Lina yang pertama kali habis. Bersih banget piringnya! Diikuti Boby, kemudian Hamids. Dan,Key di belakangnya. Anak-anak Tweenies sih, mana mungkin makan dalam waktu secepat itu. Semuanya pada jaim.
"Lihat, nih! Kalo makan tuh, harus bersih kayak gini!" Bu Lina menyodorkan piringnya ke tengah.
Wow! Bersih. Sama sekali nggak ada remah nasi.
Nggak ada lauk yang disisakan. Saking bersihnya, piring itu kayak yang baru dicuci. Wah-wah, jangan jangan perusahaan sabun cuci bangkrut kalo semua orang kayak Bu Lina.
Plis deh, bersih banget gitu lho!
Pineapple Juice, Sweet and Spicy
NYERITAIN tentang seorang cowok yang lahir di keluarga kaya. Sebelum cowok itu lahir, ayahnya punya tujuh istri, dan ibunya istri kedelapan. Tujuh istri yang lain meninggal karena penyakit, dan masing-masing meninggalkan satu anak yang sehat.
Ibu cowok ini nggak berpenyakit, dia sehat. Namun, punya anak berpenyakit. Memang bukan penyakit biasa. Cowok itu tumbuh menjadi anak bandel, manja, kekanakan, jahil, pokoknya butuh perawatan khusus kalo pengin dia jadi anak yang manis.
Sang ibu rajin menyewa jasa pengasuh anak, mencoba membuat anaknya berubah. Namun, nggak satu pun berhasil. Hingga akhirnya, temannya cowok itu sendiri menjadi pengasuhnya, gara-gara ingin memiliki gaun untuk ke prom night akhir bulannya. Dia cewek berperangai baik, sabar, telaten, dan memiliki banyak ide. Lalu di akhir masa
kerjanya, cewek itu tau kalo sang cowok menyukainya. Terjadilah semacam getaran hangat, cinta, di antara mereka, dan ... mereka menjadi sepasang kekasih.
Cowok itu melamar si cewek dengan gaun merah yang indah yang jadi cover novel ini lalu mereka berdua datang ke prom night bareng.
Di akhir cerita, akhirnya aku ngerti apa maksud dari judul Pineapple Juice, Sweet and Spicy. Layaknya nanas, sebelum dikupas, kalo kita menggenggamnya, kita akan merasakan duri-duri menggelikan di telapak tangan kita. Ketika ber-bentuk jus, kita akan merasakan serabut serabut menggelikan di telapak tangan kita. Rasanya pun terkadang manis, terkadang sepat-sepat pedas khasnya nanas. Dan hubungannya dengan cerita itu adalah, cewek itu mesti merasakan manis dan pedasnya bekerja, duri dan serabut menggelikan, sebelum akhirnya mendapatkan gaun merah itu.
Yup, semula aku nggak ngerti, kenapa pineapple juice cover-nya gaun merah.
Dan, entah kenapa, aku ngerasa cerita di novel ini sama banget dengan yang aku alamin beberapa minggu ke belakang. Hanya berbeda sedikit.
Aku meletakkan buku itu di rak tempat buku ini tempo hari. Ah, kutemukan juga celah itu.
"Makasih, ya, Bu!" ucapku, sambil berjinjit dan menyimpannya.
Bu Nira yang sedang mengetik di notebook-nya, hanya mengangguk dan tersenyum. "Kamu juga boleh pinjem yang lain, kok!"
Aku tersenyum dan bergegas keluar ruangan. Sebelum nyamperin Key, HP-ku bergetar. Nabilah meneleponku.
"Halo sapaku.
"Oh, Ve. Gue nggak nemuin pelembap sama pencuci muka kayak punya elo di Pameungpeuk sini. Bisa nggak, elo kirimin ke gue lewat paket pos?"
"Bukannya Sabtu kemaren udah aku beliin krim luluran sama deodoran baru? Ditambah maskara putih lagi."
"Beliin lagi, dong!"
Aku mendengus. "Oke, yang mereknya apa?"
"Ngngng ... pencuci muka mereknya Kaki Sehat Mulus dan Indah, terus pelembapnya merek Panu Jangan Dipikirin."
"Iya-iya ... ntar aku kirimin, deh ... tapi kalo nggak ada, aku beliin merek lain aja, ya?"
"Boleh, deh. Tapi yang mahal, ya! Jangan lupa kirimin bonnya. Aku mau ngelihatin harganya ke temen-temenku."
"Iya-iya ... udah, ya! Aku lagi sibuk, nih!"
"Daagh...."
Aku pun memasukkan HP ke dalam saku dan menggeleng-geleng.
Huh, dasar gila! Dari mana sih, nama merek yang dia sebutin tadi?! Seenaknya aja bikin brand sendiri. Kayak yang bagus aja!
Key menghampiriku. "Yuk, kita pergi ... huh, nggak sabar nih, pengin cepet-cepet maen di pantai.
"Ayo…..:*"
And love has just beginning ... It would start with beautiful... Without ending, but immortal...
To someone that took my mind ... To someone that fill my heart... To someone that had the best smile
I love you
Tidak ada komentar:
Posting Komentar