Jumat, 30 September 2016

Palasik

Palasik adalah makhluk supranatural yang dipercaya oleh masyarakat Minang kabau. Palasik ini berwujud manusia yang memiliki ilmu hitam jahat tingkat tinggi. Palasik juga sama seperti manusia pada umumnya, mereka memiliki pasangan dan berkeluarga lalu memiliki keturunan. Yg kemudian anak dari palasik tersebut akan menjadi palasik pula. Palasik suka memangsa bayi, yang baru lahir, dan bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun dapat di incar oleh palasik. Pada zaaman dahulu, kalau ada bayi yang sakit, maka hal pertama yang terbesit dalam fikiran keluarganya adalah palasik. Pada zaman yang sudah serba modern ini, mungkin sudah tidak ada lagi hal hal seperti itu. Namun percaya atau tidak, palasik masih ada. namun sudah tak sesadis zaman dahulu. Sudah tidak sefenomenal dahulu. Nenek moyang zaman dahulu menyebutkan, Untuk mengetahui jika manusia itu adalah palasik atau bukan, bisa dilihat di wajah palasik tersebut. palasik tidak mempunyai parit di antara hidung dan bibir. dan juga, pada cerita zaman dahulunya, jika wanita yang sedang membawa seorang bayi berjumpa dengan palasik, maka jangan lari, melainkan dekatilah si palasik sembari menuntun tangan si palasik ke bayi dan katakanlah bahwa "ini adalah cucumu", jika wanita tersebut menghindari palasik tersebut, maka dapat dipastikan anaknya akan meninggal secara perlahan. Berikut contoh kisah nya: Dahulu kala di daerah Baso, Agam Sumatra Barat, terdapatlah sebuah rumah, atau lebih tepatnya bisa disebut gubuk, berukuran kecil yang mana hanya ada 1ruang tamu, dan 1kamar tidur di persimpangan jalan menuju daerah Baso. Disana hidup sepasang suami istri yang sudah memasuki umur 60an. Suaminya bernama Adam, dan istrinya berna Liyah. Mereka tidak dikarunia seorang anak pun. Rambut kedua pasangan itu sudah memutih, kulit keriput, dan gigi tinggal beberapa buah saja. Pada suatu hari, datanglah sepasang suami istri dari rantau yang hendak menanyakan alamat kepada bapak Adam, bapak Adam mempersilahkan pasangan dari rantau tersebut untuk masuk kerumah beliau terlebih dahulu. "Siapa namamu nak?" Tanya bapak adam kepada orang rantau tersebut setalah mereka dipersilahlan duduk. "Saya Satria Pak, dan ini istri saya Intan" "Kami sedang menuju kerumah Datuak Koto Nan Kayo, tapi kami kesulitan untuk menemukannya. Maklum Pak, saya sudah hidup dirantau sejak umur 5tahun." Lanjut Satria lagi setelah memperkenalkan dirinya dan istrinya. ibu Liyah datang sambil membawakan 3gelas air putih, lalu kemudian menaruhnya di hadapan Bapak Adam, Satria, dan istrinya Intan. "Ini minumlah dulu, mungkin kalian lelah sudah menempuh perjalanan jauh. Nak Satria merantau didaerah mana?' tanya ibu Liyah. "Saya merantau di Medan buk, sudah 20tahun lebih disana, mengikuti dagang orang tua" jawab Satria sambil tersenyum lega setelah menelan stengah gelas air putih yang disuguhkan oleh Ibu Liyah. "Ini istri kamu, Intan ya, tadi ibu dengar dari dapur, udah isi berapa bulan?" Tanya ibuk Liyah kepada Satria dan Intan sambil berusaha ingin memegang perut Intan yang tengah hamil 7bulan. "Sudah 7 bulan bu" jawab Intan cepat sambil berusah menghindarkan kontak langsung ibu Liyah terhadap dirinya. Jujur saja, dia agak risih jika ada orang yang tidak ia kenal menyentuhnya. Ibu Liyah sadar betul akan hal itu, namun ia masih tetap saja berusaha untuk melakukan kontak langsung dengan Intan. Hingga membuat Satria angkat bicara. "Maaf buk, istri saya emang lagi suka aneh-aneh, kadang dia juga gak suka disentuh ama saya, maklum, bawaan kehamilan" ucap Satria ramah mencari alasan kepada Ibu Liyah. Setelah beberapa saat berbincang-bincang dan akhirnya mendapatkan alamat yang akan ditujunya, Satria pun hendak izin untuk pergi. "Maaf pak, Buk, kita harus pergi, udah mau magrib, kita berangkat dulu ya." Satria dan Intan keluar dari rumah tersebut, yang diantar oleh Bapak Adam dan Ibu Liyah. Dan tak lupa juga Satria mengucapkan terimakasih. Hingga akhirnya mereka masuk kemobil dan pergi meninggalkan rumah Bapak Adam tersebut. Diperjalanan menuju rumah Datuak Koto Nan Kayo, terjadilah suasana keheningan diantara Satria dan istrinya. "Kenapa Tan? Kok diem aja?" Ucap Satria masih fokus mengemudi di jalanan yang terlihat sepi dan mulai gelap. "Gapapa Bang, cuma berasa kayak ada yang aneh aja" jawab Intan tanpa melihat suaminya. "Hmmm ga usah difikirkan, namanya juga di tempat baru, jadi ya wajarlah." Ucap Satria sambil mengenggenggam tangan kanan istrinya untuk menenangkannya. Walaupun sebenarnya dalam diri Satria pun ia juga merasakan hal yang sama. Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Datuak Koto Nan Kayo. mereka telah dinanti oleehh Datuak dan keluarga Datuak disana. "Lama sekali? Tersesat ga?" Ucap Datuak kepada Satria ramah setelah mereka berjabat dan berpelukan, dan telah disuruh masuk ke dalam rumah. Sekarang mereka berada di ruang tamu, sambil duduk melingkar dengan semua anggota keluarga Datuak. "Ah tidak Datuak, tadi saya dikasih petunjuk sama Bapak-bapak, nama Beliau Bapak Adam" jawab Satria. Seketika raut wajah Datuak berubah, "Bapak Adam?" tanya Datuak memastikan. "Iya, kenapa emangnya Datuak?" Tanya Satria melihat kecemasan Datuak. "Ah tidak apa-apa, tidurlah bersama-sama diruangan ini nanti ya." Ucap Datuak menghilangkan kegelisahan Satria. Satria pun menyetujuinya, tanpa mempertanyakan apa apa lagi. bincang-bincangpun berlanjut hingga jam 10, mereka pun memutuskan untuk tidur bersama-sama dengan mengkondisikan ruangan. Pada saat sudah memasuki dini hari, tiba-tiba berhembuslah angin yang sangat kencang hingga menghempaskan pintu antara ruangan utama dengan ruangan dapur. Sehingga membuat Intan terbangun. Samar-samar dari gorden jendela ia bisa melihat seraut wajah Bapak Adam dan Ibu Liyah. namun sayangnya hanya ada kepala dan lehernya saja, Spontan ia berteriak sehingga membangunkan Adam dan keluarga Datuak. "Kenapa?" Tanya Satria sambil memeluk istrinya yang sedang gemetaran menangis ketakutan. "Di jendela.." ucap istrinya tak sanggup melihat ke arah jendela yang menampakan potongan kepala dan leher tersebut. Semua mata mengarah ke arah jendela, banyak ekspresi yang keluar, ada yang takut, terkejut, syok dan sebagainya. Satria yang melihat hal tersebut hanya bisa terus istigfar mengucap nama Allah sambil terus menenangkan istrinya. Suasana semakin mencekam, angin semakin kencang berhembus, kepanikan semakin menjadi. Datuak Koto Nan Kayo, segera membacakan doa-doa, agar makhluk tersebut pergi. Setelah beberapa saat, angin pun mulai kembali berhembus normal, dan makhlus tersebut sudah tidak terlihat lagi di jendela. Suasana kembali berangsur-angsur netral. "Itu tadi palasik, dia mengincar janin yang ada dalam kandungan istrimu." Ucap Datuak kepada Satria memecah keheningan. Satria terkejut teramat sangat, hingga tak mampu berkata-kata lagi. bagaimana tidak, makhluk yang disebut palasik tersebut mengancam nyawa calon buah hatinya bersama Intan." "Besok kamu dan istrimu haruslah segera meninggalkan kampung ini, kembali saja lah ketanah rantau. Bisa bahaya jika kau tetap disini" ucap Datuak lagi kepada Satria. "Apakah anak saya akan baik-baik saja Datuak?" Tanya Satria khawatir. "InsyaAllah, maka dari itu, kau harus tinggalkan kampung ini, agar palasik yang ada di daerah ini tidak mengincar dan kemudian menghisap darah anakmu." "Datuak akan buatkan penangkalnya, agar palasik tidak mengikutimu" lanjut Datuak. "Besok kau sudah harus tinggalkan kampung ini, kembalilah saat anakmu sudah besar nanti" ucap Datuak sambil mengusap bahu Satria. "Baik Datuak, besok saya akan langsung kembali ke Medan. Terimakasih Datuak" lanjut Satria kemudian mencium tangan Datuak. Sampai menjelang subuh pun, Satria masih terjaga, ia benar-benar khawatir terhadap calon anak dan istrinya. Hingga saat setelah sholat subuh, barulah Satria tertidur. Pada pagi menjelang siangnya, Satria dan Intan bersiap-siap untuk balik ke tanah rantau asalnya. Semua rencana untuk bersilaturrahmi dengan keluarga terpaksa disudahi. Setelah diberikan penangkal palasik, Satria dan Intan pun pergi, kembali ke Medan, dengan tidak melewati jalan di dekat rumah Bapak Adam dan Ibu Liyah. Mereka dilepas oleh Datuak dan keluarganya. Satria dan Intan pun kembali hidup seperti sedia kala, mereka telah dikarunia seorang putra. Biarlah kisah palasik tersebut menjadi kisah mistis yang pernah menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan mereka.

Rabu, 04 Mei 2016

Pembahasan Singkat Tradisi-Tradisi dalam Komunikasi


1.       Tradisi Sibernetika
Teori ini memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini komunikasi sebagai proses informasi dan masalah yang banyak dihubungkan dengan keramaian, kelebihan beban, dan malfungsi. Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Sistem ini bersifat terbuka, sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistem. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

Tradisi ini juga nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran, rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.
2.       Tradisi Retorika
Tradisi retorika awalnya diajarkan oleh seorang ahli fisika dan filsuf Yunani, Aristoteles.  Aristoteles adalah orang pertama yang mengembangkan ketrampilan mengenai komunikasi publik. Retorika menurut Aristoteles bertujuan untuk mempersuasi, dan tidak diartikan sebagai alat untuk memprovokasi/menyuap bahkan memaksa audien. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasif  yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.
Tradisi Retorika adalah ilmu mengolah kata dengan tujuan mempersuasif, seni membangun argumentasi dan seni berbicara yang berorientasi pada pendekatan logis dan emosional dimana komunikan menggunakan seni dan metode dalam mempengaruhi komunikator.

Pada awalnya, tradisi retorika berhubungan dengan persuasif atau penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian berkembang mencangkup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
3.       Tradisi Semiotik
Tradisi ini memfokuskan pada tanda-tanda dan simbol-simbol. Komunikasi dipandang sebagai sebuah jembatan utama kata-kata yang bersifat pribadi. Tanda-tanda atau simbol-simbol yang ada mendatangkan sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin dibagi. Tradisi ini memang cocok untuk memecahkan masalah, kesalahpahaman, dan respon-respon subyektif. Tradisi ini juga banyak memperdebatkan bahasa yang meliputi tanda, simbol, makna, referensi, kode, dan pemahaman. Contoh: suhu tubuh yang panas bahwa tubuh itu terkena infeksi.
Semiotik atau penyelidikan simbol-simbol membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi,perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda  tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi,melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.
4.       Tradisi Sosial Budaya
Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasiberlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan kebudayaan suatu masyarakat. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.
Teori ini lebih menekankan gagasan dan tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
5.       Tradisi Kritis
Tradisi Kritis (komunikasi adalah refleksi penolakan terhadap wacana yang tidak adil).Tiga asumsi dasar tradisi kritis: Menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif. Ilmuwankritis menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang dalam konteks. Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap struktur-struktur yang seringkali tersembunyi.
Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah. Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia. Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi masyarakat yang lemah.
Tradisi ini berakar pada tradisi pemikiran The Frankfurt School ini menempatkan praktekkomunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan. Penguasa menjadikanmedia komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di sini tidak hanya pemerintah tetapi jugapara pemilik media sebagai Wacana kritis dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnyakesadaran, emansipasi, kekuasaan dan dominasi.
6.       Tradisi Fenomenologi
Teori-teori dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif mengintepretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Teori ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.
Komunikasi dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini. Dan hal ini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang timbul yang mengakibatkan terkikisnya hubungan yang sudah kuat. Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak.
7.       Tradisi Sosio Psikologi
Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatian antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. perhatian pada perubahan sikap (attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Kasus lain seperti komunikasi persuasi. Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak.


Senin, 25 April 2016

Ekologi Media

Teori Media Ekologi
Media ekologi merupakan studi tentang bagaimana media dan proses komunikasi mempengaruhi persepsi manusia, perasaan, emosi, dan nilai teknologi yang mempengaruhi komunikasi melalui teknologi baru. Media Teori Ekologi berpusat pada prinsip-prinsip bahwa masyarakat tidak bisa lepas dari pengaruh teknologi dan teknologi yang akan tetap pusat untuk hampir semua lapisan masyarakat.
Konsep dasar teori ini pertama kali dikemukakan oleh Marshall McLuhan (1964). Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh mentornya, ekonom berkebangsaan Canada, Harold Adams Innis (1951). Menurut Marshall McLuhan, media elektronik telah mengubah masyarakat secara radikal. Masyarakat sangat bergantung pada teknologi yang menggunakan media dan bahwa ketertiban sosial suatu masyarakat didasarkan pada kemampuannya untuk menghadapi teknologi tersebut. Media membentuk dan mengorganisasikan sebuah budaya. Ini yang disebut Teori Ekologi Media. McLuhan juga menyatakan bahwa kita memiliki hubungan yang sifatnya simbiosis dengan teknologi yang menggunakan media. Manusia menciptakan teknologi, dan sebaliknya teknologi tadi membentuk manusia. Inilah yang menjadi konsep dasar dari teori ekologi media.

Asumsi dari Teori Media Ekologi
            telah tercatat bahwa pengaruh media teknologi di masyarakat adalah ide utama di balik Media Teori Ekologi. Berikut beberapa asumsi dari teori media ekologi :
·         Media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat.
Kita tidak dapat melarikan diri dari media. Media mengontrol, mengendalikan dan mempengaruhi prilaku masyarakat, melalui media cetak maupun elektronik, masyarakat terhipnotis, sehingga terpengarah opini yang dibentuk media. McLuhan menyebut angka, permainan, dan uang sebagai mediasi. Media-media ini mentransformasi masyarakat kita melalui permainan yang dimainkan, radio yang didengarkan, atau TV yang ditonton. Pada saat bersamaan, media bergantung pada masyarakat untuk pertukaran dan evolusi. Jadi intinya, Dalam berkomunikasi, manusia mungkin saja tidak menggunakan media massa. Tetapi mereka tidak dapat menghindarkan diri dari berkomunikasi dengan menggunakan suara, kata, isyarat, yang memediasi mereka dalam menyampaikan pesan (baca: medium).

·         Media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita.
Media melihat media sebagai sesuatu yang langsung mempengaruhi manusia. manusia secara langsung dipengaruhi oleh media.  Cara manusia memberi penilaian, merasa, dan bereaksi cenderung dipengaruhi oleh media. Dalam asumsi ini McLuhan menilai media cukup kuat dalam membentuk pandangan kita atas dunia. Kita tanpa sadar termanipulasi oleh TV. Sikap dan pengalaman kita secara langsung dipengaruhi oleh apa yang kita tonton di TV.


·         Media menyatukan seluruh dunia.
McLuhan menggunakan istilah desa global (global village) untuk mendeskripsikan bagaimana media mengikat dunia menjadi sebuah sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Yang mana setiap pertistiwa atau hal yang dilakukan di belahan dunia lain, dapat diketahui atau menjalar ke belahan dunia lain.  media elektronik, khususnya, memiliki kemampuan untuk menjembatani budaya-budaya yang tidak akan pernah berkomunikasi sebelum adanya koneksi ini.

Sejarah Media
1.      Era Tribal
Orang belum mengenal tulis menulis. Di masa ini, menurut McLuhan, budaya berpusat pada telinga. Orang mendengar tanpa memiliki kemampuan untuk menyensor pesan-pesan. Konteks komunikasi hanya bersifat tatap muka.Ini yang membawa masyaraka kolektif.
2.      Era Melek Huruf
Zaman ini komunikasi sudah  menggunakan tulisan dan mata menjadi organ indra yang dominan. Era  ini ditandai dengan pengenalan abjad. Konteks komunikasi sosial sudah bersifat tidak langsung karena dapat diwakili oleh tulisan.
3.      Era Cetak
Di era ini McLuhan menyebut buku sebagai “mesin pengajar pertama”. Segala macam tulisan dapat diduplikasi dengan jumlah yang banyak. Di era ini teknologi yang utama adalah percetakan dengan mengandalkan penglihatan sebagai indera yang dominan.
4.      Era Elektronik
Era dimana media elektronik melingkupi semua indra kita,memungkinkan orang-orang di seluruh dunia untuk terhubung dalam waktu yang bersamaan.

Medium Adalah Pesan
ini adalah slogan dari Teori Ekologi Media  Frase tersebut merujuk pada kekuatan dan pengaruh medium terhadap masyarakat, bukan isi pesannya. Akan tetapi McLuhan tidak mengesampingkan pentingnya isi. Medium mampu mengubah bagaimana kita berpikir mengenai apapun.


Memperkirakan Temperatur: Media Panas & Media Dingin
Untuk memahami perubahan structural besar dalam pandangan hidupa manusia (McLuhan, 1964, hal VI) McLuhan mengklasifikasikan media menjadi 2 jenis yaitu:
1.      Media Panas.
Media Panas (Hot Media) adalah media yang menuntut sedikit dari pendengar, pembaca atau para penonton. Pada intinya, manusia tidak dituntut apa-apa hanya menikmati yang sudah ada.
2.      Media Dingin
Media Dingin (Cool Media) adalah media yang membutuhkan proses pelengkapan atau membutuhkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi. media ini menuntut khalayak untuk memaknai setiap hal yang disuguhkan oleh media dan melengkapinya sehingga khalayak mengerti apa maksud dari media tersebut.

Lingkaran Telah Sempurna: Sebuah Tetrad
Dengan putranya, Eric McLuhan, McLuhan mengembangkan sebuah cara untuk melihat lebih jauh ke dalam efek teknologi terhadap masyarakat. Perluasan teorinya mencakup hukum media. McLuhan telah meneliti adanya pergeseran yang cukup significant terhadap ketertarikan manusia pada setiap era. Hukum tersebut dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1.      Apakah yang ditingkatkan oleh media?
hukum yang menyatakan bahwa media menegaskan atau memperkuat masyarakat. peningkatan dalam masyarakat yang memperkuat tingkat kecerdasan, eksistensi dan bahkan pla hidupnya. Pegeseran tersebut membuat manusia sangat peka terhadap tekhnologi.
2.      Apakah yang dibuat ketinggalan zaman oleh media?
pada masa tertentu, tekhnologi yang kita kuasai tiba-tiba akan menjadi sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman.
3.      Apakah yang diambil kembali oleh media?
terjadinya proses pengambilan kembali sesuatu yang pernah ada kemudian hilang kemudian mengalami pembaharuan, perbaikan dan penyempurnaan.
4.      Apakah yang diputarbalikkan oleh media?

berbicara tentang media bisa jadi sumber malapetaka dan bisa menjadi malaikat penolong bagi penggunanya. media akan menghasilkan atau menjadi sesuatu yang lain jika didorong mencapai batasnya.

Minggu, 13 Maret 2016

Publik Relations Menghadapi Perilaku Media yang kadang Kurang Beretika


Di satu saat, wartawan bisa amat sangat dibutuhkan, baik oleh orang per orang, perusahaan atau institusi, bila memang menyangkut publikasi. Namun di saat lain, ia malah sengaja dihindari, dipukul atau bahkan diancam untuk dibunuh.

Berita buruk di media massa kerap kali menerpa perusahaan besar yang sudah berkaliber nasional.
yang kemudian citra perusahaanlah yang menjadi taruhannya. apa lagi zaman sekarang sudah banyak peusahaan-perusahaan baru yang akan menjadi penyaing perusahaan yang sudah ada.
Ketika menghadapi crisis management yang menyangkut citra perusahaan, seorang PR harus benar-benar mengerti duduk permasalahannya seperti apa. Yaitu bagaimana menyelamatkan citra. Bukan menilai siapa yang harus disalahkan dan menyalahkan.

Dalam hubungan PR dengan media, lobbying PR benar benar dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan wartawan. Unsur cepat, tepat dan akurat dalam menghadapi wartawan harus menjadi insting tajam seorang PR.
Dalam menghadapi media, selain lobbying, PR sebagai representasi perusahaan harus bisa menampakkan diri menjadi bagian baik dari perusahaan. Salah satunya, bisa dengan menggandeng pihak-pihak luar yang terlibat dalam krisis tersebut. Termasuk pihak luar yang berseteru dengan perusahaan. Intinya, itikad baik untuk menyelasaikan krisis harus bisa ditampilkan PR.

Dalam buku Public Relations Techniques that Work, Jim Dunn memberikan tips-tips penting ketika berhadapan dengan para wartawan :

1. Respon pertanyaan media dengan kompeten dan profesional
Para awak media, termasuk para kontributor, bisa menghadang dan memberondong banyak pertanyaan kepada Anda kapan dan di mana saja. Pastikan bahwa seluruh pertanyaan yang relevan mendapatkan respon yang sesuai dan professional.

2. Respon cepat pada panggilan media
 Bila deadline merupakan musuh para media, maka informasi yang akurat beserta aksesnya adalah ladang ‘emas’ bagi para awak media. Pastikan Anda segera merespon ketika mendapat panggilan dari media. Jangan lupa seluruh informasi penting yang perlu disampaikan kepada media sudah ada di tangan Anda.

3. Tidak ada kata “off the record” dalam wawancara
Meskipun masih menjadi perdebatan, hindari “off the record” dalam wawancara karena bisa menimbulkan persepsi bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu. Bila Anda tidak ingin media mengetahui lebih lanjut, jangan beritahu mereka.

4 Hindari memberikan informasi yang bersifat prediktif
Sudah tugas media untuk melaporkan fakta-fakta, maka berikan informasi yang berdasarkan fakta serta hindari informasi yang prediktif. Spekulasi fakta akan merugikan Anda bila nantinya para awak media menemukan fakta yang berbanding terbalik dengan spekulasi Anda.