Rabu, 15 April 2015

Love Story 2



Mama lagi-lagi acuh. Menggeser sedikit posisi
duduknya, sama sekali nggak menasihati keponakannya yang sangat menyebalkan dan nggak sopan ini.
"Elo juga geser dong, ah! Sempit nih ...!" tambah Nabilah.
Ingin sekali aku mengatakan, "Pindah dong, ke sofa sana supaya lega!" tapi aku memutuskan nggak melontarkan kalimat itu, karena aku malas, nggak mau adu mulut, dan sepertinya jangan kalo ingin mempertahankan hubungan baik antara dua sepupu.
Tiba-tiba lagi, Nabilah mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu menaruhnya di atas pahaku. Satu kaki yang berbalutkan celana jins warna gelap, dan pahaku harus menopang kakinya? Dasar, nggak sopan!
Aku menoleh menatap Nabilah. Dia balas menatapku. Tatapannya tajam, sinis, dan selewat menakutkan. "Sori, ya ... jangan pijit-pijit kaki gue. Gue nggak pegel, tau?!" ujar Nabilah.
Aduh, ya! Plis deh, ah! Siapa sih, yang niat mijitin kaki kamu? Ih, kucing tetangga aja kayaknya ogah ngeiihatin muka kamu! Apalagi betisnya.
Aku yang kesal, malah memijitnya dengan keras. Nabilah sempat tersentak geli waktu aku meremas remas betisnya, kemudian dia terdiam dan menatapku tajam.
"Coba-coba, tumitnya juga, dong! Yang agak bawahan mijitnya."
Iiih ... nyebelin!!!
Kuhempaskan kakinya dan bangkit meninggalkan
sofa.
Ya ampun, malem-malem gini udah muncul orang kayak gini? Dewi Fortunaku lagi liburan ke mana sih, sampe-sampe malam ini aku nggak dapet keberuntungan sama sekali? Huh, pusing deh, aku!
Aku berjalan ke arah tangga, hendak menuju kamar kembali. Dari anak tangga paling bawah, aku dapat melihat Sinka baru mau turun dari atas. Namun ....
Sleeet ... duk-duk-duk ... gubrak-gebruk! Brang-breng-brong. Buuuk ... gedebug!
Sinka terpeleset tangga. Berguling-guling sebentar, namun berhasil menahan dirinya di tangga keempat. Itu pun dalam keadaan terduduk.
"Awww! Sapa sih, yang naro tangga di sini?! Ngebahayain jalan aja, deh!" erangnya.
OKE. Pukul delapan pagi, aku harus udah ada di alamat ini. Bu Nira menungguku. Hari ini pertama aku bekerja, dan nggak akan pulang selama satu minggu. Sebetulnya boleh, sih. Kalo putranya udah tidur, aku boleh pulang. Tapi, harus udah kembali sebelum putranya bangun. Lumayan menyusahkan dan menyulitkan hidup. Tapi ya ... setara deh, ama gaji dua belas juta.
Aku menghempaskan ransel di dekat pintu dan memeluk mama sebentar. "Doakan aku berhasil, Ma! Aku yakin hari ini adalah hari yang akan mengubah hidupku."
"Ya-ya. Mama selalu mendoakan kamu. Semoga kamu berhasil mengatasi semua masalah. Nggak
terlalu pagi nih, berangkatnya? Ini masih jam lima pagi, lho!"
"Hrn ... bagus, dong! Jadi, Ardhya nggak akan ikut ke mana aja aku pergi. Mama masih inget kan, tahun baru lalu ketika kelasku ngadain acara ke Yogya? Dia ngotot pengin ikut. Mana dia nggak mau bayar lagi! Ngapain juga coba maksain ikut acara kelasku?!"
Mama tertawa kecil, dan mengelus pundakku, " Nabilah masih tidur?"
"Ya, sama Sinka. Semalem gerah banget. Aku harus bagi ranjangku sampe tiga. Mending kalo tidur di atas kasur bangunnya di atas kasur juga. Malam tadi, aku tidur di atas kasur, tapi bangun di bawah kasur. Entah gimana ... aku bisa jatuh tapi nggak kerasa."
"Ya udah, kalo kamu pengin ngehindarin diikutin Nabilah, pergi cepet-cepet. Jangan lupa kirim SMS, ya!"
"Oke, Ma. Aku pergi dulu, ya! Daaagh ...!" Aku melambaikan tangan pada mama.
Mama membalas. Kuangkat ranselku dan bergegas meninggalkan rumah. Oh, aku akan meninggalkan rumah ini selama seminggu. Nggak dapat dibayangkan. Aku harus meninggalkan kamar sementara. Aku harus meninggalkan Tweenies sementara. Aku harus meninggalkan dunia luar sementara. Ya Tuhan, mudah-mudahan tuh bocah hobi nya tidur, jadi aku bisa pergi lebih sering.
Lima belas menit kemudian, aku udah berada di teras depan rumahShania. Beruntungnya aku, Shania
udah melihatku dari beranda teras second story rumahnya.
Aku dapat merasakan Shania sedang berlari kencang, menikung menuruni tangga rumahnya. Suaranya yang berisik ingin membuka pintu depan, juga teriakan-teriakan pembantu agar nggak membuka pintu.
"Hai! Hosh ... hosh!" Shania terengah-engah.
Aku tersenyum riang, ramah, melambaikan telapak tangan di bawah wajah. Shania langsung memelukku, dan melepaskannya. Memeluk lagi. Melepas lagi. Memeluk lagi. Dan melepas lagi.
"Ehm-ehm ...!" Aku berdehem. "Aku hanya punya waktu satu jam sebelum sampai di tempat kerjaku Shania,."
Sekarang, Mila benar-benar melepaskan pelukannya. "Oh, berhati-hatilah, Ve. Jaga diri elo. Gue teh, semalem bener-bener nyesel euy udah ngasih alamat-alamat itu ke elo. Coba nggak gue kasih ke elo. Pasti sekarang elo teh masih ada di rumah nonton teve!" Shania cemberut.
"Nggak apa-apa kok,Shan. Malahan aku berterima kasih sama kamu karena udah ngasih alamat itu. Tau nggak ... aku ... digaji ... dua belas juta! Aaarrrgggh ...!" seruku seneng, berloncat-loncatan. Aku melompat-lompat naik-turun, dan .... hanya sendirian. " Shania, kamu nggak seneng aku dapat uang dua belas juta?" Shania masih cemberut.
" Shania... aku hanya satu minggu di sana. Kita masih bisa SMS-an setiap hari. Nggak usah sedih,
dong." Aku melebarkan pipi Shania, mencoba menghilangkan cemberutnya. Namun ternyata elastis! Begitu aku berhasil menyeret pipinya mendekati telinga, pipi Mila kembali ke tengah, menekuk, cemberut, bahkan terjadi getaran karena memegas.
" Ve, jangan sampe abis pulsa, ya!" rengeknya manja.
"Ya ... seandainya abis juga, kalo kamu emang pengin SMS-an ama aku, kamu transfer pulsa aja ke HP-ku," ungkapku diiringi tawa kecil.
Tapi begitu tawa kecilku berhenti, bukan tawa kecil Shania yang kudengar. Malah suara jam dinding!
"Oh, oke. Aku harus pergi. Sampai jumpa, Shania!" pipiku langsung menyambar pipi Shania , dan kami melakukan ritual salam cipika-cipiki. "Daaagh ...!" Aku melambai, berbalik pergi meninggalkan Shania.
Dari jauh, aku masih dapat merasakan Shania nggak rela aku bekerja di tempat itu. Bukan karena satu minggunya, tapi karena monsternya. Ketika aku mengatakan bayinya monster, Shania menganggap itu benar-benar monster. Padahal, aku hanya bercanda. Monster hanya sebuah ungkapan kecil. Namun, Shania keukeuh alamat yang akan kudatangi sekarang adalah zona merah, berbahaya!
Abis dari rumah Shania, aku nelepon Andela, tapi dia nggak ngejawab panggilan teleponku. Mungkin masih tidur. Oh, nggak biasanya Andela tidur di pagi seindah ini. Biasanya ini adalah hari terindah baginya untuk joging atau sedikit berlari di atas treadmill di halaman rumahnya.
Kalau begitu ... udah waktunya aku mengunjungi
rumah ini. Huuuh ... rumah yang menyeramkan. Menjadi babysitter dengan gaji dua belas juta sih, yang diasuhnya pasti benar-benar monster. Bisa saja anaknya gorila, paus biru, atau T-Rex. Atau bayinya mungil, namun di dalam popoknya penuh bahan peledak? Atau mungkin bocah kecil yang wajahnya manis, namun dia itu melayang karena dia hantu? Hiiiy ...! Atau bayi itu terlalu jenius? Atau bayi itu bisa berbulu lebat? Atau bayi itu lebarnya hanya dua senti?
Udah, deh ... yang pasti dua belas juta nggak akan dibayar dengan mudah. Pasti ada tantangan tersendiri. Oh, atau mungkin bayi itu ternyata sebuah spons kuning bercelana kotak yang sangat menyebalkan ?
Aku nggak berkunjung ke rumah Luna, karena buru-buru ke rumah Bu Nira dan menemui putranya. Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi kemungkinan bentuk yang bisa saja terjadi pada bocah itu. Terkadang oke akan kuambil positifnya seperti, "Bu Nira terlalu banyak duit, jadi berapa aja pasti dia akan bayar." Tapi tetap aja. Sedermawannya orang kaya, nggak mungkin memberikan dua belas juta cuma-cuma demi mengasuh bayi yang imut, lucu, dan manis. Jadi, bayinya masih berkemungkinan terdaftar di Departemen Anak Sulit Diasuh.
Hmmm .... Oh, yang namanya Dede tuh siapanya aku sih, sampe-sampe semingguan ini aku terus memikirkannya.
Oke ... sampai. Pukul tujuh tepat. Aku kepagian satu jam. Biarin aja. Tapi, aku deg-degan.
Jantungku berdegup kencang mendekati pagar rumahnya saja.
Rumah ini sangat besar. Benar-benar besar. Seluruh rumah dicat putih, dan pagar yang tinggi menjulang tajam. Benar-benar pagar yang akan menyulitkan profesi seorang pencuri. Juga rumput yang sangat hijau, tertata rapi di halaman belum masuk rumah, lho dengan beberapa pohon palem atau sejenisnya tumbuh indah layaknya pesisir pantai.
Iiih ... kapan aku bisa masuk rumah yang kayak gini, ya? Oh, iya. Bentar lagi juga aku masuk, kok!
Aku menghampiri bel, dan memencetnya. Kusiagakan telinga mencoba mendengar apakah belku udah sampai ke tengah rumah. Hm ... aku nggak mendengar suara anjing di sini. Sepertinya, di sini emang nggak akan ada anjing? Atau aku belum memencetnya dengan benar? Biasanya anjing akan menggonggong kalo bel rumah majikannya dipencet. Lupakan itu! Wha-tever. Sepertinya, aku mulai stres berspekulasi bocah yang bernama Dede, hingga pikiranku benar-benar kacau.
Sreeet.... Pintu pagar terbuka ... otomatis.
Seseorang berseragam pembantu menghampiriku sambil tersenyum. Cewek berusia sekitar dua puluh tahun, rambutnya ikal dikuncir, kulit mulus, dan b ody-nya seksi. Cewek yang jelas-jelas pembantu ini berjalan genit menghampiriku. Pinggulnya berayun kiri kanan mengikuti gerakan tungkai. Dan salah satu jarinya memilin rambut ikalnya. Cewek itu tersenyum genit sekali lagi. Mengunyah permen
karet. Lalu ... oke, kita bahas dulu seragamnya.
Kemeja lengan pendek berenda, terusan sampai lutut, tapi sepertinya cewek ini mengecilkan bagian rok hingga empat puluh koma dua puluh delapan persen. Pendek banget. Juga sleeve yang ketat. Kancing yang membuka. Lalu, ada celemek renda-renda yang dipasang dari perut hingga tepi bawah rok. Juga kerah dengan pola renda yang sama.
Ya ampun ... akankah aku memakai seragam seperti ini?
"Yuk ... masuk! Nyonya besar udah nunggu, tuh!" sapanya genit, menarik tanganku.
Aku berjalan terseret-seret, ditarik pembantu itu. Kami berdua menyusuri sebuah paving blok lebar yang di sisinya ditumbuhi rerumputan hijau dan pohon yang rindang. Tiga mobil mewah parkir rapi di depan kami. Pembantu itu kemudian mengajakku memasuki teras yang besar juga, dan langsung masuk melalui pintu utama.
Ya ampun ... pintu depannya aja udah dua setengah kali tubuhku.
Begitu aku masuk, aku melihat sebuah ruangan yang entah dinamakan apa karena banyak sekali pajangan antik dan keren disimpan di sana-sini. Guci, lukisan, patung, dan benda seni lainnya. Aku yakin ini bukan ruang tamu. Nggak satu pun sofa menghiasi ruangan paling depan. Hanya guci yang ditata rapi, lukisan di dinding, dan beberapa pot di pojok ruangan.
"Ayo ... ikut daku!" ajak pembantu genit itu,
masih memilin rambutnya juga. Dan beberapa langkah berikutnya, pembantu genit itu berhenti. Sibuk dengan rambutnya.
"Aduuh ... kok, jadi melilit, ya?" ujarnya heran. Aku bergegas melihat apa yang terjadi padanya.
Hihihi ... rambutnya melilit jari telunjuknya. Sungguh kacau, terikat, dan sulit dibuka.
Ruangan berikutnya yang kami masuki adalah sebuah ruangan besar, dengan tangga besar melingkar di bagian tengah. Gantungan antik dengan banyak lampu di dalamnya, juga beragam sofa berjejer sesuai pola dan warnanya. Aku bisa melihat Bu Nira membaca koran di salah satu sofa itu. Dia langsung menoleh dan melambai.
"Kamu nggak kepagian datang?" sapanya, berdiri menghampiriku.
"Ya ... menghindari telat gitu," jawabku.
"Tapi, kita masih satu jam lagi bertemu. Pesawatnya juga masih dua jam lagi."
Aku tersenyum, maju menghampiri Bu Nira.
"Ayo ... kita temui anak saya," Bu Nira berbalik lagi, melaju menaiki tangga. Kami berdua lalu masuk ke sebuah pintu besar lainnya di lantai dua. Dan begitu melihat ke belakang, pembantu genit itu udah lenyap. Maksudku, pembantu itu nggak ikut kami ke atas.
"Hm ... anak saya masih tidur. Di hari libur seperti ini, dia baru bangun pukul sembilan. Dan, saya udah pergi pada jam itu. Jadi ... mungkin kamu ingin melihatnya dulu."
Tentu saja. My best chapter in my life.
Waktunya aku menemui bayi monster itu. Bayi yang membuatku mendapatkan gaji dua belas juta. Bayi yang memecahkan guci seharga tujuh juta. Bayi yang keluar malam-malam. Dan juga ... iya, bayi yang udah sekolah dan membicarakan cewek-cewek di sekolahnya.
Kenapa sih, Shania harus menggunting potongan ikian babysitter? Kenapa nggak kuii bangunan aja?
Dari jauh, sebuah ranjang besar terlihat be-rantakan. Selimut besar dan tebal menutupi si "Dede" itu. Warnanya gelap namun soft. Dan dari permukaan, gerakan naik-turun menandakan makhluk itu bernapas.
Ya, setidaknya dia bukan t-rex atau paus biru. Dua monster itu nggak mungkin muat di atas ranjang sebesar ini.
Bu Nira menghampiri ranjang dan menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh. Namun ....
Sebelum aku sampai di kepala ranjang, aku bisa melihat betis panjang, berbulu (maksudku, berambut), menyembul dari balik selimut. Kaki yang normal dan seperti kaki cowok dewasa.
"Ini anak saya, Keynal Putra Junior. Kami biasa memanggilnya Dede." Bu Nira menyingkap selimut.
Oh-My-God!
OH-MY-GOD!!!
Ya Tuhan ...ya Tuhan ...ya Tuhan,'
Keynal ... Keynal... Jagad Leader ... dia sedang tertidur pulas di depanku!
Keynal... putranya Bu Nira. Keynal... yang akan kuasuh
selama seminggu ke depan.
Aku melongo dan menatap Bu Nira heran. Bu Nira
mengembuskan napas besar, kelihatan sekali
pasrah, "Tuh, kan. Udah saya bilang. Setiap
babysitter akan terkejut melihat anak saya, Dede ini
Aku masih melongo, kaget, heran.. Keynal.. dia si Bayi Monster!
"Ya-ya. Anak saya tujuh belas tahun. Dan kemarin ...saya tau kalau kamu adalah salah satu temannya di sekolah. Jadi ... gimana?"
Meskipun masih kaget, akhirnya aku mengatupkan mulut, dan bernapas terburu-buru. Aku hanya menoleh Bu Nira sekilas dan kembali menatap
kaget wajah Keynal.
"Oke ... pasti sekarang kamu akan bilang, tidak!" tiba-tiba Bu Nira pesimis.
Aku mengembuskan napas besar dua kali, "B-bukan begitu ... maksudku ...."
Bu Nira menatapku dalam. Sorotan matanya penuh pengharapan.
Lalu, aku mengambil napas panjang, menutup mataku sekilas, dan menjawab, "Oke ... bukan masalah."
Bu Nira tersenyum mendengar jawabanku. "Baiklah. Terima kasih. Sekarang ... bisakah kamu jaga rahasia ini?"
Aku yang masih kaget, mendongak, menatap Bu Nira, "Maksudnya?"
"Yaaa ... yang saya tau, cewek lebih sering mengumbar berita. Jadi ... bisakah saya memastikan kalau kamu nggak akan ngasih tau hal ini pada temannya yang lain?"
Dahiku mengernyit. "Ngngng ... maaf. Saya bukan tipe cewek yang mengumbar rahasia orang lain. Saya selalu menjaga rahasia seseorang sesepele apa pun itu. Pernahkah Keynal bercerita tentang sekolahnya ketika saya benar-benar menjaga rahasia cewek-cewek model meskipun kami bermusuhan?"
Bu Nira berpikir sebentar. "Ngngng ... ya-ya. Dede pernah menceritakan hal itu. Waktu itu ... kamu tau suatu rahasia tentang Mozon, dan ketika Rebonding Galz menginterogasimu ... kamu tetap menjaga rahasia itu. Ditambah saat itu kamu
sedang dalam ancaman besar ... dan kata Dede juga, rahasianya nggak pernah terbongkar sampai saat ini."
"Sepertinya, Keynal menceritakan setiap detil yang ada di sekolah. Sampai-sampai Ibu tau tentang Mozon, Rebonding Galz."
"Tentu saja. Dede nggak pernah lupa menceritakan kesehariannya di sekolah, termasuk cewek cewek nyebelin yang bernama Tweenies. Yang ternyata itu kamu! Dede selalu curhat sebelum tidur."
Tik, tok, tik, tok!
Detakan jam dinding membuat mataku melirik ke arahnya, kemudian melirik Bu Nira. "Bu pesawat Anda pukul sembilan, bukan?"
Bu Nira mengangguk, tersenyum. "Jadi ... bisakah ... saya ... tau kenapa Keynal bisa seperti ini padahal di sekolah sama sekali nggak mungkin?" tanyaku tersenyum memperlihatkan semua gigi.
Bu Nira tertawa kecil, lalu mengajakku duduk di sofa. Aku bangkit mengikutinya, dan siap mendengarkan ceritanya.
"Ya, mungkin kamu akan kaget dengan anak saya, Dede. Atau kamu biasa nyebut dia, Keynal. Atau juga Bison. Di sekolah, pasti yang kamu temukan darinya adalah sosok yang cuek, judes, sombong, dan ya ... dia selalu jijik kalo lihat cewek coba-coba deket ama dia."
Aku tersenyum kecil, mengangguk.
"Tapi di rumah ... dia lain banget. Dia anak saya
satu-satunya yang tinggal di Indonesia. Sisanya sih, pada going abroad and live there. Dan kasih sayang, harta, juga perhatian yang melimpah membuat Dede tumbuh menjadi anak manja. Tapi untungnya, Dede juga bandel. Malu dong, kalo punya anak manja doang. Kalo punya yang bandel juga kan oke-oke aja, meskipun manja. Dede juga childish banget. Terkadang garing, jahil, dan ngeselin. Pokoknya komplikasi banget, deh. Susah banget buat diurus sama satu orang."
Aku tersenyum heran. "Oya?"
"Untuk itulah, saking susahnya ngurus seorang Dede, kamu adalah babysitter ke enam puluh tujuh sampai saat ini. Saya udah nyewa babysitter sebanyak itu, karena memang nggak pernah ada yang kuat buat ngurus Dede. Kebanyakan berhenti di tengah jalan. Ah, itu alasan saja. Buktinya, saya sebagai ibu kandungnya, masih kuat tinggal bareng dia tujuh belas tahun terakhir. Dan meskipun beberapa orang ada yang berhasil menyelesaikan tugasnya, namun begitu pulang, langsung terserang demam tujuh hari tujuh malam, dan menderita trauma sepanjang hidup."
Aku mengembuskan napas besar.
Pfuih ....I'm heading for my next big things in my life now ... benarkah pengasuh-pengasuh sebe-iumku separah itu?
"Kebanyakan, babysitter-nya udah berumur, dan jarang ada yang ngerti perasaan Dede. Menyedihkan. Pernah juga saya sewa psikiater dan psikolog sekaligus, tapi dua-duanya malah disiram teh manis
sama Dede dari balkon. Kabur juga, deh! Oh, iya, pernah juga kok, ada cewek seusia kamu yang saya terima kerja di sini buat ngasuh Dede. Tapi, Dede malah genit ngegodain cewek itu, dan cewek itu pun nggak tahan. Lalu, pergi begitu aja." "Nggak tahan?"
Ya, nggak tahan buat nolak. Cewek itu takut terjadi sesuatu yang nggak diinginkan, makanya dia langsung pergi sebelum terjadi sesuatu yang terlalu jauh. Makanya, saya berani nerima kamu, karena kamu musuh Dede, dan ... sepertinya nggak mungkin buat nerima godaan Dede. Dede pun nggak mungkin ngegodain kamu."
Aku mengangkat alisku sebelah. "Belum tentukan, Bu?"
"Ya ... setidaknya, Dede bakalan takut sama kamu."
"Takut? Maksudnya?"
"Yang saya tau sih, Dede takut banget sama -yang namanya Tweenies. Dia sebenernya agak grogi lho, ngobrol ama kalian." Tiba-tiba, HP Bu Nira bunyi. "Maaf, sebentar!" Bu Nira bangkit dari sofa, menjauh nerima telepon.
Aku juga ikut bangkit dari duduk, melangkah pelan mendekati Keynal.
Oh-my-Godi Oh-my-God! Entah berapa kali, aku harus mengucapkan kalimat itu.
Oh-my-God! Bener-bener nggak nyangka Keynal..... seorang Keynal... hari ini di bawah asuhanku ... di bawah asuhanku! Oh, mimpi apa aku semalem? Perasaan sih, semalem mimpiin si Nabilah! Kok,
bisa-bisa-nya aku ngasuh cowok keren ini ... bahkan digaji dua beias juta! Ya ampun ... ada apa ini? Kenapa ini?
Menyenangkan yang aneh.
"Baiklah ... baiklah ... aku segera ke sana!" Bu Nira menutup HP-nya, berbalik mengajakku bicara, "Ngngng ... Ve, bisa ... saya ... tinggalkan sekarang?"
Aku berbalik dan menatap bingung Bu Nira.
"Pesawat memajukan keberangkatannya. Saya udah ditunggu semua rekan di bandara. Saya harus ke Jakarta dulu. Masalahnya, nggak ada pesawat yang menggunakan rute Bandung-New York saat ini. Terlalu jauh. Sedangkan pesawat yang di Jakarta, memajukan keberangkatan tiga puluh menit. Jadi ... ya ... apakah kamu bisa saya tinggalkan sekarang?"
Aku menoleh menatap Key, berpikir sekilas, lalu menoleh lagi menatap Bu Nira. Kuanggukkan kepala, sambil tersenyum ramah.
"Oh, terima kasih!" Bu Nira menghampiriku, memelukku. "Kumohon, jagalah Dede dengan baik. Kalo kau ingin menanyakan sesuatu, Mbok Jess bisa membantumu. Atau Nince juga boleh. Tapi kalau mau langsung, gunakan notebook di ruang kerjaku, kirimlah e-maif padaku. Alamatnya tepat di bawah notebook. Mengerti?"
Aku mengangguk cepat.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Salam buat Dede." Bu Nira keluar kamar Key, menenteng blazernya. Kuikuti dia sampai pintu depan, dan kami udah
disambut pembantu genit tadi, juga pembantu lain yang udah berumur. Bu Nira melambai pada kedua pembantu itu, lalu memasang kacamata hitam, dan mengangkat kopernya.
Aku langsung berjejer di antara kedua pembantu itu, menatap Bu Nira yang meninggalkan kediaman ini di atas sebuah Mercy beserta sopir pribadi.
"Hm ... sepi lagi, deh!" keluh pembantu genit itu. Aku menoleh. Menatapnya ingin berkenalan.
"Halo ... saya ... saya ...." Aku ingin sekali mengenalkan diri, tapi rasanya canggung.
"Oke, daku tau. Dikau bebisitah baru, kan?" tanya pembantu genit itu, masih dengan gayanya yang genit. Telunjuknya pun masih memilin rambut ikalnya. "Nama daku ... Unie. Lengkapnya, Unie Sarunie Marunie Nanonie Simponie Jasmanie Rohanie Lalunie Ninie Ninie. Panggil aja daku Unie. Atau panggilan sayangku ... Nince."
"Hihihi tiba-tiba pembantu yang agak tua tertawa kecil. "Ses, jangan heran melihat tingkah lakunya. Nince emang begitu. Tenang aja, nggak gigit, kok! Oh, namaku Jessica Jennifer Jaenab. Nama aslinya sih, Juju Juariah. Tapi ... panggil eke Mbok Jess aja. Ses sendiri namanya siapa?"
"Saya ... saya Ve. Babysitter Key. Maksud saya, Dede. Saya temen sekolahnya, kok!"
"Oooh ... gitu, ya? Met berjuang, deh! Kalo ses ada sesuatu, panggil aja eke di belakang. Eke siap membantu, kok!"
"Daku juga bisa Nince nimbrung, lalu berjalan ke tengah seperti model.
"Kalo gitu ... eke ke belakang dulu, ya! Jam sembilan nanti, biasanya tuan muda bangun. Makanya, sekarang eke mau bikin sarapan buat tuan muda. Ses cepetan ke atas, temenin tuan muda. Kali aja udah bangun." Mbok Jess pun melenggang meninggalkanku di pintu depan.
Aku melihat sekilas ke belakang, menatap halaman rumah, lalu masuk, dan menutup pintu depan.
Key menggeliat, mencoba bangun. Diempaskannya selimut yang menutupi dadanya. Matanya membuka perlahan, menatap langit-langit kamarnya yang luas. Sejurus kemudian, matanya melirik beker besar di meja ranjangnya. Tepat sekali aku dan Key dapat melihat udah pukul sebelas siang sekarang.
"Akhirnya kamu bangun juga!" seruku tersenyum. Kuhampiri dia dan berdiri manis di sampingnya.
Key menyapu wajahnya dari kening hingga dagu dan belum menyadari kehadiranku. Lalu, dia menguap dengan mata masih sipit-sipit menutup dan menengokkan kepalanya menatap tubuhku.
"AAARGH ...!" erangnya kaget, dia tersentak dan mundur, wajahnya begitu ketakutan. "Kamu! Kamu! Kamu ngapain di sini?!"
Aku yang tersentak mencoba tenang. Keep smile and nice. "Saya jadi babysitter kamu sekarang," jawabku tersenyum lebar.
"Kamu ...? kamu ...?" Key masih terkaget kaget. Dia sedikit panik, karena dapat kulihat keringat dingin mengalir di tengkuknya.
"Tenang aja, nggak usah panik. Saya nggak a-kan ngegigit kamu, kok!"
"Kamu ...?" Key melirik sekilas beker tadi. "Pasti ... pasti Key masih tidur, ya? Pasti Key masih mimpi, ya!" ungkapnya mencoba tenang.
Heh! Kenapa cowok ini jadi pake namanya sendiri buat kata ganti aku?
Aku mengernyitkan dahi. " Key... oh, maksudku, Dede ... ayo bangun, Sayang. Ayo berdiri!" Aku mengulurkan tangan.
Key menggeleng, masih nggak percaya dengan situasi yang dilihatnya. Bahkan dia bergerak jauh begitu aku mendekat. Dia mundur. "Kamu ... kamu ngapain di sini?"
Aku mendengus. "Huh, udah saya bilang kan, saya ini babysitter kamu sekarang."
"Kamu? Kamu babysitter Key?"
"Iya ... ibu kamu yang milih saya buat jadi baby sitter kamu."
"K ... kenapa kamu, sih? Kenapa nggak nenek-nenek yang kemaren aja?"
"Lho? Emangnya saya kurang baik, apa?"
"Tapi Key ragu.
Belum selesai Elby menghabiskan kalimatnya, a-ku udah mendorongnya agar turun dari ranjang. "Udah, ayo cepet bangun!"
"Nggak mau!" serunya menangkis. Key melepaskan cengkramanku. Dia berlari, terjatuh dari ranjang, menjauh di sudut dekat lemari. Sekarang dengan jelas, aku dapat melihat dia hanya memakai kemeja biru muda dan celana pendek warna merah di atas lutut.
Kutiup poni yang jatuh di pelipisku. " Key... sekarang udah jam sebelas. Kata Nince, kamu tidur dari jam sembilan malam. Udah empat belas jam kamu tidur. Adakah keinginanmu untuk memberikan kesempatan pada lambungmu hidup enak layaknya lambung yang lain?"
"Bahasa kamu aneh banget! Mentang-mentang ranking ketiga. Biasa aja bisa, kan?"
Aku tersenyum lagi, lebar tanpa menunjukkan gigi. "Oke, singkatnya ... ayo sarapan! Saya nggak mau jadwal ngasih kamu makan tiga kali sehari terlewatkan."
Key diam. Dia menatapku heran. "Kamu ... kamu bener-bener babysitter Key?" Dia masih nggak percaya.
"Iya-iya ... saya babysitter kamu!" Aku men -coba menenangkan emosi, melambatkan seretan napasku. Tiba-tiba teringat kalimat mama to keep charming heading some bad babies. "Ayo Sayang ... kita sarapan dulu," ajakku lagi tersenyum.
Oke, Ve tenanglah! Key nggak lebih buruk dibandingkan Anton-bocah tiga tahun yang baru bisa diajak makan setelah aku joging seharian. Setidaknya aku hanya butuh sedikit rayuan agar Key mau turun.
Masih dirundung kebingungan, akhirnya Key maju perlahan. "Tapi, kan ... babysitter yang lain suka gendong Key dulu kalo mau makan." "Jangan jadi anak manja!"
"Ya udah ... Key nggak mau makan!!!" ancamnya serius.
Oke, tenang! Namanya juga anak kecil, harus dilayani dengan baik.
"Baiklah." Aku maju satu langkah mendekatinya, namun tiba-tiba mundur menjauhinya. Aku jadi teringat sesuatu. "Jangan coba-coba membodohiku. Nggak mungkin nenek-nenek bisa ngegendong kamu."
"Jadi ... kamu, nenek-nenek?"
"M ... maksudnya ... babysitter sebelum kamu yang kata kamu sendiri adalah nenek-nenek, gimana mungkin mereka ngegendong kamu?"
"Ya, dimungkin-mungkinin aja!" Key tersenyum lebar.
Uh, dasar! Dia ngerjain.
Otakku berputar, berpikir mencari jalan yang terbaik. "Oke ... sebaiknya, saya bawa ke sini aja sarapan kamu."
"Terserah!" Tiba-tiba Key meraih sebuah bantal yang jatuh, dan melemparkannya ke mukaku. "Kena!" serunya senang. Key melompat. Aku yang tengah mencoba tenang, hanya bisa diam merasakan bantal itu mendarat tepat di mu-kaku. Hingga bantal itu mendarat lagi ke lantai, raut mukaku nggak berubah.
Tenang-tenang-tenang. Aku harus tenang!
Kemudian, kusunggingkan senyuman manis. Ber-kacak pinggang layaknya model, dan ....
"Oke, tunggu di sini. Saya akan bawakan sarapan kamu," ulangku lagi. Aku berbalik, sangat kesal, namun pergi meninggalkan kamar ini dengan manis.
Sempat ingin mulutku mengoceh mengatai ngatai Key. Tapi, sepertinya itu sia-sia. Nggak akan ngubah apa pun.
Kuturuni tangga dengan tenang, mencoba bersikap baik. Kebetulan, Mbok Jess sedang membersihkan anak tangga dengan lap. Jadi, kutanya dia tentang sarapan Key. "Mbok Jess, Key udah bangun. Bisakah kuminta sarapannya sekarang?"
"Akan eke antarkan ke kamarnya. Ses temenin aja tuan muda. Jangan tinggalin dia sendirian!"
"Oh ... oke!" Aku mengangguk dua kali, berbalik menaiki tangga lagi.
Namun di lantai dua, sebelum aku masuk ke kamar Key, perhatianku tertarik pada sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Jejeran buku dalam jumlah banyak yang disimpan rapi dalam lemari besar, menjadi satu-satunya yang bisa kulihat dari luar. Aku membelokkan jalur dan mendekati ruangan itu. Dan begitu kubuka pintu perlahan-lahan, kutemukan Nince sedang membersihkan rak lemari menggunakan kemoceng.
Nince bersenandung, mengibas-ngibaskan bulu ayam mengusir debu. Aku masuk ke ruangan itu, dan menemukan ruangan yang sangat besar. Lebih besar dari kamar Key.
Tepat di tengah ruangan, ada sebuah meja kerja besar yang penuh dengan map dan alat tulis mahal. Lampu meja modern kecil juga menghiasi meja itu. Di sepanjang dinding yang kulihat, semuanya berwaiipaper lemari buku. Maksudku, saking menutupnya, corak pola dinding yang sebetulnya bagus, terhalangi oleh lemari-lemari buku yang
tinggi dan besar. Karpet indah dari India atau mungkin dari Pakistan, menghampar di bawah kakiku. Benda-benda antik yang dipajang di meja meja khusus pojok ruangan, makin memperjelas kalau ruangan ini benar-benar knowiedging and scary ing,
"Halo, Nince!" Aku menghampirinya dan tersenyum.
"ARRGH!" Nince kaget dan hampir menjatuhkan kemocengnya. "Dikau? Dikau mengapa berada di sini? Dikau mengagetkan saja!"
Aku mengernyitkan dahi.
"Wow! Ruangan yang bagus," pujiku senang. Kuhampiri meja kerja, dan dapat kutemukan notebook canggih terbuka begitu saja di atas meja.
"Ini ruang kerja nyonya besar. Jangan ganggu! Kalo mau minjem buku, simpan lagi ke tempatnya kalo udah. Jangan sembarangan dan berantakan. Oh, iya. Notebook itu kata nyonya hanya boleh digunakan untuk mengirim imei. Bukan ceting aplagi brosing."
Aku tersenyum dan mengangguk. Kuhampiri notebook itu, dan mendapatkannya sedikit berbeda dari punya Sinka. Layarnya padam. Notebook nya pun nggak menyala.
"Dan ...jangan pernah bawa-bawa tuan muda ke ruangan ini. Selain akan berantakan, tuan muda sebetulnya ketakutan berada di ruangan ini."
Aku tersenyum lagi. "Oh, iya, Nince. Apakah benar, Key selalu digendong babysitter sebelum makan?"
"Jangan menyebut namanya. Sebut saja dia Tuan Muda."
"Oh, oke. Maaf. Maksudku, tuan muda, apa-kah selalu minta digendong oleh babysitter?"
"Ngngng ... setau daku sih, nggak pernah gitu. Ah, palingan juga engkau dijahilin sama dia!"
Ouw...tuh kan, dijahilin. Kurang ajar! Untung aku nggak bener-bener gendong dia.
"Oke, sampai jumpa, Nince. Aku mau menemani tuan muda."
"Ya-ya...sampai jumpa lagi di makan siang nanti. Itu pun kalau dikau bisa lepas dari genggaman tuan muda."
Anonymous
Senin, pukul empat sore ...
Key!, buka pintunya sekarang juga!" teriakku keras dari luar, mengetuk lagi dengan kasar pintu tinggi itu.
"Nggak mau!" jawab Key dari dalam.
"Ayolah, Key. Lihat, temen kamu udah datang!"
"Alaaa ... bulishitl Bo'ong banget!"
" Key...kamu tuh penginnya apa, sih? Ayo, dong! Masa sih, seharian ini kamu belum mandi juga? Kasihan bak mandi kamu! Ayo buka Key,!"
"Biarin aja! Emang Key pikirin? Kamu aja yang mandi duluan, ntar Key nyusul."
"Saya udah mandi, Key! Sekarang tinggal kamu."
"Nggak, ah!"
Duuugi Aku memukul pintu dengan keras. "Kamu penginnya apa, sih? Pake mukul-mukul segala?" teriak Key kesal.
Saya tuh pengin kamu mandi! Atau seenggaknya ... keluar dari ruangan ini!"
"Emang kenapa, sih? Nggak boleh ya, diem di sini?"
"Masalahnya ini kamar saya, Key! Ngapain kamu diem di situ? Cepet keluar! Saya pengin ganti baju!"
Senin, pukul lima sore ...
AKU menjatuhkan diri di atas sofa, duduk nggak jauh dar Key i. Kutatap layar televisi yang nyala, dan mulai menghibur diri.
Ya, seharian ini, baru sekarang aku menatap teve.
"Ceweknya jelek!" komentar Key tiba-tiba, menunjuk ke layar.
"Biarin aja, kali! Terserah dia mau punya wajah kayak gimana juga."
"Ya ... tapi kan, gara-gara dia, Key nggak serius nontonnya."
"Ya udah, jangan ditonton! Repot banget, sih!"
Key menoleh padaku. "Kok, kamu jadi babysitter galak amat, sih? Nggak kayak babysitter yang lain. Kamu galak banget!"
Aku menarik napas seketika, dan mencoba menoleh pada Key dengan tenang.
"Dengerin ya, Key. Gini, pertama, saya bukan babysitter. Karena yang saya asuh sekarang sama sekali nggak ada baby-babynya sedikit pun. Sebut saya dengan Monstersitter. Kedua ... saya bukannya galak sama kamu. Saya hanya, ngngng ... hanya ... mengucapkan sepotong kalimat." Aku tersenyum lebar, sangat lebar.
Key kebingungan. "Mengerti?" tanyaku memastikan. Keymengangguk-angguk yakin. "Jadi, Key ini monster?"
Senin, pukul enam petang ...
KRIIING ...! telepon rumah berdering. Kebetulan, aku sedang berada di telepon terdekat sambil memantau Key membaca majalah di sofa. Kuraih gagang telepon, menjawab panggilan.
"Hallo, selamat sore. Dengan kediaman Nyonya Nainira Hadegia di sini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Boby, Tante! Anaknya Tante ada?"
Ya ampun, ternyata si Rimba. Nggak sopan banget!
"Maaf ... saya bukan tante-tante, ya. Dan saya bukan ibunya Key."
"Oh, sapa, dong? Nancy, ya?"
"Nggak ada yang namanya Nancy di sini. Ada juga Nince!"
"Jadi, kamu Nining, ya?"
"Aduh-aduh-aduh! Saya bukan Nancy. Saya bukan Nince. Dan saya juga bukan Nining. Saya cuma pekerja di sini."
"Oh ... Nanny, ya?!"
"Heh! Udah, deh ... mau ngapain kamu nelepon ke sini?!"
"Kok, gaiak banget, sih? Nggak sopan! Kamu diajarin etika sebagai pekerjanya keluarga Hadegia nggak, sih?"
Aku menggeram, lalu berdehem mencoba tenang, "Ehm-ehm ... maafkan saya. Mau bicara dengan, Key kan? Tunggu sebentar!"
Aku menaruh gagang telepon di atas meja, dan dengan tenang memanggil Key . "Tuan muda! Ada telepon," panggilku.
Satu detik kemudian, aku bergumam pelan sebelum Key datang. " Key yang menyebalkan! Ada telepon."
Senin, pukul tujuh malam ...
"MBOK Jess udah buatin kamu lobster merah buat makan malam," ungkapku tersenyum, menghampiri Key yang masih memainkan joystick piaystation.
"Nggak, ah!"
"Dia juga bikin bubble juice rasa stroberi, lho!" "Nggak, ah!"
"Oh, iya. Ada beef steak juga. Lalu, ada lemonade sauce yang bisa disiram ke atas beef steakl"
"Ng-gak, ng-gaaak ...," tolak Key. "Padahal, Mbok Jess juga nambahin banana cake yang isinya tuna salad ditambah cingcau ungu yang diaduk beserta merica mexico, nggak lupa gandum dari Botswana, lalu dikeringkan di dalam lemari es, beserta semangkuk apple pie yang dominan rasanya leci. Enak, lho!"
"Emang ada ya, makanan kayak gitu?" "Nggak ada, sih. Cuma bo'ong. Cepetan, dong! Ayo, makan!" "Nggak mau
"Gimana, sih? katanya lobster, bubble stroberi,
sama beef steak itu makanan favorit kamu?!" "Iya ...."
"Terus, kenapa kamu nggak mau makan?"
"Kamu nyebutinnya satu-satu, sih. Coba langsung tiga-tiganya. Pasti Key mau!"
"Ya ampun!" Aku menepuk dahiku. Yang kayak gitu aja dipikirin?
Senin, pukul 8 malam ...
AKU menghampiri Key yang sedang menatap halaman belakang rumah. Sebuah halaman indah yang bisa dilihat dari dalam karena ada kaca besar yang sangat bersih. Dan Key dari tadi melihat ke sana terus.
"Kenapa, Key?" tanyaku.
"Bola Key”ujarnya agak lirih. Kemudian,tangannya menunjuk keluar. "Bola Key ada di sana ... ambilin, dong!"
Sebuah bola basket oranye, dalam samar kegelapan diam nggak bergerak. Bola itu bersandar pada pot bunga Kuping Gajah. Tegak. Dan lampu belakang kelihatan redup, sehingga aku nggak bisa melihat dengan jelas rupa bola itu. Suasana gelap yang tercipta, sepertinya membuat Key sedikit ketakutan.
"Ambilin, dong ... Key takut!" ungkapnya lagi.
Tuh, kan. Key takut buat ngambil bolanya. Iiih ... dasar cowok aneh! Ngambil bola aja kok, takut, sih? Aneh!
Aku berjalan tergesa hendak mengambil bola, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba aku
terpeleset air.
Buuuk! Aku terjatuh ke atas lantai. Lumayan sakit. Sebuah ember plastik, dengan gagang lap yang menyembul, membuatku yakin kalau seseorang sedang mengepel lantai bagian sini. Kualihkan pandanganku ke belakang, dan nggak mendapatkan Key menertawaiku. Dia masih menatap bolanya. Nelangsa. Berarti insiden aku jatuh ini, bukan suatu hal yang termasuk lelucon Key. Jujur saja, awalnya sempat terlintas dalam pikiranku, kalau Key sedang mengerjaiku. Dia meminta aku mengambil bolanya, lalu aku dijahilinya. Tapi sepertinya tidak. Wajah serius Key menandakan dia nggak sedang bermain-main. Dia masih nelangsa, menatap bola basketnya. Oke, sebaiknya aku nggak berprasangka buruk.
Aku bangkit dan berjalan menuju halaman belakang. Namun, beberapa langkah kemudian ....
Jeduuug
Aku menabrak kaca tembok belakang rumah. Ya ampun, aku lupa kalau di sini menggunakan kaca.
Meski sempat terhuyung dan mengusap-usap keningku, aku meraba lagi mencari di mana pintu. Dan kusempatkan pula menoleh ke belakang, memastikan Key nggak sedang tertawa.
Tidak .... Dia masih nelangsa dan menatap bolaitu.
Oke ... dia memang nggak sedang mengerjaiku. Sebaiknya aku segera mengambil bola itu, kalo tidak, Key akan melaporkan pada ibunya bahwa aku nggak melayani dia dengan baik. Itu buruk!
Kuraba kaca sedikit demi sedikit. Woi lampunya mana woi?I
Kutemukan juga akhirnya pintu itu. Aku bergegas keluar dan menghampiri bola. Namun terkejutnya aku, begitu .... Pluuuk!
Kulihat sebuah tripleks kayu berbentuk bundar, oranye, disandarkan pada pot, terhempas begitu saja karena angin bertiup ....
Dan itu bola yang kulihat dari dalam rumahi
Oh-my-God! Kurang ajar! Tuh anak ngejailin lagi!
Aku menoleh dan melihat Key tengah tertawa terpingkal-pingkal. Perutnya ditutup dengan tangan. Bahkan dia berbaring di lantai hanya untuk menahan tawa.
Sialan! Cowok penipu!
Senin, pukul sembilan malam ...
Key udah siap di atas ranjang, dengan selimut menutup rapi. "Cerita, dong!"
Aku menghampirinya, lalu duduk di sampingnya. "Cerita apa?"
"Terserah, mama suka cerita sebelum Key tidur!"
"Oke ... kalau gitu ... apa, ya?" Aku mendongak menatap langit-langit. Memikirkan cerita terbaik yang bisa bikin cowok tujuh belas tahun tertidur pulas.
"Gimana kalau cerita tentang seekor kancil yang jalan-jalan bareng temennya, si kambing, kemudian ketemu buaya yang lagi ngobrol sama kodok, hingga keduanya menemukan ada ayam berkokok?" ta-
warku.
"Hah? Apaan, sih? Emang ada ya, cerita kayak gitu?"
"Nggak ada sih, cuma ngarang aja." Key mendengus. "Yang bener, dong!" "Oke, oke," aku memulai cerita. Sambil tersenyum dan menerawang. "Pada suatu hari "Zzz ...."
Aduh, ya! Si Key udah tidur lagi? Baru juga tiga kata!
Dasar nyebelin!
Aku membungkuk memeriksa matanya. Udah tertutup. Napasnya teratur dan berirama pelan. Gerakan bola mata yang kulihat dari kelopaknya menandakan Key udah tidur. Dia udah tidur!
Benar-benar tidur! Huh, bisa-bisanya tidur dengan dongeng yang hanya terdiri dari tiga kata. Bahkan dongengnya sama sekali belum mencapai titik klimaks. Apalagi ending.
Hm ...ya udah ... ngapain juga aku ada di sini?!
Aku bangkit, namun tiba-tiba aku merasakan salah ujung bajuku ditarik seseorang dari bawah selimut. Kubuka selimut dan menemukan Key sedang mencengkram kausku. Kutarik tangan itu, namun nggak berhasil.
"Ayo, Key... lepasin tangan kamu!" bisikku pelan.
"Hmmm Key malah mendengus, melanjutkan lagi tidurnya.
Ya ampun! Masa sih, udah tidur nyenyak lagi? Jangan-jangan, nih orang ngejahilin aku lagi? Kutarik tangan Key dengan kuat.
Eeeuuurgh .... Pfuih! Susah, bo
Namun, aku berhasil melepaskan tangan itu di detik kelima puluh sembilan. Aku ngos-ngosan begitu tanganku bebas, lalu berbalik menatap Key. Dan begitu kakiku kuturunkan ke lantai, Key merengek.
"Kamu mau ke mana? Temenin Key tidur!" rengeknya.
"Iiih ... apaan, sih? Kamu kan, udah gede. Tidur aja sendiri. Masa tidur aja harus ditemenin. Lampunya nyala, kok!"
"Yaaa ... pelit amat, sih? Perasaan, babysitter yang lain nemenin Key tidur, deh."
"Aduh, ya ... kalo saya nenek-nenek sih, nggak apa-apa. Aman! Tapi, umur saya ama umur kamu tuh cuma beda satu tahun. Bahaya dong, ah!"
Masih dengan mata tertutup, Key berbalik me-munggungiku. Marahan. Aku yang sempat mencibirnya, langsung mengambil sandalku dan bangkit hendak keluar kamar. Namun begitu mencapai knop, sebuah bantal mendarat keras di punggungku.
"Dasar genit! Pelit!" seru Key.
"Aduh, ya! Siapa yang genit, sih?!" Aku ber-kacak pinggang sebentar, lalu berbalik dan berjalan menuju kamarku sendiri.
Hari ini aku cukup kelelahan dan harus tidur.
Namun sebelum aku sampai di kamarku, ruang kerja Bu Nira menarik perhatianku lagi. Pintunya lagi-lagi terbuka, seakan-akan memintaku untuk masuk. Dalam keredupan cahaya lampu yang mulai
padam, aku membelokkan jalur menuju ruang kerja itu.
Begitu kubuka pintu, suasana tegang langsung menghampiri. Namun, aku nggak peduli. Ruangan ini hanya diterangi lampu taman dari luar. Sehingga hanya lemari buku yang menghadap pintu dan meja kerja yang tepercik cahaya. Bagian lainnya tidak. Patung-patung ataupun benda antik di pojok ruangan nggak terlihat jelas. Semuanya samar samar di bawah bayangan gelap.
Notebook yang sampai sekarang masih terbuka, membuat kakiku ingin melangkah menghampirinya. Sejak siang tadi, sepertinya nggak ada yang masuk ke ruangan ini. Sepi. Key nggak pernah ingin bermain ke tempat ini. Entah mengapa ....
Aku langsung duduk di kursi kebesaran ala bos yang bisa diputar-putar. Kursi berwarna gelap, agak tinggi, dan penuh bantalan, membuat setiap orang sangat betah duduk berlama-lama.
Tapi ... keadaan ruangan seseram ini sih, mana ada yang betah duduk di sini. Terlalu menyeramkan. Seperti screen-saver mystery di desktop windows komputerku. Apalagi lukisan yang ada di belakangku, benar-benar menambah suasana ketegangan.
Klik.' Monitor notebook tiba-tiba menyala dengan sendirinya.
Aku tersentak kaget, dan hampir panik. Jantungku berdegup kencang, sampai-sampai mataku awas. Seperti orang normal lainnya, aku pasti mengira bahwa ada hantu yang menyalakan
komputer itu. Tapi, aku orang normal yang selalu mencari sisi positif sebelum mendectare suatu hal itu negatif. Jadi ... aku membungkuk-bungkuk mencari hal lain yang mungkin saja menjadi penyebab monitor notebook ini menyala.
Jangan sampai benar-benar hantu yang menyalakannya!
Dalam satu menit, akhirnya aku menemukan bahwa notebook ini dari tadi ... dalam keadaan standby. Oh ... kukira ada hantu di sini. Gara-gara aku menggetarkan meja saat duduk, mouse ini tergeser, jadi deh, monitornya nyala.
Tapi..... kok, nggak ada suara mesin notebook
sampai aku duduk di sini, ya ?
Hm .. sebaiknya, aku pergi dari sini. Nggak baik berada di ruangan orang lain tanpa izin. Meskipun aku punya lisensi masuk ke ruangan ini, itu kan karena untuk mengirim e-maii. Bukan untuk yang lain-lain. ya, udahlah. Udah malem, sebaiknya aku tidur. Karena besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan bagiku.
Kuharap, besok aku nggak harus menyuapi Key sarapan sambil main PS!
Aku bangkit dari kursi, dan suara itu mengagetkanku.
Buuuk ...i
Sebuah buku jatuh dari tempatnya. Entah mengapa, kebetulan sekali aku melihat buku itu jatuh dengan jelas. Buku putih tebal, dari lemari sebelah kananku. Kuhampiri langsung, berniat mengembalikan ke tempatnya.
Namun begitu kuangkat tanganku, aku nggak menemukan celah kosong di antara buku-buku di lemari itu. Jelas sekali dalam kegelapan, semua buku berjejer rapat. Sama sekali nggak ada tempat bekas buku ini. Lalu, buku ini jatuh dari mana? Nggak mungkin jatuh dari lemari lain. Ibarat pohon, buahnya yang jatuh pasti berada nggak jauh di sekitarnya. Pohon sih, oke-oke aja kalo buahnya jatuh tapi jauh dari pohonnya. Karena buah bisa menggelinding. Tapi ini kan, buku. Meskipun jatuh dari lemari sebelah sana, ngapain juga ngegelinding ke lemari sini? Rajin banget.
Aku memeriksa buku itu, dan tiba-tiba hatiku tertarik untuk membacanya. Buku ini adalah sebuah novel bersampul tebal dengan pita penanda halaman. Dan gambar gaun merah yang cantik membuatku ingin segera membukanya. Judul novel ini adalah ... Pineapple Juice, Sweet And Spicy.
Kok, nggak sesuai ama cover, sih?I Dikarang oleh, sebentar .... Nggak kebaca, gelap! Dikarang oleh ... Anonymomous.
Anonymous! Tanpa nama? Pengarangnya nggak nyebutin namanya?! Gilee ... nggak niat terkenal, apa?
Kreeek! Kreeek!
Tiba-tiba, muncul sebuah suara aneh entah suara apa yang membuatku jadi kaget dan panik. Aku langsung meloncat, berlari keluar ruangan. Dan begitu berhasil menutup pintu dengan pelan, Nince mengagetkanku dari belakang.
"Dikau sedang ngapain?" tanyanya menepuk
punggungku.
Aku tersentak lagi, namun berhasil mengendalikan diri. Kuusap dada mencoba tenang, dan menjawab pertanyaan Nince dengan ramah, "Ngnggak ... ini ... barusan saya ngirim e-mail, terus ya ... pinjem buku gitu, deh. Cuma satu, kok! Ntar juga dikembaliin."
"Oooh ... tapi, kenapa lampunya nggak di-nyalain?"
"Sa ....saya ... saya lupa. Saya nggak tau tempat sakelarnya."
"Di samping pintu ini. Di sebelah kanan. Lain kali,kalo gelap, nyalain aja. Itu pesan nyonya besar!" "Oke!" Aku pun berjalan tergesa-gesa menuju kamarku. Sambil mengayun-ayunkan novel itu.
Pfuih! Betul-betul mendebarkan.
Kejutan datang lagi dari dalam kamarku. Begitu aku masuk, menyalakan lampu, dan meletakkan novel itu di atas meja, ternyata selimut-ku sudah menggelembung. Sesuatu yang sangat besar pasti tepat berada di bawah selimut itu. Bisa saja orang, atau bisa saja bantal dan gulingku bertumpuk tumpuk. Kuharap, bukan hal aneh.
Jangan sampai ular anaconda yang ada dibawahi selimut itu.
Aku menghampiri selimut itu, melangkah perlahan, berinjit awas. Kusentuh selimut, lalu dalam hitungan ketiga, akan kuangkat lapisannya.
Aku kaget. Bukan anaconda, apalagi bapa-conda. Ternyata ... mataku menunjukkan sebuah fenomena yang ... hey! Kamu ngapain di situ?
" Key! Kamu ngapain di sini? Ini kamarku!" teriakku menepuk betis Key perlahan.
Key yang masih meringkuk, malah menggeliat nggak mau pindah. " Key tidur di sini aja!"
"Iiih! Kamu tuh, punya kamar sendiri! Ayo, tidur di sana aja! Mau dibacain cerita lagi?"
"Bukan itu. Key takut tidur sendirian. Biasanya juga kan, babysitter yang lain nemenin Key tidur. Kok, kamu nggak, sih? Mama nggak ngasih tau kamu?" ungkapnya, dengan mata masih menutup tertidur.
"Tapi kamu kan, udah gede ... sekarang, belajar dong, tidur sendiri. Kamu pasti bisa! Jangan terus-terusan minta ditemenin tidur. Kamu harus jadi cowok yang bisa tidur sendiri!"
"Oh, gitu ya? Iya-iya ... Key udah gede," ujar Elby kesal. Dia membuka matanya, dan terduduk menatapku marah. "Udah ... terus aja. Terus kamu ngehina Key. Key tau Keytuh pengecut, cengeng, penakut Key. emang bukan orang jaim kayak di sekolah. Key emang manja, aneh. Udah ... terus deh, ngehina Key. Silakan aja. Udah banyak kok, yang ngehina Key kayak gini. Key emang abnormal. Key jahat yang bikin nangis mama gara-gara punya sifat kayak gini."
"Bukan gitu, Key!" Aku membungkuk mencoba menenangkannya. Kenapa ya, Key bisa begini? Apa dia punya kepribadian ganda ?
"Udah-udah! Nggak usah pake acara ngerayu kayak gitu segala. Kalo emang mau ngejek sih, silakan aja. Ejek Key yang banyak. Key udah sering
kok, diejek orang. Tapi kalo Key udah kayak gini, emang harus gimana lagi, sih? Orang-orang tuh kenapa sih, nggak pernah ngerti Key?" ungkapnya sedih, hingga mulai kurasakan dia terisak di kalimat-kalimat terakhir.
Aku mulai terenyuh dan terharu.
" Key...." Kuusap tangannya.
"Udah, ejek aja! Nggak usah dipendem. Kalo kamu emang mau ngejatohin Key, sekarang aja. Waktunya udah tepat. Key tau Key tuh nggak normal, nggak pantes buat hidup. Kamu benci kan, ngelihat cowok kayak Key? Semua cewek jijik kan, ngelihat cowok kayak Key? Key juga heran kenapa Tuhan nyiptain orang kayak Key."
"Hush! Jangan nyalahin Tuhan!" potongku.
"Berisik!" potong Key lagi. "Udahlah ... kalo kamu emang jijik, kamu bisa pergi dari sini. Key bayar dua kali lipat dari yang dikasih mama. Silakan aja, kamu bisa bebas dari Key , terus dapet duit lebih banyak. Ayo! Sebutin aja! Berapa mama bayar kamu?" " Key... aku, kan ...."
"Udah-udah! Mendingan Key tidur sendiri aja. Trauma, trauma deh, seumur hidup. Peduli amat. Ngapain juga Key masih hidup."
" Key!" potongku keras.
Key nggak menghiraukanku. Dia malah berdiri dan mencoba meninggalkan kamar ini.
" Key!" teriakku mencoba menghentikan langkahnya.
Key pun berhenti, mencoba mendengarkan apa yang akan aku katakan. Key ". Aku tuh nggak
masalah sama keadaan kamu yang kayak gini. Aku tuh sama sekali nggak risih. Bagiku, kamu tuh masih normal kayak cowok yang lain. Lagian, semua orang sayang sama kamu, kok. Mama kamu, pembantu pembantu di sini, juga cewek-cewek. Bahkan Tuhan? Tuhan nggak pernah tiba-tiba nyabut nyawa kamu gara-gara kamu kayak gini, kan? Tuhan juga masih sayang sama kamu. Sangat sayang. Kalo Tuhan nggak sayang lagi sama kamu, kamu belum tentu dapet harta sebanyak ini, wajah secakep ini, orang-orang yang nyayangin kamu ... buktinya, Tuhan masih ngasih kamu yang ter-baik untuk kehidupan sehari-hari."
Key mencoba menengokku, namun nggak penuh. Sementara aku jadi bingung sendiri. Kok, bisa bisanya ya ngomong kayak tadi?
" Key... aku tuh nggak masalah kalo kamu manja, bandel, penakut, pengecut, cengeng. Aku tuh nggak masalah, Key. Tapi, aku tuh nggak mau kalo kamu tuh pesimis. Kamu selalu berpikiran negatif. Aku nggak suka kamu kayak gitu. Aku tuh pengin kamu jadi orang yang optimis, dan selalu berpikiran positif. Jangan hancur gara-gara ejekan orang lain. Plis deh, orang lain? So what gitu lho! Tuh orang siapanya kamu pake ngejek-ngejek kamu segala? Penting, ya?! Tuhan aja nggak pernah ngejek kamu, kan?!"
Key mencoba berbalik, perlahan. Aku melihatnya nelangsa. Kasian banget. Hm ... ya udah. Kenapa juga aku nggak nemenin dia tidur? Dia itu anak manja, belum berpikiran ke arah yang dewasa.
Mudah-mudahan aja, aku masih aman.
"Oke ... Key. Mungkin aku ... nggak bisa seranjang atau sekamar sama kamu. Karena kamu tuh cowok, seumuran sama aku. Nggak pantes. Apa kata orang kalo kita tidurnya sekamar, apalagi seranjang. Bukan muhrim. Kamu ngerti, kan?" kataku ramah.
Key yang masih dirundung sakit, akhirnya mencoba tersenyum. Beberapa detik kemudian, dia menghampiriku dan membisikkan sebuah kalimat hangat yang baru sekarang kudengar langsung dari mulut Key.
"Makasih, sori kalo itu salah. Key udah kebiasaan sih, tidur ama pengasuh dari kecil. Kalo nggak ada pengasuh, rasanya kayak yang nggak tidur. Sori. Nggak apa-apa kok, kalo kamu nggak mau."
"Iya. Tapi kalo kamu takut, aku bisa nemenin kamu sampe tidur. Tapi nggak seranjang! Kamu di ranjang, aku duduk dekat pintu yang terbuka,'" Key pun mengangguk senang.
Signed by Webber
AKU menutup novel itu dan menyimpannya di atas meja. Kulirik jam dinding, pukul satu pagi. Oh, lama sekali aku membaca. Tapi nggak apa-apa, menarik. Kisah yang hebat. Baru seperempat bagian kubaca, novel ini membuatku penasaran.
Kutolehkan kepala menatap Key yang tertidur pulas.
Nggak nyangka banget, deh. Seorang Key bisa berada di bawah asuhanku sekarang,' Cowok yang jujur aja aku pernah ngeceng di awal-awal semester. Cowok yang banyak disukai cewek. Cowok yang paling jaga image di sekolah. Cowok yang selalu terlihat cool. Bandel. Tukang ngejek.
Hm ... Key... Key. Meskipun aku kaget kamu itu orang yang sangat beda dari personality di sekolah, aku sama sekali nggak ada rasa pengin ngejek kamu, kok. Sumpah, aku nggak pengin.
Malahan, aku jadi tambah care sama kamu. Aku makin sayang ....
Aku menatap Key lebih dalam lagi. Hm ... lucu
banget ya, kalo cowok lagi tidur. Lihat tuh matanya, bener-bener tertutup demi melepaskan lelah seharian. Mulutnya yang mengatup. Ekspresi wajahnya yang benar-benar datar, polos. Juga embusan hangat napasnya ... semua itu menyenangkan kalo kuperhatikan.
Hanya dengan memerhatikan cowok tidur? Hi-hihi ... penting ya?!
"Hmmmhhh Key mengembuskan napas panjang.
Dia tertidur pulas. Kulihat bibirnya mulai bergerak-gerak kecil. Mengemut sesuatu. Setelah itu, dia melanjutkan lagi tidurnya.
AKU meletakkan dengan cepat piringku, berlari mengambil HP yang bersuara. Sambil bergegas melalui ruang makan besar, kusempati pula menengok Key. Dia masih asyik dengan PS-nya. Aman. Aku berlari lagi dan mengambil HP.
Hah ... Andela nelepon ?
"Hai! Ada apa, nih?" sapaku langsung.
"Hiks ... hiks Suaranya aneh.
"Kamu tuh kenapa, sih?"
" Ve ... tolongin gue ya ... plis!"
"Kenapa, sih? Kamu lagi kesasar di pulau Madagaskar?"
"Bukan ... tapi di Mauritius!"
"Hah?!"
"Sori-sori, gue becanda! Ve... gue dapet masa/ah, nih. Piis. Gue nggak mau banget! Bantuin gue dong. I really need you to help me.'"
"Aduh, Nyai! Kamu teh cerita dulu atuh biar jelas
duduk persoalannya!"
"Wait-wait-wait. Elo Ve, kan? Bukan Shania?"
"Aku ini Ve... masa sih, bisa ketuker ama Shania. Sekembar-kembarnya kita bertiga, tapi nomor HP kan, beda-beda semua, darling. Honey bunny sweety____"
"Kok, elo centil sih, hari ini?"
"Centil? Ah ... nggak, deh! Cepetan kamu cerita. Ada apa, sih?"
"Ngngng ... gini ... last night, gue chat ama someone di Internet. We've been chat for a weeks. But as long that time, kita berdua sama sekali nggak tau wajah masing-masing. Dan malem tadi, dia ngirim fotonya ke gue, terus gue harus ngirim foto gue juga."
"Lha? Terus kenapa? Kamu kan, punya koleksi foto sendiri. Kasih aja satu."
" Tapi kan ... plis deh, dia itu ... dia itu ... nggak cute sama sekali!"
"Oya? Emang, namanya siapa? Orang mana? Kayak gimana ciri-cirinya?"
"Namanya Didin Mulyono Pangestu. Nick name-nya Dino. Dia orang Banjaran. Fotonya, ueeek ... kucing gue aja yang lagi pregnant tiga bulan, muntah-muntah di wastafel. Bukan karena ngelihat mukanya, tapi karena mual sedang mengandung bayi. Do you know something? Gue cukup banget ngelihat fotonya sekali. Iiih ... amit-amit jabang-jebong. What a disgusting thing to see.'"
"Aduh, ya. Pelan-pelan, dong! Cerita yang be-ner. Sehancur apa sih, mukanya? Kok, semangat
banget pengin muntahin dia?"
"Hiii... elo lihat sendiri, deh. I've sent his picture to your e-mail. Jadi ... kalo elo bisa buka komputer yang ada Internetnya di rumah majikan elo sekarang, open it right now.' Tapi, aku nggak jamin kalo komputernya tiba-tiba rusak. Kalo nggak ada Internet, cepetan ke warnet, bentar! Bawa aja tuh baby. Pokoknya, cepetan buka e-mail elo!"
"Ya ampun ... tenang aja lagi! Biasa-biasa aja. Gue bisa kok, buka bentar lagi."
"Hiii ... dan lebih buruknya ... lebih buruknya ... coba tebak?"
"Ngngng ... dia ... dia memakai kemeja kotak-kotak dengan dasi kupu-kupu?"
"Bukan itu. Bukan itu. Lebih buruk lagi!"
"Dia ... menderita pilek menahun!"
"Oh-my-gosh! Yang lebih buruk ... adalah ... adalah ... jeng-jeng! Dia ngajak gue ke temuan!"
Sejenak dunia hening, sunyi senyap.
"Ketemuan?" tanyaku heran.
"Iya! Ya ampun! Ve... gue nggak tau harus ngapain. Gue nggak mau ketemuan ama dia. Waktu gue minta Shania buat gantiin gue ketemuan ama dia, eh ... si Shania lagi gathering juga ama someone Internetnya. Everyone seems quite busy right now. Nah ... makanya, gue ... pengin minta bantuan elo. Gue ... pengin ... elo gantiin gue, ketemuan ama dia."
"Luna ... plis, deh. Kok, jadi aku, sih?" "Plis ... Ve. I have nobody who is still available to help me."
"Neither do I."
" Ve! Elo kok, gitu sih, sekarang? Gue kan, cuma minta elo ketemuan aja. Nggak lebih. Nggak ada unsur lainnya. Kita berdua have never talked something crazy or weird till now. Kita fine-fine aja. Please, Ve... cuma ketemuan. Setelah itu ...ya ... elo bebas pergi."
"Aduh, Andelaaa. Aku sih, mau-mau aja ngebantuin kamu. Tapi, just like the others, aku juga lagi really busy ama pekerjaanku. Aku kan, masih harus nyari duit buat gantiin notebook-nya Naomi. I'm very busy."
"Malam Minggu sekarang. Elo kan, cuma seminggu. Please ... elo pasti udah bebas deh, hari itu ... jadi gimana ?"
"Hm ... Luna, ada-ada aja, deh. Kalo gitu ... aku pikirin dulu. Nanti aku telepon kamu."
"Hah? Bener, ya? Kamu harus jadi!"
"Iya-iya, aku pikirin dulu. Udah dulu, ya! Baby-ku udah manggil tuh!"
"Iya-iya. Tapi harus jadi! Harus!"
Aku mematikan HP dan meletakkannya lagi ke atas container. Dasar Luna bodoh! Kenapa dia chatting ama orang jelek, sih?! Kuhampiri lagi sarapanku yang sisa dua puluh persen, namun Elby tiba-tiba memanggil dari ruang tengah.
" Ve Ve!! Sini, deh. Maen berdua, yuk! Balap F-l. Championship. Ayo! Sini!"
"Bentar! Aku bentar lagi beres!"
**********
Selasa, pukul dua belas siang ...
ARGH! Kenapa bisa ada di situ?!
Bajuku yang pagi tadi kujemur, sekarang nyang-kut di atas pohon belakang rumah? Padahal, aku harus mengambilnya karena langit begitu mendung di atas sana. Aku nggak mau baju itu basah karena hujan!
Kenapa angin bisa menerbangkan baju itu dari tempat jemuran di lantai dua ke atas pohon ini? Cuma bajuku! Sial.
Aku berlari mendekati pohon jambu yang tinggi nian. Di atas sebuah dahan, bajuku tergantung melambai-lambai. Itu adalah baju pemberian mama. Yang gambarnya koala dengan tanda tangan Mark Webber asli waktu balap di Melbourne tahun lalu. Baju itu penuh kenangan.
Kenangan karena Mark Webber begitu herannya mendapatkan papa mengejar-ngejar dia hanya untuk meminta tanda tangan di atas kaus bergambar koala. Padahal, aku udah membeli kaus Williams-BMW, bahkan dengan angka tujuh, angkanya Mark saat itu. Tapi papaku salah ngambil, dan meminta Mark menandatangani kaus koala itu.
Oh ... sekarang kenapa harus nyangkut di atas pohon?! Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memanjat?
Ya, nggak ada cara lain. Nggak ada waktu lagi bagiku buat minta tolong seseorang mengambilnya. Langit udah sangat gelap. Bisa-bisa, baju itu basah.
Aku nggak peduli seberapa besar rintangan di atas pohon ini. Dahannya memang besar, tapi lumutnya begitu menakutkan. Kemiringannya pun
sangat nggak pantas buat kulewati. Nggak banget deh, seorang Veranda manjat pohon jambu segede gini? Aku nggak punya jam terbang buat manjat pohon jambu. Jangankan pohon jambu, pohon taoge pun aku bingung cara manjatnya.
Argh. Akhirnya, aku harus manjat juga. Berdoalah Ve, nggak ada yang aneh-aneh di atas pohon ini. Jangan berpikiran bahwa di sini ada kuntilanak, atau sundel bolong, yang suka nongkrong di pohon-pohon gede kayak begini! Berpikirlah bahwa ada penguin dan lumba-lumba lucu lagi minum minum di dahan dekat bajuku tergantung.
Apa saja. Asal jangan hal-hal mistis.
Oke, penguin ... lumba-lumba ... koala ... panda ... hamster ... tuyul ... kuntilanak ... aaarggh! Aku masih nggak bisa melepaskan benakku dari nama menyeramkan itu kalo ber-hadapan dengan pohon sebesar ini. Apalagi langit begitu mendungnya.
Aku kepikiran cerita hantu yang diceritakan Pak Agus semalam.
Hey, apakah Tante Kunti suka hujan? Kurasa tidak. Dalam film-film, munculnya Tante Kunti hanyalah malam-malam dan sedang nggak hujan. Jadi kupikir, mungkin dia sedang menghangatkan diri di depan perapian di rumahnya. Nggak mungkin di atas pohon.
Baiklah, pohon ini aman.
Aku langsung melancarkan aksiku, memanjat pohon. Tanganku meraih sebuah dahan besar, lalu menarik badanku ke atas hingga kakiku cukup untuk meraih dahan lebih besar lain di level berikutnya.
Setelah itu, harus kususuri dahan memanjang yang semakin lama semakin mengarah ke langit, dengan dahan-dahan kecil sebagai cabangnya. Sampai sekitar tiga meter dari pijakan pertamaku tadi, dan kurasa ini sudah begitu tinggi dari permukaan tanah, aku masih harus menggapai baju itu. Hop! Argh! Dapat!
Aku begitu hebatnya hingga dalam raihan pertama, udah bisa menggapai baju ini. Aaahhh ... begitu leganya hatiku.
Dan kurasa, tanganku kepanjangan. Oke, lupakan. Langit benar-benar nggak bercahaya lagi. Aku harus segera turun. Nggak etis berada di atas pohon ketika hendak hujan. Berbahaya.
"AAARRRGGGHHH! " jeritku sangat keras.
Ada satu hal yang lebih menakutkan daripada mendapatkan kuntilanak menatap mukaku dari atas pohon ... yaitu ....
ENAM EKOR ULAT BULU BERWARNA HIJAU KEKUNINGAN MERAYAP KE ARAHKU!!!
"AAARRRGGGHHH!!!" jeritku lagi. "Kenapa, Ve?!" seru Key panik. Tiba-tiba, dia muncul dan meletakkan tangannya untuk meraih pijakan pertama.
"Aaarrrggghh!" jeritku terus menerus. Sengaja nggak kusebutkan kata "ulat" karena itu "nggak banget"!
Key menatap ketakutanku. Dia melihat juga ulat-ulat itu tengah merayap ke atas, mendekatiku. Tapi, Key malah cekikikan.
"Hmpf ... hmpf ...."
"Jangan ketawa! Singkirkan monster ini!" Aku semakin mundur, sangat ketakutan.
Gimana ulat ini nggak menakutkan! Ulat itu nggak ada lucu-lucunya! Lihatlah bentuknya! Begitu bulat panjang dan berbulu.
"Tunggu bentar!" Key turun lagi dan masuk ke rumah.
Dasar cowok bodoh! Kenapa dia malah masuk ke rumah?! Emergency, nih! Emergency. Aku membutuhkan unit gawat darurat buat nyingkirin ulat ini.
Oh ... someone out there ... please, hubungi pemadam kebakaran untuk menyelamatkanku dari musibah mengerikan ini! Ulat-ulat itu semakin dekat merayap ke arahku! Begitu DEKAT!
Key kembali dari dalam rumah. Kukira dia akan membawa tangga dan menyelamatkanku dengan tangga itu. Tapi, yang dia bawa malahan ....
"Gitar?" Aku mengerutkan alis, sangat heran. Saking herannya, aku lupa kalo ulat-ulat itu begitu dekat denganku.
"Tenang aja," katanya santai.
Sambil melewati pijakan pertama, kemudian menyusuri dahan besar menghampiriku, Key mengepit gitar yang dia bawa di antara lengan dan tubuhnya. Ulat-ulat yang mulai pedekate denganku langsung disingkirkannya.
Key meraup ulat-ulat itu, lalu melemparkannya ke tanah. Semuanya. Dan begitu mudahnya? Tidakkah dia jijik terhadap hewan mengerikan ini?
"Tenang aja, dong!" katanya lagi.
Aku mengatur napas, lalu mencoba duduk dan lebih bersiaga. Mataku langsung menerawang menatap dahan-dahan lain, mencari-cari ulat. Bukan untuk didekati, tentunya untuk kujauhi! Bisa aja masih ada ulat di sekitar sini.
"Udah, yuk, kita turun!" pintaku.
Tapi, Key malah cekikikan. Dia malah mem-blokir jalan, dengan duduk di atas dahan.
" Key, turun!"
"Kok, buru-buru, sih?! Tenang dulu, dong."
"Tenang apanya? Bentar lagi hujan, Key. Bahaya kalo ujan-ujanan di atas pohon."
"Tenang aja. Cuman aer, kok. Sekaligus bikin terobosan baru, ujan-ujanan di atas pohon. Hahaha
katanya diikuti tawa.
"Apanya yang terobosan? Bisa-bisa kamu sakit." "Ntar dulu, ah. Bentar aja."
Tiba-tiba, Key mainin gitarnya, lalu bernyanyi. Lagunya Michelle Branch, Everywhere ....
Cause every time I look you're never there and every time I sleep you're always there
Cause you're everywhere to me
and when I close my eyes it's you I see
You're everything I know that makes me
believe
I'm not alone ... I'm not alone ...
Baru saja mencapai akhir dari chorus pertama, hujan sudah turun. Tuss. Tuss.
Siraman air dari langit, mengguyur tanah, dan sebagian dedaunan di dekatku. Air-air itu pun mulai menetesi rambutku, juga si kaus koala.
Key menghentikan main gitar juga bernyanyi. Kemudian, dia mendongak dan menatap air hujan terus menerus menetesi dirinya.
"Yah, hujan," keluhnya.
"Tuh, kan? Udah aku bilangin kalo bentar lagi bakalan hujan. Udah, cepetan turun!"
"Wah asyik, dong?" katanya lagi, ngaco.
" Key, turun Key! Entar kamu sakit!"
Saat itulah, Key tiba-tiba menoleh padaku dan menatapku tajam, tanpa ekspresi.
Tatapannya hangat ... di bawah rintik air yang mulai membasahi wajahnya. Entah dia sedang mencoba serius ... atau memandangku dengan cara lain.
Key terus menatapku sampai rambutnya benar benar basah.
Air mengalir dari rambutnya, membasahi kening, melewati matanya yang indah.
Di antara tatapannya yang menusuk itulah .... Terasa lama ... kurasakan hangat di bawah hujan. Kemudian ... dia tersenyum.
"Sori ...," katanya tersenyum manis.
Key langsung mengangkat gitarnya, dan memayungi kepalaku yang udah sangat basah. Gitar itu jadi payung. Aku melirik ke arahnya.
Cowok ini ....
"Aduh, Key nggak bawa payung," kata Key lagi. Dasar bodohi Kenapa malah bawa gitar? Aku
menggeram.
"Sori. Ayo kita turun!" kata Key akhirnya. Dia pun mulai menyusuri dahan panjang itu ke bawah, ke pijakan pertama tadi. Gitarnya aku yang pegang.
Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk. Maklumlah ... gitar kan, dari kayu. Dikenain air pasti ada bunyinya. Makanya, Key tiba-tiba membuka kaus, lalu menutupi gitar itu dengan kausnya.
" Key, kamu ngapain?! Pake lagi baju kamu!" suruhku.
"Nggak," jawabnya pendek. Bahkan, nggak peduli sama omonganku. Dia maju begitu aja, lalu turun. " Key, ntar kamu sakit." "Siniin gitarnya!" serunya.
Aku menyerahkan gitar berbalutkan kaus itu padanya. Tapi, ternyata Key nggak memakai kausnya lagi. Dia malah membantuku turun. Sama sekali nggak kelihatan mau make bajunya lagi. " Key...."
"Sini, Key gendong," tawarnya. "Apa? Ah, nggak. Dari sini ke sana tuh deket-Jalan juga aku bisa, kok!" "Tapi becek, Ve
Ya, emang bener. Rerumputan belakang rumah sudah penuh digenangi air. Aku baru menyadarinya begitu berada di bawah pohon. Hujan pun ternyata lebih besar dari yang kubayangkan.
"Nggak usah, aku jalan aja."
Aku ngedahuluin dia jalan, dengan nginjek lahan yang lebih rendah dari pohon itu. Kakiku langsung
masuk ke genangan air, sampai kusadari banjir ini sudah sampai di mata kakiku.
Kciplak. Kcpilak. Kcpilak. Di bawah suara hujan, becek-becek itu kuinjak. Namun ....
"Aaarrrggghhh!" aku menjerit sekeras-kerasnya. Baru aja beberapa langkah, aku kembali lagi ke pohon tadi.
"Kenapa, Ve?" tanya Key khawatir.
"Ulat yang tadi!" Aku menunjuk tiga ekor ulat yang menggeliat di atas genangan air. Meng-gambang dan menggeliat. Ulat hijau kekuningan, mencoba merayap. "Aaarrrggh!"
Key cekikikan lagi, tapi tiba-tiba dia jongkok, membungkuk, memintaku naik ke atas punggungnya. "Udah dibilangin, biar Key gendong."
**********
Selasa, pukul dua siang ...
"DAN sang Putri akhirnya tinggal bersama Pangeran, kemudian hidup bahagia untuk selama-lamanya." Aku menutup buku dongeng di tanganku, dan membungkuk memeriksa Key.
Hm ... Key udah tidur, tapi hujan belum berhenti.
Oke, aku ngapain sekarang? Ya! Lihat e-mail Aku bergegas keluar kamar dan menuju ruang kerja Bu Nira. Kuhampiri notebook itu dan langsung connect ke server e-maii ku. Bener aja. Ada satu e-maii masuk. Dari Andela. Aku langsung membukanya, dan ...!
Apa-apaan ini? Makhluk dari mana ini? Iiih ...i
Ya ampun ... ternyata benar apa yang dikatakan Andela. Bukannya aku nggak menghargai semua bentuk ciptaan Tuhan. Tapi ini ...? Iiih benar-benar nggak punya style dalam kehidupan!
Kulitnya cokelat. Rambutnya disisir "sangat" rapi, belah tengah. Alisnya tebal. Kacamata tebal juga keemasan bertengger di wajahnya, lalu hidungnya yang aneh, pipinya kurus. Bibirnya tebal lagi. Lalu ... ya ampun, gigi kelincinya, di luar batas kewajaran, terlalu seperti kelinci.
Cowok itu memakai kemeja polos dengan dikancingkan sampai atas. Nggak ada ekspresi waktu difoto. Benar-benar ugly, weird, and terrible. Masa sih, masih ada orang yang kayak gini? Ah, aku sih, nggak percaya tuh orang wajahnya kayak gini. Kali aja ini bukan fotonya dia. Ya ampun ... kenapa sih, kuno dan kampungan banget? Style oldiest aja nggak gini-gini amat!
Aku langsung keluar dari mail itu, dan cepat cepat menuju compose. Kupikir, menulis surat untuk Bu Nira, mungkin akan sedikit membantuku melupakan wajah aneh tadi.
Dear diary,
Oh ... akhirnya aku bisa nulis di buku ini. Kemarin sorry, diary, aku nggak bisa. Masalahnya, si Key susah banget tidur. Apalagi aku lagi baca novel, seru banget! Ya ampun ... pokoknya pengin cepet-cepet baca tuh novel.
Oh, iya, hari ini amazing ya kalo dipikir-pikir. Dari mulai Andela yang nelepon minta bantuan (emangnya gue 911?) atau Key yang dengan romantisnya nyanyi-nyanyi di atas pohon, bawa gitar, terus kehujanan. Argh, Key bodoh yang romantis. Rasanya hatiku berdebar-debar.
Okay, lets talk about Andela. Iiih ... aku setuju kalo kucing bisa muntah-hamif atau enggak pas ngelihat muka tuh orang! Tau nggak, sih? Ya ampun, doesn't have any style, dan nggak banget deh, buat ukuran manusia jelek zaman sekarang. Wajahnya, bajunya, ya ampun ... aku juga heran, kenapa sih, masih ada orang yang kayak gitu sekarang?
Udah, ah! Hiiih ... males ngomonginnya juga. Palingan, ntar aku pura-pura sakit deh, supaya nggak ngegantiin Luna gathering ama dia. Dia lebih buruk daripada mengurus bocah tiga tahun yang lari ke sana-kemari.
Oke ... move to someone yang bikin aku ngerasa heran hari ini. My baby ... Key! Oke ... sejak kapan aku ngerasa ngelihat dia bener-bener gan-teng, lepas dari aku agak-agak sebel ama dia? Sejak kapan pula aku ngerasa dia romantis banget? Sejak kapan pula aku ngerasa dia yang paling gagah ? Aku heran, deh. Perasaan, apa sih, yang ngeganjel dalem hatiku sampe-sampe aku mikirin dia terus?
Waktu dia tidur siang tadi! Bahkan aku juga jadi keasyikan ngelihat Key saat tidur. Sama kayak malem kemarin, deh. Kok, serasa paling lucu ya, cowok kalo lagi tidur! Ekspresinya itu, lho ...
bener-bener ekspresi melepas lelah yang paling great! Katupan matanya, katupan bibirnya, ya ampun ... cute banget getoh! Dan dia, jeleknya, guling-guling ke sana-sini coba! Huh, untung kagak jatoh!
Dan sekarang ....
Key lagi-lagi tertidur lelap! Lagi mimpi indah! Kalo gitu, aku tidur juga kali, ya? Dadah ... met bobo diary/
Nehi!
Nggak Mungkin!
SEBUAH SMS aneh menghampiri HP-ku. Aku membukanya, dan menemukan nomor tak tercatat di phonebook-ku.
m Met pagi! Lg ngpain nih?
' Udh bngun kn? Met mlkkn ^ aktvts lo ya!
Aku tersenyum janggal, dan membalas SMS itu.
^^'Maaf Anda siapa, ya?
Dia pun membalas lagi.
 Masa ga tau sih! Gw DlnO!
' Yg suka chat ma lo ... * Ms lupa sih?
Hah? Dino? Dino yang mana? Dino temen chat Andela? Ya ampun ... kok dia nge-SMS ke nomorku sih ? Jangan-jangan ....
Ya2x! Aq tau ... sori, ya! Ntar aq SMS ig. G us h dbis.
Aku langsung nelepon Andela saat itu juga.
"Ada apa, Ve?" sapa Luna dari seberang
"Telepon balik aku! Aku nggak punya pulsa. Cepetan! Sekarang!" Aku langsung memutuskan hubungan telepon.
Hehehe ... sebenernya sih, aku masih punya lima voucher pulsa yang dikasih Om Johnny. Tapi males ah, ngisinya.
Sepuluh detik kemudian, Luna memanggilku.
"Kenapa, sih?" sapa Andela.
"Heh! Kenapa ada orang yang namanya Dino nge-SMS aku sih?"
"Oh ... itu ... hihihi ... sori, gue nggak se-ngaja ngirimin nomor elo ke dia. Jadi, ya ... dia punya nomor elo. Hihihi...."
"Malah ketawa, lagi!"
"Sori-sori ... Ve. Tapi, please ya ... elo ban-tuin gue, I would really thank you if you reach my problem .. Ve., gue nggak mau ny aki tin hati dia. Gue kalo jijik ya jijik! Gue kalo benci ya benci! Jadi, kalo gue ketemu dia, gue takut dia sakit hati. Please
... elo kan, hebat banget dalam menghadapi everyone/ Elo yang paling low profile. Sebaek baeknya gue jadi manusia, gue tetep nggak bisa
ngebohongin diri kalo gue nggak suka sama yang namanya Dino. I do, down to earth, but not adapting so fast! Please ... dia lumayan tajir, lho! Kalian ketemuan nanti di BIP ya, Sabtu malam dari jam tujuh."
Aku mengembuskan napas. "Hm ... Andela, bukannya aku males nolongin kamu. Tapi, aku masih sibuk Sabtu nanti. Majikanku baru pulang Minggu. Aku juga nggak tau waktu pulangnya. Bisa pagi, bisa juga Minggu malem. Aku nggak bisa ninggalin si baby sendirian. Aku harus berada di sampingnya selalu."
"Kalo waktunya diubah, gimana? Pliiis "Nggak tau, deh!"
"Aduh Ve... plis. Gue bener-bener di ujung tanduk sekarang. Cuma elo yang bisa nolong gue. Only you. Cumi-cumi yey."
Aku mengembuskan napas lebih berat. "Huh! Makanya, kalo chatting tuh liat wajah! Dasar ... ya udah ... tapi ganti waktunya, ya? Dan inget, cuma buat gathering aja! Bukan buat yang lain-lain."
"Hihihi ... thank you! Malem ini, gue ganti deh jadwal ketemunya. Pasti bisa, kok! Ntar gue SMS, ya! Dadagh!"
"Daaagh!"
Rabu, pukul tujuh malam ...
MBOK Jess tiba-tiba bergabung di antara kami. "Tuan muda, Tuan Boby sama Tuan Hamids sudah datang," kata Mbok Jess.
Key yang lagi asyik nyiram tanaman dalam game Harvest Moon Save the Homeland, menghentikan permainannya. "Ngapain mereka ke sini?"
"Biasa. Ingin ngajak main keluar."
Tiba-tiba Key melirikku, menoleh, menunjukkan wajah yang bertuliskan, "aku boleh keluar nggak, malam ini?"
"Nggak boleh!" seruku, menghampirinya dan mencoba mencegah kepergiannya.
"Ya udah ujar Key nggak peduli, kembali ke PS-nya.
Mbok Jess melongo kaget. Kemudian, dia membisikkan beberapa kata padaku, "Kok, bisa bisanya tuan muda nurut nggak maen keluar? Diapain, sih?"
Aku keheranan. "Ya ... kalo nggak mau, emang kenapa? Kali aja dia lagi males sekarang."
"Nehi-nehi. Nggak mungkin. Invisible."
"Impossible, kaleee ...!"
"Oh, iya. Tuan muda tuh, paling susah dihentikan kalo udah mau main keluar. Nggak mungkin dia nyerah begitu aja dilarang ama orang. Yey melakukan sesuatu terhadap tuan muda?"
"Ya, ampun! Saya nggak ngelakuin apa-apa sama tuan muda. Biasa aja. Kali aja emang lagi males."
Mbok Jess melirik Key, berpikir sebentar, kemudian dia mengangguk-angguk. "Baiklah kalau begitu, eke pergi dulu."
"Halo, Key!" seru Hamids tiba-tiba, menghambur masuk ke ruang tengah. Hamids, beserta Boby yang membuntutinya, melongo kaget mendapatkan aku ada di sini.
"K-kamu?" tanya Boby kaget.
Aku bangkit, tersenyum sama mereka. Baru aja aku mau ngucapin salam, aku ngedapetin mereka mundur menjauhiku.
"Hai ... kalian kenapa?" tanyaku ramah, masang senyum termanis, wajah ter-cute.
"Kamu ... kamu kenapa ada di sini?"
Mereka benar-benar ketakutan.
"Aku?" Aku bingung menjawabnya. Apakah aku harus berterus terang bahwa aku babysitter Key? Tapi, apa temen-temennya udah tau kalo Key kayak gini?
"Gue yang ngundang dia ke sini. Dia bakalan jalan ama kita. Ya kan, Ve?" ungkap Key tiba-tiba, masih memainkan PS-nya.
Hey! Ternyata kamu bisa juga ngomong make kata gue selain langsung nyebutin nama sendiri. Ih, bener-bener manusia berkepribadian ganda! "Elo mo bawa-bawa dia?" tanya Hamids heran.
"Emang kenapa? Nggak boleh? Yang bawa mobil kan, gue!" Key mematikan PS-nya, lalu bangkit melewati kami. "Yuk!"
Kok, jadi berubah pikiran, sih?! Huh, dasar Key! Tiba-tiba, dia mau maen keluar. Curang, dia berubah pikiran.
" Key bisikku pelan.
Key menoleh, dan wajahnya memohon.
Begitu mendapatkan Boby dan Hamids sudah berjalan mendahuluinya, Key menghampiriku. Dia berbisik, "Plisss ... malem ini aja. Key pengin keluar, nih. Tapi, kamu harus ikut."
"Hm ... boleh aja sih, kalo aku ikut. Tapi, aku-mau nanya. Apa mereka tau tentang 'ini'?" Aku membuat tanda kutip dengan jariku.
Key mendelik sebentar, lalu berbisik lagi, "Nggak. Nggak ada yang tau. Di sekolah, cuma kamu yang tau aku kayak gini. Mereka nggak ada yang tau. Makanya, mereka nggak pernah lama-lama ada di sini."
Aku mengangguk-angguk, membuntuti Key yang hendak mengambil kunci mobil. Mbok Jess sempat menggeleng karena aku mengizinkan Key pergi keluar malam ini.
Aku menghampirinya, "Nggak apa-apa. Aku yang tanggung jawab."
Mendengar bisikanku itu, Mbok Jess sedikit lega, namun lain sama Nince. Dia ... pengin ikut!
Key mengeluarkan Mercedes Benz E-class dari dalam garasinya, lalu memintaku duduk di kursi depan. Kutatap mobil berwarna silver metalik itu, sampai akhirnya masuk sambil mengagumi mobil ini.
"Malem ini kita ke mana, Key?" tanya Hamids, mengempaskan tubuhnya di jok belakang.
"Biasa ... cari cewek!" jawab Key mudah. Kalimat itu membuatku menolehkan muka ke arahnya, dan memasang wajah cemberut.
Namun dalam waktu singkat, aku memalingkan lagi wajahku ke depan, menatap paving blok dalam gelap. Hm ... oke, perjalanan pertamaku di malam hari bersama tiga cowok dalam satu mobil. / wonder what they will be talking about when getting fun at night. Beberapa cewek di sekolah pernah kudengar
tentang ini mereka pengin banget gabung bareng Key and his gank malam-malam, jalan-jalan ke sana-sini. But I never wish that thing. Dan menurut hipotesisku sendiri, sepertinya I am the first girl who's ever got this chance. Key had never let any girls in school to sit at by seat. Brmmm
Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah, dan Key mulai meningkatkan kecepatannya di jalanan.
"Tuh, cewek, Key! Edun ... cakep banget!" seru Boby senang, menunjuk dua orang cewek jalan di trotoar.
"Alaaa ... yang kayak gitu sih, udah tua. Cari yang agak muda, dong!"
Lalu beberapa meter kemudian, seorang cewek berdiri mematung, menunggu angkot di samping jalan. "Nah, itu tuh yang pole abis! Keren, coy!" ungkap Hamids, menunjuk pula.
Key yang melirik, lalu tersenyum dan menghentikan mobilnya di samping cewek itu. Sang cewek yang silau oleh lampu mobil, langsung menghindar, menjauhi mobil. Dan untungnya, cewek itu berhasil menyetop sebuah angkot, lalu naik.
"Yaaa ... telat! Ceweknya keburu naek angkot tuh!" seru Boby.
Key yang ikut marah, langsung menekan pedal gasnya kuat-kuat di gear kedua pula! Hingga mobil ini meloncat, langsung meraih kecepatan yang tinggi. Disusulnya angkot itu, sama persis ketika Key menyelip angkot yang kunaiki tempo hari.
Ckkiiit ...I
Suara menyeramkan muncul dari mesin dan ban mobil.
Angkot itu oleng, dan sopirnya marah-marah. Diacungkannya jari tengah oleh Hamids keluar jendela, dan mengejek-ejek angkot itu.
" Key, kamu jangan gitu, dong!" hardikku.
Key yang lagi nyetir akhirnya menoleh padaku sekilas. "Cuma bercanda kok, Ve. Nggak apa-apa, kan?"
"Sopir angkot itu punya salah apa sampe kamu harus nyalip mereka, sih?"
"Gue kan, cuma bercanda. Sopir angkot itu nggak punya salah apa-apa, kok!"
"Tapi itu kan, bahaya!"
"Elo kenapa sih, ribut aja?" sela Hamids tiba-tiba.  Kalo elo males ngelihat yang kayak ginian, ngapain elo ada di sini?"
"Iya, Key. Ngapain sih, kamu bawa s Ve i?" dukung Boby.
Aku melongo menatap ke depan.
Kenapa sih, cowok-cowok ini? Kenapa sih, mereka seneng ngebahayain diri? Cuma karena cewek itu naek angkot? Cuma karena itu? Okeiah kaio kegiatan berbahaya yang mereka lakukan emang positif dan aman. Tapi, ini kan? Aku, aku tau siapa yang nyetir. Aku seenggaknya tau gimana "rupa" yang nyetir. Berbahaya.
"Gimana gue, dong! Sirik aja! Ngapain tiap malem kita godain cewek-cewek tapi belum pernah satu pun cewek masuk mobil kita. Sekarang, mumpung ada, hargain, dong!" ungkap Key, tetap konsentrasi
nyetir.
Aku menoleh menatap Key. Actually plus honestly, I wanna say thank! Tapi sepertinya, Key nggak akan kapok melakukan hal yang tadi, karena
"Aaaarrggh!!!" erangku, menutup mata. Ckkkiiitt...!
Sedan yang kunaiki oversteer. Kemudian terjadi semacam spin, menabrak trotoar ... eh ralat ... hampir menabrak trotoar. Mobil bergetar sekilas, mengimbangi rem dadakan. Key memutar posisi setirnya kembali lurus. Dan semua berdegup tegang, ngos-ngosan, bahkan mulai berdoa minta keselamatan.
Hosh ...hosh. Embusan napas tegang mengalahkan kesunyian malam. Dua pasang mata di jok belakang saling melirik. Aku menatap keluar jendela. Key terengah-engah memandang setirnya.
"Elo tuh kenapa, sih? Pake ngerem mendadak segala?!" ujar Ali, menjinggak kepala Key. Tapi yang dijitak, malah diem.
"T-tadi ... tadi ... ada kucing. Ada kucing nyeberang."
"Kenapa nggak elo lindes aja?! Pake ngerem segala?!"
"T-tapi kan, kasihan kucingnya!" "Elo tuh kenapa sih Key,?! Dari tadi kok, kelihatannya aneh. Masa cuma kucing aja mesti ngerem mendadak segala?! Biasanya juga kan, elo giles apa pun yang ada di depan elo! Mau kucing, anjing, setan, kek!"
Key melepaskan sabuk pengamannya. "Jangan kurang ajar, ya!" Key bangkit dan meraih kerah baju Hamids, bagai hendak meninju mukanya, "Gitu-gitu juga, kucing tuh makhluk hidup! Jangan seenaknya ngebunuh makhluk yang nggak dosa apa-apa!" Keymengangkat tangan satunya lagi, benar-benar akan meninju muka Hamids.
"Eh, Key! Jangan main tonjok-tonjokan gitu!" Boby mencoba menahan tangan Key.
Aku nggak boleh diam! Kubalikkan badan, meraih pundak Key mencoba mendudukkannya lagi. Raut muka Key berubah begitu mendapatkanku menyentuh pundaknya. Tanpa aku bicara, Key mengerti aku menginginkannya duduk manis, kembali pada kemudinya. "Kamu tenang dulu, Key!" ungkapku. Kupasangkan lagi sabuk pengaman Key.
Masih dengan raut muka cemberut, Key mulai menyalakan mobilnya lagi. Dia membelokkan mobil, berputar dan kembali ke jalur yang benar.
DARI rencana yang kudengar, Jagad akan pergi ke B5M, entah mengapa kita malah sampai di BIP. Key membelokkan ke arah BIP. Bahkan, Boby dan Hamids heran.
"Kita ngapain sih, ke sini lagi? Sabtu kemaren-kan, kita ke sini."
"Lagi pengin aja kenapa, sih? Protes mulu!" jawab Key ketus.
Aku hanya diam mendengarkan mereka. Kemudian semuanya menghambur keluar, dan berjalan berempat menaiki eskalator. Entah apa yang bisa
kulihat di sini, semuanya terlihat mem-bosan-kan. Setiap minggu aku ke mal! Dan, BIP adalah yang frekuensinya paling banyak! Entah mengapa sering banget aku ke sini. Sudah sangat bosan, tapi nggak pernah kapok. Entah apa yang dimiliki BIP. Nggak ada yang istimewa, tapi selalu menarikku untuk mengunjunginya.
Key, Boby, dan Hamids lebih senang ngobrol bertiga. Lagi pula ngapain aku ngobrol ama mereka? Emangnya, mereka mau ngedengerin obrolan bertemakan cowok-cowok ganteng versi Tweenies? Nggak, kan? Yang ada juga aku harus ngedengerin mereka ngobrolin tentang cewek-cewek cantik versi Jagad. Dan aku mulai nggak suka kalo mereka udah ngomongin body. Ih, emang cewek cuma bisa dilihat dari body?
Begitu sampai di lantai dua, selesai melangkahi eskalator, tiba-tiba aku menabrak seseorang. Buuuk!
Lumayan keras, karena aku dan cewek itu terhuyung hampir jatuh. Aku tersungkur mendorong Key, membuatnya berbalik, dan menahanku. Cewek yang bertabrakan denganku lebih sial lagi. Dia terjatuh, berlutut, namun berhasil berdiri dengan tegap. Kemudian aku kaget, mendapati cewek yang menabrakku adalah ....
NAOMI!!!!
"Elo tuh kenapa, sih? Punya mata nggak, sih? Hobi banget nubruk orang!" hardik Naomi sambil menghampiriku, dan mendorong-dorong hingga aku termundur-mundur.
"Sori, Mi!" timpalku. Namun, sepertinya Naomi nggak mendengarkan.
"Elo tuh kenapa, sih? Dendam ama gue, hah?! Kalo elo nggak sanggup beli notebook, jangan ngebuntutin gue terus nabrak-nabrak gue segala! Norak, tau nggak, sih?! Gue tau elo miskin, tapi bukan gini caranya gantiin notebook. Jijay bajay! Banyak cara supaya elo bisa ganti notebook gue! Kerja di rumah gue, kek! Ngejual diri, kek! Dasar hina!" umpat Naomi di tengah keramaian.
Aduh, ya! Sapa juga yang ngebuntutin kamu!
Aku melirik-lirik panik ke arah Key. Key yang keheranan dengan kejadian ini, malah menatap Naomi marah.
"Elo tuh kenapa, sih?" sela Key.
"Elo diem dulu!" hardik Naomi ke Key, "Eh Ve,.. Haaa ...T' Tiba-tiba Naomi melongo, baru menyadari ada Keydi belakangku. Naomi panik, tegang, gugup, dan berkeringat dalam tempo dua detik.
Baru tau kamu, hah ? Ada Key di belakangku ?
Secepat kilat, Naomi berbalik, mengaduk tasnya mengeluarkan bedak, memoleskan dengan spons, lalu mengeluarkan lipgloss mengkilat, memoleskan di bibir, blush on diratakan di pipi, maskara cerah di bawah mata, mencet komedo, menutupi jerawat dengan poni, menggambar garis mata, dan ... selesai dalam sepuluh detik! Wow! Cepet banget! Kayak pitstop aja. Dandan tercepat abad ini.
Naomi berbalik lagi menghadap kami, tersenyum manis untuk ... Key. Jelas sekali aku melihat mata Naomi sedang mencoba mencuri perhatian Key. Raut
muka sok manisnya appear shinny, menyilaukan pandanganku. Tapi Key, yang ditatapnya, malah keheranan.
"Maskara elo luntur, tuh!" komentar Key.
Hmpf ... aku cekikikan. Tapi, Naomi sepertinya nggak mendengarkan. Dia masih terbuai menatap Key, nggak berkedip.
"Sori ya, Mi. Yuk, ah! Ngabisin waktu aja ...!" Tiba-tiba, muncul ide jahilku. Aku meraih lengan Key, lalu jalan berdua layaknya pasangan paling serasi dan harmonis di dunia ini, meninggalkan Naomi sendirian.
Aku melangkah layaknya model, diiringi Key layaknya pendampingku. Kurasakan dengan jelas, Naomi jealous di belakangku. Dia menginjak-injak lantai sambil kesal. Mukanya cemberut, tangannya mengepal-ngepal. Naomi kesal!
Full Day of SMS
SMS dari Andela.
m Gw udh knfrm Dino.
Hay u aja.' Hr senin dia ^ bsk bdg Ig. Bis.
SMS dari Shania.
n Pengumuman! Aq br
aza isi puis, he2x ^* gmn babymon-nya?.'
SMS-ku untuk Andela.
p 3m brp? Dmn? Gmn & prosedurnya ? Gw hrs ngapain?
SMS-ku untuk Shania.
m Ho3x, isi brp neng ?
Kmn aze sih? Sptny ^* hilang dr pradabn! Babymon: cute!
SMS nyelonong.
¦i Jgn tanya g w pny nmr lo drmn! Gw pny twrn bgs. More easy and costless. Bis. Naomi.
SMS dari Mama.
tj Gmn kbrnya? Udh 4 hr tp blm ksh kbrjg?
SMS-ku untuk Naomi.
Oya? Apaan tuh?
SMS-ku untuk Mama.
C Fine, thank you 4 asking! «t Sori, Ma! Aq Ig sibuk neh!
SMS dari Andela.
fe Bip jm 7 mlm. Easy! t§» Only be me.
SMS dari Shania
w Cute apanya ? Ekornya! ^ Ceritakeun atuh ... elo ^ ngapa aza?
SMS dar Naomi i.
Jgn bilang sapa2! R-a-h-a-s-i-a!
SMS-ku untuk Andela.
& Mksdnya only b me apaan ? Gw hrs jd elo ?
SMS-ku untuk Shania.
m Cute. Luchu! Cakep! E Elo pasti suka! Sdkt ^ bandel n ssh diatur! But, fine! He is ok!
SMS-ku untuk Naomi.
Ok ... whats up?
SMS dari Andela.
te Ubah gy bcr elo! Mulai skrg, gunakn
gue elo dim cnvrstn! Only that!
SMS dari Shania .
v Temuin gw dgnnya atuh. Tb2, g w kok bungah ya?
SMS dari Naomi.
Oke ... aq mo ngubah janji qta. Elo g hrs ganti notebook gw.
SMS-ku untuk Andela.
_ Gw tdk bs melakukannya. fe Gw tdk brbkt. Dan g w tdk ^ terbiasa mengucapkan gw-dlm berbicara. How?
SMS-ku untuk Shania.
Apaan sih? Nggak bs!
SMS-ku untuk Naomi.
SMS dari Andela.
Aduh, ya! nggak ush baku Ig dung ngmngnny!
Santai aza! Pke g w lo!
T p bhsnya santai!
SMS dari Mila.
Hm ... hiks2x! Y udh! n T p inget ya! Swtu hr, elo kudu menunjukkan ^ foto tuh babymon k gw, ok! Dah! Plsa g w ntar abis!
SMS dari Naomi.
1* Elo bs aja g ganti notebook. & Tp, lo hrs bikin, g w jd-an ama Key. Gimana?
SMS-ku untuk Andela.
^ Aq g bs, Andela! ¦fe. Aq g trbiasa!
SMS-ku untuk Naomi.
15 Hmh... sori y, Mi!
«g. Serendah2ny aq, aq g bkl jual co ama km!
SMS dari Andela
m Yayaya ...f Oke, terserah.
Lgian gw g akn prnh ktmu ^5* dia. Trsrh bhs lo mo kyk gmn jg!
SMS dari Naomi.
C Kurang ajar! Lo mulai %, nglwn gw ya?
SMS-ku untuk Andela.
Hihihi.., sori,'
SMS-ku untuk Naomi.
Mang napa? G blh y! 15 Lo sapanya gw? Qta kn w. cm pny hbngn dalam notebook
aza. Udh gw blkn notebook lo, qta g ada hbngn apa2 /g
SMS review ....
Mama nge-SMS cuma buat nanyain kabar. Bisa penting, bisa nggak. Banyaknya sih, mengganggu. Masalahnya, aku lagi SMS-an ama tiga orang lain.
Shania nge-SMS karena baru isi pulsa. Dia cuma nanyain baby-ku, dan entah kenapa, dia mengeluarkan istilah Babymon. Entahlah, aku juga
heran. Kira-kira, Babymon termasuk Pokemon, Digimon, atau Monster Farm, ya?
Naomi ... ngapain sih, pake ngubah kesepakatan? Kalo notebook ya, notebook1. Kenapa juga harus diganti jadi Keynal! Mentang-mentang sekarang aku ketauan jalan bareng sama dia, si Naomi jadi se-enaknya aja tuh, ganti utang. Aku tuh kalo bayar utang ya harus utang yang sama, nggak boleh beda. Sebab nilainya beda! Dari mana juga dia dapet nomorku?
Hm ... Andela! Sekarang dia maksa aku supaya jadi dirinya. Supaya aku menghilangkan kebiasaan menggunakan aku-kamu menjadi gue-elo. Bisa aja, sih. Tapi sumpahnya, aku pasti akan keceplosan nyebut aku-kamu. Luna kan, nggak pernah keceplosan. Aku sih, emang udah biasa nyebut aku-kamu. Oke, di beberapa kata aku juga emang pengguna provider gue-elo. Tapi hanya di diary, makian, seruan, dan ketika marah. Beside that, never,' Hm ... ya udah, deh. Gue akan mencobanya,'
Aku mengutak-atik HP, mengecek pulsa. Dan betapa kagetnya aku mendapatkan pulsa bersisa ... Rp 88,-
Ya ampyyyun! Udah abis lagi?!
Aku... Boysitter
Jumat, pukul dua siang ...
SALTUM! Saltum! Salah kostum! Aku salah memakai pakaian siang ini. Oke, cuaca memang panas. Tapi Key mengajakku main ke Lembang. Plis deh, dingin gitu lho!
Masalahnya, aku tuh cuma pake t-shirt yang sleevenya pendek banget. Ditambah, jins selutut. Sumpah. Aku nggak nyangka akan ke sana. Kukira Key akan mengajakku ke mal lagi seperti dua hari yang lalu.
" Key, kenapa kamu nggak bilang mau ngajak aku main ke sini?"
"Ngngng ... emang, harus bilang ya?"
"Ya iyalah. Jadi kalo aku diculik, aku bisa SMS mamaku dulu bahwa aku diculik!"
"Hahaha ... ngapain sih, Key nyulik kamu!"
"Kali aja." Aku menenggelamkan diri lagi di kehangatan jok depan. Sedikit berbeda dari
semalam. Sekarang aku duduk di sedan sport yang sudah banyak dimodifikasi. Aku pun baru melihat mobil ini terparkir di tempat tersembunyi kediaman Bu Nira.
Siang ini, Key mengajakku main dengan alasan bosen di rumah. Ya, begitulah. Dan itu membuat pekerjaanku, semakin hari, semakin enteng. Perbedaan yang kurasakan antara hari Senin dengan Jumat, sungguh di luar dugaan. Kalo hari Senin aku harus joging keliling rumah hanya untuk membuatnya mandi. Di hari Jumat, aku tinggal menepuk bahunya, tersenyum manis, maka dia langsung mengerti bahwa aku menginginkannya mandi. Easy, huh?
Tidur? Sama-sama mudah. Senin malam, aku harus bertengkar dengannya. Kamis malam? Aku hanya duduk tak jauh darinya, melanjutkan membaca novel anonymous, dan kudapati dia sudah tertidur lelap tiga menit kemudian.
Bahkan, Jumat pagi ini, Nince dan Mbok Jess tiba-tiba memberiku medali aneh terbuat dari uang logam Rp 1.000,- yang dilubangi dan diberi tali. Medali itu dikalungkan khusus untukku, diberikan penghargaan atas "keberhasilan sedikit membuat perubahan di diri tuan muda". Penting, ya? Emangnya Key menderita suatu penyakit? Kok, sampe ada medali segala gara-gara Key mandinya lebih nurut hari ini?
" Ve...?" tanya Key pelan, masih fokus menyetir mobilnya, melaju kencang di belokan jalanan yang kanan-kirinya dipenuhi tetumbuhan.
"Ya, Key. Kenapa?" Aku mengambil tisu dan mengelapkannya di muka Key yang keringatan.
"Kamu ... kamu kenapa jadi babysitter? Kamu lagi nyari duit?"
Aku tersenyum, membuang tisu basah karena keringat Key keluar jendela. "Emang, aku jadi babysitter buat apa lagi? Hobi? Aku tentunya jadi babysitter karena nyari duit. Seandainya aku nggak nabrak Naomi waktu itu, aku nggak mungkin jadi babysitter."
"Notebook, ya? Emang kenapa ama notebook Naomi?"
"Heh! Kamu tau dari mana aku ada masalah notebook ama dia? Aku kan, belum cerita?!"
"Ng ... dari pas kita ketemu Naomi di BIP. Terus ...sori, ya. Key semalem baca inbox HP kamu!"
"Ih, nggak sopan!" Aku menjewer kupingnya sebentar, menariknya ke samping. Kemudian dilanjutkan dengan serangan ke arah pundak, memukulnya pelan.
"Sori. Sori. Nggak sengaja. Key cuma heran aja, kamu kan, lumayan makmur hidupnya. Papa-mama kamu nggak punya masalah dalam finansial. Dan, hidup kamu juga kayaknya seneng-seneng aja. Tapi kok, tiba-tiba jadi babysitter, sih?"
"Hm ... ya. Oke. Aku mesti jujur. Waktu ulum kemarin, hari pertama, aku lari mau ke kelas. Tapi di belokan kantin ke lapangan, belokan laboratorium itu tuh, deket perpustakaan, aku nabrak Naomi. Kebetulan, Naomi lagi megang-megang note-book, dan ... ya, jatuhlah benda mahal itu Naomi .
marah-marah dan minta ganti. Untuk itulah, aku akhirnya cari kerjaan."
"Tapi kalo minta ke ortu kamu, Key yakin pasti dibeliin notebook buat ngegantiin."
"Iya, aku tau. Aku sebetulnya bisa aja dibeliin notebook. Apalagi ama sodara-sodaraku yang di luar Bandung. Aku minta satu notebook, mereka pasti ngasih sepuluh. Alhamdulillah, keluargaku lumayan tajir semua. Tapi, ternyata mamaku lebih ngedukung aku kalo bisa bertanggung jawab sendiri."
"Maksudnya?"
"Ya ... segala hal, apa pun itu, harus bisa dipertanggungjawabkan. Mama ngajarin tepat ketika aku sebetulnya bingung 'harus cari kerja atau tinggal minta dibeliin notebook sama om-omku'. Aku emang bisa dibeliin. Tapi aku nggak akan pernah terdidik untuk bertanggung jawab. Aku pasti jadi anak manja. Maka, apa salahnya sih, ngegantiin pake hasil keringat sendiri? Lebih mengasyikan, lho! Meski ternyata, semua hasil yang kita dapatkan harus diberikan pada orang lain."
"Kalo gitu ... Tuhan sayang banget ya, sama kamu? Dia ngasih sifat tanggung jawab besar dalam diri kamu. Nggak kayak Key. Mungkin karena Key manja, suka ngerepotin Mama, Key nggak pernah bisa bertanggung jawab."
"Ah, nggak ada hubungannya Tuhan ngasih sifat tanggung jawab ke semua orang. Tanggung jawab tentu aja tergantung ama orangnya sendiri. Sebaik-baiknya orang, kalo niatnya emang nggak pernah mau tanggung jawab sih, ya ... nggak akan
pernah tanggung jawab."
Key nggak merespons lagi kali ini. Dia kembali menyibukkan diri dalam kemudinya, dan meluncurkan mobil ini lebih tenang. Yap. Lebih tenang. Entahlah, entah apa yang sebenarnya terjadi. Something weird happen to Key. Is he going to change?
Cara mengemudi Key yang sering kulihat dari angkot sepulang sekolah, sungguh sangat berbeda dengan hari ini. Ketenangannya, kesopanannya, membuatku terus menerus heran dan memikirkannya. Kalo biasanya dia selalu tertantang meyusul semua mobil yang ada di depannya, siang ini Key lebih menenangkan deru mesinnya. Key mulai sering disalip, juga lebih sabar menunggu antrean di belakang angkot yang sedang menaikkan penumpang.
Hm, sudahlah, aku jangan terlalu cepat menyimpulkan. Kali aja Key lagi pemanasan, tapi nanti di Lembang dia bakalan kebut-kebutan seperti biasanya. Yah, cowok sulit banget diduga. Keinginannya aneh, dan terkadang "menjijikan".
Aku menoleh menatap Key yang dengan ceria mengemudikan mobil. Siang ini dia terlihat ganteng seperti biasanya. Tapi aura gantengnya lain daripada biasanya. Serasa, gantengnya ... ya, beda gitu, deh. Padahal nggak ada yang aneh di penampilannya. Key hanya memakai topi diputar ke belakang, kaus sieeveiess tipis, jaket, dan celana parasut besar yang kelihatan ngepas. Kalung perak di lehernya, mempermacho penampilannya siang ini.
Entahlah, entah apa yang istimewa dari pakaian ini. Tapi, feeling-ku mengatakan Key memiliki sesuatu hal yang lain. Entah apa itu. Sepertinya ... a little event would be happen in the next minutes.
Jumat, pukul enam petang ...
"UDAH aku bilangin cepetin pulang. Kamu sih, nggak nurut. Jadinya kan, kita pulang malem sekarang," protesku sewot, memeluk udara di depan dada.
"Biarin aja kenapa, sih? Kamu kan, babysitter Key. Mama nggak akan marah kok, kalo Key maen keluar bareng babysitter."
"Bisa ganti babysitter pake kata lain nggak, sih? Jujur aja, aku tuh risi ngedenger kata itu, soalnya yang aku asuh tuh cowok tujuh belas tahun. Aku tuh nggak enak kalo mau curhat ama temenku tentang bayi-bayi yang aku urus sekarang. Masa sih, mau bilang 'hey, bayiku udah gede, lho! Udah bisa jalan1, nanti yang malu kan, kita berdua!" ungkapku panjang lebar, asal.
"O-okay!" Key kembali nyetir, meskipun sem-pat tertawa kecil. Dia nggak merespons kalimatku barusan, apalagi memberikan ide nama untuk "cewek pengasuh anak seperti dia".
Sudahlah, nggak terlalu penting. Aku bisa nyebut diriku dengan Monstersitter, Key sitter, Cuteguysitter, atau ... Boysitter?
"Oh-my-God!" seru Key tiba-tiba. Mobil pun mendadak bergetar kencang. Key menepikannya, dan mendapatkan ban belakang kanan sudah
kempes. "Argh! Kenapa bannya kempes, sih?"
Ih, dasar sial. Kenapa juga nggak kempes tepat di depan bengkel aja ?
" Key cek dulu." Dia keluar, mengutak-atik sesuatu, kemudian kembali lagi membuka bagasi dan mengambil peralatan pengganti ban. Key membungkuk di depan ban kempes itu. Beberapa detik kemudian, kudengar dia berteriak, "Sialan! Ada yang ngejahilin, nih. Ada paku, empat biji, nempel di ban."
Aku menoleh kaget dan celingak-celinguk nge-liatin rumah penduduk yang jarang-jarang, lalu melepaskan sabuk pengaman. Kuhampiri Key yang lagi memeriksa ban itu. "Kenapa, Key?"
"Bannya bocor. Ada yang sengaja naro paku di tengah jalan. Jadinya, ban bagian sini kempes berat. Untung yang laen nggak ada yang kena."
Aku jongkok menemaninya. "Ya udah, minta kirim mobil derek aja ke sini. Sekarang kita tungguinnya di dalem. Dingin di luar mah." Aku menggosok-gosok lenganku sendiri, mencoba mencari kehangatan dari dalam tubuh.
"Nggak ah, Key mau gantiin ban ini sendiri aja. Ngapain manggil tukang derek?"
"ya ... udah," ucapku tersenyum, mencoba menenangkannya. Kemudian, aku memeluk tubuhku semakin erat, menahan rasa dingin yang menusuk kulit.
"Kamu kedinginan?" tanya Key, melihat tersiksanya aku dalam suhu serendah ini.
"Ya iyalah. Plis, deh. Ini tuh masih di Lembang, Bi. Aku cuma pake ...."
Belum selesai aku berbicara, Key tiba-tiba membuka jaketnya. Kemudian, dia memberi jaket itu padaku, dan memintaku untuk memakainya. Sedangkan dia sendiri, hanya mengenakan kaus slee-veless yang tipis.
"Nggak usah, Key. Kamu pake aja!" tolakku. "Alaaa ... udah pake aja. Nggak usah malu-malu. Daripada ntar kedinginan!"
" Key! Aku nggak apa-apa kedinginan juga. Nggak masalah. Kamu kan, sekarang tanggung jawabku. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Aku nggak mau kamu sakit, Key. Udah, kamu pake aja! Aku baik-baik aja, kok."
"Eh, kamu yang jadi tanggung jawab Key sekarang. Yang ngajak kamu ke sini Key . Jadi, Key yang tanggung jawab."
"Nggak usah Key,. Aku nggak apa-apa. Udah, kamu pake aja. Kaus kamu lebih tipis daripada kausku. Kamu pake aja jaket itu."
"Kamu tuh ngelawan aja, sih. Kalo Key pengin kamu pake ini, ya pake ini! Turutin. Nggak apa-apa, kan?!"
Meskipun sempat heran, kesal, dan canggung, aku memakai juga jaket Key. Sedikit kebesaran, namun cukup membuatku hangat. Tetapi, aku mendadak khawatir keadaan Elby yang hanya mengenakan kaus sleeveless itu, dan celana parasut yang sama-sama tipis. Aku khawatir Key masuk angin dan ujung-ujungnya demam. Anak bandel dan manja seperti dia kelihatannya sih, sangat rentan kena demam. Key tuh sebetulnya
terlalu lincah dan banyak bicara.
Aku nggak langsung masuk begitu aja ketika Key sibuk mengutak-atik ban. Aku jongkok menemani, dan terkadang membantu mengambilkan barang yang dia butuhkan.
Lalu beberapa detik kemudian, kutemukan sebuah sosok aneh, berjalan ke arah kami. Semula aku pikir itu hantu, namun kupastikan segera kalau itu adalah manusia asli. Dan sosok itu semakin dekat berjalan ke arah sini. Sehingga, aku bisa melihat dengan jelas bentuk sosok itu. Mukanya sih, belum terlihat jelas karena gelapnya malam. Tapi, dapat kupastikan lagi bahwa sosok itu adalah seorang wanita, ibu-ibu maksudku, dengan jilbab yang senada dengan pakaian yang dikenakannya, hijau muda. Jalannya agak aneh, dan sepertinya kukenal.
Ketika tinggal beberapa meter jaraknya dengan kami, wanita itu kelihatannya kegirangan. Dan begitu lampu belakang mobil Key menyorotnya, akhirnya aku menyadari bahwa sosok itu adalah ....
"Kalian ... pacaran aja di sini teh? Kenapa kalian teh? Dingin-dingin begini diem di sisi jalan? Emangnya kalian nggak takut. Sedang apa kalian teh ?"
Bu Lina! Wali kelas kami.
"Eh, Ibu!" Aku dan Key kaget, menolehnya, berdiri, mencoba bersalaman dengannya.
"Kalian teh sedang apa saja di sini? Malem malem begini, dingin lagi, ih berbahaya. Kalian teh habis pacaran?"
"Bukan, Ibu!" jawabku cepat-cepat.
"Kita ya, lagi maen aja. Tapi, ada yang jahil, Bu. Ada yang ngempesin ban mobil Key," lanjut Key sebelum akhirnya kembali lagi membetulkan bannya.
"Oh, begitu?!" Bu Lina manggut-manggut menatap ban kempes yang berhasil dilepas. "Emang-nya, kalian dari mana? Malem-malem begini masih ada di Lembang. Nggak takut kalian teh? Nggak takut dimarahin sama orangtua kalian teh?"
"Nggak apa-apa kok, Bu. Kita abis jalan-jalan ke Tangkuban Perahu, ke perkebunan yang di atas sana."
"Asyik atuh. Kenapa nggak ngajak-ngajak Ibu?!"
"Ya, masalahnya kita ngedadak, Bu. Baru ngerencanainnya siang tadi. Nggak ada persiapan. Ibu sendiri dari mana?"
"Ibu teh habis dari rumah temen, di sana tuh, yang rumahnya ijo di sana tuh, habis kumpul kumpul, gitu. Dari tadi nyari angkot nggak ketemu juga. Ke mana ... angkot-angkot teh? Kok, Ibu nggak dapet satu pun ini teh. Padahal, Ibu udah nungguin dari jam lima. Penuh semua."
"Oh ..." Aku mengangguk-angguk. "Ibu mau bareng ama kita, nggak?" tawarku.
"Ah, nggak usah. Ibu mah jalan aja ke sana. Kali aja ada angkot kosong. Ibu mah nggak mau ganggu kalian yang sedang berpacaran. Ibu mah jalan aja. Kalian mah silakan aja malam mingguan lagi. Silakan aja."
"Eh, Ibu. Udah, bareng aja! Tinggal tungguin Key ganti ban, kok! Bentar, nggak akan lama." Aku
menarik tangannya agar nggak pergi.
"Ah, nggak usah. Nanti kalian terganggu. Nanti malam mingguannya nggak berkesan lagi."
"Ya ampun, kita nggak lagi malam mingguan, Bu. Kita lagi jalan-jalan aja. Nggak ada acara pacar-pacaran. Lagi pula, sekarang hari Jumat, Bu. Malam Sabtu. Nggak mungkin buat malam mingguan."
"Boong, Bu! Boong, Bu!" seru Key mempermainkanku.
"Tuh, bohong. Kasihan pacar kamu nggak dia-kuin."
"Ya ampun, Ibu! Aku tuh nggak pacaran ama dia Kita cuma temenan, nggak lebih, Bu!" Aku mencubit Key yang lagi jongkok. Key tertawa kecil.
"Ah, nanti Ibu takut mengganggu!" Bu Lina mencoba pergi dari kami.
"Ih, Ibu di sini aja, bareng ama kita ke Bandungnya. Bahaya kalo sendirian. Lama lagi nungguin angkotnya. Udah, Ibu di sini aja!" pintaku.
"Tapi, nggak apa-apa ini teh?"
"Nggak apa-apa!"
"Ya udah atuh. Ibu bareng kalian, ya!" Bu Lina pun menepi bersamaku ke belakang mobil. Sementara Key, udah berhasil mengunci ban baru dan tinggal memasang bott-nya.
"Eh, kamu, Sumarni, kamu masuk mana, IPA a-tau IPS?"
"Ibu! Aku tuhVeranda, bukan Sumarni!" "Oh, Veranda... kirain Ibu, kamu tuh Sumarni. Mirip sih, kelihatannya, gitu."
"Apanya yang mirip? Sumarni tuh, pake kerudung, Bu, sedangkan aku nggak pake kerudung."
?
#
I Know I Will Loose This In The Next Day
Sabtu, pukul sepuluh pagi ...
Key teratasi, sebetulnya terlalu mudah. Begitu kusuruh dia mandi, dia hanya mencubit pipiku gemas, lalu beranjak dari komputernya. Dia pergi ke kamar mandi. Nggak cerewet, nggak rewel. Aku mengembuskan napas lega, karena nggak harus mengejar-ngejarnya ke sana kemari hanya untuk memintanya mandi.
Aku berjalan menuruni tangga, dan menemukan sebuah piano di ruang baca lantai satu. Aku sering sekali melihat piano ini, namun nggak pernah memainkannya. Mumpung Key lagi mandi, kenapa juga nggak kumainkan piano itu? Aku ingin mencobanya. Lagi pula, aku pernah mendapati Nince memainkan piano ini asal-asalan, berarti mungkin, hehehe ... aku juga boleh dong, main piano ini?
Teng ... teng ... teng ... teng ... teng-teng ...
teng-teng ....
Hihihi sulit! Nggak seperti keyboard, tapi mengasyikan. A classical thing. Aku memencet mencet lagi tuts piano asal-asalan, mencoba membuat nada yang indah. Namun, nggak pernah berhasil. Pasti hanya nada berirama aneh yang kubuat. Meskipun begitu, suara merdu yang keluar dari piano ini sungguh enak untuk di-dengar. Nyaman, hangat, dan penuh kedamaian.
Aku terus menerus memainkan piano itu sendirian untuk waktu yang agak lama. Bahkan, aku melupakan Key. Aku keasyikan dengan nada-nada yang kumainkan. Aku bereksprimen dengan setiap tutsnya, mencari-cari irama yang enak di-dengar. Sedikit terlintas di pikiranku untuk membuat lagu. Hehehe ... ngekhayal aja, deh. Padahal, aku bukan pianis. Tapi, aku sungguh terlena dengan piano ini.
Tiba-tiba, muncul sepasang tangan di sampingku.
"Sini Key ajarin. Key sering kok, maen piano," kata-nya bangga.
Teng ... teng-teng ... teng ... teeeng ...teng-teng-teng ... teng ....
Aku terbuai oleh lagu itu. Oh ... kurasakan gejolak aneh dalam hati. Kehangatan, perlindungan, kasih sayang. Kurasakan itu lagi.
Tiba-tiba, Key berhenti memainkan nada-nada
itu.
"Aduh, Key lupa lagi!" serunya panik sambil menerawang menatap langit-langit.
Aku tertawa kecil dan menoleh ke arahnya.
Begitu dekat. "Kamu udah mandi, Key?" tanyaku, mencubit hidungnya.
"Udah ... masa wangi gini dikira belum mandi, sih?!"
Sabtu, pukul tiga sore ...
AKU menutup buku menu, dan meletakkannya di atas meja.
"Aku, pesen cheese raisin bread sama coke float aja, deh!" ujarku tersenyum.
"Cepetan ya, Mas!" seru Key pada pelayan itu. Setelah menuliskan menu yang kupesan, pelayan itu pun pergi meninggalkan kami. Key langsung mengetuk-ngetuk meja restoran dengan kedua telunjuknya, mencoba menciptakan suatu irama. Lalu, kaki kanannya mengetuk lantai, tambahan irama lain.
" Key, aku mau nanya, dong!" gumamku.
Key mengangkat kedua alisnya, menyatakan silakan. Tapi, dia masih sibuk memainkan jarinya.
"Kamu ... kenapa agak berubah akhir-akhir ini?"
Key langsung menolehku, serius. "Nggak boleh, ya?"
"Bukannya gitu. Aku bosen aja diinterogasi Mbok Jess dan Nince. Aku sih, nggak tau maksud mereka, nggak ngerti. Aku tuh, bingung. Emangnya kenapa sih, kok, kamu katanya berubah jadi lain akhir-akhir ini?"
"Hak Key buat berubah juga." "Ya tapi kan, selalu ada alasan untuk suatu hal yang dikerjakan. Nah, alasan kamu tuh apa?"
"Alasan? Apa ya? Ngngng ... pengin aja. Nggak boleh?"
Satu jam kemudian ...
AKU menunggu tiga meter dari pintu masuk kamar mandi. Key sedang buang air kecil di dalam. Acara makan kami sudah selesai, nggak kenyang tapi seru. Key melontarkan jokes konyol yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Bahkan, pengunjung lain yang duduk di samping kami ikut tertawa. Oh, sungguh berkesan acara makan kali ini.
Buuuk
Tiba-tiba, seseorang menabrakku dan capuccino yang dipegangnya tumpah ke atas pakaian kami. Aku meloncat ke belakang, begitu pula dia. Dan sialnya aku, lagi-lagi orang yang ku-tabrak adalah Naomi!
"Elo lagi!" Naomi geram. Kemudian Naomi, menyi-ram sisa capuccino ke bajuku. "Dasar jereng! Liat nih, baju gue! Gara-gara elo, baju gue jadi kotor gini? Sialan!"
"M-maaf, Mi!" ujarku meminta maaf. Aduh ya, seharusnya dia yang minta maaf. Aku iagi diem gitu! Naomi kan, yang nubruk aku.
"Maaf, maaf! Baju gue mahal tau! Enak aja minta maaf. Dasar nggak tau diri! Kenapa sih, hobi banget nabrak gue?!"
"Tapi
"Berisik! Gara-gara elo, baju gue sekarang kotor. Elo harus ganti sekarang juga." Emangnya bajuku nggak?!
"Tapi, aku nggak bawa baju ganti," kilahku. "Gue nggak mau tau! Pokoknya, ganti baju gue sekarang juga."
Aku panik, namun mencoba tenang. Ya ampun, aku melakukan kesalahan lagi. Kesalahanku adalah "mencari masalah dengan Naomi ". Oke, aku tau sebetulnya aku sangat nggak bersalah. Tapi entah kenapa, aku nggak bisa ngelawan Eva. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba, Key muncul di antara kami. Namun, dia menghampiriku. Key hanya menatap tumpahan capuccino yang menempel di bajuku dan Naomi. Naomi yang kaget mendapati aku bareng Key lagi, bersikap panik. Kurasakan Naomi ingin sekali mendandani dirinya, tapi sepertinya tasnya berada jauh di meja sana.
Key langsung membuka kausnya, dan memintaku mengenakannya. Tinggallah dia bersama kaus dalamnya. Lalu, dibukanya juga kaus dalam itu, dan diserahkannya pada Naomi. "Nih!" ujar Key melempar kausnya.
Naomi menerima lemparan kaus dalam Key. Dia tersenyum-senyum genit. Kemudian Key menarikku, dan memintaku mengganti bajuku yang basah dan kotor dengan bajunya. Di luar toilet, dia menungguku, menatap Naomi sinis, yang ternyata malah mencium-ciumi kaus dalam Key. Bukan memakainya!
Sedikit kebesaran, namun nggak apa. Aku tetap cantik dengan kaus cowok yang gede ini. Lagi-lagi ... aku merasakan sesuatu hal yang aneh
dalam hatiku. Lagi-lagi aku memakai pakaian Key, dan mendapatkannya wearless. Aduh ... Key.
Tapi ... nggak usah dipikirin. Mungkin ini salah satu caranya dalam rangka berubah. Hihihi ... aku jadi penasaran, gimana dirinya akan berubah nanti.
Minggu, pukul sembilan pagi ...
"NYONYA besar nelepon, katanya udah ada di Jakarta. Satu atau dua jam lagi nyonya sudah ada di sini," cerita Mbok Jess padaku. Nince yang berdiri di sebelahnya mengangguk-angguk.
"Oh, baiklah kalau begitu. Saya akan minta Key mandi." Aku berdiri meninggalkan mereka berdua, dan berjalan menuju kamar Key.
Key masih tidur. Bukan karena sekarang hari libur, tapi karena baru bisa tidur pukul satu dini hari. Key kesulitan tidur malam tadi. Suddenly insomnia, tapi masih mending. Aku tidur pukul dua! Aku harus mastiin Key udah tidur sebelum akhirnya aku tidur.
"Halo. Selamat pagi, bayiku. Mama mau pulang, tuh!" seruku sambil menyingkap selimutnya.
Key masih menutup matanya, masih melepaskan lelahnya. Dia mengembuskan napas berat, menandakan dalam keadaan tertidur lelap.
Kugoyangkan tubuhnya, bahkan kujewer telinganya.
Hm ... belum bangun juga. Aku meraih rahangnya, dan mengangkat kepala Key. Dia nggak terusik rupanya. Kuletakkan lagi kepalaya, dan
memikirkan cara terbaik untuk mem-bangun-kan-nya.
Namun selama aku berpikir, tiba-tiba hatiku merasa sedih. Aku jadi memikirkan hal yang lain lagi.
Hari ini, aku akan pergi dari rumah ini. Rumah yang sebetulnya memberikan aku kehangatan selama seminggu. Rumah tempat aku sebetulnya bersenang-senang, bukan bekerja.
Oh, aku akan merindukan rumah ini.
Berat rasanya kalo ternyata harus meninggalkan rumah ini. Bukan karena rumah ini sangat besar dan megah, tapi karena kehangatan yang muncul dari dalam rumah ini. Aku akan merindukan Mbok Jess yang selalu memanggilku Ses. Aku akan merindukan Nince yang selalu menguntitku ke mana pun aku berlari mengejar Key. Pak Sopir yang bergabung bersamaku, Key , dan Nince, bermain poker Kamis lalu. Ruang kerja Bu Nira yang menyeramkan. Pineapple Juice, Sweet and Spicy written by Anonymous yang belum selesai ku-baca. Atau iiihh ... ulat-ulat yang menjijikan di atas pohon, dan Key datang sebagai hero-ku dengan gitarnya. Lobster merah yang diisikan tuna di dalamnya. Piano di ruang baca yang sangat merdu suaranya.
Especially, aku akan sangat merindukan ... Key.
Hm ... mungkin, ini terakhir kalinya aku bisa ber-sama Elby. Terakhir kalinya aku menatap Key sedekat ini, berbicara dengan Key selekat ini, me-nyentuh kulitnya sehangat ini.
I know I will lose this in the next day.
Key masih tertidur lelap. Sungguh, aku eng-gan untuk membangunkannya. Lalu, tiba-tiba, aku ingin
sekali memencet hidungnya.
Aku membungkuk, meletakkan tanganku di atas mulut Key.
Jepit ...I
Hihihi ... Key langsung menggeliat, tapi dia melanjutkan lagi tidurnya. Hingga kemudian, Key bergerak terbangun.
Perlahan-lahan Key membuka matanya, menggeliat lagi. Dia langsung menatapku dalam kantuknya, dan tersenyum. "Pagiii ...I Hoaaah ...I" Key menguap.
"Met pagi, Tuan Muda!" Aku tertawa kecil, "Mama bentar lagi pulang. Mandi sana, terus sarapan. Mbok Jess udah bikin nasi goreng spesial telor sama udang."
Key tersenyum. Dia menatapku manis, dan tiba-tiba, dia membungkuk. Wajahnya mendekati wajahku. Lalu dua detik kemudian, giliran dia mengepit hidungku.
"Kamu cantik banget!" ungkapnya, lalu pergi menuju kamar mandi.
Satu jam kemudian ...
SEMUA pelayan menunggu di pintu depan. Aku sih, nggak. Aku menemani Key yang menonton teve di ruang tengah. Bu Nira mengabarkan dirinya udah ada di bandara Husein Sastranegara. Sebentar lagi nyampe.
Dan benar saja, sepuluh menit sejak Bu Nira nelepon, beliau datang menjinjing koper besar juga blazer di lengan kirinya. Bu Nira berjalan anggun dan
tenang, memasuki teras depan. Mbok Jess dan Nince langsung memberi hormat, membungkuk. Setelah itu, mereka mengikuti Bu Nira memasuki rumah.
Key menoleh begitu mendengar mamanya berjalan tok-tak pake sepatu hak tinggi. Key tersenyum, bangkit menghampiri mamanya. Namun, Bu Nira malah terhenti. Dia sedikit heran dengan yang dilakukan Key saat ini. Tapi, Key nggak peduli. Dia tetap menghampiri mamanya, mencoba menyambut hangat.
Key memeluk mamanya, kemudian kembali ke depan teve-nya, dan Bu Nira mengisyaratkan agar aku mengikutinya. Aku berjalan tertunduk di belakangnya. Kami berdua memasuki ruang kerja Bu Nira, dan beliau memintaku untuk menutup pintu.
"Maafkan saya nggak pernah membalas e-mail kamu. Saya sangat sibuk di sana. Jangankan membuka komputer, nge-SMS saja sulitnya minta ampun. Tapi jangan khawatir, saya menerima e-mail yang kamu kirimkan. Tapi, baru saya buka tadi di perjalanan."
Bu Nira meletakkan kopernya di atas sofa, lalu blazernya digantungkan di gantungan khusus berbentuk patung manusia, yang dulu aku kira cuma pajangan biasa.
Kemudian, Bu Nira duduk di kursi besar itu, dan beliau memintaku duduk pula di kursi sama nyaman di depannya. "Gajimu sudah ditransfer lewat rekening."
Aku mengangguk-angguk dan mencoba ter-
senyum.
"Bagaimana keadaan Dede sampai sekarang?"
"Ngngng ... menurut saya, baik." "Oya?" Bu Nira membuka lacinya, kemudian mengeluarkan sebuah bola remas untuk dimainkan.
Tiba-tiba, Bu Nira tersenyum kecil. Tampangnya mendadak jahil, seakan sedang menyimpan sesuatu. Bu Nira menatapku dengan mulut dikulum, menahan tawa. Bahunya bergetar cekikikan. Dan akhirnya ... Bu Nira mengatakan sesuatu padaku.
"Sejujurnya, selama seminggu ini, saya nggak pernah memutus hubungan dengan Mbok Jess dan Nince. Maaf, saya bohong. Im not too busy actually. Notebook-ku saja yang rusak. Jadi, kalo kamu menyempatkan menguping, hihihi terkadang saya dan Mbok Jess sering saling telepon. Saya selalu menanyakan kabar Dede, juga pekerjaanmu."
Aku mendadak tegang. Tiba-tiba muncul dalam benakku, bahwa aku pernah mengizinkan Key keluar malam-malam bareng Boby dan Hamids, meskipun aku pun ikut. Tapi kan, dalam peraturan, hal itu dilarang.
Aku mendongak serius, berdoa Bu Nira nggak akan menuntutku apa-apa.
"Nggak usah tegang," ujar Bu Nira kemudian, tersenyum. "Saya tau kamu pernah ngizinin Dede maen keluar malem-malem. Atau ngizinin Dede main ke Lembang, ke kafe, juga ke mal. Nggak apa-apa kok, asal kamu bisa tanggung jawab. Tapi ... ada suatu hal yang menarik perhatian saya. Katanya,
akhir-akhir ini, Dede mulai menunjukkan sebuah perubahan. Apakah itu benar?"
"Saya tidak tau. Saya tidak tau keadaan Key dulu, jadi saya tidak bisa membandingkannya dengan yang sekarang."
"Oh, oke-oke, maaf. Maksudnya ...gini aja. Saya kasih kamu beberapa pertanyaan, tapi kamu jawab dengan jujur. Apakah ... kamu kesulitan nyuruh Dede tidur?"
"Ngngng ... hari-hari pertama, saya memang kesulitan, tapi Sabtu malam kemarin, saya ngeliat Key bisa tidur tanpa harus ditemenin dulu."
Bu Nira sedikit tersenyum. "Apakah ... kamu kesulitan nyuruh dia mandi?"
"Ya ... pada awalnya dia memang sulit untuk di-suruh mandi. Tapi pagi tadi, saya hanya tersenyum padanya, dan dia mengerti bahwa saya menginginkannya mandi. Dia pun mandi."
Bu Nira tersenyum janggal. "Apakah ... kamu menemukannya sedang merusak suatu benda?"
"T-tidak. Selama satu minggu ini, saya tidak menemukan dia memecahkan atau merusak suatu benda pun. Nggak satu pun piring, atau gelas, apalagi guci, karena memang kebetulan, Key sangat patuh pada apa yang saya minta untuk lakukan."
"Dia menggodamu?"
"Tidak." '
Bu Nira manggut-manggut, kemudian meletakkan bolanya dan bangkit untuk memelukku. "Oh terima kasih sudah mau merawat Dede. Saya nggak
nyangka perjumpaan kita hanya sebentar. Kamu pasti sudah rindu rumah."
Aku mengangguk, kemudian kami berdua berjalan ke kamarku. Aku menarik barang-barangku dan seorang sopir tiba-tiba membawakannya untukku. Kemudian, kami berjalan menuruni tangga, dan di bawah sana Mbok Jess dan Nince tampak sudah siap menyambut kami.
Hm ... yeah.
Aku akan pulang sekarang. Mbok Jess memelukku. "Hati-hati, ya. Makasih udah mau jagain tuan muda di sini. Eke nggak menyangka harus berpisah sama ses hari ini. Ses begitu baik. Beda dari babysitter yang sebelumnya. Oh, iya, makasih ya, udah bantuin eke masak lobster seminggu ini. Makasih juga buat resep-resepnya."
Mbok Jess melepaskan rangkulannya, lalu tiba giliran Nince yang memelukku. Kurasakan dia terisak-isak, nggak rela aku pergi dari rumah ini. "Hoooh ... daku nggak menyangka dikau akan pergi meninggalkan daku. Jangan khawatir, daku akan selalu merindukan dikau. Jangan lupa main-main ke sini, ockeyh…?
Aku mulai terisak, menangis, menatap kedua pelayan setia yang sangat ramah ini. Mbok Jess yang selalu memasakkan untuk kami makanan yang enak. Nince yang rajin membersihkan rumah, dengan senandung-senandungnya. Waktu-waktu luang ketika aku selalu mengobrol bersama mereka. Dan ... sekarang aku harus meninggalkan mereka. "Kamu mau ke mana, Ve?" tanya Key tiba-tiba,
muncul dari balik sofa.
"Aku ... aku harus pergi. Tugasku udah selesai," ungkapku lirih, menundukkan kepala nggak berani menatap Key.
"Selesai apaan? Libur masih seminggu lagi. Kamu di sini aja!" pinta Key.
"Dede ...Mama cuma ngontrak dia seminggu aja. Kasihan dong, kalo terus-terusan di sini. Entar keluarganya khawatir," ujar Bu Nira menjelaskan.
"Nggak mau, ah! Pokoknya Ve harus ada disini terus. Sampe Key masuk sekolah lagi!" paksa Key.
"Dede! Lain kali kalian kan, bisa ketemu lagi."
Key marah dan langsung menghampiri kami, menarik tanganku dan menggeserku menaiki tangga.
"Dede! Mau ke mana kamu?" teriak Bu Nira memanggil.
Aku terseret-seret ditarik Key.
" Key, lepasin!" rintihku.
"Nggak mau. Kamu mesti di sini!" Key terus menerus menarikku, berjalan terseret-seret, dan kami sudah sampai di depan kamarku.
" Key... nanti mama kamu marah!"
"Peduli amat!"
" Key
"Nggak!"
"KEYNAL!!!" teriakku, mencoba menghentikannya. Key berhenti, dia diam ... lalu melepaskan tanganku.
" Key... aku harus pergi. Aku cuma kerja di sini. Aku bukan keluarga kamu di sini. Aku ... cuma ... pengasuh kamu di sini, bukan penghuni rumah ini.
Dan aku udah harus pergi dari rumah ini. Aku hanya bekerja di sini!"
Key berbalik menatapku, nelangsa. Kulihat aura ketakrelaan andai aku pergi meninggalkannya.
" Key... jaga diri baik-baik, ya!"
" Ve..”gumam Key lirih.
How to Meet Alien from Andromeda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar