1. Tradisi
Sibernetika
Teori ini
memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat
di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam
hal ini komunikasi sebagai proses informasi dan masalah yang banyak dihubungkan
dengan keramaian, kelebihan beban, dan malfungsi. Tradisi ini berkaitan dengan
proses pembuatan keputusan. Sistem ini bersifat terbuka, sehingga perkembangan
dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistem.
Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan,
hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
Tradisi ini juga
nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran,
rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam kontek
ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini.
Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori
informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal
dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.
2. Tradisi
Retorika
Tradisi retorika
awalnya diajarkan oleh seorang ahli fisika dan filsuf Yunani, Aristoteles. Aristoteles adalah orang pertama yang
mengembangkan ketrampilan mengenai komunikasi publik. Retorika menurut
Aristoteles bertujuan untuk mempersuasi, dan tidak diartikan sebagai alat untuk
memprovokasi/menyuap bahkan memaksa audien. Sehingga, dapat diambil kesimpulan
bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun
sebuah presentasi atau pidato persuasif
yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.
Tradisi Retorika
adalah ilmu mengolah kata dengan tujuan mempersuasif, seni membangun
argumentasi dan seni berbicara yang berorientasi pada pendekatan logis dan
emosional dimana komunikan menggunakan seni dan metode dalam mempengaruhi
komunikator.
Pada awalnya,
tradisi retorika berhubungan dengan persuasif atau penyusunan argumen dan
pembuatan naskah pidato. Kemudian berkembang mencangkup segala cara manusia
dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk
membangun dunia tempat mereka tinggal.
3. Tradisi
Semiotik
Tradisi ini
memfokuskan pada tanda-tanda dan simbol-simbol. Komunikasi dipandang sebagai
sebuah jembatan utama kata-kata yang bersifat pribadi. Tanda-tanda atau
simbol-simbol yang ada mendatangkan sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin
dibagi. Tradisi ini memang cocok untuk memecahkan masalah, kesalahpahaman, dan
respon-respon subyektif. Tradisi ini juga banyak memperdebatkan bahasa yang
meliputi tanda, simbol, makna, referensi, kode, dan pemahaman. Contoh: suhu
tubuh yang panas bahwa tubuh itu terkena infeksi.
Semiotik atau
penyelidikan simbol-simbol membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori
komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana
tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi,perasaan, dan
kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat
komunikasi,melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif
yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.
4. Tradisi
Sosial Budaya
Tradisi sosial
budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasiberlangsung dalam
kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan kebudayaan suatu
masyarakat. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi
ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.
Teori ini lebih
menekankan gagasan dan tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana
masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial,
organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang
diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
5. Tradisi
Kritis
Tradisi Kritis
(komunikasi adalah refleksi penolakan terhadap wacana yang tidak adil).Tiga
asumsi dasar tradisi kritis: Menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial
interpretif. Ilmuwankritis menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang
dalam konteks. Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap
struktur-struktur yang seringkali tersembunyi.
Tradisi ini
berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan
di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa
komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang
kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi
mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang
lemah. Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal
maupun komunikasi bermedia. Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap
kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi
masyarakat yang lemah.
Tradisi ini
berakar pada tradisi pemikiran The Frankfurt School ini menempatkan
praktekkomunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan.
Penguasa menjadikanmedia komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di
sini tidak hanya pemerintah tetapi jugapara pemilik media sebagai Wacana kritis
dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnyakesadaran, emansipasi, kekuasaan
dan dominasi.
6. Tradisi
Fenomenologi
Teori-teori
dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif
mengintepretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan
pengalaman pribadinya. Teori ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.
Komunikasi
dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog.
Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini.
Dan hal ini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi
permasalahan-permasalahan yang timbul yang mengakibatkan terkikisnya hubungan
yang sudah kuat. Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam
keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan
tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana
proses yang berlangsung dalam diri khalayak.
7. Tradisi
Sosio Psikologi
Teori-teori yang
berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatian antara lain pada
perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana
individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang
diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi,
media, budaya dan masyarakat.
Berangkat dari
Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. perhatian pada perubahan sikap
(attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya
perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan
menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Kasus lain seperti komunikasi persuasi.
Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak.