My story
Hallo everyone
Jumat, 30 September 2016
Palasik
Palasik adalah makhluk supranatural yang dipercaya oleh masyarakat Minang kabau. Palasik ini berwujud manusia yang memiliki ilmu hitam jahat tingkat tinggi.
Palasik juga sama seperti manusia pada umumnya, mereka memiliki pasangan dan berkeluarga lalu memiliki keturunan. Yg kemudian anak dari palasik tersebut akan menjadi palasik pula.
Palasik suka memangsa bayi, yang baru lahir, dan bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun dapat di incar oleh palasik.
Pada zaaman dahulu, kalau ada bayi yang sakit, maka hal pertama yang terbesit dalam fikiran keluarganya adalah palasik.
Pada zaman yang sudah serba modern ini, mungkin sudah tidak ada lagi hal hal seperti itu. Namun percaya atau tidak, palasik masih ada. namun sudah tak sesadis zaman dahulu. Sudah tidak sefenomenal dahulu.
Nenek moyang zaman dahulu menyebutkan, Untuk mengetahui jika manusia itu adalah palasik atau bukan, bisa dilihat di wajah palasik tersebut. palasik tidak mempunyai parit di antara hidung dan bibir.
dan juga, pada cerita zaman dahulunya, jika wanita yang sedang membawa seorang bayi berjumpa dengan palasik, maka jangan lari, melainkan dekatilah si palasik sembari menuntun tangan si palasik ke bayi dan katakanlah bahwa "ini adalah cucumu", jika wanita tersebut menghindari palasik tersebut, maka dapat dipastikan anaknya akan meninggal secara perlahan.
Berikut contoh kisah nya:
Dahulu kala di daerah Baso, Agam Sumatra Barat, terdapatlah sebuah rumah, atau lebih tepatnya bisa disebut gubuk, berukuran kecil yang mana hanya ada 1ruang tamu, dan 1kamar tidur di persimpangan jalan menuju daerah Baso.
Disana hidup sepasang suami istri yang sudah memasuki umur 60an. Suaminya bernama Adam, dan istrinya berna Liyah. Mereka tidak dikarunia seorang anak pun. Rambut kedua pasangan itu sudah memutih, kulit keriput, dan gigi tinggal beberapa buah saja.
Pada suatu hari, datanglah sepasang suami istri dari rantau yang hendak menanyakan alamat kepada bapak Adam, bapak Adam mempersilahkan pasangan dari rantau tersebut untuk masuk kerumah beliau terlebih dahulu.
"Siapa namamu nak?" Tanya bapak adam kepada orang rantau tersebut setalah mereka dipersilahlan duduk.
"Saya Satria Pak, dan ini istri saya Intan"
"Kami sedang menuju kerumah Datuak Koto Nan Kayo, tapi kami kesulitan untuk menemukannya. Maklum Pak, saya sudah hidup dirantau sejak umur 5tahun." Lanjut Satria lagi setelah memperkenalkan dirinya dan istrinya.
ibu Liyah datang sambil membawakan 3gelas air putih, lalu kemudian menaruhnya di hadapan Bapak Adam, Satria, dan istrinya Intan.
"Ini minumlah dulu, mungkin kalian lelah sudah menempuh perjalanan jauh. Nak Satria merantau didaerah mana?' tanya ibu Liyah.
"Saya merantau di Medan buk, sudah 20tahun lebih disana, mengikuti dagang orang tua" jawab Satria sambil tersenyum lega setelah menelan stengah gelas air putih yang disuguhkan oleh Ibu Liyah.
"Ini istri kamu, Intan ya, tadi ibu dengar dari dapur, udah isi berapa bulan?" Tanya ibuk Liyah kepada Satria dan Intan sambil berusaha ingin memegang perut Intan yang tengah hamil 7bulan.
"Sudah 7 bulan bu" jawab Intan cepat sambil berusah menghindarkan kontak langsung ibu Liyah terhadap dirinya. Jujur saja, dia agak risih jika ada orang yang tidak ia kenal menyentuhnya.
Ibu Liyah sadar betul akan hal itu, namun ia masih tetap saja berusaha untuk melakukan kontak langsung dengan Intan. Hingga membuat Satria angkat bicara.
"Maaf buk, istri saya emang lagi suka aneh-aneh, kadang dia juga gak suka disentuh ama saya, maklum, bawaan kehamilan" ucap Satria ramah mencari alasan kepada Ibu Liyah.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang dan akhirnya mendapatkan alamat yang akan ditujunya, Satria pun hendak izin untuk pergi.
"Maaf pak, Buk, kita harus pergi, udah mau magrib, kita berangkat dulu ya."
Satria dan Intan keluar dari rumah tersebut, yang diantar oleh Bapak Adam dan Ibu Liyah. Dan tak lupa juga Satria mengucapkan terimakasih. Hingga akhirnya mereka masuk kemobil dan pergi meninggalkan rumah Bapak Adam tersebut.
Diperjalanan menuju rumah Datuak Koto Nan Kayo, terjadilah suasana keheningan diantara Satria dan istrinya.
"Kenapa Tan? Kok diem aja?" Ucap Satria masih fokus mengemudi di jalanan yang terlihat sepi dan mulai gelap.
"Gapapa Bang, cuma berasa kayak ada yang aneh aja" jawab Intan tanpa melihat suaminya.
"Hmmm ga usah difikirkan, namanya juga di tempat baru, jadi ya wajarlah." Ucap Satria sambil mengenggenggam tangan kanan istrinya untuk menenangkannya. Walaupun sebenarnya dalam diri Satria pun ia juga merasakan hal yang sama.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Datuak Koto Nan Kayo. mereka telah dinanti oleehh Datuak dan keluarga Datuak disana.
"Lama sekali? Tersesat ga?" Ucap Datuak kepada Satria ramah setelah mereka berjabat dan berpelukan, dan telah disuruh masuk ke dalam rumah. Sekarang mereka berada di ruang tamu, sambil duduk melingkar dengan semua anggota keluarga Datuak.
"Ah tidak Datuak, tadi saya dikasih petunjuk sama Bapak-bapak, nama Beliau Bapak Adam" jawab Satria.
Seketika raut wajah Datuak berubah,
"Bapak Adam?" tanya Datuak memastikan.
"Iya, kenapa emangnya Datuak?" Tanya Satria melihat kecemasan Datuak.
"Ah tidak apa-apa, tidurlah bersama-sama diruangan ini nanti ya." Ucap Datuak menghilangkan kegelisahan Satria. Satria pun menyetujuinya, tanpa mempertanyakan apa apa lagi.
bincang-bincangpun berlanjut hingga jam 10, mereka pun memutuskan untuk tidur bersama-sama dengan mengkondisikan ruangan.
Pada saat sudah memasuki dini hari, tiba-tiba berhembuslah angin yang sangat kencang hingga menghempaskan pintu antara ruangan utama dengan ruangan dapur. Sehingga membuat Intan terbangun. Samar-samar dari gorden jendela ia bisa melihat seraut wajah Bapak Adam dan Ibu Liyah. namun sayangnya hanya ada kepala dan lehernya saja, Spontan ia berteriak sehingga membangunkan Adam dan keluarga Datuak.
"Kenapa?" Tanya Satria sambil memeluk istrinya yang sedang gemetaran menangis ketakutan.
"Di jendela.." ucap istrinya tak sanggup melihat ke arah jendela yang menampakan potongan kepala dan leher tersebut.
Semua mata mengarah ke arah jendela, banyak ekspresi yang keluar, ada yang takut, terkejut, syok dan sebagainya.
Satria yang melihat hal tersebut hanya bisa terus istigfar mengucap nama Allah sambil terus menenangkan istrinya.
Suasana semakin mencekam, angin semakin kencang berhembus, kepanikan semakin menjadi.
Datuak Koto Nan Kayo, segera membacakan doa-doa, agar makhluk tersebut pergi. Setelah beberapa saat, angin pun mulai kembali berhembus normal, dan makhlus tersebut sudah tidak terlihat lagi di jendela.
Suasana kembali berangsur-angsur netral.
"Itu tadi palasik, dia mengincar janin yang ada dalam kandungan istrimu." Ucap Datuak kepada Satria memecah keheningan.
Satria terkejut teramat sangat, hingga tak mampu berkata-kata lagi. bagaimana tidak, makhluk yang disebut palasik tersebut mengancam nyawa calon buah hatinya bersama Intan."
"Besok kamu dan istrimu haruslah segera meninggalkan kampung ini, kembali saja lah ketanah rantau. Bisa bahaya jika kau tetap disini" ucap Datuak lagi kepada Satria.
"Apakah anak saya akan baik-baik saja Datuak?" Tanya Satria khawatir.
"InsyaAllah, maka dari itu, kau harus tinggalkan kampung ini, agar palasik yang ada di daerah ini tidak mengincar dan kemudian menghisap darah anakmu."
"Datuak akan buatkan penangkalnya, agar palasik tidak mengikutimu" lanjut Datuak.
"Besok kau sudah harus tinggalkan kampung ini, kembalilah saat anakmu sudah besar nanti" ucap Datuak sambil mengusap bahu Satria.
"Baik Datuak, besok saya akan langsung kembali ke Medan. Terimakasih Datuak" lanjut Satria kemudian mencium tangan Datuak.
Sampai menjelang subuh pun, Satria masih terjaga, ia benar-benar khawatir terhadap calon anak dan istrinya. Hingga saat setelah sholat subuh, barulah Satria tertidur.
Pada pagi menjelang siangnya, Satria dan Intan bersiap-siap untuk balik ke tanah rantau asalnya. Semua rencana untuk bersilaturrahmi dengan keluarga terpaksa disudahi.
Setelah diberikan penangkal palasik, Satria dan Intan pun pergi, kembali ke Medan, dengan tidak melewati jalan di dekat rumah Bapak Adam dan Ibu Liyah.
Mereka dilepas oleh Datuak dan keluarganya.
Satria dan Intan pun kembali hidup seperti sedia kala, mereka telah dikarunia seorang putra.
Biarlah kisah palasik tersebut menjadi kisah mistis yang pernah menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan mereka.
Rabu, 04 Mei 2016
Pembahasan Singkat Tradisi-Tradisi dalam Komunikasi
1. Tradisi
Sibernetika
Teori ini
memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat
di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam
hal ini komunikasi sebagai proses informasi dan masalah yang banyak dihubungkan
dengan keramaian, kelebihan beban, dan malfungsi. Tradisi ini berkaitan dengan
proses pembuatan keputusan. Sistem ini bersifat terbuka, sehingga perkembangan
dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistem.
Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan,
hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
Tradisi ini juga
nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran,
rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam kontek
ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini.
Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori
informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal
dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.
2. Tradisi
Retorika
Tradisi retorika
awalnya diajarkan oleh seorang ahli fisika dan filsuf Yunani, Aristoteles. Aristoteles adalah orang pertama yang
mengembangkan ketrampilan mengenai komunikasi publik. Retorika menurut
Aristoteles bertujuan untuk mempersuasi, dan tidak diartikan sebagai alat untuk
memprovokasi/menyuap bahkan memaksa audien. Sehingga, dapat diambil kesimpulan
bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun
sebuah presentasi atau pidato persuasif
yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.
Tradisi Retorika
adalah ilmu mengolah kata dengan tujuan mempersuasif, seni membangun
argumentasi dan seni berbicara yang berorientasi pada pendekatan logis dan
emosional dimana komunikan menggunakan seni dan metode dalam mempengaruhi
komunikator.
Pada awalnya,
tradisi retorika berhubungan dengan persuasif atau penyusunan argumen dan
pembuatan naskah pidato. Kemudian berkembang mencangkup segala cara manusia
dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk
membangun dunia tempat mereka tinggal.
3. Tradisi
Semiotik
Tradisi ini
memfokuskan pada tanda-tanda dan simbol-simbol. Komunikasi dipandang sebagai
sebuah jembatan utama kata-kata yang bersifat pribadi. Tanda-tanda atau
simbol-simbol yang ada mendatangkan sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin
dibagi. Tradisi ini memang cocok untuk memecahkan masalah, kesalahpahaman, dan
respon-respon subyektif. Tradisi ini juga banyak memperdebatkan bahasa yang
meliputi tanda, simbol, makna, referensi, kode, dan pemahaman. Contoh: suhu
tubuh yang panas bahwa tubuh itu terkena infeksi.
Semiotik atau
penyelidikan simbol-simbol membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori
komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana
tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi,perasaan, dan
kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat
komunikasi,melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif
yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.
4. Tradisi
Sosial Budaya
Tradisi sosial
budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasiberlangsung dalam
kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan kebudayaan suatu
masyarakat. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi
ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.
Teori ini lebih
menekankan gagasan dan tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana
masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial,
organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang
diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
5. Tradisi
Kritis
Tradisi Kritis
(komunikasi adalah refleksi penolakan terhadap wacana yang tidak adil).Tiga
asumsi dasar tradisi kritis: Menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial
interpretif. Ilmuwankritis menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang
dalam konteks. Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap
struktur-struktur yang seringkali tersembunyi.
Tradisi ini
berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan
di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa
komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang
kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi
mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang
lemah. Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal
maupun komunikasi bermedia. Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap
kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi
masyarakat yang lemah.
Tradisi ini
berakar pada tradisi pemikiran The Frankfurt School ini menempatkan
praktekkomunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan.
Penguasa menjadikanmedia komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di
sini tidak hanya pemerintah tetapi jugapara pemilik media sebagai Wacana kritis
dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnyakesadaran, emansipasi, kekuasaan
dan dominasi.
6. Tradisi
Fenomenologi
Teori-teori
dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif
mengintepretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan
pengalaman pribadinya. Teori ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.
Komunikasi
dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog.
Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini.
Dan hal ini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi
permasalahan-permasalahan yang timbul yang mengakibatkan terkikisnya hubungan
yang sudah kuat. Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam
keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan
tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana
proses yang berlangsung dalam diri khalayak.
7. Tradisi
Sosio Psikologi
Teori-teori yang
berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatian antara lain pada
perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana
individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang
diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi,
media, budaya dan masyarakat.
Berangkat dari
Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. perhatian pada perubahan sikap
(attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya
perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan
menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Kasus lain seperti komunikasi persuasi.
Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak.
Senin, 25 April 2016
Ekologi Media
Teori Media Ekologi
Media ekologi merupakan studi tentang
bagaimana media dan proses komunikasi mempengaruhi persepsi manusia, perasaan,
emosi, dan nilai teknologi yang mempengaruhi komunikasi melalui teknologi baru.
Media Teori Ekologi berpusat pada prinsip-prinsip bahwa masyarakat tidak bisa
lepas dari pengaruh teknologi dan teknologi yang akan tetap pusat untuk hampir
semua lapisan masyarakat.
Konsep dasar teori ini pertama kali
dikemukakan oleh Marshall McLuhan (1964). Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
mentornya, ekonom berkebangsaan Canada, Harold Adams Innis (1951). Menurut
Marshall McLuhan, media elektronik telah mengubah masyarakat secara radikal.
Masyarakat sangat bergantung pada teknologi yang menggunakan media dan bahwa
ketertiban sosial suatu masyarakat didasarkan pada kemampuannya untuk
menghadapi teknologi tersebut. Media membentuk dan mengorganisasikan sebuah
budaya. Ini yang disebut Teori Ekologi Media. McLuhan juga menyatakan bahwa
kita memiliki hubungan yang sifatnya simbiosis dengan teknologi yang
menggunakan media. Manusia menciptakan teknologi, dan sebaliknya teknologi tadi
membentuk manusia. Inilah yang menjadi konsep dasar dari teori ekologi media.
Asumsi dari Teori Media
Ekologi
telah tercatat
bahwa pengaruh media teknologi di masyarakat adalah ide utama di balik Media
Teori Ekologi. Berikut beberapa asumsi dari teori media ekologi :
·
Media
melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat.
Kita tidak dapat melarikan diri dari
media. Media mengontrol, mengendalikan dan mempengaruhi prilaku masyarakat,
melalui media cetak maupun elektronik, masyarakat terhipnotis, sehingga
terpengarah opini yang dibentuk media. McLuhan menyebut angka, permainan, dan
uang sebagai mediasi. Media-media ini mentransformasi masyarakat kita melalui
permainan yang dimainkan, radio yang didengarkan, atau TV yang ditonton. Pada
saat bersamaan, media bergantung pada masyarakat untuk pertukaran dan evolusi.
Jadi intinya, Dalam berkomunikasi, manusia mungkin saja tidak menggunakan media
massa. Tetapi mereka tidak dapat menghindarkan diri dari berkomunikasi dengan
menggunakan suara, kata, isyarat, yang memediasi mereka dalam menyampaikan
pesan (baca: medium).
·
Media
memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita.
Media melihat media sebagai sesuatu
yang langsung mempengaruhi manusia. manusia secara langsung dipengaruhi oleh media. Cara manusia memberi penilaian, merasa, dan
bereaksi cenderung dipengaruhi oleh media. Dalam asumsi ini McLuhan menilai
media cukup kuat dalam membentuk pandangan kita atas dunia. Kita tanpa sadar
termanipulasi oleh TV. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi
oleh apa yang kita tonton di TV.
·
Media
menyatukan seluruh dunia.
McLuhan menggunakan istilah desa
global (global village) untuk mendeskripsikan bagaimana media mengikat dunia
menjadi sebuah sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Yang mana setiap pertistiwa atau hal
yang dilakukan di belahan dunia lain, dapat diketahui atau menjalar ke belahan
dunia lain. media elektronik, khususnya,
memiliki kemampuan untuk menjembatani budaya-budaya yang tidak akan pernah
berkomunikasi sebelum adanya koneksi ini.
Sejarah Media
1. Era Tribal
Orang belum mengenal tulis menulis.
Di masa ini, menurut McLuhan, budaya berpusat pada telinga. Orang mendengar
tanpa memiliki kemampuan untuk menyensor pesan-pesan. Konteks komunikasi hanya
bersifat tatap muka.Ini yang membawa masyaraka kolektif.
2. Era Melek Huruf
Zaman ini komunikasi sudah menggunakan tulisan dan mata menjadi organ
indra yang dominan. Era ini ditandai
dengan pengenalan abjad. Konteks komunikasi sosial sudah bersifat tidak
langsung karena dapat diwakili oleh tulisan.
3. Era Cetak
Di era ini McLuhan menyebut buku
sebagai “mesin pengajar pertama”. Segala macam tulisan dapat diduplikasi dengan
jumlah yang banyak. Di era ini teknologi yang utama adalah percetakan dengan
mengandalkan penglihatan sebagai indera yang dominan.
4. Era Elektronik
Era dimana media elektronik
melingkupi semua indra kita,memungkinkan orang-orang di seluruh dunia untuk
terhubung dalam waktu yang bersamaan.
Medium Adalah Pesan
ini adalah slogan dari Teori Ekologi
Media Frase tersebut merujuk pada
kekuatan dan pengaruh medium terhadap masyarakat, bukan isi pesannya. Akan
tetapi McLuhan tidak mengesampingkan pentingnya isi. Medium mampu mengubah
bagaimana kita berpikir mengenai apapun.
Memperkirakan
Temperatur: Media Panas & Media Dingin
Untuk memahami perubahan structural
besar dalam pandangan hidupa manusia (McLuhan, 1964, hal VI) McLuhan
mengklasifikasikan media menjadi 2 jenis yaitu:
1.
Media
Panas.
Media Panas (Hot Media) adalah media
yang menuntut sedikit dari pendengar, pembaca atau para penonton. Pada intinya,
manusia tidak dituntut apa-apa hanya menikmati yang sudah ada.
2.
Media
Dingin
Media Dingin (Cool Media) adalah
media yang membutuhkan proses pelengkapan atau membutuhkan tingkat partisipasi
yang sangat tinggi. media ini menuntut khalayak untuk memaknai setiap hal yang
disuguhkan oleh media dan melengkapinya sehingga khalayak mengerti apa maksud
dari media tersebut.
Lingkaran Telah
Sempurna: Sebuah Tetrad
Dengan putranya, Eric McLuhan, McLuhan mengembangkan sebuah
cara untuk melihat lebih jauh ke dalam efek teknologi terhadap masyarakat.
Perluasan teorinya mencakup hukum media. McLuhan telah meneliti adanya
pergeseran yang cukup significant terhadap ketertarikan manusia pada setiap
era. Hukum tersebut dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1.
Apakah
yang ditingkatkan oleh media?
hukum yang menyatakan bahwa media
menegaskan atau memperkuat masyarakat. peningkatan dalam masyarakat yang
memperkuat tingkat kecerdasan, eksistensi dan bahkan pla hidupnya. Pegeseran
tersebut membuat manusia sangat peka terhadap tekhnologi.
2.
Apakah
yang dibuat ketinggalan zaman oleh media?
pada masa tertentu, tekhnologi yang
kita kuasai tiba-tiba akan menjadi sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman.
3.
Apakah
yang diambil kembali oleh media?
terjadinya proses pengambilan kembali
sesuatu yang pernah ada kemudian hilang kemudian mengalami pembaharuan,
perbaikan dan penyempurnaan.
4.
Apakah
yang diputarbalikkan oleh media?
berbicara tentang media bisa jadi
sumber malapetaka dan bisa menjadi malaikat penolong bagi penggunanya. media
akan menghasilkan atau menjadi sesuatu yang lain jika didorong mencapai
batasnya.
Minggu, 13 Maret 2016
Publik Relations Menghadapi Perilaku Media yang kadang Kurang Beretika
Di satu saat, wartawan bisa amat sangat dibutuhkan, baik oleh orang per orang, perusahaan atau institusi, bila memang menyangkut publikasi. Namun di saat lain, ia malah sengaja dihindari, dipukul atau bahkan diancam untuk dibunuh.
Berita buruk di media massa kerap kali menerpa perusahaan besar yang sudah berkaliber nasional.
yang kemudian citra perusahaanlah yang menjadi taruhannya. apa lagi zaman sekarang sudah banyak peusahaan-perusahaan baru yang akan menjadi penyaing perusahaan yang sudah ada.
Ketika menghadapi crisis management yang menyangkut citra perusahaan, seorang PR harus benar-benar mengerti duduk permasalahannya seperti apa. Yaitu bagaimana menyelamatkan citra. Bukan menilai siapa yang harus disalahkan dan menyalahkan.
Dalam hubungan PR dengan media, lobbying PR benar benar dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan wartawan. Unsur cepat, tepat dan akurat dalam menghadapi wartawan harus menjadi insting tajam seorang PR.
Dalam menghadapi media, selain lobbying, PR sebagai representasi perusahaan harus bisa menampakkan diri menjadi bagian baik dari perusahaan. Salah satunya, bisa dengan menggandeng pihak-pihak luar yang terlibat dalam krisis tersebut. Termasuk pihak luar yang berseteru dengan perusahaan. Intinya, itikad baik untuk menyelasaikan krisis harus bisa ditampilkan PR.
Dalam buku Public Relations Techniques that Work, Jim Dunn memberikan tips-tips penting ketika berhadapan dengan para wartawan :
1. Respon pertanyaan media dengan kompeten dan profesional
Para awak media, termasuk para kontributor, bisa menghadang dan memberondong banyak pertanyaan kepada Anda kapan dan di mana saja. Pastikan bahwa seluruh pertanyaan yang relevan mendapatkan respon yang sesuai dan professional.
2. Respon cepat pada panggilan media
Bila deadline merupakan musuh para media, maka informasi yang akurat beserta aksesnya adalah ladang ‘emas’ bagi para awak media. Pastikan Anda segera merespon ketika mendapat panggilan dari media. Jangan lupa seluruh informasi penting yang perlu disampaikan kepada media sudah ada di tangan Anda.
3. Tidak ada kata “off the record” dalam wawancara
Meskipun masih menjadi perdebatan, hindari “off the record” dalam wawancara karena bisa menimbulkan persepsi bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu. Bila Anda tidak ingin media mengetahui lebih lanjut, jangan beritahu mereka.
4 Hindari memberikan informasi yang bersifat prediktif
Sudah tugas media untuk melaporkan fakta-fakta, maka berikan informasi yang berdasarkan fakta serta hindari informasi yang prediktif. Spekulasi fakta akan merugikan Anda bila nantinya para awak media menemukan fakta yang berbanding terbalik dengan spekulasi Anda.
Rabu, 15 April 2015
Love Story 4
Aku dan Andela langsung memeluk erat Shania.
"Kita terima salam mereka, kok!" sahut Andela. Kedengar lagi sebuah isakan, namun sekarang dari Andela. Dan isakan berikutnya, datang dari tubuhku sendiri. Oke, jujur, aku mulai tersentuh dengan keadaan ini.
Kami melepaskan pelukan, Andela dan Shania sudah melirikku. Giliranku menjawab sekarang.
"Baiklah ... pertama. Aku ngeliat Jagad sebagai geng yang butuh perhatian. Kita bisa ngeliat kan, mereka sering banget dapet hukuman. Okelah, hukuman itu didapatkan karena ke-salahan mereka
sendiri. Dan tahukah kalian ke-salahan mereka semua dibuat cuma buat narik perhatian kita. Mereka pengin kita perhatiin. Cuma sayang, kita ngeliatnya dengan cara lain. Bahkan, kita nggak pernah ngerespons mereka kalo mereka mulai ngejek-ngejek kita. Padahal, mereka ngeharepin banget kita ngebales mereka. Jadi, seenggak-nya mereka bisa berinteraksi dengan kita."
"Tapi, kenapa mereka selalu ngeliat kita sinis. Selalu mendelik kalo kita udah di deket mereka," komentar Andela.
"Mereka itu tegang kalo ada di deket kita, Andela. Ya, sekaligus cari perhatian juga. Biasanya kan, cewek suka langsung marah kalo diliat kayak begitu. Tapi, kita tuh nggak pernah. Kita kan, cuek-cuek aja," jawab Shania, "Gue tau ini dari Boby."
Aku dan Andela berpandangan, kemudian kulanjutkan lagi bahasanku, "Kedua ... sangat pantas sekali Jagad menjadi teman kita. Alasannya sudah jelas. Alasanku sama dengan kalian. Kenapa sih, kita harus ngejauhin mereka. Nggak ngaruh, kok. Ada atau nggak ada mereka, kita tetep aja populer di sekolah."
Andela dan Shania manggut-manggut.
"Ketiga. Mungkin tinggal Key. Oke. Jujur aja, seminggu kemaren aku bersama Key, di rumahnya. Dan jujur aja, sebenernya Key nggak jijik-jijik amat ama yang namanya cewek. Sebenernya dia pengin temenan ama cewek. Cuma karena…
Aku menghentikan kalimatku.
Ups! Oh, my, God! Aku hampir keceplosan.
Alasan Key menjauhi cewek kan, karena dia childish dan manja. Dan aku nggak mungkin bilang hal ini pada Andela dan Shania.
"Cuma karena apa, Ve?" tanya Andela.
Aku berpikir keras, mencari jawaban bohong yang tepat. "Karena ... karena dia nggak pengin cewek yang lain sirik kalo dia deket ama seorang cewek!" Andela dan Shania mengerutkan alis, heran dengan jawabanku. Sedikit nggak masuk akal memang. Kesannya si Key tuh pede banget gitu loh. Tapi kan, semestinya mereka percaya-percaya aja berhubung aku seminggu ini serumah ama dia.
Untuk menghindari Andela-Shania bertanya yang macam macam, kuputuskan segera menjawab pertanyaan keempat, "Terakhir ... gimana dengan memulai dari diri kita sendiri, introspeksi diri, kemudian minta maaf sama yang lain. Nggak ada salahnya kalo kita minta maaf pertama kali meskipun kita nggak punya salah apa pun."
Andela dan Shania diam.
"Sebenernya, gue mah lebih tertarik elo nge-bahas Key," ungkap Shania.
"Iya. Urusan baikan sih, belakangan. Gue pengin banget tau gimana sih, sosok Key tuh actually? Pasti banyak cewek yang penasaran. Dan gue yakin, you know all about him. Right?" tambah Andela.
Aku sedikit tegang. "K-kalian ........ pengin tau
alasan yang gue sebutin barusan?" Aku mencoba mengungkitnya meski berharap mereka menjawab "tidak".
"Nggak," kata Shania.
"No” kata Andela.
Bagus! Harapanku terkabul. Mereka nggak begitu penasaran dengan alasan Key menjauhi cewek. Meski ternyata dugaanku meleset, mereka bilang "nggak" dan "no", sedangkan aku mengharapkan mereka bilang "tidak". Sudahlah.
"Oke ... Key tuh, jujur aja, hatinya baik. Kekurangannya cuma bandel, jahil, ngeselin, dan ... belagu mungkin. Dan kelebihannya ... kelebihannya apa, ya? Oh, iya. Kelebihannya adalah, dia punya empat kekurangan."
Kami semua tertawa, terbahak-bahak. "Yang bener aja, deh," kata Andela.
"Nggak deng, cuma bercanda, kok! Key tuh ro-mantis abis."
"Apanya yang romantis?" tanya Shania. "Apa, ya ... paling juga ... oh, iya! Dia nolongin aku dari Dino brengsek!"
Shania dan Andela tersentak kaget, tiba-tiba saja menunjukkan wajah bersalah.
"Oke, sebelum lanjut ceritanya. Gue mau marahin kalian dulu!" ujarku bernada tinggi. Shaniadan Andela memejamkan matanya. " Andela! Kenapa sih, kamu chatting ama cowok brengsek kayak Dino?! Shania! Kenapa sih, kamu ninggalin aku ama si Dino brengsek itu?!"
Sejenak, dunia terasa hening, sunyi dan senyap. Namun sejurus kemudian, helaan napas lega mulai mengisi keheningan ruangan. Shania dan Andela membuka matanya.
"Elo udah marahnya?" tanya Andela ragu-ragu.
Aku mengembuskan napas. "Hm ... oke, berhubung ternyata Key yang nolongin aku, aku jadi batal marah ke kalian. Karena aku punya kabar baik dan kabar buruk ...."
"Apa itu?" tanya Andela.
"Kabar baik, Dino itu ganteng banget. Mirip Tom Cruise, aku baru inget wajahnya ternyata mirip dia." Kuhela lagi napas berikutnya, "Kabar buruknya, dia itu brengsek banget! Dia mulai ngegoda aku, dan hampir nyulik aku. Kayaknya aku bakal dinodai olehnya. Oh, untungnya, pangeranku datang pada waktu yang tepat. Kebetulan banget, Key ada di TKP, dan bisa nolongin aku."
"Ya ampun, Ve, maafin gue, ya!"
"Gue juga dihapunten atuh."
Shania dan Andela langsung memelukku.
Inget, Ya! Itu Pelembap Muka!
AKU mengikat rambut, rapi di belakang kepala. Kuletakkan lagi sisir di atas meja dan mengambil pelembap muka. Kuoleskan ke wajah, dan meratakannya agar mukaku terlihat lebih bersinar. Nabilah muncul dari balik pintu, menatapku penasaran, lalu menghampiriku dan merebut pelembap mukaku.
"Jangan pake buat luluran!" seruku cepat sebelum Nabilah melakukan kesalahannya lagi. Beberapa hari yang lalu, Nabilah menggunakan pencuci mukaku untuk luluran. Padahal, aku baru beli. Dan dalam sekejap, isinya habis. Padahal, aku belinya yang kemasan besar.
"Ya nggaklah. Emangnya gue bodoh, apa? Ini kan, deodoran." Ardia siap mengangkat tangannya, namun aku langsung merebut pelembap mukaku dan melemparnya ke dalam laci.
"Jangan sentuh barang-barangku. Kalau ingin deodoran atau krim untuk luluran, akan kubelikan nanti. Tapi untuk sekarang, jangan ganggu
barang-barangku. Mengerti?"
Nabilah mengangguk. "Oke, janji ya! Pokoknya, aku pengin dibeliin krim untuk luluran yang mereknya Bersih Darah Sehat Datang Bulan. Elo kan, seminggu kemaren kerja. Harusnya udah punya duit, dong. Pokoknya, gue pengin di-traktir."
"Iya-iya. Sabtu nanti kita jalan-jalan," sungutku. Huh, untung aku digaji dua belas juta. Dan Rabu besok bakalan nyampe uangnya. Beli notebook lima juta-nitip ke Om Johnny, kata mama, Om Johnny masih ada di Jakarta-lalu sisanya, yaaa ditabungin sama traktir-traktir juga, deh.
"Rapi bener ... mau ke mana, nih?" tanya Nabilah heran menatapku.
"Nggak ke mana-mana, kok!"
"Aaah ... mau ketemu Bison, ya?"
Aku nggak menjawabnya.
"Kalo gitu, pasti jawabannya, iya!" Nabilah langsung lari menuju ranselnya, mengambil sebuah buku dan menyobek belasan lembar kertas kosong. "Ini untuk Afie, ini untuk Ade, ini untuk Uci, yang ini Tety, yang ini Cika, yang ini Risma, yang ini Diah, yang ini Daus, yang ini Fazar, yang ini Angga, yang ini Roni."
"Heh! Ngapain, sih?"
"Buat tanda tangan Bison, terus gue jual ke temen-temen gue bareng fotonya. Yang ini buat Mira, yang ini buat Mumu, yang ini spesial buat Endih, Gasa."
"Iiih ...!" desisku berteriak. Aku keluar dari kamar.
Huh! Sepertinya semua orang mendadak gila. Si Key tuh apa, sih? Selebritis aja bukan! Heran deh, kok, cewek-cewek tergila-gila ama dia. Modal cakep aja pake ngefans segala, sih!
Aku menuruni tangga dan menemukan Sinka, Michele, juga Ilen sedang melihat tumpukan foto.
"Yang ini lucu nih ... eh, yang ini juga ... yang ini lucu banget, deh! Liat-liat, yang ini lebih lucu lagi," gumam Sinka senang.
Aku menatap foto yang bertebaran di sekitar mereka. Hah? Foto Key semua? Foto Key dari Internet? Rajin banget deh, sampe ngeprint semuanya! Dan aku jadi heran, apa sih, maksud Sinka dengan "yang ini lucu, yang itu lucu, yang ini lebih lucu" tapi yang dilihatnya adalah foto yang sama?!
Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu.
Aku bergegas ke ruang tamu dan menemukan Key sudah berdiri di depan pintu. Dia menggeng-gam sebuket bunga di depan dadanya. Macam-ma-cam mawar.
"Selamat malam!" sapanya tersenyum senang. Aku berjalan ke arahnya, tersenyum manis menyambut kedatangannya. Namun, tiba-tiba aku teringat kejadian malam kemarin ketika aku benar-benar direkam oleh sepupu-sepupu gilaku ke-tika aku berdebat dengan Key. Makanya, aku meminta Key untuk pindah.
"Hai! Selamat malam. Eh, bisa pindah nggak? Nggak aman ngobrol di sini."
Key celingak-celinguk menatap ke dalam rumahku, lalu kemudian menatap keluar rumah. "Ada lilin sama piring kecil, nggak?" tanyanya. "Hah? Buat apa?"
"Kita ngobrol di sana. Di luar. Pake cahaya lilin gitu."
So sweet, tapi ....
"Justru di sana lebih nggak aman, Key. Nanti saudara-saudaraku pada ngerekam kita ngobrol di luar."
"Biarin aja. Nggak apa-apa, kan? Mumpung malem ini nggak dingin-dingin amat. Ayo, ada nggak?"
"Tapi, Key, aku nggak mau kita direkam lagi. Aku takut nanti rekaman kita disebarin."
"Jadi ... kamu masih ogah barengan sama aku?"
"Kamu nggak ngerti. Saudara-saudaraku selama ini berusaha ngambil image kamu. Mereka nge-print foto kamu lewat Internet. Mereka ngerekam kita, terus mereka bakal ngejual gambar dan rekaman itu ke temen-temennya di Bogor atau di Garut. Malu, kan?"
Key tertawa. "Biarin aja. Nggak apa-apa. Aku kan, jadi makin terkenal kalo gitu," ungkapnya tersenyum manis.
"Mas-mas ... tanda tangannya, dong!" tiba-tiba Nabilah muncul di belakangku, menyodorkan setumpuk kertas dan sebatang pulpen. "Yang ini untuk Afie, yang ini untuk Ade, yang ini untuk Uci ...."
Key tertawa kecil mendapatkan saudaraku ternyata sangat gila!
"Ya udah, aku urus yang ini. Kamu cari lilin ama piring kecil aja. Jumlah piringnya harus sama ama
jumlah lilinnya. Plus korek api juga."
Aku mengembuskan napas besar. "Oke," kutoleh-kan mukaku menatap Nabilah. " Nabilah, awas ya, nanti kamu jangan ganggu kita. Inget itu!" ancamku.
"Sumpah! Gue nggak pake benda tadi buat deodoran balas Nabilah ketus.
Aku berbalik dan berjalan menuju dapur. Di bawah tangga, aku menemukan Sinka tergeletak, dan Michele sedang mengipasinya.
"Kenapa ama si Ovie, Le?"
"Itu tuh, ngeliat si Key. Malahan pingsan coba. Biasa aja deh, ah." Michele kembali mengipasi Sinka.
Ya-iyalah, Michele kan, udah sering ngelihat Key karena dia satu sekolah ama kita.
Aku melanjutkan langkah menuju dapur dan menemukan Ilen sedang menyantap puluhan kerat nanas. "Hm ... enak-enak!" ungkapnya nikmat, dengan mulut yang manyun dibuat-buat.
Huh! Ternyata sepupuku giia semua!
Lima belas menit kemudian ...
PENGGANGGU teratasi, diiming-imingi foto bareng Key, mereka nurut juga buat nggak akan ngeganggu kita selama satu jam ke depan.
Key dengan manisnya memasang tujuh lilin, yang kutemukan beserta piring kecil pola senada, yang kebetulan jumlahnya tujuh juga. Lilin itu dipasang di atas piring kecil. Dan ketujuh piring berlilin itu diletakkan di atas kap mobil Key, melingkar.
"Kamu ngapain, sih?" tanyaku heran, berdiri di
samping pintu mobil.
"Kamu cepet naik!" Key lalu melompati mobil, dan naik ke atas kapnya. Kemudian dia duduk bersila, lalu membantuku naik.
"Ini nggak apa-apa, Key?" tanyaku khawatir.
"Nggak apa-apa. Nggak usah cemas."
"Ntar lilinnya jatuh ke mobil ngerusak cat, lho!"
"Alaaa ... cuma cat ini, kok! Paling juga ngeganti catnya lima jutaan. Aku udah biasa mecahin guci tujuh juta, lho!"
Aku menggeleng pelan. Dasar orang kaya!
HOP! Aku berhasil menaiki kap mobil sekali berpijak, dan langsung duduk bersila di atasnya. Key duduk di hadapanku. Dan di antara kami, terlenggak tujuh lilin yang disimpan melingkar. Semuanya menyala sehingga aku bisa menatap wajah ganteng Key dalam remang-remang cahaya lilin. Apalagi bintang malam ini lagi muncul munculnya. Sungguh sangat menambah keromantisan dan kehangatan malam ini.
Kemudian, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol tentang banyak hal. Key ngomongin gimana kabar Mbok Jess, Nince, Bu Nira, bahkan Pak Agus. Juga kabar tentang dirinya yang mulai berubah. Atau, aku ngomongin tentang cowok brengsek bernama Dino. Obrolan kami sungguh akrab dan mengasyikkan.
Kemudian, kami berdua terdiam. Kami tenggelam dalam keheningan dan kesunyian. Obrolan kami terhenti dan aku tertunduk, nggak tau harus melakukan apa-apa lagi.
" Ve," kata Key merayu.
Aku mendongak, tersenyum menatap wajahnya. Iiih! Ganteng banget!
Adakah hal yang lebih romantis dari ini? Oke, ada. Leonardo Dicaprio di atas kapal Titanic beserta Kate Winslet. Namun, berhubung Leonardo nggak pernah meneleponku untuk mengajakku naik kapal Titanic dan memintaku untuk merentangkan tanganku di bagian depan kapal, sepertinya momen malam ini yang paling romantis dalam hidupku.
Duduk berdua, berhadapan di atas kap mobil mewah aku masih belum tau merknya sampai saat ini, sepertinya keluaran luar negeri yang diimpor khusus oleh Key karena bentuknya sangat canggih dan aku baru menemukan ini di Ban-dung. Dengan tujuh lilin putih menyala. Di bawah taburan bintang di angkasa, beserta bulan yang kebetulan purnama. Dan ... kehangatan senyuman Key.
"Aku punya hadiah buat kamu," ujar Key manis.
"Oya? Apa?" tanyaku agak genit.
Key turun dari mobil, mengambil sekotak besar kardus entah berisi apa, lalu duduk lagi di kap mobil, di hadapanku. Key mulai senyum-senyum mencurigakan.
"Ini ... buat kamu ... maksudnya, buat utang kamu," ujarnya, menyerahkan sebuah bingkisan kado segi empat yang dibungkus menarik.
Aku mengernyitkan dahi, tersenyum janggal."Apaan ini? Utang apaan?"
"Buka aja," pintanya.
Aku merobek pelan-pelan bungkus kado itu. Dan
menemukan ... ya ampun! Notebook!
Aku melongo menatap Key, nggak percaya dengan
apa yang diberikannya.
" Key... apa ini?" tanyaku masih nggak percaya.
"Itu notebook. Masa nggak tau, sih!?" ujar Key mengernyitkan dahi.
"Maksudku ... apa-apaan ini? Kamu ngasih ini buat aku?"
"Bukan. Sebenernya bukan buat kamu. Itu buat Naomi."
Wajahku langsung datar. Ya ampun, kirain buat gue!
"Tapi tenang aja. Aku punya yang lain buat kamu." Key mengambil lagi bingkisan kado lainnya dari kardus. Berbentuk hatHove berwarna pink dengan pita merah. Ternyata bungkusnya dari kain beludru. "Yang ini khusus untukmu."
"Apa ini?" tanyaku, menerima sodoran kado itu.
Ya ampun, lembut banget. Kado ini dibungkus dengan beludru, ditambah bulu-bulu halus yang lembutnya biasa kurasakan pada boneka kucing.
Oh ... bungkus kado ini harus kusimpan.
Aku mencari cara membuka kado ini. Oh, ada resletingnya! Ya ampun! Notebook lagi! Dan ... notebook-nya lebih canggih, lebih unik, lebih manis, cewek banget!
" Key!" Aku nggak percaya.
Dia tersenyum sangat manis. Jadinya, aku pun tersenyum manis, manja, dan sangat berterima kasih.
"Ini buatku?"
"Ya iyalah, buat kamu. Buat siapa lagi? Dan bunga ini ... eh, mana bunganya? Ya ampun, bunganya diambil ama saudara kamu." Key panik, menepuk dahinya sendiri.
"Nggak apa-apa, kok!" Aku memeluk notebook baru.
Biarin aja kali........ mahalan mana sih, bunga
ama notebook ini?!
Key menatapku serius, kemudian membungkuk, membuat keadaan menjadi semakin mendebarkan. Aku nggak sabar menunggu, seandainya ada kejutan lain. Tapi, senyuman Key yang sangat manis, dan tatapannya, membuatku harus menyadari bahwa keadaan sedang benar-benar serius sekarang.
" Ve…” panggil Key lagi, pelan, merayu lagi.
Aku menoleh menatapnya dan memeluk notebook baruku erat.
"Kamu ... kamu mau maafin aku, nggak? Maafin aku yang ... selama ini selalu ngejek kamu, ama temen-temen kamu. Aku yang mungkin, nyusahin kamu, ngeselin kamu, yang ... pokoknya bikin kamu repot."
Aku tersenyum. " Key.... aku nggak pernah marah sama kamu, kok. Kamu nggak usah minta maaf. Jujur aja ... aku nggak ngerasa repot ada di sekitar kamu. Kamu mau ngejek aku kek, mau ngeselin aku kek, mau ngapain juga kek, nggak akan ngaruh, kok. Kamu bisa lihat kan, aku juga Tweenies, nggak pernah nanggepin ejekin kalian. Kami tuh nggak peduli. Lagi pula sebenernya, kami
seneng, kamu ama temen-temen masih nyoba buat interaksi ama kami ... meskipun ngejek, se-enggaknya kita berinteraksi. Nggak terlalu perang dingin amat."
Key mengerutkan alisnya. "Kalian nggak marah?"
Aku menggeleng, lalu tertawa kecil.
"Terus ... apa kita ... bisa ... berteman?" lagi-lagi, Key bertanya hal tersebut.
Aku mengernyitkan dahi. "Emangnya hubungan kita selama ini apa?"
"Ngngng ... hubungan antara babysitter dan baby-nya."
Aku tertawa lepas, terbahak mendengar pernyataan itu. Key malah bingung. "Ya ampun ... Key. Udah aku bilang kan, aku bukan babysitter kamu lagi. Aku ini udah jadi temen kamu lagi. Temen sekolah kamu."
Key menunduk sedih. "Hanya ... temen sekolah?" tanyanya agak kecewa.
"Emangnya, kamu pengin kita temenan kayak gimana?" kataku balas bertanya, mengerutkan alis.
Key menyeka bagian belakang rambutnya kemudian menatapku lagi penuh harap. "Aku, kan ... pengin kita jadi temen dekat."
Aku sedikit cekikikan, kemudian menggerakan kobaran api di atas lilin. "Oh, kamu pengin kita sobatan?"
Key mengangguk-angguk senang. Wajahnya lebih baikan kali ini. Meskipun masih diisi dengan raut penuh harap.
"Yaaah ... kenapa nggak?!" jawabku tersenyum.
Key tersenyum riang. Dia sangat senang. Kemudian berikutnya, dia memandang lilin itu penuh ide.
"Kebetulan, nih!" seru. Key Kerutan dahinya menunjuk ke tujuh lilin di hadapan kami. "Lilinnya ada tujuh, jadi Kemudian Key mengatur-atur lilin itu.
Tiga lilin diletakkan di hadapanku, tiga lilin di hadapannya, lalu satu lilin yang paling besar diletakkan di tengah. "Masing-masing sebutin our wish. Lalu, tiup satu lilin, dan pindah ke lilin berikutnya. Sampe tiga lilin di depan kita padam. Dan ... satu lilin di tengah, kita tiup bersama, sambil ngucapin 'semoga Tuhan mengabulkan doa kita', mengerti?"
"Apa-apaan, sih?"
"Ayo, dong! Nggak apa-apa,kan? Dikabulin, syukur. Nggak dikabul juga nggak apa-apa. Seenggaknya, kita bisa saling tau keinginan masing-masing. Sobatan kan, harus terbuka."
"Nggak, ah. Nanti kita jadi serasa menyembah pada lilin ini, meminta-minta pada lilin ini."
"Ya ampun. Nggak dong, Ve. Kita nggak minta buat lilin ini ngabulin permintaan kita. Kita cuma berdoa pada Tuhan, diomongin, lalu tiup lilin ini, sebagai tanda bahwa kita udah ngasih tau keinginan ini pada dunia."
Aku tersenyum. Oke, aku mengerti. Nggak akan ada unsur magis di sini. Nggak juga musyrik pada Allah. Ini hanya permainan. Nggak terlalu berpengaruh.
"Oke ... siapa dulu?" tanyaku. "Kamu dulu," pinta Key.
Hm ... minta apa, ya? Aku nggak mau minta sesuatu yang aneh. "Ngngng ... aku pengin ... ada-nya perdamaian abadi di muka bumi ini. World Peace. Nggak ada perang. Nggak ada persaingan yang nggak sehat. Semua orang saling membantu dan saling menyayangi."
Fffuuuihhh. Aku meniup lilin itu. Dan apinya langsung padam.
"Giliranku!" Key membungkuk dan menutup matanya. "Aku pengin ... semua geng di sekolahku, berhenti bermusuhan. Aku ingin Mozon nggak lagi angkuh, Rebonding Galz nggak lagi galak, Kompilasi kembali baur sama murid lain. Aku ingin Jagad nggak lagi bandel, jahil, dan mengejek-ejek murid lain. Aku ingin semua murid di sekolahku muncul, menyalurkan kreatifitasnya buat hal positif, mengharumkan nama sekolah. Khususnya, aku ingin Tweenies, tetap hidup dalam keabadian, berprestasi, rame, cantik, dan rendah hati pada setiap orang."
Key meniup lilin itu, kemudian membuka matanya dan memandangku.
Ya ampun ... permintaannya sama banget dengan apa yang aku dan Tweenies minta tadi siang di rumah Andela.
Aku lalu memejamkan mata, dan meminta lagi, "Aku ingin hari-hari berikutnya yang semua orang di dunia ini hadapi, adalah hari-hari yang hangat, indah, dan nyaman. Aku ingin hari-hari berikutnya adalah hari yang penuh dengan cinta dan kasih
sayang."
Aku meniup lilin itu dan membuka mata. Rupanya, Key udah menutup mata lagi dan siap buat permintaan keduanya.
"Aku ingin ... cewek yang duduk di depanku sekarang, setiap malamnya, selalu diberikan mimpi-mimpi yang indah dalam tidurnya. Sehingga di setiap paginya, cewek ini bangun dengan segar, dan bersiap untuk melindungi bumi ini dalam kasih sayang dan cintanya." Key membuka matanya sekilas, menatapku, tersenyum, lalu menutup matanya lagi, "Namanya Ve," bisik Key, bergumam.
Key meniup lilin itu hingga padam, membuka matanya. Aku tersenyum menatap wajahnya, juga sedikit geli dengan permintaannya barusan. Kugelengkan kepala, dan bersiap dengan lilin terakhir.
Hm ... apa, ya?
"Ngngng ... aku ingin ... cowok yang duduk di depanku sekarang, dan aku, selalu berhubungan baik ... selamanya."
Kutiup lilin itu, dan menatap Key. Aku bersiap mendengarkan permintaan terakhirnya.
Sampai saat ini, menurut hipotesisku, Key selalu mengkhususkan permintaanku. Perdamaian dunia, dikhususkannya menjadi perdamaian antar geng di sekolah. Hari-hari yang indah penuh dengan cinta, dikhususkan menjadi mimpi-mimpi indah penuh dengan cinta. Sekarang, seandainya Key akan mengkhususkan lagi permintaan ketigaku, I'm
wondering, what he wiii wish now____
Key memejamkan matanya, "Aku ingin ... cewek yang sekarang duduk di depanku ... akan menjadi ... kekasihku ... selamanya."
Key meniup lilin itu, kemudian tersenyum menatapku.
Aku sedikit tersentak mendengar permintaannya barusan.
Oh-my-God! Key... menginginkanku ... untuk menjadi kekasihnya?! Ya ampyyyun! Kukira hanya Shania yang menerima cinta Boby kemudian berpacaran. Kukira hanya Andela yang ditembak jadian sama Hamids malam kemarin. Ternyata sekarang Key menginginkanku menjadi kekasihnya? Hah? Apa-apaan ini? Ya ampun ... bisa-bisa nikah massal nih antara Jagad ama Tweenies. Nggak kebayang deh, kalau BIP sekarang bakal nemuin, Jagad berpasangan ama Tweenies. Hihihi ...!
"Lilin terakhir, kita ucapin bareng-bareng ... 'se-moga Tuhan mengabulkan doa saya barusan, oke?"
Dengan ragu, aku mengangguk. Kami pun membungkuk, dan mengucapkan kalimat permintaan kami untuk lilin terakhir.
"Semoga Tuhan mengabulkan doa saya barusan ...!"
Fffuuuihhhf Lilin itu kami tiup berbarengan.
Lilin pun padam, lalu kami berpandangan. Wajah Key sedekat ini. Dia benar-benar di depanku. Nyata. Dia sedekat ini ....
Tiba-tiba, muncul sebuah tangan dan mencubit
hidungku, "Kamu ngegemesin banget, deh!" goda Key sambil tersenyum.
Aku yang menggeleng-geleng karena hidungku dicubit, langsung memberontak. Kubalas dengan mencubit hidung Key pula, hingga kepalanya menggeleng dan menunjukkan wajah bodoh.
Buuuk!
"Heh! Kalian teh sedang ngapain di situ? Malam-malam begini berpacaran saja. Pake cubit-cubitan lagi!"
Aku dan Key tersentak kaget mendengar suara barusan. Kami langsung menoleh, dan mendapatkan Bu Lina berkacak pinggang di bawah kami.
"Kalian teh bukannya belajar, malah pacaran di atas mobil. Nggak kedinginan kalian teh? Ih, Ibu mah heran, kenapa sih, baru aja pulang dari pengajian di rumah temen Ibu, malah menemukan murid-murid Ibu pacaran di atas mobil."
Ups, ada Bu Lina. Hehehe ... kebetulan banget. Huh, seharusnya ada lilin kedelapan untukku meminta "jangan ada yang mengganggu kami, siapa pun juga, termasuk wali kelas kami".
#
3 IPA 4
KUKEJAR kupu-kupu itu meski ternyata aku nggak berhasil. Kupu-kupu itu langsung melayang di antara bunga-bunga bagian lain.
Hm ... padang bunga yang sejuk. Di mana lagi aku bisa menemukan tempat seindah ini?
Key menyeretku ke bagian padang bunga yang lain. Kulihat dari kejauhan, Nabilah , Sinka, Michele, Elaine lagi asyik memetik bunga matahari.
Heh, Nabilah , jangan menyisipkan bunga mata-hari di telingamu. Nggak pantes!
Lalu di bagian lain, Shania dan Andela berbaring, asyik ngobrol, tepat di tengah kumpulan bunga tulip. Nince dan Mbok Jess juga berkejaran di antara anggrek liar berwarna ungu. Kulihat pula, mama dan Bu Nira tengah asyik minum teh di padang rumput ... oh, sungguh indah ... fenomena yang indah.
Dan Key, di sampingku, kini benar-benar me-lindungiku. Dia akan memerhatikan aku, akan men-jagaku ... begitulah ikrarnya sebelum aku benar-benar menerima cintanya.
Aku membuka mata. Huh! Mimpi lagi. Mimpi indah yang terulang. Oh ... kenapa sih, sejak permainan tujuh lilin itu, malam-malamku selalu diisi dengan mimpi yang indah ?
Tik, tok, tik, tok! Detak beker membuatku bangkit, dan mematikan beker yang akan nyala lima menit lagi.
Hm ... ternyata aku bangun lebih cepat daripada bekerku sendiri. Aku turun dari tempat tidur, lalu memakai sandal. Oh, menyedihkan. Aku nggak nemuin lagi Nabilah , Sinka , Michele, juga Elaine yang bertindihan di atas ranjang ini.
Pagi yang biasanya ramai, kami isi dengan teriakan-teriakan, "Siapa yang menjatuhkanku semalam?", "Siapa yang menendang perutku semalam?", "Siapa yang mengambil bantalku semalam?" kini harus kulewati dengan sepi. Seperti hari biasanya. Kamar yang kosong. Hanya ada aku, selimut tebal berwarna cokelat, juga lahan yang kini terbuka luas untuk tidurku.
Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke sekolah, sebagai kelas tiga SMA. Saudara sepupuku udah pulang kemarin. Sekarang rumahku benar benar sepi dari sepupuku yang gila semua.
Oke, aku marah saat tau Nabilah make pencuci mukaku buat luluran. Tapi, botol kosong pencuci muka itu yang masih tersimpan di kamar mandi, membuatkan aku kenangan-kenangan manis tentang. Nabilah Botol itu membuatku merindukannya.
Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang membuntutiku ke mana-mana. Cewek yang sok tau
dan selalu ingin tau. Cewek yang selalu duduk di antara orang lain. Pokoknya yang judes, tapi fun dan bodoh! Oh, aku nggak akan menemukannya lagi.
Sinka? Yah, kabel modem yang ketinggalan dimeja riasku, mungkin menjadi barang yang akan mengingatkanku padanya. Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang selalu kejedug pintu dan memarahi, "Siapa yang pasang pintu di sini?". Cewek yang selalu jatuh dari tangga dan berteriak, "Siapa yang pasang tangga di sini?".
Hm ... udah deh, nggak usah terlalu dipikirin. Aku yakin, liburan semester nanti, mereka pasti maen lagi ke sini. Aku yakin itu.
Apalagi setelah tau, aku mulai menjalin hubungan serius sama Key. Sepertinya, mereka akan bersemangat datang ke sini.
SEKOLAH dipenuhi anak SMA kelas satu yang masih berseragam SMP. Ya, sekarang hari pertama Masa Orientasi Siswa alias MOS. Dan beruntungnya, nggak ada kegiatan belajar mengajar untuk kelas tiga dan kelas dua. Yang ada hanyalah pengumuman pembagian kelas.
Oh, aku nggak sabar akan sekelas dengan siapa tahun ini. Masihkah dengan Andela dan Shania? Aku harap iya. Kami bertiga memang masuk IPA. Jadi, kemungkinan sekelas sangat besar. Dengan Key sih, nggak mungkin. Dia masuk jurusan IPS. Atau kecuali, dia minta pemindahan jurusan di atas materai, dan berkemungkinan berkompetisi sama aku di IPA.
Mading khusus kelas tiga dipenuhi murid. Semua murid berebutan melihat namanya masuk ke kelas mana. Aku hanya mengirimkan utusanku, Andela, buat ngecek nama kami ada di kelas mana. Dan dalam lima menit, Luna keluar dengan wajah aneh.
"O-ouw ungkapnya pertama kali. "Kita kita ... sekelas lagi!"
"YESSS!" Shania meloncat senang karena kami bertiga sekelas lagi.
Ya ampun ... tiga tahun, Kita semua sekelas. Hm ... pasti karena pihak kurikulum tau, kita ini satu geng, berprestasi, jadi ... kenapa juga nggak disatuin dalam satu kelas terus? Hehehe .... Ya, ampun! Makasih ... mudah-mudahan nggak berubah.
"Kita di kelas mana?" tanyaku.
"Di 3 IPA 4. Tapi ... ada kabar lain lagi ..." Raut muka Andela benar-benar serius kali ini.
"Kenapa?" tanyaku dan Shania berbarengan.
"Wali kelas kita ... lagi-lagi ... Bu Lina."
AKU menenteng notebook yang masih dibungkus kardusnya itu. Kutemui Naomi yang lagi duduk ba-reng Rebonding Galz di kantin. Aku langsung ber-diri menghampiri mereka, tepat di samping meja.
"Hai!" sapaku melambai pada mereka.
Rebonding Galz kaget, malah menatapku sinis dan mengejek. Ada jerapah nyasar kesini?DEemudian mereka tertawa-tawa, mengejekku.
Aku ... jerapah? Setinggi apakah aku di mata mereka ?
Aku yang sebetulnya kesal, mencoba tersenyum manis pada mereka. " Naomi... notebook kamu," ujarku terhenti.
Naomi langsung berdiri, menyilangkan tangannya di depan dada. "Hm ... tepat janji juga, ya? Mana?!" pintanya ketus, mendongak.
Ya ampun! Liburan dua minggu, tingginya nggak bertambah!
Aku mengangkatnya, namun nggak menyerahkannya. "Ada di sini. Tapi, sebelum aku ngembaliin notebook ini ...." Aku langsung mengulurkan tangan ke arah mereka, "Aku ingin minta maaf sama kalian. Aku ingin ... kita semua ... nggak musuhan lagi. Aku ingin ... selama setahun ke depan ... kita jalanin tahun terakhir kita di sekolah ini ... tanpa permusuhan satu pun." Aku memiringkan kepala, tersenyum manis sama mereka.
Semua personel Rebonding Galz langsung saling melirik, kemudian ... menertawakanku. "Ya ampun ... belum Lebaran Neng, ya?! Hahaha Mereka
menertawaiku lagi, mengejekku.
Sebetulnya aku gondok, kesal, marah, dan sakit hati. Ya ampun, udah baik-baik gini masih diejek juga? Dasar nggak tau diri. Awas, ya! Ntar, kalo aku
Tap! Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku, sambil menggigiti kukunya.
Aku menoleh dan mendapati Key yang tersenyum manis dan menatapku mesra. Kemudian, Key menoleh ke Rebonding Galz. "Sayang, kalo mereka nggak mau minta maaf, sih ... nggak usah
dikasih notebook-nya."
Sontak, lima anggota Rebonding Galz kaget melihat fenomena di depannya.
Seorang Bison mendekati Dearest-nya Tweenies?.'
Kutemukan mereka mangap lebar, membiarkan beberapa lalat masuk, gara-gara melihat aku didekati Key.
Nggak hanya mereka yang melongo. Ternyata, kutemukan juga beberapa murid lain di sekitarku.
Tiba-tiba, sengaja kumainkan hidung Key dan kupencet-pencet gemes. Semua yang melihat sangat heran.
Kuletakkan notebook itu di atas meja, "Biarinlah terserah. Nggak nerima maaf juga nggak apa-apa. Yang penting, aku udah minta maaf," sahutku sedikit kecewa.
Rebonding Galz rupanya nggak mendengarkan perkataanku barusan. Mereka lebih tertarik memandang wajah Key , yang ternyata bisa berada se-dekat mereka, ditambah lagi bersamaku. Hihihi ... tiba-tiba pikiranku serasa menang. Aku serasa udah mendapatkan semuanya. Ya, setelah cowok paling dikejar-kejar di sekolah itu berada di bawah asuhanku dua minggu lalu. Sekarang, cowok itu sangat dekat denganku.
Key memainkan rambutku. Kutarik tangannya untuk lepas, namun ....
Buuuk!
"Kalian teh di mana-mana pacaran saja. Nggak bosen kalian teh?" Bu Lina menggebrak meja,
berkacak pinggang lagi layaknya semalam.
Aku dan Key langsung bangkit tegak. Kami memandang Bu Lina penuh senyum dengan raut muka bertuliskan; "Nggak di mana-mana kok, Bu". Dan, aku masih bisa merasakan tangan Key memegang rambutku, menarikku mendekatinya.
"Ibu mau ikutan?" tawar Key tiba-tiba. Aku sempat mendongak menatapnya heran. Tapi, Bu Lina malah tertawa-tawa.
"Ibu harus ikutan? Ah, nggak usah. Ibu mah nggak mau selingkuh dari suami Ibu. Cukup dengan suami Ibu saja Ibu mah." Bu Lina menggeleng geleng sambil tersipu. Aku dan Key mengerutkan alis, heran, maksudnya si ibu apaan, sih?
"Bu Foto, Bu. Foto!" seru Luna dari belakang, mengambil fokus kami pake HP kameranya.
"Apa? Foto ini teh?" Bu Lina kaget dan mendadak membetulkan kerudungnya. "Sebentar atuh1."
"Sini, Bu!" Key menarik Bu Lina untuk berdiri di sampingnya.
Kami bertiga berfoto. Aku berada di kanan Key, Bu Lina di kirinya Key.
Klik. Klik.
Dua kali Luna nge-shoot kami. Hasil fotonya bagus. Dan Andela bilang, mau nge-print besok.
"Makan, yuk! Di sana!" seru Shania, kemudian duduk di kursi panjang.
Ternyata Ricky udah duduk di sampingnya, mengetuk-ngetuk meja menggunakan telunjuk, mencoba menciptakan sebuah irama.
Penghuni kantin lagi-lagi kaget. Another Tweenies with another Jagad. Dan, melihat keadaan itu, Shania malah membuat keadaan semakin menjadi-jadi. Shania tiba-tiba mencubit pipi Boby, gemas, menggeleng gelengkannya lucu. Boby hanya menunjukkan tampang culun, namun Shania tertawa-tawa geli.
Tiba-tiba, Hamids datang dan mencolek bahu Andela. Andela menoleh sekilas, tersenyum sama Hamids, lalu menatapku. Muncullah senyum-senyum kecil dari bibirnya, nggak tahan pengin teriak.
"Argh!" Andela berteriak kecil, dia langsung merangkulku. "Gue udah ... jadian!" bisiknya. "Kemaren ...!"
Kami berdua pun meloncat-loncat di tempat, seperti Sandra Bullock dalam film Miss Congeniality 2: Armed and Fabolous. Akhirnya, pasangan massal jadi juga, nih. Tweenies menjalin hubungan sama Jagad.
"Ayo! Makan!" Key udah mesenin sepiring nasi goreng hangat, lengkap dengan telur dan ayam suirnya. Kerupuk-kerupuk kecil pun ditaburkan di atasnya.
Kami semua duduk berpasangan, dan Bu Lina nyelip sendirian. Semua melahap makanannya, bahkan Bu Lina yang pertama kali habis. Bersih banget piringnya! Diikuti Boby, kemudian Hamids. Dan,Key di belakangnya. Anak-anak Tweenies sih, mana mungkin makan dalam waktu secepat itu. Semuanya pada jaim.
"Lihat, nih! Kalo makan tuh, harus bersih kayak gini!" Bu Lina menyodorkan piringnya ke tengah.
Wow! Bersih. Sama sekali nggak ada remah nasi.
Nggak ada lauk yang disisakan. Saking bersihnya, piring itu kayak yang baru dicuci. Wah-wah, jangan jangan perusahaan sabun cuci bangkrut kalo semua orang kayak Bu Lina.
Plis deh, bersih banget gitu lho!
Pineapple Juice, Sweet and Spicy
NYERITAIN tentang seorang cowok yang lahir di keluarga kaya. Sebelum cowok itu lahir, ayahnya punya tujuh istri, dan ibunya istri kedelapan. Tujuh istri yang lain meninggal karena penyakit, dan masing-masing meninggalkan satu anak yang sehat.
Ibu cowok ini nggak berpenyakit, dia sehat. Namun, punya anak berpenyakit. Memang bukan penyakit biasa. Cowok itu tumbuh menjadi anak bandel, manja, kekanakan, jahil, pokoknya butuh perawatan khusus kalo pengin dia jadi anak yang manis.
Sang ibu rajin menyewa jasa pengasuh anak, mencoba membuat anaknya berubah. Namun, nggak satu pun berhasil. Hingga akhirnya, temannya cowok itu sendiri menjadi pengasuhnya, gara-gara ingin memiliki gaun untuk ke prom night akhir bulannya. Dia cewek berperangai baik, sabar, telaten, dan memiliki banyak ide. Lalu di akhir masa
kerjanya, cewek itu tau kalo sang cowok menyukainya. Terjadilah semacam getaran hangat, cinta, di antara mereka, dan ... mereka menjadi sepasang kekasih.
Cowok itu melamar si cewek dengan gaun merah yang indah yang jadi cover novel ini lalu mereka berdua datang ke prom night bareng.
Di akhir cerita, akhirnya aku ngerti apa maksud dari judul Pineapple Juice, Sweet and Spicy. Layaknya nanas, sebelum dikupas, kalo kita menggenggamnya, kita akan merasakan duri-duri menggelikan di telapak tangan kita. Ketika ber-bentuk jus, kita akan merasakan serabut serabut menggelikan di telapak tangan kita. Rasanya pun terkadang manis, terkadang sepat-sepat pedas khasnya nanas. Dan hubungannya dengan cerita itu adalah, cewek itu mesti merasakan manis dan pedasnya bekerja, duri dan serabut menggelikan, sebelum akhirnya mendapatkan gaun merah itu.
Yup, semula aku nggak ngerti, kenapa pineapple juice cover-nya gaun merah.
Dan, entah kenapa, aku ngerasa cerita di novel ini sama banget dengan yang aku alamin beberapa minggu ke belakang. Hanya berbeda sedikit.
Aku meletakkan buku itu di rak tempat buku ini tempo hari. Ah, kutemukan juga celah itu.
"Makasih, ya, Bu!" ucapku, sambil berjinjit dan menyimpannya.
Bu Nira yang sedang mengetik di notebook-nya, hanya mengangguk dan tersenyum. "Kamu juga boleh pinjem yang lain, kok!"
Aku tersenyum dan bergegas keluar ruangan. Sebelum nyamperin Key, HP-ku bergetar. Nabilah meneleponku.
"Halo sapaku.
"Oh, Ve. Gue nggak nemuin pelembap sama pencuci muka kayak punya elo di Pameungpeuk sini. Bisa nggak, elo kirimin ke gue lewat paket pos?"
"Bukannya Sabtu kemaren udah aku beliin krim luluran sama deodoran baru? Ditambah maskara putih lagi."
"Beliin lagi, dong!"
Aku mendengus. "Oke, yang mereknya apa?"
"Ngngng ... pencuci muka mereknya Kaki Sehat Mulus dan Indah, terus pelembapnya merek Panu Jangan Dipikirin."
"Iya-iya ... ntar aku kirimin, deh ... tapi kalo nggak ada, aku beliin merek lain aja, ya?"
"Boleh, deh. Tapi yang mahal, ya! Jangan lupa kirimin bonnya. Aku mau ngelihatin harganya ke temen-temenku."
"Iya-iya ... udah, ya! Aku lagi sibuk, nih!"
"Daagh...."
Aku pun memasukkan HP ke dalam saku dan menggeleng-geleng.
Huh, dasar gila! Dari mana sih, nama merek yang dia sebutin tadi?! Seenaknya aja bikin brand sendiri. Kayak yang bagus aja!
Key menghampiriku. "Yuk, kita pergi ... huh, nggak sabar nih, pengin cepet-cepet maen di pantai.
"Ayo…..:*"
And love has just beginning ... It would start with beautiful... Without ending, but immortal...
To someone that took my mind ... To someone that fill my heart... To someone that had the best smile
I love you
"Kita terima salam mereka, kok!" sahut Andela. Kedengar lagi sebuah isakan, namun sekarang dari Andela. Dan isakan berikutnya, datang dari tubuhku sendiri. Oke, jujur, aku mulai tersentuh dengan keadaan ini.
Kami melepaskan pelukan, Andela dan Shania sudah melirikku. Giliranku menjawab sekarang.
"Baiklah ... pertama. Aku ngeliat Jagad sebagai geng yang butuh perhatian. Kita bisa ngeliat kan, mereka sering banget dapet hukuman. Okelah, hukuman itu didapatkan karena ke-salahan mereka
sendiri. Dan tahukah kalian ke-salahan mereka semua dibuat cuma buat narik perhatian kita. Mereka pengin kita perhatiin. Cuma sayang, kita ngeliatnya dengan cara lain. Bahkan, kita nggak pernah ngerespons mereka kalo mereka mulai ngejek-ngejek kita. Padahal, mereka ngeharepin banget kita ngebales mereka. Jadi, seenggak-nya mereka bisa berinteraksi dengan kita."
"Tapi, kenapa mereka selalu ngeliat kita sinis. Selalu mendelik kalo kita udah di deket mereka," komentar Andela.
"Mereka itu tegang kalo ada di deket kita, Andela. Ya, sekaligus cari perhatian juga. Biasanya kan, cewek suka langsung marah kalo diliat kayak begitu. Tapi, kita tuh nggak pernah. Kita kan, cuek-cuek aja," jawab Shania, "Gue tau ini dari Boby."
Aku dan Andela berpandangan, kemudian kulanjutkan lagi bahasanku, "Kedua ... sangat pantas sekali Jagad menjadi teman kita. Alasannya sudah jelas. Alasanku sama dengan kalian. Kenapa sih, kita harus ngejauhin mereka. Nggak ngaruh, kok. Ada atau nggak ada mereka, kita tetep aja populer di sekolah."
Andela dan Shania manggut-manggut.
"Ketiga. Mungkin tinggal Key. Oke. Jujur aja, seminggu kemaren aku bersama Key, di rumahnya. Dan jujur aja, sebenernya Key nggak jijik-jijik amat ama yang namanya cewek. Sebenernya dia pengin temenan ama cewek. Cuma karena…
Aku menghentikan kalimatku.
Ups! Oh, my, God! Aku hampir keceplosan.
Alasan Key menjauhi cewek kan, karena dia childish dan manja. Dan aku nggak mungkin bilang hal ini pada Andela dan Shania.
"Cuma karena apa, Ve?" tanya Andela.
Aku berpikir keras, mencari jawaban bohong yang tepat. "Karena ... karena dia nggak pengin cewek yang lain sirik kalo dia deket ama seorang cewek!" Andela dan Shania mengerutkan alis, heran dengan jawabanku. Sedikit nggak masuk akal memang. Kesannya si Key tuh pede banget gitu loh. Tapi kan, semestinya mereka percaya-percaya aja berhubung aku seminggu ini serumah ama dia.
Untuk menghindari Andela-Shania bertanya yang macam macam, kuputuskan segera menjawab pertanyaan keempat, "Terakhir ... gimana dengan memulai dari diri kita sendiri, introspeksi diri, kemudian minta maaf sama yang lain. Nggak ada salahnya kalo kita minta maaf pertama kali meskipun kita nggak punya salah apa pun."
Andela dan Shania diam.
"Sebenernya, gue mah lebih tertarik elo nge-bahas Key," ungkap Shania.
"Iya. Urusan baikan sih, belakangan. Gue pengin banget tau gimana sih, sosok Key tuh actually? Pasti banyak cewek yang penasaran. Dan gue yakin, you know all about him. Right?" tambah Andela.
Aku sedikit tegang. "K-kalian ........ pengin tau
alasan yang gue sebutin barusan?" Aku mencoba mengungkitnya meski berharap mereka menjawab "tidak".
"Nggak," kata Shania.
"No” kata Andela.
Bagus! Harapanku terkabul. Mereka nggak begitu penasaran dengan alasan Key menjauhi cewek. Meski ternyata dugaanku meleset, mereka bilang "nggak" dan "no", sedangkan aku mengharapkan mereka bilang "tidak". Sudahlah.
"Oke ... Key tuh, jujur aja, hatinya baik. Kekurangannya cuma bandel, jahil, ngeselin, dan ... belagu mungkin. Dan kelebihannya ... kelebihannya apa, ya? Oh, iya. Kelebihannya adalah, dia punya empat kekurangan."
Kami semua tertawa, terbahak-bahak. "Yang bener aja, deh," kata Andela.
"Nggak deng, cuma bercanda, kok! Key tuh ro-mantis abis."
"Apanya yang romantis?" tanya Shania. "Apa, ya ... paling juga ... oh, iya! Dia nolongin aku dari Dino brengsek!"
Shania dan Andela tersentak kaget, tiba-tiba saja menunjukkan wajah bersalah.
"Oke, sebelum lanjut ceritanya. Gue mau marahin kalian dulu!" ujarku bernada tinggi. Shaniadan Andela memejamkan matanya. " Andela! Kenapa sih, kamu chatting ama cowok brengsek kayak Dino?! Shania! Kenapa sih, kamu ninggalin aku ama si Dino brengsek itu?!"
Sejenak, dunia terasa hening, sunyi dan senyap. Namun sejurus kemudian, helaan napas lega mulai mengisi keheningan ruangan. Shania dan Andela membuka matanya.
"Elo udah marahnya?" tanya Andela ragu-ragu.
Aku mengembuskan napas. "Hm ... oke, berhubung ternyata Key yang nolongin aku, aku jadi batal marah ke kalian. Karena aku punya kabar baik dan kabar buruk ...."
"Apa itu?" tanya Andela.
"Kabar baik, Dino itu ganteng banget. Mirip Tom Cruise, aku baru inget wajahnya ternyata mirip dia." Kuhela lagi napas berikutnya, "Kabar buruknya, dia itu brengsek banget! Dia mulai ngegoda aku, dan hampir nyulik aku. Kayaknya aku bakal dinodai olehnya. Oh, untungnya, pangeranku datang pada waktu yang tepat. Kebetulan banget, Key ada di TKP, dan bisa nolongin aku."
"Ya ampun, Ve, maafin gue, ya!"
"Gue juga dihapunten atuh."
Shania dan Andela langsung memelukku.
Inget, Ya! Itu Pelembap Muka!
AKU mengikat rambut, rapi di belakang kepala. Kuletakkan lagi sisir di atas meja dan mengambil pelembap muka. Kuoleskan ke wajah, dan meratakannya agar mukaku terlihat lebih bersinar. Nabilah muncul dari balik pintu, menatapku penasaran, lalu menghampiriku dan merebut pelembap mukaku.
"Jangan pake buat luluran!" seruku cepat sebelum Nabilah melakukan kesalahannya lagi. Beberapa hari yang lalu, Nabilah menggunakan pencuci mukaku untuk luluran. Padahal, aku baru beli. Dan dalam sekejap, isinya habis. Padahal, aku belinya yang kemasan besar.
"Ya nggaklah. Emangnya gue bodoh, apa? Ini kan, deodoran." Ardia siap mengangkat tangannya, namun aku langsung merebut pelembap mukaku dan melemparnya ke dalam laci.
"Jangan sentuh barang-barangku. Kalau ingin deodoran atau krim untuk luluran, akan kubelikan nanti. Tapi untuk sekarang, jangan ganggu
barang-barangku. Mengerti?"
Nabilah mengangguk. "Oke, janji ya! Pokoknya, aku pengin dibeliin krim untuk luluran yang mereknya Bersih Darah Sehat Datang Bulan. Elo kan, seminggu kemaren kerja. Harusnya udah punya duit, dong. Pokoknya, gue pengin di-traktir."
"Iya-iya. Sabtu nanti kita jalan-jalan," sungutku. Huh, untung aku digaji dua belas juta. Dan Rabu besok bakalan nyampe uangnya. Beli notebook lima juta-nitip ke Om Johnny, kata mama, Om Johnny masih ada di Jakarta-lalu sisanya, yaaa ditabungin sama traktir-traktir juga, deh.
"Rapi bener ... mau ke mana, nih?" tanya Nabilah heran menatapku.
"Nggak ke mana-mana, kok!"
"Aaah ... mau ketemu Bison, ya?"
Aku nggak menjawabnya.
"Kalo gitu, pasti jawabannya, iya!" Nabilah langsung lari menuju ranselnya, mengambil sebuah buku dan menyobek belasan lembar kertas kosong. "Ini untuk Afie, ini untuk Ade, ini untuk Uci, yang ini Tety, yang ini Cika, yang ini Risma, yang ini Diah, yang ini Daus, yang ini Fazar, yang ini Angga, yang ini Roni."
"Heh! Ngapain, sih?"
"Buat tanda tangan Bison, terus gue jual ke temen-temen gue bareng fotonya. Yang ini buat Mira, yang ini buat Mumu, yang ini spesial buat Endih, Gasa."
"Iiih ...!" desisku berteriak. Aku keluar dari kamar.
Huh! Sepertinya semua orang mendadak gila. Si Key tuh apa, sih? Selebritis aja bukan! Heran deh, kok, cewek-cewek tergila-gila ama dia. Modal cakep aja pake ngefans segala, sih!
Aku menuruni tangga dan menemukan Sinka, Michele, juga Ilen sedang melihat tumpukan foto.
"Yang ini lucu nih ... eh, yang ini juga ... yang ini lucu banget, deh! Liat-liat, yang ini lebih lucu lagi," gumam Sinka senang.
Aku menatap foto yang bertebaran di sekitar mereka. Hah? Foto Key semua? Foto Key dari Internet? Rajin banget deh, sampe ngeprint semuanya! Dan aku jadi heran, apa sih, maksud Sinka dengan "yang ini lucu, yang itu lucu, yang ini lebih lucu" tapi yang dilihatnya adalah foto yang sama?!
Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu.
Aku bergegas ke ruang tamu dan menemukan Key sudah berdiri di depan pintu. Dia menggeng-gam sebuket bunga di depan dadanya. Macam-ma-cam mawar.
"Selamat malam!" sapanya tersenyum senang. Aku berjalan ke arahnya, tersenyum manis menyambut kedatangannya. Namun, tiba-tiba aku teringat kejadian malam kemarin ketika aku benar-benar direkam oleh sepupu-sepupu gilaku ke-tika aku berdebat dengan Key. Makanya, aku meminta Key untuk pindah.
"Hai! Selamat malam. Eh, bisa pindah nggak? Nggak aman ngobrol di sini."
Key celingak-celinguk menatap ke dalam rumahku, lalu kemudian menatap keluar rumah. "Ada lilin sama piring kecil, nggak?" tanyanya. "Hah? Buat apa?"
"Kita ngobrol di sana. Di luar. Pake cahaya lilin gitu."
So sweet, tapi ....
"Justru di sana lebih nggak aman, Key. Nanti saudara-saudaraku pada ngerekam kita ngobrol di luar."
"Biarin aja. Nggak apa-apa, kan? Mumpung malem ini nggak dingin-dingin amat. Ayo, ada nggak?"
"Tapi, Key, aku nggak mau kita direkam lagi. Aku takut nanti rekaman kita disebarin."
"Jadi ... kamu masih ogah barengan sama aku?"
"Kamu nggak ngerti. Saudara-saudaraku selama ini berusaha ngambil image kamu. Mereka nge-print foto kamu lewat Internet. Mereka ngerekam kita, terus mereka bakal ngejual gambar dan rekaman itu ke temen-temennya di Bogor atau di Garut. Malu, kan?"
Key tertawa. "Biarin aja. Nggak apa-apa. Aku kan, jadi makin terkenal kalo gitu," ungkapnya tersenyum manis.
"Mas-mas ... tanda tangannya, dong!" tiba-tiba Nabilah muncul di belakangku, menyodorkan setumpuk kertas dan sebatang pulpen. "Yang ini untuk Afie, yang ini untuk Ade, yang ini untuk Uci ...."
Key tertawa kecil mendapatkan saudaraku ternyata sangat gila!
"Ya udah, aku urus yang ini. Kamu cari lilin ama piring kecil aja. Jumlah piringnya harus sama ama
jumlah lilinnya. Plus korek api juga."
Aku mengembuskan napas besar. "Oke," kutoleh-kan mukaku menatap Nabilah. " Nabilah, awas ya, nanti kamu jangan ganggu kita. Inget itu!" ancamku.
"Sumpah! Gue nggak pake benda tadi buat deodoran balas Nabilah ketus.
Aku berbalik dan berjalan menuju dapur. Di bawah tangga, aku menemukan Sinka tergeletak, dan Michele sedang mengipasinya.
"Kenapa ama si Ovie, Le?"
"Itu tuh, ngeliat si Key. Malahan pingsan coba. Biasa aja deh, ah." Michele kembali mengipasi Sinka.
Ya-iyalah, Michele kan, udah sering ngelihat Key karena dia satu sekolah ama kita.
Aku melanjutkan langkah menuju dapur dan menemukan Ilen sedang menyantap puluhan kerat nanas. "Hm ... enak-enak!" ungkapnya nikmat, dengan mulut yang manyun dibuat-buat.
Huh! Ternyata sepupuku giia semua!
Lima belas menit kemudian ...
PENGGANGGU teratasi, diiming-imingi foto bareng Key, mereka nurut juga buat nggak akan ngeganggu kita selama satu jam ke depan.
Key dengan manisnya memasang tujuh lilin, yang kutemukan beserta piring kecil pola senada, yang kebetulan jumlahnya tujuh juga. Lilin itu dipasang di atas piring kecil. Dan ketujuh piring berlilin itu diletakkan di atas kap mobil Key, melingkar.
"Kamu ngapain, sih?" tanyaku heran, berdiri di
samping pintu mobil.
"Kamu cepet naik!" Key lalu melompati mobil, dan naik ke atas kapnya. Kemudian dia duduk bersila, lalu membantuku naik.
"Ini nggak apa-apa, Key?" tanyaku khawatir.
"Nggak apa-apa. Nggak usah cemas."
"Ntar lilinnya jatuh ke mobil ngerusak cat, lho!"
"Alaaa ... cuma cat ini, kok! Paling juga ngeganti catnya lima jutaan. Aku udah biasa mecahin guci tujuh juta, lho!"
Aku menggeleng pelan. Dasar orang kaya!
HOP! Aku berhasil menaiki kap mobil sekali berpijak, dan langsung duduk bersila di atasnya. Key duduk di hadapanku. Dan di antara kami, terlenggak tujuh lilin yang disimpan melingkar. Semuanya menyala sehingga aku bisa menatap wajah ganteng Key dalam remang-remang cahaya lilin. Apalagi bintang malam ini lagi muncul munculnya. Sungguh sangat menambah keromantisan dan kehangatan malam ini.
Kemudian, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol tentang banyak hal. Key ngomongin gimana kabar Mbok Jess, Nince, Bu Nira, bahkan Pak Agus. Juga kabar tentang dirinya yang mulai berubah. Atau, aku ngomongin tentang cowok brengsek bernama Dino. Obrolan kami sungguh akrab dan mengasyikkan.
Kemudian, kami berdua terdiam. Kami tenggelam dalam keheningan dan kesunyian. Obrolan kami terhenti dan aku tertunduk, nggak tau harus melakukan apa-apa lagi.
" Ve," kata Key merayu.
Aku mendongak, tersenyum menatap wajahnya. Iiih! Ganteng banget!
Adakah hal yang lebih romantis dari ini? Oke, ada. Leonardo Dicaprio di atas kapal Titanic beserta Kate Winslet. Namun, berhubung Leonardo nggak pernah meneleponku untuk mengajakku naik kapal Titanic dan memintaku untuk merentangkan tanganku di bagian depan kapal, sepertinya momen malam ini yang paling romantis dalam hidupku.
Duduk berdua, berhadapan di atas kap mobil mewah aku masih belum tau merknya sampai saat ini, sepertinya keluaran luar negeri yang diimpor khusus oleh Key karena bentuknya sangat canggih dan aku baru menemukan ini di Ban-dung. Dengan tujuh lilin putih menyala. Di bawah taburan bintang di angkasa, beserta bulan yang kebetulan purnama. Dan ... kehangatan senyuman Key.
"Aku punya hadiah buat kamu," ujar Key manis.
"Oya? Apa?" tanyaku agak genit.
Key turun dari mobil, mengambil sekotak besar kardus entah berisi apa, lalu duduk lagi di kap mobil, di hadapanku. Key mulai senyum-senyum mencurigakan.
"Ini ... buat kamu ... maksudnya, buat utang kamu," ujarnya, menyerahkan sebuah bingkisan kado segi empat yang dibungkus menarik.
Aku mengernyitkan dahi, tersenyum janggal."Apaan ini? Utang apaan?"
"Buka aja," pintanya.
Aku merobek pelan-pelan bungkus kado itu. Dan
menemukan ... ya ampun! Notebook!
Aku melongo menatap Key, nggak percaya dengan
apa yang diberikannya.
" Key... apa ini?" tanyaku masih nggak percaya.
"Itu notebook. Masa nggak tau, sih!?" ujar Key mengernyitkan dahi.
"Maksudku ... apa-apaan ini? Kamu ngasih ini buat aku?"
"Bukan. Sebenernya bukan buat kamu. Itu buat Naomi."
Wajahku langsung datar. Ya ampun, kirain buat gue!
"Tapi tenang aja. Aku punya yang lain buat kamu." Key mengambil lagi bingkisan kado lainnya dari kardus. Berbentuk hatHove berwarna pink dengan pita merah. Ternyata bungkusnya dari kain beludru. "Yang ini khusus untukmu."
"Apa ini?" tanyaku, menerima sodoran kado itu.
Ya ampun, lembut banget. Kado ini dibungkus dengan beludru, ditambah bulu-bulu halus yang lembutnya biasa kurasakan pada boneka kucing.
Oh ... bungkus kado ini harus kusimpan.
Aku mencari cara membuka kado ini. Oh, ada resletingnya! Ya ampun! Notebook lagi! Dan ... notebook-nya lebih canggih, lebih unik, lebih manis, cewek banget!
" Key!" Aku nggak percaya.
Dia tersenyum sangat manis. Jadinya, aku pun tersenyum manis, manja, dan sangat berterima kasih.
"Ini buatku?"
"Ya iyalah, buat kamu. Buat siapa lagi? Dan bunga ini ... eh, mana bunganya? Ya ampun, bunganya diambil ama saudara kamu." Key panik, menepuk dahinya sendiri.
"Nggak apa-apa, kok!" Aku memeluk notebook baru.
Biarin aja kali........ mahalan mana sih, bunga
ama notebook ini?!
Key menatapku serius, kemudian membungkuk, membuat keadaan menjadi semakin mendebarkan. Aku nggak sabar menunggu, seandainya ada kejutan lain. Tapi, senyuman Key yang sangat manis, dan tatapannya, membuatku harus menyadari bahwa keadaan sedang benar-benar serius sekarang.
" Ve…” panggil Key lagi, pelan, merayu lagi.
Aku menoleh menatapnya dan memeluk notebook baruku erat.
"Kamu ... kamu mau maafin aku, nggak? Maafin aku yang ... selama ini selalu ngejek kamu, ama temen-temen kamu. Aku yang mungkin, nyusahin kamu, ngeselin kamu, yang ... pokoknya bikin kamu repot."
Aku tersenyum. " Key.... aku nggak pernah marah sama kamu, kok. Kamu nggak usah minta maaf. Jujur aja ... aku nggak ngerasa repot ada di sekitar kamu. Kamu mau ngejek aku kek, mau ngeselin aku kek, mau ngapain juga kek, nggak akan ngaruh, kok. Kamu bisa lihat kan, aku juga Tweenies, nggak pernah nanggepin ejekin kalian. Kami tuh nggak peduli. Lagi pula sebenernya, kami
seneng, kamu ama temen-temen masih nyoba buat interaksi ama kami ... meskipun ngejek, se-enggaknya kita berinteraksi. Nggak terlalu perang dingin amat."
Key mengerutkan alisnya. "Kalian nggak marah?"
Aku menggeleng, lalu tertawa kecil.
"Terus ... apa kita ... bisa ... berteman?" lagi-lagi, Key bertanya hal tersebut.
Aku mengernyitkan dahi. "Emangnya hubungan kita selama ini apa?"
"Ngngng ... hubungan antara babysitter dan baby-nya."
Aku tertawa lepas, terbahak mendengar pernyataan itu. Key malah bingung. "Ya ampun ... Key. Udah aku bilang kan, aku bukan babysitter kamu lagi. Aku ini udah jadi temen kamu lagi. Temen sekolah kamu."
Key menunduk sedih. "Hanya ... temen sekolah?" tanyanya agak kecewa.
"Emangnya, kamu pengin kita temenan kayak gimana?" kataku balas bertanya, mengerutkan alis.
Key menyeka bagian belakang rambutnya kemudian menatapku lagi penuh harap. "Aku, kan ... pengin kita jadi temen dekat."
Aku sedikit cekikikan, kemudian menggerakan kobaran api di atas lilin. "Oh, kamu pengin kita sobatan?"
Key mengangguk-angguk senang. Wajahnya lebih baikan kali ini. Meskipun masih diisi dengan raut penuh harap.
"Yaaah ... kenapa nggak?!" jawabku tersenyum.
Key tersenyum riang. Dia sangat senang. Kemudian berikutnya, dia memandang lilin itu penuh ide.
"Kebetulan, nih!" seru. Key Kerutan dahinya menunjuk ke tujuh lilin di hadapan kami. "Lilinnya ada tujuh, jadi Kemudian Key mengatur-atur lilin itu.
Tiga lilin diletakkan di hadapanku, tiga lilin di hadapannya, lalu satu lilin yang paling besar diletakkan di tengah. "Masing-masing sebutin our wish. Lalu, tiup satu lilin, dan pindah ke lilin berikutnya. Sampe tiga lilin di depan kita padam. Dan ... satu lilin di tengah, kita tiup bersama, sambil ngucapin 'semoga Tuhan mengabulkan doa kita', mengerti?"
"Apa-apaan, sih?"
"Ayo, dong! Nggak apa-apa,kan? Dikabulin, syukur. Nggak dikabul juga nggak apa-apa. Seenggaknya, kita bisa saling tau keinginan masing-masing. Sobatan kan, harus terbuka."
"Nggak, ah. Nanti kita jadi serasa menyembah pada lilin ini, meminta-minta pada lilin ini."
"Ya ampun. Nggak dong, Ve. Kita nggak minta buat lilin ini ngabulin permintaan kita. Kita cuma berdoa pada Tuhan, diomongin, lalu tiup lilin ini, sebagai tanda bahwa kita udah ngasih tau keinginan ini pada dunia."
Aku tersenyum. Oke, aku mengerti. Nggak akan ada unsur magis di sini. Nggak juga musyrik pada Allah. Ini hanya permainan. Nggak terlalu berpengaruh.
"Oke ... siapa dulu?" tanyaku. "Kamu dulu," pinta Key.
Hm ... minta apa, ya? Aku nggak mau minta sesuatu yang aneh. "Ngngng ... aku pengin ... ada-nya perdamaian abadi di muka bumi ini. World Peace. Nggak ada perang. Nggak ada persaingan yang nggak sehat. Semua orang saling membantu dan saling menyayangi."
Fffuuuihhh. Aku meniup lilin itu. Dan apinya langsung padam.
"Giliranku!" Key membungkuk dan menutup matanya. "Aku pengin ... semua geng di sekolahku, berhenti bermusuhan. Aku ingin Mozon nggak lagi angkuh, Rebonding Galz nggak lagi galak, Kompilasi kembali baur sama murid lain. Aku ingin Jagad nggak lagi bandel, jahil, dan mengejek-ejek murid lain. Aku ingin semua murid di sekolahku muncul, menyalurkan kreatifitasnya buat hal positif, mengharumkan nama sekolah. Khususnya, aku ingin Tweenies, tetap hidup dalam keabadian, berprestasi, rame, cantik, dan rendah hati pada setiap orang."
Key meniup lilin itu, kemudian membuka matanya dan memandangku.
Ya ampun ... permintaannya sama banget dengan apa yang aku dan Tweenies minta tadi siang di rumah Andela.
Aku lalu memejamkan mata, dan meminta lagi, "Aku ingin hari-hari berikutnya yang semua orang di dunia ini hadapi, adalah hari-hari yang hangat, indah, dan nyaman. Aku ingin hari-hari berikutnya adalah hari yang penuh dengan cinta dan kasih
sayang."
Aku meniup lilin itu dan membuka mata. Rupanya, Key udah menutup mata lagi dan siap buat permintaan keduanya.
"Aku ingin ... cewek yang duduk di depanku sekarang, setiap malamnya, selalu diberikan mimpi-mimpi yang indah dalam tidurnya. Sehingga di setiap paginya, cewek ini bangun dengan segar, dan bersiap untuk melindungi bumi ini dalam kasih sayang dan cintanya." Key membuka matanya sekilas, menatapku, tersenyum, lalu menutup matanya lagi, "Namanya Ve," bisik Key, bergumam.
Key meniup lilin itu hingga padam, membuka matanya. Aku tersenyum menatap wajahnya, juga sedikit geli dengan permintaannya barusan. Kugelengkan kepala, dan bersiap dengan lilin terakhir.
Hm ... apa, ya?
"Ngngng ... aku ingin ... cowok yang duduk di depanku sekarang, dan aku, selalu berhubungan baik ... selamanya."
Kutiup lilin itu, dan menatap Key. Aku bersiap mendengarkan permintaan terakhirnya.
Sampai saat ini, menurut hipotesisku, Key selalu mengkhususkan permintaanku. Perdamaian dunia, dikhususkannya menjadi perdamaian antar geng di sekolah. Hari-hari yang indah penuh dengan cinta, dikhususkan menjadi mimpi-mimpi indah penuh dengan cinta. Sekarang, seandainya Key akan mengkhususkan lagi permintaan ketigaku, I'm
wondering, what he wiii wish now____
Key memejamkan matanya, "Aku ingin ... cewek yang sekarang duduk di depanku ... akan menjadi ... kekasihku ... selamanya."
Key meniup lilin itu, kemudian tersenyum menatapku.
Aku sedikit tersentak mendengar permintaannya barusan.
Oh-my-God! Key... menginginkanku ... untuk menjadi kekasihnya?! Ya ampyyyun! Kukira hanya Shania yang menerima cinta Boby kemudian berpacaran. Kukira hanya Andela yang ditembak jadian sama Hamids malam kemarin. Ternyata sekarang Key menginginkanku menjadi kekasihnya? Hah? Apa-apaan ini? Ya ampun ... bisa-bisa nikah massal nih antara Jagad ama Tweenies. Nggak kebayang deh, kalau BIP sekarang bakal nemuin, Jagad berpasangan ama Tweenies. Hihihi ...!
"Lilin terakhir, kita ucapin bareng-bareng ... 'se-moga Tuhan mengabulkan doa saya barusan, oke?"
Dengan ragu, aku mengangguk. Kami pun membungkuk, dan mengucapkan kalimat permintaan kami untuk lilin terakhir.
"Semoga Tuhan mengabulkan doa saya barusan ...!"
Fffuuuihhhf Lilin itu kami tiup berbarengan.
Lilin pun padam, lalu kami berpandangan. Wajah Key sedekat ini. Dia benar-benar di depanku. Nyata. Dia sedekat ini ....
Tiba-tiba, muncul sebuah tangan dan mencubit
hidungku, "Kamu ngegemesin banget, deh!" goda Key sambil tersenyum.
Aku yang menggeleng-geleng karena hidungku dicubit, langsung memberontak. Kubalas dengan mencubit hidung Key pula, hingga kepalanya menggeleng dan menunjukkan wajah bodoh.
Buuuk!
"Heh! Kalian teh sedang ngapain di situ? Malam-malam begini berpacaran saja. Pake cubit-cubitan lagi!"
Aku dan Key tersentak kaget mendengar suara barusan. Kami langsung menoleh, dan mendapatkan Bu Lina berkacak pinggang di bawah kami.
"Kalian teh bukannya belajar, malah pacaran di atas mobil. Nggak kedinginan kalian teh? Ih, Ibu mah heran, kenapa sih, baru aja pulang dari pengajian di rumah temen Ibu, malah menemukan murid-murid Ibu pacaran di atas mobil."
Ups, ada Bu Lina. Hehehe ... kebetulan banget. Huh, seharusnya ada lilin kedelapan untukku meminta "jangan ada yang mengganggu kami, siapa pun juga, termasuk wali kelas kami".
#
3 IPA 4
KUKEJAR kupu-kupu itu meski ternyata aku nggak berhasil. Kupu-kupu itu langsung melayang di antara bunga-bunga bagian lain.
Hm ... padang bunga yang sejuk. Di mana lagi aku bisa menemukan tempat seindah ini?
Key menyeretku ke bagian padang bunga yang lain. Kulihat dari kejauhan, Nabilah , Sinka, Michele, Elaine lagi asyik memetik bunga matahari.
Heh, Nabilah , jangan menyisipkan bunga mata-hari di telingamu. Nggak pantes!
Lalu di bagian lain, Shania dan Andela berbaring, asyik ngobrol, tepat di tengah kumpulan bunga tulip. Nince dan Mbok Jess juga berkejaran di antara anggrek liar berwarna ungu. Kulihat pula, mama dan Bu Nira tengah asyik minum teh di padang rumput ... oh, sungguh indah ... fenomena yang indah.
Dan Key, di sampingku, kini benar-benar me-lindungiku. Dia akan memerhatikan aku, akan men-jagaku ... begitulah ikrarnya sebelum aku benar-benar menerima cintanya.
Aku membuka mata. Huh! Mimpi lagi. Mimpi indah yang terulang. Oh ... kenapa sih, sejak permainan tujuh lilin itu, malam-malamku selalu diisi dengan mimpi yang indah ?
Tik, tok, tik, tok! Detak beker membuatku bangkit, dan mematikan beker yang akan nyala lima menit lagi.
Hm ... ternyata aku bangun lebih cepat daripada bekerku sendiri. Aku turun dari tempat tidur, lalu memakai sandal. Oh, menyedihkan. Aku nggak nemuin lagi Nabilah , Sinka , Michele, juga Elaine yang bertindihan di atas ranjang ini.
Pagi yang biasanya ramai, kami isi dengan teriakan-teriakan, "Siapa yang menjatuhkanku semalam?", "Siapa yang menendang perutku semalam?", "Siapa yang mengambil bantalku semalam?" kini harus kulewati dengan sepi. Seperti hari biasanya. Kamar yang kosong. Hanya ada aku, selimut tebal berwarna cokelat, juga lahan yang kini terbuka luas untuk tidurku.
Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke sekolah, sebagai kelas tiga SMA. Saudara sepupuku udah pulang kemarin. Sekarang rumahku benar benar sepi dari sepupuku yang gila semua.
Oke, aku marah saat tau Nabilah make pencuci mukaku buat luluran. Tapi, botol kosong pencuci muka itu yang masih tersimpan di kamar mandi, membuatkan aku kenangan-kenangan manis tentang. Nabilah Botol itu membuatku merindukannya.
Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang membuntutiku ke mana-mana. Cewek yang sok tau
dan selalu ingin tau. Cewek yang selalu duduk di antara orang lain. Pokoknya yang judes, tapi fun dan bodoh! Oh, aku nggak akan menemukannya lagi.
Sinka? Yah, kabel modem yang ketinggalan dimeja riasku, mungkin menjadi barang yang akan mengingatkanku padanya. Aku mungkin nggak akan nemuin lagi cewek yang selalu kejedug pintu dan memarahi, "Siapa yang pasang pintu di sini?". Cewek yang selalu jatuh dari tangga dan berteriak, "Siapa yang pasang tangga di sini?".
Hm ... udah deh, nggak usah terlalu dipikirin. Aku yakin, liburan semester nanti, mereka pasti maen lagi ke sini. Aku yakin itu.
Apalagi setelah tau, aku mulai menjalin hubungan serius sama Key. Sepertinya, mereka akan bersemangat datang ke sini.
SEKOLAH dipenuhi anak SMA kelas satu yang masih berseragam SMP. Ya, sekarang hari pertama Masa Orientasi Siswa alias MOS. Dan beruntungnya, nggak ada kegiatan belajar mengajar untuk kelas tiga dan kelas dua. Yang ada hanyalah pengumuman pembagian kelas.
Oh, aku nggak sabar akan sekelas dengan siapa tahun ini. Masihkah dengan Andela dan Shania? Aku harap iya. Kami bertiga memang masuk IPA. Jadi, kemungkinan sekelas sangat besar. Dengan Key sih, nggak mungkin. Dia masuk jurusan IPS. Atau kecuali, dia minta pemindahan jurusan di atas materai, dan berkemungkinan berkompetisi sama aku di IPA.
Mading khusus kelas tiga dipenuhi murid. Semua murid berebutan melihat namanya masuk ke kelas mana. Aku hanya mengirimkan utusanku, Andela, buat ngecek nama kami ada di kelas mana. Dan dalam lima menit, Luna keluar dengan wajah aneh.
"O-ouw ungkapnya pertama kali. "Kita kita ... sekelas lagi!"
"YESSS!" Shania meloncat senang karena kami bertiga sekelas lagi.
Ya ampun ... tiga tahun, Kita semua sekelas. Hm ... pasti karena pihak kurikulum tau, kita ini satu geng, berprestasi, jadi ... kenapa juga nggak disatuin dalam satu kelas terus? Hehehe .... Ya, ampun! Makasih ... mudah-mudahan nggak berubah.
"Kita di kelas mana?" tanyaku.
"Di 3 IPA 4. Tapi ... ada kabar lain lagi ..." Raut muka Andela benar-benar serius kali ini.
"Kenapa?" tanyaku dan Shania berbarengan.
"Wali kelas kita ... lagi-lagi ... Bu Lina."
AKU menenteng notebook yang masih dibungkus kardusnya itu. Kutemui Naomi yang lagi duduk ba-reng Rebonding Galz di kantin. Aku langsung ber-diri menghampiri mereka, tepat di samping meja.
"Hai!" sapaku melambai pada mereka.
Rebonding Galz kaget, malah menatapku sinis dan mengejek. Ada jerapah nyasar kesini?DEemudian mereka tertawa-tawa, mengejekku.
Aku ... jerapah? Setinggi apakah aku di mata mereka ?
Aku yang sebetulnya kesal, mencoba tersenyum manis pada mereka. " Naomi... notebook kamu," ujarku terhenti.
Naomi langsung berdiri, menyilangkan tangannya di depan dada. "Hm ... tepat janji juga, ya? Mana?!" pintanya ketus, mendongak.
Ya ampun! Liburan dua minggu, tingginya nggak bertambah!
Aku mengangkatnya, namun nggak menyerahkannya. "Ada di sini. Tapi, sebelum aku ngembaliin notebook ini ...." Aku langsung mengulurkan tangan ke arah mereka, "Aku ingin minta maaf sama kalian. Aku ingin ... kita semua ... nggak musuhan lagi. Aku ingin ... selama setahun ke depan ... kita jalanin tahun terakhir kita di sekolah ini ... tanpa permusuhan satu pun." Aku memiringkan kepala, tersenyum manis sama mereka.
Semua personel Rebonding Galz langsung saling melirik, kemudian ... menertawakanku. "Ya ampun ... belum Lebaran Neng, ya?! Hahaha Mereka
menertawaiku lagi, mengejekku.
Sebetulnya aku gondok, kesal, marah, dan sakit hati. Ya ampun, udah baik-baik gini masih diejek juga? Dasar nggak tau diri. Awas, ya! Ntar, kalo aku
Tap! Tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku, sambil menggigiti kukunya.
Aku menoleh dan mendapati Key yang tersenyum manis dan menatapku mesra. Kemudian, Key menoleh ke Rebonding Galz. "Sayang, kalo mereka nggak mau minta maaf, sih ... nggak usah
dikasih notebook-nya."
Sontak, lima anggota Rebonding Galz kaget melihat fenomena di depannya.
Seorang Bison mendekati Dearest-nya Tweenies?.'
Kutemukan mereka mangap lebar, membiarkan beberapa lalat masuk, gara-gara melihat aku didekati Key.
Nggak hanya mereka yang melongo. Ternyata, kutemukan juga beberapa murid lain di sekitarku.
Tiba-tiba, sengaja kumainkan hidung Key dan kupencet-pencet gemes. Semua yang melihat sangat heran.
Kuletakkan notebook itu di atas meja, "Biarinlah terserah. Nggak nerima maaf juga nggak apa-apa. Yang penting, aku udah minta maaf," sahutku sedikit kecewa.
Rebonding Galz rupanya nggak mendengarkan perkataanku barusan. Mereka lebih tertarik memandang wajah Key , yang ternyata bisa berada se-dekat mereka, ditambah lagi bersamaku. Hihihi ... tiba-tiba pikiranku serasa menang. Aku serasa udah mendapatkan semuanya. Ya, setelah cowok paling dikejar-kejar di sekolah itu berada di bawah asuhanku dua minggu lalu. Sekarang, cowok itu sangat dekat denganku.
Key memainkan rambutku. Kutarik tangannya untuk lepas, namun ....
Buuuk!
"Kalian teh di mana-mana pacaran saja. Nggak bosen kalian teh?" Bu Lina menggebrak meja,
berkacak pinggang lagi layaknya semalam.
Aku dan Key langsung bangkit tegak. Kami memandang Bu Lina penuh senyum dengan raut muka bertuliskan; "Nggak di mana-mana kok, Bu". Dan, aku masih bisa merasakan tangan Key memegang rambutku, menarikku mendekatinya.
"Ibu mau ikutan?" tawar Key tiba-tiba. Aku sempat mendongak menatapnya heran. Tapi, Bu Lina malah tertawa-tawa.
"Ibu harus ikutan? Ah, nggak usah. Ibu mah nggak mau selingkuh dari suami Ibu. Cukup dengan suami Ibu saja Ibu mah." Bu Lina menggeleng geleng sambil tersipu. Aku dan Key mengerutkan alis, heran, maksudnya si ibu apaan, sih?
"Bu Foto, Bu. Foto!" seru Luna dari belakang, mengambil fokus kami pake HP kameranya.
"Apa? Foto ini teh?" Bu Lina kaget dan mendadak membetulkan kerudungnya. "Sebentar atuh1."
"Sini, Bu!" Key menarik Bu Lina untuk berdiri di sampingnya.
Kami bertiga berfoto. Aku berada di kanan Key, Bu Lina di kirinya Key.
Klik. Klik.
Dua kali Luna nge-shoot kami. Hasil fotonya bagus. Dan Andela bilang, mau nge-print besok.
"Makan, yuk! Di sana!" seru Shania, kemudian duduk di kursi panjang.
Ternyata Ricky udah duduk di sampingnya, mengetuk-ngetuk meja menggunakan telunjuk, mencoba menciptakan sebuah irama.
Penghuni kantin lagi-lagi kaget. Another Tweenies with another Jagad. Dan, melihat keadaan itu, Shania malah membuat keadaan semakin menjadi-jadi. Shania tiba-tiba mencubit pipi Boby, gemas, menggeleng gelengkannya lucu. Boby hanya menunjukkan tampang culun, namun Shania tertawa-tawa geli.
Tiba-tiba, Hamids datang dan mencolek bahu Andela. Andela menoleh sekilas, tersenyum sama Hamids, lalu menatapku. Muncullah senyum-senyum kecil dari bibirnya, nggak tahan pengin teriak.
"Argh!" Andela berteriak kecil, dia langsung merangkulku. "Gue udah ... jadian!" bisiknya. "Kemaren ...!"
Kami berdua pun meloncat-loncat di tempat, seperti Sandra Bullock dalam film Miss Congeniality 2: Armed and Fabolous. Akhirnya, pasangan massal jadi juga, nih. Tweenies menjalin hubungan sama Jagad.
"Ayo! Makan!" Key udah mesenin sepiring nasi goreng hangat, lengkap dengan telur dan ayam suirnya. Kerupuk-kerupuk kecil pun ditaburkan di atasnya.
Kami semua duduk berpasangan, dan Bu Lina nyelip sendirian. Semua melahap makanannya, bahkan Bu Lina yang pertama kali habis. Bersih banget piringnya! Diikuti Boby, kemudian Hamids. Dan,Key di belakangnya. Anak-anak Tweenies sih, mana mungkin makan dalam waktu secepat itu. Semuanya pada jaim.
"Lihat, nih! Kalo makan tuh, harus bersih kayak gini!" Bu Lina menyodorkan piringnya ke tengah.
Wow! Bersih. Sama sekali nggak ada remah nasi.
Nggak ada lauk yang disisakan. Saking bersihnya, piring itu kayak yang baru dicuci. Wah-wah, jangan jangan perusahaan sabun cuci bangkrut kalo semua orang kayak Bu Lina.
Plis deh, bersih banget gitu lho!
Pineapple Juice, Sweet and Spicy
NYERITAIN tentang seorang cowok yang lahir di keluarga kaya. Sebelum cowok itu lahir, ayahnya punya tujuh istri, dan ibunya istri kedelapan. Tujuh istri yang lain meninggal karena penyakit, dan masing-masing meninggalkan satu anak yang sehat.
Ibu cowok ini nggak berpenyakit, dia sehat. Namun, punya anak berpenyakit. Memang bukan penyakit biasa. Cowok itu tumbuh menjadi anak bandel, manja, kekanakan, jahil, pokoknya butuh perawatan khusus kalo pengin dia jadi anak yang manis.
Sang ibu rajin menyewa jasa pengasuh anak, mencoba membuat anaknya berubah. Namun, nggak satu pun berhasil. Hingga akhirnya, temannya cowok itu sendiri menjadi pengasuhnya, gara-gara ingin memiliki gaun untuk ke prom night akhir bulannya. Dia cewek berperangai baik, sabar, telaten, dan memiliki banyak ide. Lalu di akhir masa
kerjanya, cewek itu tau kalo sang cowok menyukainya. Terjadilah semacam getaran hangat, cinta, di antara mereka, dan ... mereka menjadi sepasang kekasih.
Cowok itu melamar si cewek dengan gaun merah yang indah yang jadi cover novel ini lalu mereka berdua datang ke prom night bareng.
Di akhir cerita, akhirnya aku ngerti apa maksud dari judul Pineapple Juice, Sweet and Spicy. Layaknya nanas, sebelum dikupas, kalo kita menggenggamnya, kita akan merasakan duri-duri menggelikan di telapak tangan kita. Ketika ber-bentuk jus, kita akan merasakan serabut serabut menggelikan di telapak tangan kita. Rasanya pun terkadang manis, terkadang sepat-sepat pedas khasnya nanas. Dan hubungannya dengan cerita itu adalah, cewek itu mesti merasakan manis dan pedasnya bekerja, duri dan serabut menggelikan, sebelum akhirnya mendapatkan gaun merah itu.
Yup, semula aku nggak ngerti, kenapa pineapple juice cover-nya gaun merah.
Dan, entah kenapa, aku ngerasa cerita di novel ini sama banget dengan yang aku alamin beberapa minggu ke belakang. Hanya berbeda sedikit.
Aku meletakkan buku itu di rak tempat buku ini tempo hari. Ah, kutemukan juga celah itu.
"Makasih, ya, Bu!" ucapku, sambil berjinjit dan menyimpannya.
Bu Nira yang sedang mengetik di notebook-nya, hanya mengangguk dan tersenyum. "Kamu juga boleh pinjem yang lain, kok!"
Aku tersenyum dan bergegas keluar ruangan. Sebelum nyamperin Key, HP-ku bergetar. Nabilah meneleponku.
"Halo sapaku.
"Oh, Ve. Gue nggak nemuin pelembap sama pencuci muka kayak punya elo di Pameungpeuk sini. Bisa nggak, elo kirimin ke gue lewat paket pos?"
"Bukannya Sabtu kemaren udah aku beliin krim luluran sama deodoran baru? Ditambah maskara putih lagi."
"Beliin lagi, dong!"
Aku mendengus. "Oke, yang mereknya apa?"
"Ngngng ... pencuci muka mereknya Kaki Sehat Mulus dan Indah, terus pelembapnya merek Panu Jangan Dipikirin."
"Iya-iya ... ntar aku kirimin, deh ... tapi kalo nggak ada, aku beliin merek lain aja, ya?"
"Boleh, deh. Tapi yang mahal, ya! Jangan lupa kirimin bonnya. Aku mau ngelihatin harganya ke temen-temenku."
"Iya-iya ... udah, ya! Aku lagi sibuk, nih!"
"Daagh...."
Aku pun memasukkan HP ke dalam saku dan menggeleng-geleng.
Huh, dasar gila! Dari mana sih, nama merek yang dia sebutin tadi?! Seenaknya aja bikin brand sendiri. Kayak yang bagus aja!
Key menghampiriku. "Yuk, kita pergi ... huh, nggak sabar nih, pengin cepet-cepet maen di pantai.
"Ayo…..:*"
And love has just beginning ... It would start with beautiful... Without ending, but immortal...
To someone that took my mind ... To someone that fill my heart... To someone that had the best smile
I love you
Love Story 3
AKU membuka pintu kamarku, langsung melemparkan ransel ke atas sofa. Nabilah dan Sinka lagi mainin notebook di atas ranjang.
Ya ampun, mereka masih ada di sini?
Kuganti pakaianku dan mencoba menyapa mereka, juga mencoba nggak menangis. Karena, selama diantar oleh sopir pribadinya Bu Nira, aku menangis di jok belakang. Pak Agus mencoba mengajakku bicara. Tapi, aku nggak pernah meresponsnya.
Plis dong ah, kalo aku lagi nangis kayak tadi, jangan ngajak ngobrol.
"Hai! Kalian masih betah di Bandung? Kukira kalian akan sudah pulang begitu aku selesai bekerja." Kumasukkan tangan ke lengan baju, dan menarik tepi kaus menutupi tubuhku.
Nabilah menoleh padaku, "Kami lagi buka website sekolahmu."
"Aku nggak tanya itu!"
"Tapi, elo tanya itu waktu gue ke sini minggu kemaren, kan?"
"Aduh, ya. Itu kan, minggu lalu."
Aku meninggalkan mereka di kamar dan beranjak menuju telepon. Kabel modem panjang yang dihubungkan ke pesawat telepon, menarik perhatianku hingga aku sampai di depan telepon. Kutelepon Shania pertama kali.
"Hallo ... Shania cantik di sini!" sapa Shania langsung begitu mengangkat.
"Hey! Nggak sopan. Mengangkat telepon pertama kali seharusnya nggak seperti itu. Bagaimana kalo walikota yang meneleponmu?"
"Halo, walikota ya? Iiih ... aku Shania, Pak! Usia enam belas tahun, cantik, baik budi, dan rajin menabung. Hidup cinta!"
"Hahaha Shania. Sejak kapan kamu mengangkat telepon untuk pertama kalinya?! Kenapa tiba-tiba kamu menyempatkan diri mengangkat telepon?"
"Ngngng ... karena teleponnya berdering ?"
"Lupakan itu. Jangan bercanda lagi. Aku lagi bete sekarang."
"Elo teh ada di mana, Ve? Di wartel?"
"Aku udah nyampe rumah. Udah beres pekerjaanku. Hm, tinggal menikmati sisa liburan dan ... menghadapi satu masalah besar selanjutnya."
"Dino?"
"Kamu tau tentang itu?"
"Gimana gue nggak tau kalo Andela nelepon ke
gue buat pertama kalinya, minta bantuan gue. Gue sih males, Andela. Ih, kenapa sih, si Andela nggak menyeleksi lebih dulu pasangan chatnya?"
"Jadi ... punya ide untuk menghadapi si ... Dinosaurus itu?"
"Mulai menggunakan gue-elo? Yang gue tau sih, si Andela agak cemas minta bantuan elo. Andela pikir, elo teh nggak akan mungkin ngomong gue-elo."
"Hahaha ... lagi, Shania. Aku udah tau tentang itu, tenang aja. Maksudku barusan, adalah ... 'adakah ide tentang bagaimana cara muntah secara sopan di depan mukanya'?"
"Ngngng ... membawa kantong kresek? Gue suka membawa kantong kresek kalo kira-kira bakalan muntah di perjalanan."
"Oh, my next ha-ha, Shania. Tidakkah kau mengerti bagaimana pertanyaanku barusan?! Kamu tau kan, wajahnya itu bagaimana? Tidakkah kau punya pendapat bagaimana caranya berinteraksi dengan orang berwajah seperti dia?"
"Nggak tuh."
" Shania!" aku menggeram, "Kita ganti topik! Sebelum aku memutuskan kabel teleponku yang keriting ini." Entah kenapa ibuku malas sekali rigerebonding kabel telepon ini.
"Oh, oke mau ngomongin apa? Oh, ya! Babymon! Ceritain sama gue maksud elo dengan, CUTE? Apakah dia teh benar-benar, Pikachu? Atau sejenis, Sailormoon ?"
"Dia ... dia ... dia bayi berumur dua tahun yang
sangat lucu!" Aku nyengir sendiri di telepon, berbohong.
"Oya? Bayi dua tahun yang mampu membedakan mana guci tujuh juta dan mana guci satu juta?"
"Dia memecahkannya asal-asalan, kok! Tenang aja, ibunya hanya bercanda. Gucinya nggak benar-benar seharga tujuh juta. Mungkin sekitar, ya, enam juta sembilam ratus ribuan. Itu pun kata pembantunya," aku berbohong lagi.
"Ouw, begitu ya. Dan dia .... bayi dua tahun yang sering keluar malam ?"
"Maksudnya keluar malem tuh ... dia selalu main di halaman rumahnya, di kebun depan rumah, bermain sendiri sekitar jam tujuh atau jam delapan malam. Semua orangtua pasti khawatir, seandainya mendapatkan bayi mereka sering keluar pada jam segitu," aku bohong lagi. Sepertinya, aku mulai berubah menjadi pathological liar.
"Ouw. Keren. Dan ... dia bayi dua tahun yang sudah sekolah lalu menceritakan wanita-wanita di sekolahnya?"
"Kenapa nggak? Maksud ibu itu adalah playgroup. Nggak benar-benar sekolah."
"Tapi, dia benar-benar bercerita tentang cewek cewek di sekolahnya bukan?"
" Shania, apa barusan aku nyebutin umur dua tahun? Maaf, maksudku delapan tahun. Hehehe Aku menyeringai di ujung telepon.
"Delapan tahun? Dan elo menyebutnya ... bayi?"
AKU menyeruput bubble coral tea-ku sampai habis, lalu membuang gelas plastiknya ke tempat sampah. Shania ada di belakangku. Sendirian, mengawasiku. Kupinta dia menemaniku hari ini, ketemu sama yang namanya Dino. Aku lakukan ini untuk jaga-jaga seandainya aku pingsan, sehingga Shania menjadi satu-satunya orang yang mengetahui alamat rumahku dan bisa mengantarku ke sana. Atau jangan-jangan, Andela udah ngirimin alamatku sama si Dino? Jahat sekali Andela! Aku nggak akan pernah memaafkannya kalo itu benar.
Kududuki bangku yang diletakkan rapi di depan studio bioskop. Pukul tujuh, lantai empat, BIP, jangan telat! Dan sekarang ... dan sekarang ... sekarang masih pukul setengah tujuh!
Hehehe ... aku sengaja kepagian setengah jam, seenggaknya saat aku melihat wajah anehnya, aku bisa kabur dulu dan melakukan latihan sekali lagi "How to meet alien from andromeda?".
Sepuluh menit sebelum pukul tujuh, tiba-tiba duduk seorang cowok cakep-banget-di sampingku. Cowoknya tinggi, badan berisi, kulit agak gelap, rambutnya keren, style-nya keren, dan wow ... senyumnya, bo… Kucing tetanggaku aja bisa kalah. Dan yang membuatku gelisah, dia mulai menatapku, tersenyum manis, serasa aku udah mengenalnya sebulan lalu.
"Hei! Dikirain bakalan telat, ternyata elo datang lebih pagi dari gue," sapanya tiba-tiba.
Aku tersentak heran, dan semakin menatap wajahnya yang ganteng. "M-maaf ... Anda siapa,
ya?"
Sebelum cowok itu menjawab pertanyaanku, dapat kulihat Shania tiba-tiba duduk di kursi kosong di samping kursiku, dan telinganya yang tiba-tiba melebar membuatku yakin dia berusaha nguping.
"Ya ampun, cakep banget! Ternyata gue nggak salah tebak. Elo pasti yang di tengah itu, kan?" ujar cowok itu aneh.
Aduh, ya, ngelantur aja nih cowok!
"Helo, Mas ... Helo! Are you there?"
"Masih pake bahasa Inggris juga, ya?"
"Apaan, sih? Maaf, bisakah Bapak berbicara lebih connecting people lagi supaya saya bisa menjawab komentar atau keluhan bapak? Saya nggak mengerti!" kataku.
Cowok itu langsung tertawa, terbahak. Dia menertawakanku, lalu beberapa saat kemudian, dia mengulurkan tangannya. "Gue Dino. Didin Mulyono Pangestu. Kaget, ya?" katanya tersenyum serasa menang.
Wajahku langsung datar. Suddenly heran. Dia ... dia Dino? Dino yang bakalan ketemuan sama aku? Dino yang jeleknya minta ampun di foto? Dino yang menurutku sama sekali nggak punya style?
"Mas adiknya?" tanyaku karena nggak yakin.
Dia tertawa lagi. "Aduh, aduh. Elo tuh lucu banget, sih? Dari pertama chatting juga gue yakin elo pasti sekocak ini. Makanya, gue nggak sabar pengin cepet-cepet ketemuan ama elo." Dia menggeleng-geleng, "Gue ini Dino. Elo pasti kaget ngeliat gue. Bukannya gue mau nipu elo. Tapi,
kebanyak-an cewek cuma mau ketemuan ama cowok yang cakep-cakep. Jarang banget ada yang niat ama yang, hiii kayak foto yang elo terima."
Kamu tuh cakep gitu, lho! Masa sih, masih nyamar juga!
"Ouw ...!" Aku tersenyum lebar. Nggak tau harus berbuat apa.
"Yaaa ... foto yang elo terima emang foto gue. Sengaja gue bikin sejelek mungkin. Gue cuma ngetes. Kira-kira, cewek secakep elo bakalan mau nggak ketemu ama orang kayak gini? Dari Banjaran lagi!"
Aku tersenyum manis. Hehehe ... berarti aku lulus tes, dong. Andela dan Shania yang nggak. Mereka kan, nolak mentah-mentah.
"Dan ... gue nggak nyangka kalo elo yang difoto di tengah itu. Gue emang ngeharepin itu elo. Ternyata ... ya, itu elo. Meskipun kalian bertiga cantik-cantik dan wajahnya hampir mirip."
"Maksudnya, apa?" Aku mengernyitkan dahi.
"Foto yang elo kirim ke gue. Foto elo ama temen elo. Yang pada pake baju pink terus rok putih itu! Kalian foto bertiga, kan?"
Andela brengsek! Heh! Kenapa sih, nggak bilang-bilang ngirimin foto tujuh belas Agustus an tahun lalu ke si Dino ?!
"Oh, yang itu ya ... hihihi ... aku baru inget! Sori-sori. Maksudku, gue baru inget!" Aku tersenyum lagi. Ya ampun, aku lupa harus mulai menggunakan gue-elo di sini. Dan juga, sedikit bahasa Inggris.
Dino mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa, sih?"
"Ah, nggak. Gue ... hanya ... feeling so sick."
Ya ampun ... aku ngomong apa barusan ?
Dino terbahak, tertawa lucu mendengar jawabanku. Kemudian setelah reda, Dino menerawang, menatap keadaan sekitarnya. Dan sialnya, Dino menemukan Shania sedang duduk di kursi di samping kami.
"Hey! Itu temen elo, kan? Yang difoto di kiri, kan?" Dino menunjuk Shania.
Aku menoleh dan mendapati Shania panik. Mila buru-buru meraih sebuah majalah, pura-pura membaca.
Oh ... ingin sekali aku mengatakan ....
1. Shania, dapat dari mana majalah itu? Sepertinya majalah baru.
2 Shania.... majalahmu terbalik! Aku nggak tau kalau kau bisa membaca dalam keadaan majalah "terbalik" seperti itu.
Shania lalu pura-pura menurunkan majalahnya, pura-pura celingukan, pura-pura menunggu seseorang, pura-pura menemukanku, dan pura-pura kaget menemukanku ada di sini.
"Eh, Ve...I Sori-sori ... Luna?! Apa kabar, Andela? Ke mana aja, nih!" Shania bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiriku, menenteng majalahnya.
Kemudian kami melakukan ritual cipika-cipiki,dan Andela sempat membisikan sesuatu begitu pipi kami beradu, "Mana si aliennya? Kok, elo teh malah
kenalan ama cowok kasep, sih?" Kemudian, Shania bangkit lagi dan tersenyum.
Aku tersenyum lebar. Dan sebelum Dino minta Shania gabung bareng kami, Shania dengan sigap mengangkat pergelangan tangannya dan berseru panik, "Ya ampun ... setengah jam lagi gue les piano!" Shania, lagi-lagi aku ingin mengatakan ....
1 Shania., sejak kapan kamu les piano? Yang ku tau, les menyanyi pun nggak kamu ikuti meski pandai menyanyi.
2. Shania, apa yang kamu lihat di pergelangan tanganmu? Nggak satu pun jam tangan menempel di situ, Shania!
"Ya udah deh, aku mau ke salon dulu!" katanya lagi tiba-tiba. Shania melambai manis dan bergegas pergi.
Hm ... melanjutkan yang tadi.
3. Shania, kenapa ke salon dulu kalau sebentar lagi harus les piano ?
4. Salon bukan ke arah sana. Itu bioskop!
"Temen elo aneh, ya!" komentar Dino begitu Shania menghilang.
"Y-ya .. dia emang kayak gitu, kok. Terkadang idiot, terkadang embisil, terkadang pula debil. Nggak tau, deh. Tapi dia bisa dapet ranking sepuluh waktu bagi rapot kemarin."
Dino tertawa lagi, menertawakanku. "Waduuuh
... jangan-jangan, gue awet muda nih, barengan ama elo terus. Kocak dan rame. Fun. Bodor."
Apanya yang kocak? Yang aku tau sih, berdasarkan poling, aku cuma dearest among other. Dan, Shania yang mendapatkan gelar funniest among other. Sementara Andela, mendapatkan faboious among other. Jadi, kayaknya aku nggak terlalu lucu, deh. Nggak terlalu ngelawak. Tapi kok, cowok ini ketawa terus, ya?
"Oke-oke ... udah, deh. Sekarang ... gue mau nanya ama elo. Menurut elo, gue ... gimana?" tanyanya tiba-tiba bernada serius, tapi dia tersenyum.
Aku merengut, langsung berwajah datar, heran. "Maksudnya apaan, nih?"
"Yaaa ... menurut elo, gue tuh gimana, sih?"
"Ngngng ... gimana, ya? Gue nggak tau. Elo, ya ... normal."
Dino cekikikan lagi. "Emangnya ... aku ini alien, apa?"
Y up! Seenggaknya ... di foto itu. Aku tersenyum lebar, dengan pesan; sori, cuma bercanda.
"Waduh ... nggak akan beres nih, ngobrol ama elo. Hm ... kita pindah, yuk, makan. Gue belum makan nih, dari tadi." Dino bangkit dan mengulurkan tangan padaku.
Aku berdiri dan langsung menjabat tangannya. "Senang berkenalan sama elo," ucapku langsung, meski aku tau dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Tapi aku ini cewek cantik enam
belas tahun yang kocak dan periang. Aku nggak butuh uluran tangan siapa pun untuk bangkit dari duduk. Tungkaiku masih kuat.
Dino ... cekikikan lagi! "Elo tuh lucu banget, deh!" pujinya.
Aku tersenyum. Beberapa langkah kemudian, kurasakan dia mencoba menggenggam dan meremas tanganku. Aku langsung melepaskan tangannya. Plis deh, ah! Nggak sopan banget! Baru kenal udah berani kayak gitu?!
Akhirnya Dino melepaskan tangan jahilnya dan kami nyampe di counter bakmi yang beken. Tapi, dia terus-menerus tertawa sepanjang perjalanan, dan membuatku ingin berteriak, "Gue jadi feeling so sick berjalan dengan elo!"
Cowok Brengsek!
KUAMATI wajahnya dari tadi, mencoba mencocokkannya dengan selebritis aja di dunia ini. Dino benar-benar mirip dengan seseorang. Tapi ... siapa, ya? Aku pernah lihat aktor berwajah seperti ini, tapi ... sungguh, aku lupa namanya. Namun yang pasti, Dino bakalan masuk daftar cowok keren versi Tweenies. Dan, dia sepertinya berpeluang masuk lima besar, di bawah Key tentunya.
Aku melirik jam dan mendapati sekarang sudah hampir pukul setengah sembilan. "Ngngng ... Dino. Gue pikir bahwa sekarang udah larut malam," ungkapku, tersenyum manis.
Hoooh ... maafkan aku, Andela. Aku kesulitan melepaskan kebakuan.
"Oya? Biasa aja, ah! Katanya elo suka maen malem. Jam segini sih, masih siang!"
"Oya? Hihihi aku tertawa kecil meskipun
dalam hati mengutuk Andela.
Heh! Lun, jangan asal ya, kalo chatting.' Aku tuh
kapaaan ke luar rumah lebih dari jam sembilan ?!
"Tapi, gue pengin pulang," pintaku memelas, benar-benar mencoba pergi dari situasi membosankan ini.
Sedari tadi, sejak masing-masing makanan kami habis, kami ngobrol ngalor-ngidul nggak keruan. Entah apa yang dibicarakan, tapi mudah sekali bagi kami ganti topik dari topik yang sedang dibicarakan. Nggak tau, deh. Bisa-bisanya dari ngomongin Miss Universe langsung nyambung ke bakteri dalam usus. Pokoknya, nggak penting!
Dino lebih sering tertawa setiap aku menunjukkan aksen-aksenku, menjawab komentarnya, atau sedikit mengeluh ala orang barat. Dia selalu cekikikan. Katanya aku terlalu lucu. Biasa aja, deh. Lucu apanya sih, aku? Lucunya pelawak, atau lucunya badut?
"Ngngng .... oke, mungkin elo lagi capek. Ya udah, gue anterin pulang, ya!" Dino bangkit, menarik jaketnya kemudian menjajahku keluar counter.
Kami berjalan menyeberangi jalan, memasuki BIP lagi karena mobil Dino memang diparkir di sana. Meskipun udah kubayangin kalo dia bawa Mercy atau minimal BMW, ternyata aku mendapati Dino hanya membawa Suzuki Ceria. Nggak ada yang menarik berada dalam mobil ini. Hanya bau mobil biasa, tanpa pewangi.
Mobil ini keluar pelan dari BIP, dan meluncur cepat di jalan Merdeka. Sebuah SMS menarik perhatianku. Jadi, aku nggak begitu memerhatikanjalan
Invasi org cakep?
Knp alien itu tdk datang?
SMS dari Shania. Entah berada di mana dia sekarang.
Yap. Dan cowok cakep ^ yg duduk di sampingku adalah ^ Dia!
Balasku kemudian sambil cekikikan. Dino ikutan tertawa kecil melihatku cekikikan. Sambil memegang setirnya, dia menatapku dalam.
Aku ngeles, lalu memandang jalanan di sekitarku.
Lho, di mana ini?
Tiba-tiba kami berada di jalanan sepi. Samping sampingnya rumah, terus pohon-pohon gede. Di mana ini?
"Mau ke mana ini, Din?" tanyaku, celingak celi-nguk lagi melihat keadaan.
Cetrek!
Sebelum Dino menjawab, kunci otomatis yang diletakkan di pintu pengemudi, mengunci pintu di sampingku. Aku terkunci. Apa-apaan sih, ini?
"Kita ke kosanku dulu di daerah Dipati Ukur," katanya.
"Apa? Ah, nggak! Gue pengin langsung pulang!" Aku berontak.
"Bentar, kok." "Nggak!"
Dino mengulurkan tangannya, lalu mengusap rambutku.
"Iiih ... apaan, sih?!" Aku menangkis tangan itu sampai Dino mundur menghindar. Cowok ini mulai gila. Walaupun mungkin salahku juga, nerima ajakan cowok asing ke mobilnya.
Dino malahan seneng. Dia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, menunjukkan gigi atasnya. Ugh! Deskripsi mupeng kayak gitu, nggak ada indah-indahnya!
Brengsek!
"Aku turun di sini!" paksaku, menggedor-gedor kaca jendela.
"Bentar aja, kok!"
Kulihat keadaan lingkungan benar-benar zona merah. Sangat berbahaya, tinggal pepohonan, dan sebagian rumah berjarak jauh, juga jalanan sepi, yang ada di sekitarku.
Wah, mulai nggak beres, nih!
Sambil memelankan mobilnya, tapi masih cukup kencang bagiku untuk meloncat langsung, Dino menatapku penuh nafsu.
Aaarrrgggh! Cowok brengsek!
Satu tangannya meraih tanganku, masih sam-bil konsen nyetir. Aku terjebak di pintu, nggak berkutik. Tangannya beraksi, tapi aku pukul terus tangan itu.
Brengsek!
Kucoba membuka kunci pintu, tapi nggak bisa. Sepertinya sudah direkayasa agar nggak bisa dibuka di sini. Kurang ajar!
Kenapa harus mobil gini, sih ?!
Andai ini adalah bus kota, setidaknya aku masih bisa lari ke belakang. Mobil ini terlalu kecil bagiku karena Dino berhasil beberapa kali menyentuh tubuhku.
Buk! Buuukkk! Aku memukul terus tangan tangan setan itu!
Tiba-tiba, tangan itu mencekik leherku, dan menarikku mendekatinya. Sekuat tenaga aku melepaskan tangan Dino. Tapi sulit! Sakit sekali begitu kutarik.
Aaaarrrgggh! Pekikanku bahkan nggak terdengar.
BUUUGGGHHH!!!
Sebuah hantaman keras. Menghantam bagian samping mobil. Tepatnya bagian kemudi.
Sebuah mobil berwarna gelap menabrak mobil Dino yang melaju agak lambat, jadi oleng karena tabrakan. Tapi, Dino dengan gesit langsung melepaskan cengkramannya dari leherku, kemudian balas menabrakkan mobilnya pada mobil hitam itu.
Bruuuk! Bruuukkk!
Kedua mobil bertabrakan di tengah jalan, ketika sedang melaju. Pokoknya mirip di film action, deh! Dan, aku ada di dalam mobil ini. Benar-benar merasakan gimana hantaman keras itu membuat tubuhku berguncang ke sana kemari, membuatku berkeringat dan berdegup kencang.
Tapi kupikir, mobil hitam itu menang. Mobil Dino benar-benar oleng sampai berhenti karena menabrak pohon besar.
Craaash! Tabrakan!
Untungnya, kecepatan nggak begitu tinggi, karena Dino masih sempat mengerem. Kami berdua selamat, tanpa luka sedikit pun karena terlindung sabuk pengaman, dan hanya tersentak sedikit.
Dino langsung keluar dari mobil dan menghampiri si pengemudi tadi, yang juga menepikan mobilnya di belakang mobil Dino.
Aku ikut keluar melihat pintu pengemudi terbuka begitu saja. Dari luarlah, aku melihat Dino dan Key berantem. Duel. Key melancarkan pukulan-pukulan keras. Dino belum sempat membalasnya. Dan dengan mudah, Dino terjatuh, kemudian satu kaki Key menginjak dadanya.
Sambil terengah-engah, Key berteriak, "Awas, ya! Jangan pernah deketin cewek itu lagi! Kalo bisa, cewek mana pun! Mau mati elo?!"
Cowok brengsek seperti itu harus dikasih pelajaran orang sedunia. Aku nggak nyangka dia begitu brengseknya, sampai-sampai bertampang mupeng di dalam mobil.
Aaarrgggh! Beruntung sekali aku selamat!
Dino nggak berontak. Dia kalah di bawah injakan Key. Dan bagiku, barusan adalah pertarungan hebat yang terlalu singkat.
Dino memuku Key l, tapi Key berhasil menangkis. Dan giliran Key yang memukul, Dino malah nggak bisa apa-apa, terus aja dipukul sampe jatuh ke tanah. Sampe Key berhasil nginjek si Dino.
Hore ... hebat! Keyis my hero.
Aku menghampiri mereka, dan menarik Key agar nggak nafsu menghabisinya. Kutarik kaki Key dari dada Dino. Cowok brengsek itu terengah-engah di atas tanah. Kasian, deh. Dan dengan agak sulit, aku mendorong mundur Key dari arena pertarungan.
Udah, ah. Nih cowok-cowok jangan sampe pada berantem lagi! Udah malem nih, nggak rame, nggak ada yang nonton.
Key masih mencoba maju ingin menghajar Dino lagi. Tapi, aku pun nggak nyerah mendorong Key mundur.
Hehehe ... kayak di film aja, deh.
Berhasil juga, sih. Karena Key dan aku langsung masuk ke dalam mobil, lalu hengkang dari situ.
Aku langsung meraih knop pintu, membukanya, lalu masuk. Sebelum aku selesai memasangkan sabuk pengaman, Key udah menginjak pedal gas kuat-kuat, membuatku terhentak ke belakang dengan keras.
"Kamu tuh ngapain sih, kencan ama orang kayak gitu?!" Key mendengus kesal.
" Key... aku, aku nggak tau, Key! Aku nggak tau dia cowok kayak gitu!"
"Tapi itu kan, bahaya, Ve!"
Aku diam nggak menjawab komentarnya. Kutatap jalanan gelap di depan, yang mulai memasuki daerah pemukiman. Key mengerutkan keningnya, kesal.
"Kamu ... kamu gimana bisa tau aku ama dia?" tanyaku.
Mulanya Key hanya menolehku sekilas, lalu kembali pada kemudinya. Namun dia menjawab juga. "Aku ... aku sebenernya nggak tau kamu lagi ngapain. Kebetulan aja, aku dari BEC tadi, lagi ... beli something. Ya, aku terus ngeliat kamu makan ama cowok itu. Aku ... buntutin kamu terus. Dan aku, ngeliat dengan jelas, dia mulai ngelakuin hal biadab di mobil tadi," katanya. Hm ... mulai kurasakan dia menggunakan kata aku mengganti namanya.
"Kenapa nggak nyamperin aku, sih?"
"Nyamperin kamu? Kirain ... kirain itu pacarkamu."
"Sejak kapan aku punya pacar kayak gitu?"
Key kembali diam dan sibuk nyetir.
Aku ingin sekali berteriak, "Terima kasih, ya Tuhan! Setidaknya Kau kirimkan seorang pangeran saja untuk menolongku malam ini. Meskipun itu harus Key."
Bukan lipstik!
MOBIL yang hingga saat ini belum kuketahui mereknya itu, berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku nggak segera membuka sabuk pengaman dan langsung pergi. Kami berdua terdiam di dalam mobil, memandang kosong objek keluar, di balik gelapnya malam.
"Ngngng ... Key, makasih, ya!" ujarku pelan. Kami langsung saling menoleh, dan kurasakan Key memandangku dengan cara lain.
"Kamu ... kamu lain kali hati-hati, ya!" pintanya.
Aku tertunduk, memikirkan kalimat Key barusan dengan dalam, dan setidaknya sedikit rasa ... malu. Kuanggukan kepala, lalu menyunggingkan senyuman terima kasih. Kuraih HP dalam tas, dan menemukan sekarang sudah pukul sepuluh malam.
"Aku ... aku pulang dulu!" pamitku, sedikit canggung. Entah mengapa rasanya, aku dan Key sepertinya mendapati situasi percakapan kami sedikit berbeda.
"Aku antar kamu," tawar Key tiba-tiba, membuka sabuk pengaman, berbarengan denganku.
Aku nggak menolak saat itu. Kubiarkan Key berjalan membuntutiku di belakang, hingga mencapai pintu depan.
Masih berjalan dengan tertunduk, kubalikkan badan dan menatap Key sambil tersenyum manis. Dia mendapatiku mencoba tersenyum dengannya. Dan dia pun tersenyum juga.
"Oke ... sampai jumpa. Met malem ...I" salamku melambai padanya.
"Tunggu tahan Key pelan.
Aku masih bisa mendengarnya. Kubalikkan badan dan menatap Key penuh arti.
"Kamu ... kamu masih babysitter-ku, kan?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Emang kenapa?" Alisku mengerut.
"Aku ... aku nggak jadi."
"Iiih ... kenapa, sih?"
"Nggak apa-apa. Sori kalo ganggu." Kami berdua terdiam lagi, kemudian saling tersenyum manis. Aku melambai lagi, masuk ke rumah. Kututup pintu dengan pelan, dan dapat kulihat Key masih berdiri di depan pintuku. Hm ... what an amazing night! Malam yang menegangkan sekaligus malam yang so sweet. Nggak pernah kusangka kalau yang namanya Dino tuh ternyata cakep banget! Tapi nggak pernah kusangka pula ternyata dia itu bajingan! Dasar brengsek. Huh, body masa kini ...
kelaku-an, masa gitu?!
Hiiiy ... malam yang menyeramkan tapi ingin kugarisbawahi pula malam ini sebagai malam yang manis. Key, nggak kusangka membuntutiku, lalu menolongku ketika aku benar-benar dalam "zona berbahaya". Alhamdulillah. Untungnya, masih ada orang yang bisa menolongku. Aku nggak tau lagi gimana nasibku selanjutnya seandainya Key nggak ada di sana tadi. Mungkin aku ... udah jadi individu baru yang penuh dengan trauma hidup dan noda hitam menempel besar di benakku.
Aku bergegas menuju dapur, menemukan mama masih membereskan piring-piring makan malam. Huh, kelihatannya banyak banget! "Hai! Gimana nge-date-nya?" goda mama, karena dia tau petang tadi aku hendak pergi kemana. Aku jujur sama mama kalau aku akan gathering dengan stranger dari Internet.
"Buruk. Dia berperangai buruk. Untungnya aku berhasil pergi dan ... kurasa nomor teleponnya akan kuhapus, atau kalau bisa kuganti nomor HP-ku dengan nomor yang baru. Setelah itu, sih ... aku jalan-jalan di BIP!" jawabku dengan sedikit mengubah cerita.
Mama tersenyum kecil, kembali menyibukkan diri dengan piring kotornya. Aku sempat heran mendapati piring kotor dalam jumlah yang banyak. Layaknya barusan ada.
"Banyak banget deh, Ma! Barusan siapa aja yang makan malam di sini? Orang-orang satu RT, ya Ma?"
Mama cekikikan. "Bukan. Bukan siapa-siapa. Cuma, yah, saudara sepupumu berikutnya. Michele, dan Elaine. Dia datang tepat lima menit ketika kamu pergi. Biasa. Lagi-lagi mereka liburan ke sini."
Hah? Sepupu lagi? Aduh, ya. Tinggal satu minggu menuju tahun ajaran baru, kenapa sih, saudara-saudaraku pada datang di minggu liburan terakhir seperti ini. Udah ada si Nabilahama si Sinka, masa sekarang ada Micheledan Elaine juga? Hiiih ... jangan-jangan aku tidur di kolong kasur malam ini. Tempat tidurku bakalan kelebihan muatan.
Ya ampun ... dunia serasa sesak, terlalu penuh manusia di kamarku.
Gdbuuug! Dugh! Dagh! Duuugh! Gdbuuug! Brak! Bruk!
Huh, lagi-lagi suara orang jatuh dari tangga kudengar malam ini. Kalau bukan si Sinka, pasti satu dari tiga sepupuku yang lainnya. Aku berbalik perlahan dan bergegas menuju tangga. Tuh kan, nggak jauh lagi. Sinka yang jatuh-lagi-lagi-malam ini.
"Ya ampun ... sapa sih, yang naro tangga di sini? " keluhnya, mengerang.
"Biasa aja, dong. Nggak usah lari-lari segala Ada apa, sih?" Aku membungkuk, membantunya bangkit.
"Itu ... itu ... itu ...I" Sinka tergagap-gagap menunjuk pintu depan.
"Itu kenapa?"
"Ngngng ... itu! Ya ampun, deh ... ah-ah-ah ... auw! Muah-muah-muah ... cilukba!" "Apaan, sih? Jijik banget deh, ah!" "Itu! Di pintu itu! Pintu itu!" seru Sinka sangat
panik.
"Kenapa, sih?"
Aku berjalan ke pintu depan, lalu perlahan membuka pintunya. Dan ....
Sama kagetnya dengan Sinka, aku menemukan Key masih berdiri di depan pintu rumahku.
" Key?" Aku mengernyitkan dahi.
Buuughl Sinka jatuh ke lantai ... pingsan.
Aku berlari ke arah Sinka.
"Sapa sih yang naro Bison ... di sana?" gumamnya kemudian.
Pluuukl Tengkuknya jatuh ke lantai. Benar benar pingsan sekarang.
Aduh, ya! Biasa aja deh, ah. Kayak yang ngelihat Justin Timberlake mampir ke rumah ini aja. Plis deh ... dia kan, cuma siKey,'
Aku menarik Sinka untuk dibaringkan di sofa. Namun ... ughf Berat! Ya ampun ... aku tuh lagi narik orang atau mobil, sih? Pokoknya, kalau Sinka bangun, ingatkan aku untuk memintanya diet. Ih, meskipun aku tau dia cuma 48 kg, tapi tetep aja bo! Nih cewek massanya lebih berat dari massa planet Mars!
Hop! Key tiba-tiba berada di depanku, dan mengangkat Sinka dengan mudah ke atas sofa. Aku membuntutinya dan langsung mengibas-ibaskan tangan di depan mukanya.
"Sin ... bangun, Sinka!" Aku menggoyangkan goyangkan badannya, tapi dia nggak bangun.
"K ... kenapa dia?" tanya Key.
"Gara-gara kamu ada di sini, tau! Dia kan, suka
sama kamu. Pantes aja pingsan juga. Kamunya sih, ada di sini!" Aku kembali mengibaskan tangan, juga sempat menggoyangkan tubuhnya agar dia bangun.
"Sinka ... halowww! Bangun, Sinka! Kenapa, sih? Hey! Bangun!" Aku menampar-nampar pipinya pelan, mengguncangkan bahunya, memijit legannya, menjambak rambutnya, menekan-nekan dadanya ... ya ampun! Diapa-apain aja kok, masih pingsan juga?!
Aku menoleh ke belakang, dan ... hey! Key hilangi Dia nggak ada lagi di sini. Ke mana dia? Dia pergi! Oh, cepat sekali dia hilang. Tapi ... hmh peduli amat, sih?
Lima menit kemudian, setelah menempuh perjuangan yang mendebarkan, dengan keringat basah mengisi kesabaran, akhirnya ... si Ovie bangun juga!
"Aduh ... kenapa sih, sofanya warna putih?" gumamnya pertama kali begitu membuka mata.
"Emang kenapa, sih? Sama aja, kan?"
"Gue pengin yang kembang-kembang di sana!"
"Udah deh, ah. Sini. Duduk. Kamu tuh aneh, pake pingsan segala!"
"Tadi! Bison! Ada Bison di pintu!"
"Nggak! Nggak ada apa-apa! Halusinasi kamu aja!" ujarku berbohong, berusaha menjaganya nggak pingsan lagi. Karena kemungkinan, Sinka akan pingsan kalo kusebutkan nama Key.
Sinka duduk dan mencoba bernapas dengan tenang. Dia menatap karpet, dan kuusap-usap tengkuknya, menenangkannya.
"Michele sama Elaine-nya mana?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Ama Nabilah. Luluran lagi di kamar mandi."
"Luluran lagi? Luluran pake apaan?"
"Yaaa ... pake scrub yang kemaren dipake luluran juga! Yang botol pink itu!"
"Aduh, ya! Berapa kali sih, harus kukatakan kalo tuh botol buat nyuci muka, bukan buat luluran! Kalo pengin luluran, kenapa nggak ke salon aja?!"
AKU menarik selimut menutupi dada, dan mencoba memejamkan mata. Pukul dua belas malam. Huh, gara-gara kedatangan saudara sepupu lagi, aku harus menemani mereka ngobrol ngomongin perjalanan mereka dari rumahnya ke sini.
Elaine, nggak lebih baik dari Nabilah ataupun Sinka. Mirip Dora the Explorer ketika memakai ransel, dan mirip Putri Huan Zhu ketika berkebaya. Agak manja dan cara bicaranya dibuat-buat. Eliane ini adalah saudara sepupuku, asal Garut.
Michele? Hm, apalagi ini, sama-sama nggak lebih baik untuk dibicarakan. Dia tinggal di Bale Endah. Satu sekolah denganku, tapi kami beda kelas dan kami nggak terlihat seperti saudara sepupu di sekolah. Michele anggota OSIS, sehingga nggak punya geng yang mendominasi sekolah. Bahkan, OSIS sendiri mulai meredup, terinjak oleh Kompilasi, Mozon, Rebonding Galz,
Jagad, dan Tweenies.
Handphone-ku bergetar. Aku menyingkap selimutku dan bergegas meraih HP di meja. Bu Nira menelepon.
"Halo!" sapaku.
"Oh, Ve... taukah kamu Dede ada di mana? Katanya dia mau ketemu kamu sore tadi, tapi ng-gak kembali sampai sekarang. Saya cemas. Setiap diteiepon, seiaiu direject. Saya yakin HP-nya aktif, tapi dia seiaiu menolak untuk menerima panggilan saya," ujar Bu Nira cepat, terdengar sangat panik.
"Tadi sih, ada di sini. Tapi kalo nggak salah, dia udah pulang jam sepuluh tadi."
"Oh ... kira-kira ke mana, ya? Saya khawatir. Dede nyetir sendirian malam-malam gini."
"Saya akan mencoba mencarinya."
"Nggak usah, udah malem. Kamu tidur aja! Biar saya yang nelepon temen-temennya. Maaf udah ganggu. Makasih."
Hubungan telepon pun terputus. Aku meletakkan lagi HP ke atas meja, dan berjalan pelan menuju kasur lipat.
Hm ... key ke mana, ya? Terakhir aku nge-liatnya sih, pas Sinka pingsan tadi. Tapi, dia tiba-tiba ilang gitu. Lenyap.
I thought it's better for me to go sleeping.
But ....
Aku nggak bisa tidur. key kupikirkan terus menerus. Ya ampun, dia ke mana, ya? Dia nggak ketemu Doni terus ngehajarnya, kan? Dia nggak
sakit hati karena aku usir dia, kan? Dia nggak nyoba buat bunuh diri, kan? Dia nggak kecelakaan mobil karena ngantuk, kan? Dia masih baik-baik aja, kan?
Oh ... aku stres! Sepuluh menit menjelang tidur yang menyiksaku. Aku nggak bisa tidur dan mimpi indah kalo key terus-terusan ada di pikiranku. Oh, key. Di mana kamu?
Tiba-tiba ....
Kudengar entakan kaki berirama, sayup-sayup di bawah sana. Aku mengenal irama itu. Irama lagu yang dimainkan key melalui piano beberapa hari yang lalu.
Aku menyingkap lagi selimutku dan menuruni tangga dengan cepat. Kutemukan mama tertidur di sofa, dengan keadaan teve menyala.
Irama entakan kaki itu semakin jelas di bawah sini. Tapi di mana? Dari mana asalnya suara itu?
Aku menoleh ke pintu depan yang ternyata belum terkunci dengan tirai yang menyingkap sedikit. Ya ampun mama, kok, bisa-bisanya lupa nutup pintu. Papa juga ke mana lagi? Akhir-akhir ini kok, jarang banget aku ketemu ama papa!
Suara itu. Ya. Suara itu berasal dari luar. Seseorang mengentakkan kaki, menciptakan irama lembut itu. Aku bergegas keluar dan menemukan key sedang duduk di kursi teras depan.
" key?" Aku melongo kaget, sedikit nggak percaya, sedikit heran, sedikit kesal, dan sisanya ngantuk.
key menghentikan entakan kakinya, lalu menoleh padaku. Dia tersenyum, bangkit dari du-duk dan menatapku dengan pandangan lain.
"Kamu ngapain di sini, key? Udah malem ... tadi mama nyariin kamu."
"Aku ... aku lagi, nungguin kamu!" katanya sedikit tersipu.
"Apa?"
"Boleh kan, aku nungguin kamu? Aku pengin ngajak kamu ke rumahku lagi. Ngasuh aku lagi. Kita bisa maen bareng lagi. Maen PS, maen piano, maen air. Aku janji bakalan nurut sama kamu dan mama sekarang," katanya lembut.
"Kamu?" Aku mengembuskan napas. " key. Dengerin aku, ya! Kemaren aku di rumah kamu tuh, kerja. Bukan buat apa-apa lagi. Dan masa kerjaku udah habis. Jadi ... kamu harus ngerti dong, kalau sekarang ... kalau sekarang kita harus mulai jalanin hidup seperti biasanya. Kita sebaiknya musuhan lagi. Maksudku, kita seperti dulu lagi. Kamu ngejek aku. Dan aku pun ngejek kamu. Sekolah bakalan gempar kalo tau kita akur-akur aja. Itu tuh ... itu tuh bagaikan melanggar kodrat yang udah dibuat."
"Jadi ... nggak boleh, main sama musuhku?"
" key
"Oke-oke aku ngerti," sela key, "aku tau kamu nggak mau kita akur karena, karena aku kayak gini, kan? Yah, silakan aja. Aku ngerti, kok. Aku yang salah. Kamu nggak berhak aku kejar cuma buat aku ajak jadi temenku. Oke, sekarang aku ngerti, aku nggak mungkin buat temenan ama siapa pun juga. Aku nggak pantes buat temenan ama siapa pun ...."
"Maksudku, tuh, key..”
"Iya-iya, udah. Nggak usah ngejelasin lagi. Aku udah cukup ngerti. Mana ada sih, cewek yang mau deket-deket ama cowok kayak aku? Cewek mana, sih? Oke, tiap cewek sekarang tergila-gila ama aku, tapi kan ... yakin deh, mereka jijik kalo tau aku kayak gimana."
"Nggak gitu, kok, key!"
"Udahlah. Aku tau aku nggak pantes lagi buat hidup."
" key! Jaga bic…”
"Terus,kenapa kamu nggak mau temenan sama aku?!" potong key membentak. "Aku tau aku ini nggak normal. Aku tau aku ini aneh. Tapi kenapa sih, cuma minta jadi temen aja nggak boleh?! Haram, ya? Kenapa, sih? Kenapa sih, nggak ada yang ngerti kalo aku tuh lagi coba berubah! Kenapa sih, nggak ada yang mau ngedukung aku buat berubah!"
Aku menunduk, terisak karena mulai melihat key berkaca-kaca. Emosinya sedang keluar. Bahkan isakan sakit di dadanya, semakin lama semakin menyesakkan telinga yang mendengarnya.
"Aku ... aku tuh punya salah apa, sih? Sampe cuma buat punya temen cewek aja nggak boleh. Aku tuh semenjijikan apa, sih? Aku tuh nggak ngerti. Penjahat aja masih dikasihani, kok. Masih punya temen, kok. Kenapa aku nggak? Aku sadar aku tuh lain. Aku tuh childish, manja, jahil. Ya semuanya, semua yang buruk yang ada di pikiran kamu, sebutin aja, itu pasti aku. Aku emang nggak
pernah jadi yang paling baik, nggak pernah jadi anak yang pinter, nggak pernah jadi anak yang rajin. Tapi, apa karena itu aku nggak boleh punya temen?"
key mulai menitikan air matanya. Aku melihatnya dengan jelas. Begitu aku mendongak, kulihat aura mukanya benar-benar menyedihkan. key marah padaku, aku yakin itu. Tapi kan, aku nggak bermaksud untuk menjadi seperti itu.
"Selama ini ... aku, selalu ngejauhin ama yang namanya cewek. Kamu pasti tau itu. Cewek-cewek yang nyoba buat ngedeketin aku, biasanya aku cuekin atau ... aku judesin. Kamu juga pernah, kan? Aku tau. Tapi ... kamu tau nggak sih, aku tuh gitu karena apa? Kenapa aku selama ini nggak pernah deket ama cewek? Aku tuh nggak mau nyakitin hati mereka. Aku tuh nggak mau mereka tiba-tiba nyesel waktu tau aku kayak gini!"
Aku menunduk, menatap lantai lagi.
"Dan ... kayaknya, aku yakin nggak akan ada cewek lagi, yang mau ... jalan bareng sama aku ... apalagi kamu. Kayaknya, huh, sia-sia ya ... aku mimpiin kamu? Aku ngelamunin kamu, ngeharepin kamu bisa jalan sama aku."
Aku mendongak menatapnya. Heran.
Dia bawa-bawa aku?
key tersenyum meledek. "Huh, aku emang cengeng, nggak jantan." " key...," lirihku.
key mengucek matanya, kemudian merogoh sakunya mengambil kunci mobil seakan hendak pergi.
" Ve. Sori, ya! Aku udah ganggu kamu selama ini. Aku udah ngejailin kamu. Aku udah ngerepotin kamu. Aku, aku emang bukan cowok yang berguna." "key
Dia tersenyum. "Aku ... aku pulang dulu. Sori udah ganggu kamu tidur. Selamat malam."
Aku menatapnya dalam. key mundur perlahan-lahan, mulai meninggalkanku di teras depan.
"KEY!" teriakku.
Dia menoleh, melambai riang padaku. "Aku, aku pulang dulu, ya! Aku ngantuk. Eh, Ve ... kemaren aku bisa tidur sendiri lho, nggak usah ditemenin mama. Hebat, kan?! Aku juga mandinya dua kali kemaren. Aku makannya sendiri. Oh, iya ... harvest moon yang di PS udah tamat Ve,. Kuda-nya aku kasih nama kamu. Hahaha ... nggak apa-apa, kan?!" serunya senang, berjalan ke arah mobil.
"KEY! Tunggu!" pekikku sangat keras. Akhirnya dia berhenti, namun diam nggak berbalik. Dari posisinya, dia mendengarkanku.
"Key ... maafin aku, ya! Sori. Aku nggak maksud buat bikin kita harus musuhan. Aku justru pengin temenan ama kamu. Cuma ... kita butuh sedikit penyesuaian dulu di sekolah."
Key menatapku lama. Kemudian, dia mengangguk kecil, dan berbalik lagi menuju mobilnya.
Aku berlari menghampiri dia. " Key! Kalo kamu ngantuk, tidur di sini aja! Bahaya nyetir malem-malem!"
Key memutar kepala sekilas, namun hanya
tersenyum. Kemudian, dia menekan alarm mobil. Tiba-tiba aku teringat kata-katanya "Aku nggak pantes lagi buat hidup". Dan entah kenapa, aku jadi kepikiran kalo dia bakalan bunuh diri malam ini di jalanan.
Hihihi sedikit klise dan ironis. Tapi kan,
kemungkinan seperti itu sangat ada.
" Key! Inget, ya! Aku harus masih bisa ngeliat muka kamu besok pagi!"
"Maksudnya?" Key mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil.
"Yaaa ... jangan coba-coba buat bunuh diri malam ini! Inget, kamu harus selamat sampe rumah. Aku harus masih bisa liat kamu besok. Kamu harus tetep hidup, jangan karena gara-gara tadi, kamu tiba-tiba bunuh diri. Sumpah, Key. Aku nggak bermaksud buat bikin kita musuhan selamanya. Yaaa ... seenggaknya, nggak terlalu banyak yang tau kalo kita tuh temenan. Masalahnya ...." Aku membungkuk dan berbisik, "Aku nggak mau cewek-cewek seantero jagad raya tiba-tiba ngedeketin aku cuma buat minta dideketin ama kamu."
Mudah-mudahan Key tau maksudku selama ini. Kemudian, dia tersenyum dan bertanya dengan manisnya, "Jadi ... kamu ... mau jadi temenku?"
Aku nyengir-nyengir, berpikir sebentar. "Ngngng ... kayaknya nggak, deh. Hihihi ... karena aku bagusnya jadi babysitter kamu!" Kami berdua tertawa kecil sekilas. Hingga Key akhirnya masuk ke mobil dan menurunkan kacanya untuk melambaipadaku.
"Ngomong-ngomong ... di mana ya, tempat di Bandung jam segini yang sepi banget dan enak buat bunuh diri?" tanya Key tiba-tiba.
"Eh-eh-eh! Enak aja! Hush, jangan ngomong yang nggak-nggak. Pokoknya, aku harus masih bisa ngeliat kamu besok! Inget! Kamu masih harus hidup."
"Hidup? Yang nentuin hidup itu Tuhan. Kita nggak tau kapan kita mati ... bisa aja besok aku ... mati."
"Iya-iya, aku ngerti." Aku menggeram kesal. "Pokoknya, seandainya iya kamu mati besok, kamu cuma mati karena penyakit! Bukan karena kecelakaan akibat bunuh diri. Udah ah, jangan sompral! Inget, ya, jaga diri baik-baik. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh."
"Penyakit? Oke, paling juga aku mati karena penyakit ... Cinta!" Ih, dasar genit,'
Key melambai lagi melajukan mobilnya meninggalkan rumahku. Aku nyengir heran sambil melambai. Setelah kutatap mobilnya hilang di belokan jalan, aku kembali ke dalam rumah.... Key hari ini kamu aneh! Dan kurasa aku ... mulai menyukaimu.
Namun betapa kagetnya aku, menemukan ada lima orang lagi sibuk melakukan sesuatu di ruang tamu. Ada yang mengutak-atik monitor, ada yang menyiapkan kamera, ada yang menulis sesuatu, ada yang dandan, dan ada yang membereskan sesuatu.
Layaknya sedang syuting.
"Hey! Kalian ngapain?"
"Kita ... kita cuma ngerekam yang barusan aja!" jawab Sinka, nyengir.
"Apa-apaan sih, pake ngerekam segala?! Sinka ngapain kamu bawa-bawa kameraku? Lele, kamu nulis apa, sih? Ilen ... kamu lagi ngeberesin apa dalem koperku? Mama? Mama lagi ngapain ama monitor komputerku? Ngapain juga sih, mama ada di sini? Dan Nabilah... kamu ngapain dandan di situ? Sudah kubilang kan, itu tuh maskara, bukan lipstik! Masa warnanya hitam?!"
Truth or Twist?
AKU langsung masuk ke kamar Andela. Kutemukan dia sedang asyik ngobrol dengan Mila. "Hey! Sori, angkotnya telat."
Kulemparkan tasku ke atas meja dan bergabung bersama mereka. Shania menggeser sedikit posisi duduknya agar aku bisa duduk. Lalu dua detik kemudian, kami tenggelam dalam gosip-gosip baru.
Andela dengan semangat menceritakan kencannya bareng Ryan, cowok playboy terakreditasi A. Aku kaget begitu mendengar Andela kencan bareng Ryan, tepat Sabtu malam minggu kemarin.
"Tapi dia payah." Andela tertawa kecil, mendelik genit.
"Kenapa? Kenapa?" Shania nggak sabar mendengar cerita Andela berikutnya.
"Yeah, he is stupid so far. Dia nggak tau gimana caranya ngiris beefsteak pake pisau kecil, bahkan cara menyedot bubble menggunakan sedotan. And sometimes he got nothing with my English!"
"Oya? Ryan seburuk itu?" tanyaku, mengambil keripik di atas meja.
"Ya! Tapi .Luna menyeringai, "The way he moves his motorcycle, keren banget! Ada deh, potongan Valentino Rossi di tangannya. Ya ampun, sempat kaget dan menegangkan juga. But that is amazing. Elo mungkin nggak percaya kalo gue dibonceng ama dia di motornya, terus dia ... belok-nya, Miring ke samping, hampir nyentuh tanah. Kayak MotoGP gitu, deh. Padahal itu di jalan raya!"
"Gileee ...!"
"Seems sitting in roiiercoaster! Jantung gue berdebar-debar terus. Ya ampun, sempet sem-petnya coba, dia ngelepas stang motor padahal motor lagi cepet-cepetnya! Ih, kayak Fear Factor, deh ... screaming."
"Hebat-hebat!" Shania bertepuk tangan, lalu meraup segenggam keripik, "Elo, gimana cerita tentang babymon-nya? Ceritain dong, da gue teh pengin tau keseharian elo dikarantina di sana selama seminggu ...."
Aku tersipu melihat Andeladan Shania memandangku penasaran. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa aku mengasuh Bison selama seminggu, tapi nggak mungkin. Aku masih terikat janji dengan Bu Nira untuk nggak mengatakannya pada siapa pun.
"Ngngng ... ya gitu, deh ... fun Nggak terlalu berat, kok. Biasa aja."
Tiba-tiba HP-ku bergetar.
"Tunggu bentar, ya!" seruku sambil meraih HP.
Key menelepon. "Halo?" sapaku.
'Hai... halo! Selamat pagi!"
"Pagiii!"
"Lagi ngapain ?"
"Kumpul-kumpul bareng temen. Biasa. Mumpung masih liburan."
"Oooh ... aku .. aku pengin ketemuan, dong!" "Emangnya ada apa?"
"Nggak ... nggak ada apa-apa. Yah, pengin ketemuan aja." "Kapan?" "Malem ini?"
"Emangnya kamu bisa keluar, malem ini?"
"Afaaa ... tinggal kabur aja, kok! Kemaren aku pulang jam satu malem."
"Hm ... ya udah, jam berapa? Di mana?"
"Di rumah kamu. Jam tujuh."
"Di rumahku, jam tujuh? Oke, sampe ketemu lagi, ya!"
"Daaagh!"
"Sapa tuh?" tanya Andela begitu aku mematikan HP. "Ngngng ... papa!" jawabku, berbohong, mengambil lagi sepotong keripik dan mengunyahnya asyik.
Luna dan Shania mengernyitkan dahi. "Papa? Kedengerannya kayak yang mau ketemuan ama cowok, deh." Andela mulai penasaran, dan mengintrogasiku.
Aku tersenyum lebar. "Papaku, kan ... cowok!"
Shania memiringkan kepalanya. "Elo mau ketemuan ama papa elo, di rumah, jam tujuh malem?"
"Yaaa ...." Aku tersenyum lagi, mencoba nggak terlihat panik.
"Dan, elo barusan nanya ... 'emangnya kamu bisa keluar malem ini', elo ngomong gitu ama papa elo?" "Ngngng Aku terjebak. Shania dan Andela saling melirik. Tiba-tiba .... Buuukh!
Andela menindihku di atas kasur hingga badanku benar-benar terkunci nggak bisa bergerak. Aku lupa kalau Andela juga pernah mengikuti pencak silat waktu SMP. Dan dia bisa mengunci siapa pun juga hingga nggak mungkin lagi berkutik.
Shania mengambil kesempatan ini dengan meraih HP-ku. "Tahan dia, Andela. Gue mau nyari nomor teleponnya. Ve, udah cukup elo menyembunyikan sesuatu dari kami. Gue teh tau elo tuh ngebohong barusan."
Shania akhirnya menemukan juga nomor itu di received caiis, atas nama B4ByM0nJ. Oh, syukurlah. Aku nggak menuliskan nama Key di HP, jadi Shanianggak mungkin ....
Oh! Shania nekat menelepon nomor itu!
Shania meletakkan HP itu di telinganya, dan menatapku sinis. Aku memberontak sekuat tenaga dariAndela, tapi nihil. Aku benar-benar terkunci. Kakiku pun nggak bisa bergerak-gerak.
"Mari kita cari tau, siapa babymon itu," gumam Shania sebelum panggilannya diangkat. "Hah sapa Key dari seberang.
Shania tersentak kaget, namun langsung mencari informasi nama yang ditelepon menggunakan caranya sendiri.
"Oh, hai ... gue Jessica Veranda. Usiaenam belas tahun. Sumpah, gueVe. Ngngng ... bisakah gue tau nama elo?" "Hah?" Key bingung.
"Sori-sori. Barusan kan, elo teh nelepon. Nah, gue teh kelupaan euy, nama elo. Jadi ... bisakah gue tau nama elo, plis
"Kamu pasti bukanVe!"
"Idih! Gue Ve!."
"Jangan dengerin! Jangan dijawab!" teriakku. "Tuh kan, kamu apainVe hah?" Shania memutus hubungan telepon. "Huh! Gara-gara kamu!"
Andela melepaskan cengkramannya, namun langsung berwajah cemberut. Keduanya kesal nggak berhasil menemukan nama orang yang barusan meneleponku. Sekaligus penasaran dengan siapa yang aku urus seminggu kemarin. Dan kurasa, untuk beberapa saat ke depan, akan banyak serangan jitu dari Andela maupun Shania untuk mengetahui siapa orang itu.
Lima menit kemudian ...
SIAL! Aku ditipu. Sekarang .... aku dikunci di kamar mandi Luna. "Hey! Buka!" teriakku, menggedor-gedor pintu.
"Dieeem!" balas Andela.
Aku cemberut dari dalam, berharap nggak terjadi hal apa pun di sini. Dari rencana yang kudengar, sepertinya mereka akan menelepon Key menggunakan nomor HP lain. Dan sepertinya, giliran
Andela yang akan bicara.
Beberapa menit waktu berlalu, akhirnya pintu kamar mandi dibuka. Kutemukan Andela dan Shania berdiri sinis menatapku. Mereka menyilangkan tangan di depan dada. Mengunci tungkai. Berdiri layaknya Mozon.
"Oh ... elo mulai merahasiakan hal ini?" seringai Andela.
Aku tersenyum lebar, nggak tau apa yang harus kukatakan. Hoh, aku benar-benar stucked. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. "Hai ... pagi ini ... cerah sekali!" senyumku semakin lebar.
"Ya, lumayan." Shania celingak-celinguk menatap jendela.
"Bodoh!" Luna mendorong kepala Shania. "Mari kita bahas hal ini!"
Andela berbalik mendahuluiku. Sepertinya, detik detik berikutnya akan menjadi detik yang menegangkan dan sangat serius.
"Tunggu! Sebelum kamu marah-marah padaku, aku ... aku ingin marah-marah padamu," sanggahku tiba-tiba.
Andela berhenti dan berbalik. "Gue tau, untuk itu, kita bicarakan hal ini di sana."
"Tapi, ini tentang Dino!"
"Iya ... gue tau. Ayo kita ke sana!"
Aku berjalan membuntuti mereka menuju tempat tidur Andela. Kami semua duduk melingkar lagi seperti tadi.
"Kita mainkan permainan Truth or Lies." tawar Shania.
"Nggak ada permainan seperti itu, bodoh!" Andela
berkacak pinggang, "Kita mainkan, permainan, Truth ... or Twist. Bicaralah dengan jujur atau berputar dua puluh putaran di pojok sana. Yang melempar pertanyaan, berhak menjawab pertanyaannya sendiri ketika dua yang lain selesai menjawab pertanyaannya. Dimulai dari yang duduk di kanannya, lalu kirinya, dan dirinya sendiri. Mengerti?"
"Ya-ya! Gue mengerti! Gue dulu ." Shania mengangkat tangan.
"Ya ... silakan. Tapi harus serius, Shania...!" Andela mendengus.
"Ngngng ... jujurlah Shania serius, "elo lebih suka mana, ceri di atas krim, atau ceri di dalam krim?"
" Shania!" Aku dan Andela menggeram, "yang serius!"
"Gue teh serius, tau! Sebab, gue teh suka bingung kalo bikin kue. Jadi ... enakan yang mana sih, ceri di atas krim, atau ceri di dalam krim," sungut Shania, "kalo bisa pake alasannya juga!"
Yang duduk di kanan Shania adalah aku. Jadi, aku harus menjawab pertama kali. Andela dan Shania sudah melirikku.
"Ngngng ... aku lebih suka ceri di atas krim. Karena lebih manis dan menarik."
Shania dan aku langsung melirik Andela. "Gue lebih suka cherry inside the cream. Lebih misterius, and mysthicai."
Aku dan Andela yang kini menatap Shania. "Sebenernya mah, gue teh nggak suka kalo ceri digabungin ama krim. Gue mah lebih suka ceri dijejerin bareng buah-buahan lain, terus krimnya
dipolesi selai dan sedikit rum manis," jawab Shania.
Menggunakan satu jurus pamungkas, aku dan Luna menjitak Shania . Kini, giliran Andela yang bertanya, karena dia mengacungkan tangannya terlebih dahulu. "Oke ... sekarang aku!" serunya, kemudian menerawang dan berpikir.
Dua detik kemudian, dia menatapku sinis dengan aura kemenangan. "Sebutkan, cowok ter-akhir yang bareng elo, dan apa hubungan kalian?"
Yang berada di kanan Andela adalah Shania, jadi aku nggak menjawab lebih dulu. Andela dan aku menatap Shania.
"Ngngng ... bolehkah twist-nya hanya ... dua putaran?" tanya Shania ragu-ragu. Jelas sekali dia menyembunyikan sesuatu dari kami.
"Dua puluh putaran tanpa parkir untuk istirahat. Terus berputar tanpa henti di pojok sana. Dan ... gue puterin lagu keroncong selama berputar."
"Gue benci keroncong, Andela ," desah Shania.
"Kalo gitu, jujurlah!" Aku dan Andela menatapnya penasaran. Benar-benar ingin mengetahui apa yang disembunyikan di balik pikiran Shania.
"Oke ... jangan kaget, jangan marah, jangan kesal, jangan bereaksi, jangan tertawa, jangan men-jauhiku, dan terutama jangan bilang siapa-siapa ... setuju?!" Shania mencoba deal.
Aku dan Andela berpandangan, lalu mengangkat bahu, "Terserah."
"Oh ... oke!" Shania menenangkan dirinya. Dia mengembuskan napas, sebelum akhirnya ngomong cepat, "Gue bareng Boby malam minggu kemarin,
kencan di restoran mahal, dia yang nraktir, lalu nembak gue jadian, dan gue ... nggak ... nggak ... nggak menolaknya."
Aku dan Andela melongo sebentar mendengar jawaban Shania, lalu berebutan bertanya demi meyakinkan apa yang kami pikirkan nggak benar-benar terjadi.
"Bukan Boby si Rimba, kan?"
"Bukan Boby -nya Jagad, kan?"
Dengan ragu-ragu, merengek, Shania manggut manggut pelan. " Boby si Rimba ... Boby Jagad ... gue ... gue teh nggak bisa nolak dia ... kalian harus ngerti gue ... Boby baik banget ... dia ... dia pangeran gue selama ini. Punten atuh ... kalau gue teh nggak bilang-bilang sama kalian," Shania memohon-mohon.
Aku dan Andela mengembuskan napas. Andela mencoba menenangkan diri tau Shania bisa-bisanya menjalin hubungan dengan Jagad. Tapi aku tidak. Masalahnya, aku juga punya hubungan sama Jagad, malahan sama ketuanya. Jadi, aku diam saja. Karena masalahnya, sudah ada dalam surat-an takdir, yang namanya Jagad tuh, seharusnya musuh kami. Mereka terlalu sering mengejek kami. Mestinya, kami balas menekan mereka. Sayangnya tidak.
"Oke ... Ve. Elo sepertinya akan lebih menarik," seringai Andela.
"Ya ... dan, tolong jelaskan maksud elo dengan Babymon, yang setelah kami hubungi, ternyata ... seekor Bison," lanjut Shania.
Aku mengembuskan napas. "Okeee Aku
tersenyum lebar. Hm ... aku harus berbohong. Aku nggak mungkin mengatakan kalau aku menjadi babysitter Ve selama ini. Aku harus mengatakan hal lain lagi.
" Ve, adalah kakak dari balita yang aku urus minggu kemarin," jawabku tertunduk. "Karena seringnya kami bertemu, makanya ... kemudian kami berteman. Sumpah, nggak lebih."
Giliran Shania yang melongo, diikuti lagi oleh Andela.
"Hanya segitu?"
"Kalian serumah?"
Aku mengangguk-angguk, berusaha tersenyum manis, bukan tersenyum lebar.
Tiba-tiba Andela menghela napas, dan bersiap bicara, karena sekarang gilirannya. "Oke sepertinya ... sekarang giliran gue."
Aku dan Shania menatapnya.
"Kalo gitu, gue juga mau jujur, kalo gue ... made some relationship with ... Hamids." Tik, tok, tik, tok!
Detakan jam dinding mengisi ruangan ini. Hening, senyap, dan sunyi.
Aku dan Shania melongo mendengar pernyataan-Luna.
"Relationship berbentuk perang dingin?" tanyaku. "Ngngng ... bukan."
"Elo jalan bareng ama dia selama ini?" tanya Shania. "Nggak juga. Kadang aku jalan bareng Ryanatau Fauzan."
"Kamu temenan ama dia?" tanyaku lagi.
"Yah."
"Elo jadian ama dia?" tanya Shania lagi. "Belum."
Aku dan Shania tersentak kaget."Belum? Apa maksudnya dengan belum ...?"
Andela panik, namun mencoba menenangkan diri-nya. Kemudian dia mengembuskan napas, benar-benar panjang, dan memulai pembicaraan beratnya. "Senin malam kemaren ... elo tau kan, gue nggak ama kalian buat nemenin Ve ke-temu Dino ... cause ...I meet, Hamids ... and Hamids ... trying to propose me to become ... his girlfriend." Andela tersenyum lebar, "Take it easy, Honey. Not answering him yet!"
"Ali itu cengo, Andela," cecar Shania. "Dia nggak cengo!. Dan gue suka dia."
"Hamids itu bodoh."
"Dia nggak bodoh dan hanya nggak konsen sama pelajarannya gara-gara mikirin gue terus. " Hamids itu nggak romantis."
"Gue nggak peduli. Nggak harus romantis, kan?" Andela sewot.
" Hamids itu nggak punya kucing di rumahnya."
"Stop! Shania!" teriakku dan Andela berbarengan.
"Gue kan, hanya mengingatkanmu, Andela. Sebelum elo berhubungan terlampau jauh." Shania tiba-tiba khawatir.
"Elo tuh kenapa sih, kok, cemas banget!"
"Dia itu personel Jagad, Andela. Jagad!" "Iya ... gue juga tau! Terus kenapa? Elo sendiri
pacaran ama Boby. Emangnya dia bukan dari sekte Jagad, hah?!"
"Diem!" teriakku memotong kegilaan pertengkaran mereka. "Bisakah kalian diam dan bicarakan hal ini baik-baik?" Aku menatap mereka dengan serius.
Shania dan Andela kembali pada posisinya. Mereka masing-masing mendengus, dan mencoba tenang.
"Oh, jadi semua cewek di sini mulai menyukai cowok-cowok Jagad itu, hah?!"
Semuanya terdiam begitu kulontarkan pertanyaan barusan dan saling melirik.
"Bisakah untuk sekarang kita melupakan mitos bahwa Tweenies itu bermusuhan dengan Jagad? Bisakah yang namanya Tweenies itu berteman sama Jagad? Nggak akan kiamat kan, kalo Tweenies temenan ama mereka?"
Semua orang diam, menunduk dan nggak berani merespons pertanyaanku. Lalu, tiba-tiba muncul kata truth or twist dalam benakku.
Aku belum memainkan giliranku. Kenapa nggak kutanyakan aja tentang Jagad, ya?
"Oke, giliranku. Jawab dengan jujur atau berputar dua ratus putaran, bukan dua puluh. Pertanyaannya ... gimana kamu memandang Jagad sekarang, apakah mereka pantas untuk kita jadikan teman, sebenernya mereka itu gimana menurut yang kamu tau, dan ... apakah ada saran untuk memperbaiki hubungan kita dengan ... Jagad?"
"Banyak banget soalnya," protes Shania.
"Kalau gitu, aku menunggumu berputar dua ratus
putaran beserta lagu keroncong dari radio," sambutku sinis, mencoba membuat setiap cewek menjawab sesuai hatinya.
Oke, yang berada di kananku adalah Andela. Aku dan Shania langsung meliriknya.
"Hm ... first, gue ngeliat Jagad sebagai geng cowok yang patut kita kasihani karena otaknya bodoh, terkenal karena keburukannya, dan sering kena razia BP. Jagad juga kumpulan cowok jomblo hanya karena pemimpinnya jijik banget dengan makhluk berspesies cewek," Andela menghela napas.
"Second, mereka sangat pantas kita jadikan teman. Kenapa nggak? Selama ini kita sudah dicap sebagai geng yang kocak, berbakat, terampil, en-ter-tain, rajin menabung, dan low profile. Gue garis bawahin, tow profile. Artinya, kita benar-benar down to earth and 'no problemo' with all kind of human in this world. Kita seharusnya bisa me-nerima Jagad bagaimanapun juga, karena itu ... karena itu nggak ada salahnya."
"Third. Gue nggak terlalu tau gimana sosok Bison juga Rimba. Hanya, seminggu ini, se-enggak-nya gue lebih tau gimana personality, Hamids. Sejujurnya, menurut gue, Hamids itu cowok yang baik, dan nggak bodoh-bodoh amat. Hamids itu cowok yang kocak, baik, perhatian, dan ... hihihi cute and handsome. Kalian mungkin nggak akan nyangka kalo ternyata Hamids ngelindungin gue dari preman jalanan empat hari lalu. Dia bener-bener perhatian. Oh ... di mana lagi gue bisa nemu cowok seperhatian dia. Inget, lho! Dia bener-bener perhatian!"
"Last, gue nggak punya saran, tapi gue mohon, gue pengin kita baikan ama Jagad. Kalo bisa sih ... ama tiga geng yang laen juga. Plis ... kita tuh sekarang naik ke kelas tiga. Gue nggak mau tahun terakhir gue, diisi dengan macam-macam persaingan, rival-merival, bermusuhan. Gue nggak mau. Jujur aja, bukan cuma ama Jagad gue pengin baikan. Ama yang laen juga."
Aku dan Shania kontan memeluk Andela. Benar juga kata-katanya. Untuk apa kita mengisi tahun terakhir di sekolah dengan bermusuhan?
"Oke ... giliran gue," ucap Shania, lirih, bahkan kurasakan dia mulai terisak menangis. Sepertinya, kata-kata Luna tadi menyentuh hatinya. "Kahiji, gue mandang Jagad ... gue teh ngeliat mereka, sebagai kumpulan cowok ganteng yang terkenal lantaran bodoh."
"Kadua, Jagad ... teh pantes kita jadiin temen. Bener. Gue mah malahan pengin temenan ama Jagad. Kenapa sih, kita teh mesti ngejauhin Jagad cuma karena mereka suka ngejek kita. Lagi pula, sedalem-dalemnya mereka ngejek kita, toh kita tetap bersinar di mata ratusan siswa beserta guru di sekolah. Kita tetap mempunyai fans club," Shania menghela napas. "Ingetin gue buat ngajuin proposal ke kepsek buat ngebangun sanggar Tweenies, oke!" tambah Shania, intermezzo.
Aku dan Andela mengangguk sambil tersenyum.
"Ketiga, gue juga cuma bisa ngebahasBoby Yang laennya sih, gue nggak tau. Menurut gue mah ... Ricky tuh, cute . Bobytuh bodoh karena
dibuat-buat, bukan bodoh beneran. Si eta mah cuma bercanda selama ini. Bener, dia nggak bodoh. Terus, Boby tuh, humoris banget. Ih, ngegemesin, deh. Waktu gue jalan ama dia, dia ngelawak terus! Ya tentu aja gue teh geli men-dengarnya. Ngegemesin weh lah. Te-o-pe be-ge-te. Plus ... tentunya ganteng banget. Mukanya manis. Lucu. Nggak kukuuu ....!"
Shania memeluk-meluk dirinya. Aku dan Andela mengerutkan alis, heran!
"Oke, kaopat. Gue nggak punya saran buat kita bisa baikan ama mereka. Tapi, gue juga pengin baikan ama mereka, sama kayak Andela. Baikan sama yang laennya juga. Supaya, tahun terakhir kita teh bener-bener so sweet. Dan, oh iya, Boby udah minta maaf ama kita, lho! Dia minta maaf karena udah ngerepotin kita. Bener. Atas nama Jagad pula. Dan ... dia katanya titip salam buat kalian. Salam buat Andela dan Ve juga, ya ... katanya."
Langganan:
Postingan (Atom)
