Tweenies
KENTANG goreng yang hangat, beserta saus yang kurang enak. Yeaks! Kupikir, memakan kentang goreng saja lidahku nggak akan marah. Oh, sumpahnya, aku benci dengan saus seperti ini. Terlalu banyak bawang putih dan keencerannya membuatku jijik! Tapi, Andela sepertinya asyik dengan semangkuk kecil saus yang disediakan di depannya.
"Udah kubilang saus itu nggak enak,Ndel ," aku mencoba memperingatinya.
"Gue juga udah bilang gue mah nggak peduli," Andela kembali mengecap saus yang menempel di kentangnya.
Wueks.
Andela,
hari ini kamu menyebalkan!KENTANG goreng yang hangat, beserta saus yang kurang enak. Yeaks! Kupikir, memakan kentang goreng saja lidahku nggak akan marah. Oh, sumpahnya, aku benci dengan saus seperti ini. Terlalu banyak bawang putih dan keencerannya membuatku jijik! Tapi, Andela sepertinya asyik dengan semangkuk kecil saus yang disediakan di depannya.
"Udah kubilang saus itu nggak enak,Ndel ," aku mencoba memperingatinya.
"Gue juga udah bilang gue mah nggak peduli," Andela kembali mengecap saus yang menempel di kentangnya.
Wueks.
Siang yang terik, second break, aku dan kedua sobatku sedang menikmati makan siang yang
sausnya nggak enak. Tadi, kubilang sama mereka agar memesan mi bakso saja. Tapi, alasan diet yang dilontarkan keduanya membuatku enggan ngantre beli semangkuk mi bakso. Dan entah mengapa, ada ide gila dari Andelangorder semangkuk besar kentang goreng beserta sausnya yang satu bulan lalu dia katakan sendiri, "Saus terburuk yang pernah gue makan."
Oke, lupakan saja saus itu karena nggak akan membuat Andelamenghentikan aksi gilanya. Aku pun sepertinya nggak akan pernah melirik lagi mangkuk kecil merah itu.
Aku meluruskan pandangan, menatap seluruh isi kantin. Hari ini penuh banget oleh beberapa geng yang sedang asyik dengan obrolan aneh mereka. Dan, lima geng berpengaruh untuk level kelas dua, ada di kantin semuanya.
Satu meja di depan kami adalah tempat berkumpulnya tujuh cowok berbingkai, yang terjun di dunia teknologi. Mereka menamakan dirinya Kompilasi KOMPutev, infomasi, LAyar monitor, dan Situs resmi.
Nama dan singkatan yang bagus buatku. Cuma sayang, mereka hanya mengutak-atik web server room seharian, yang letaknya di samping lab bahasa. Pulang sekolah, sebelum sekolah, siapa pun bisa menemukan ketujuh cowok ini sedang mengoperasikan komputer di ruangan itu. Terkadang, aku pun menemukan mereka sedang mereparasi komputer. Mereka adalah pembuat situs resmi sekolah, sekaligus montir resmi seluruh komputer
yang ada di sekolah ini.
Dua meja di samping mereka, duduk lagi lima cewek menyebalkan yang tertawa-tawa buat hal yang nggak penting. Mozon-Model Zone.
Lima orang cewek tinggi, kurus, cheerleader, dan masing-masingnya adalah model di lima majalah berbeda. Nggak absen setiap minggu kalo bukan karena mengikuti fashion show di luar kota. Sayangnya, mereka high profile. Mereka berjalan dengan dagu diangkat, dan nggak peduli orang orang di bawahnya. Dan tiga bulan terakhir, mereka hanya berinteraksi di antara mereka berlima, sama sekali nggak menggubris ratusan murid lain di sekitarnya. Benar-benar geng cewek som-bong yang menyebalkan!
Tiga meja di belakang Mozon, berkumpul pula lima cewek menyebalkan berikutnya. Rebonding Galz.
Cewek sombong yang bodoh.
Tinggi mereka nggak ada yang melebihi 160 cm, namun lagaknya seperti model bertinggi tiga meter. Based on their name, rambut mereka lurus semua. Lima orang berbeda berambut lurus. Yang satu chubby, di sampingnya pendek, sampingnya lagi jerawatan, di depannya Betty la Fea, dan kirinya pucat pasi. Kekuatan mereka hanya pada harta yang melimpah. Satu di antaranya punya mobil, dan mereka selalu make mobil itu ke-mana-mana. Keliatan banget come from deso-nya.
And then, dua meja di samping Rebonding Galz, ke-mudian mundur satu meja, ada kelompok
keempat yang terdiri dari tiga cowok menyebalkan.
Jagad. Bukan singkatan. Pimpinannya adalah Keynal Putra Junior, anak-nya Mr. Hadegia Senior, yang menyebut dirinya Bison. Kemudian temannya, Boby Chaisara si Rimba, dan Hamids si Alam. Tiga kombinasi aneh antara Bison, Rimba, dan Alam, yang berikutnya dinamakan Jagad. Apa hubungannya coba?!
Si Bison tajir banget, plus ganteng banget. Every girls here love him, nggak terkecuali Mozon. Hanya, yang namanya Keytuh, cuek and judes banget! Key benci beberapa jenis cewek. Dan sepertinya, fans dia hanya didominasi cewek-cewek pemimpi.
Bukan gue banget!
Satu kelompok lagi. Influence in prestise,and everyone love them. Mereka adalah ....
Kami. Aku, simodis Andela, dan si centil Shania. Jangan heran, kami adalah geng yang kocak, cantik, berprestasi, dan low profile. Kami termasuk anak rajin, berbakat, juga entertain. Dan yang menarik dari kami adalah, kami bertiga hampir kembar. Tinggi kami semua 170 cm. Kulit kami putih. Badan langsing, dengan berat sama-sama 49 kg. Kami memiliki rambut indah yang mengembang sebahu, dan cara berjalan layaknya pageant delegates. Menurut kabar, nggak ada yang membenci kami, kecuali empat rival kami barusan. Moreover, Jagad sepertinya jijik melihat kami.
Do you know something? I really don t care. Kami terdiri dari tiga cewek yang sebetulnya berbeda tingkah laku, gaya bahasa, juga favorite
things.
Namaku Jessica Veranda, setiap orang memanggilku Ve. Keturunan Eropa-Jawa dan aku nggak pernah menggunakan kata ganti gue-elo untuk kata ganti diriku. Ucapanku terkadang kaku serta baku, dan berdasarkan poling, iam dearest among other. Saking ramahnya, saking murah senyumnya, saking low profile-nya, semua orang sangat sayang padaku. Hehehe ... doesnt mean that I am takabur. Karena terkadang aku risih. Meskipun berpikir positif, ternyata sangat jarang orang yang bersifat seperti aku.
Oooh ...so sweet I am.
Oke, pindah kesi cantik yang miripdengan ku,AndelaYuwono , keturunan Sunda Spanyol. Dia sedikit kacau dan ucapannya belepotan. Andela pengguna provider gue-elo yang sering menyisipkan bahasa Sunda di dalamnya. Lahir di Tasik, dan menamatkan SD di sana. Sunda-nya medok, dan Andela kesulitan untuk melepaskan kebiasaan itu. Andela pandai sekali bernyanyi. Dan terkadang kami menemukan dia bersikap bodoh.
Sekarang, si centil,Shania Junianatha. Keturunan Aussie-Jawa yang lama tinggal di Bandung, sehingga dia sama sekali nggak bisa berbahasa Jawa. Lain daripada Andela, Shania pengguna gue elo yang menyisipkan bahasa Inggris di dalamnya. Shania pandai menari dan berhasil lolos audisi cheerleader sekolah ini. Namun sayang, Mozon selalu memojokkannya. Dan bulan lalu, Shania
memutuskan untuk keluar. Suatu langkah yang bagus untuk menghindari stres karena memikirkan Mozon setiap hari.
She is the gorgeous one, between us.
Lalu, apa yang disebutkan orang-orang pada kami? Cukup lucu. Kami selalu dipanggil dengan ... Tweenies acava boneka teve yang tokohnya hampir kembar. Alasan mereka memanggil kami begitu, karena kalo kami berjalan bertiga, dan seseorang hendak memanggil kami dari belakang, nggak ada yang bisa membedakan kami. Bahkan, ibuku pernah tertukar menepuk bahu Shania, meskipun yang dipanggilnya aku.
"Hm ... gue pengin ke mal pulang sekolah," gumam Shania, mendengus kesal. "Oya? Kenapa? Elo pengin beli baju? Gue mah bisa aja," sahut Andela, masih mengunyah kentang bersausnya.
"Not that. Baju gue udah kebanyakan. Gue pengin ngeceng aja di mal. I need something to refresh my eyes. Ngeliat struktur tubuh manusia bikin gue mual."
"Ya-ya-ya. Gue ngerti, kok. Yuk, kita pergi!"
"Aduh, ya. Kita tuh masih sekolah gitu, lho! Masa sih, mau berangkat sekarang?" aku dan Andela langsung berkomentar bareng.
Shania yang masih keheranan, akhirnya tersenyum kecil, "Oh, iya-ya? Aduh, gue lupa euyI"
PULANG sekolah, Shania membulatkan niatnya jalan-jalan di mal. Aku dan Andela pun menemaninya. Seharusnya, kami nggak melakukan ini. Tiga hari lagi, kami ulangan umum semester dua. Dan jujur
saja, aku sendiri belum belajar minggu-minggu terakhir. Tapi, sesuai dengan apa yang kami lakukan pada semester satu walaupun sama sekali nggak belajar kami meraih peringkat sepuluh besar di kelas. Menurut perkiraanku, melakukan lagi hal itu sepertinya nggak akan membuat prestasi kami jatuh.
"Aduh, kita tuh bukannya ngapalin, malah main ke mal, sih?!" seruku begitu kami memasuki pintu besar Bandung Indah Plaza.
"Like we always do. Biasanya juga kita nggak pernah ngapalin," ungkap Andela.
"Iya, tapi ini kenaikan kelas gitu, lho!" sanggahku. Namun, nggak ada yang merespons, malah kami kemudian asyik melihat-lihat baju.
Lumayan lama, tiga jam kami putar-putar BIP. Sekitar hampir magrib, kami semua beristirahat di food court. Kupesan seporsi crepes, sedangkan Andela memesan segelas es krim, dan Shania memesan ice crepes. Ketika menyantap dinner break, kami sama sekali nggak ngobrol. Masing masing menatap orang yang berlalu-lalang sambil mengunyah santapan kami.
Tiba-tiba HP-ku bergetar, sebuah pesan baru saja diterima. Aku meletakkan crepes-ku di atas meja, dan merogoh saku rokku.
Kmu dmn? Cpt plg! Udh mim. Senin kan Uium. Nb: ada Sinka
Dari mama. Aku melirik jam, udah pukul 19.00!
Shania, Andela , aku pulang dulu, ya! Mama udah nyuruh pulang, nih."
"Elo teh mau ke mana, sih?" Shania mencoba mencegahku.
"Mamaku barusan nge-SMS, aku harus cepet cepet pulang. Sorry, ya! Aku duluan. Kalian bisa pulang berdua, kan?!" seruku cepat, menarik ransel dan membereskan crepes.
"Iya, iya ... ntar kalo ada uang receh di jalan, jangan dulu dipungut, ya! Kasih tau aja tempatnya, nanti gue nyusul," tambah Andela.
"Apaan, sih?!"
Andela hanya melambai padaku, meskipun Shania hanya tersenyum. Kulambaikan tanganku pada mereka, mengembangkan senyum yang lebar, dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan food court. Kuterobos eskalator dengan berlari. Aku berhasil keluar dari BIP dalam waktu kurang dari dua menit, kemudian langsung naik angkot kosong yang lagi mangkal.
Mengapa aku seburu-buru ini? Hihihi ...ada Sinka. Dia sepupuku yang tinggal di Bogor, dan sepertinya dia sedang melakukan ritual keluarga. Berkunjung akhir pekan.
Lagi pula, Sinka udah janji akan membawakan beberapa novel terjemahan terbaru dari Jakarta, dan aku akan nyesel kalo melewatkannya.
Angkot yang kunaiki belum maju juga. Sudah hampir sepuluh menit aku ikut menunggui angkot mencari penumpang, tapi angkot ini nggak dipenuhi seorang pun. Sopirnya juga entah yang mana.
"Neng, angkot ini mah lagi dibenerin!" seru seorang pria gemuk dari luar. Aku yang celingak-celinguk baru menyadari, kalo angkot yang kunaiki, bannya sedang diganti.
Oh-my-God! Aku salah naik angkot.
Aduh, malu, deh! Nggak ada yang lihat, kan? Hihihi ... kok, bisa ya, aku nggak nyadar kalo angkotnya lagi dibenerin!
Aku langsung turun dari angkot ini, melompat di pintu, dan berlari menaiki angkot lain yang dipenuhi penumpang.
Hehehe ... orang-orang di angkot ini nggak ada yang tau kan, barusan aku salah naik angkot?!
Aku Pengin Notebook!
AKU membuka pintu cepat-cepat, dan langsung menyambar Sinka. Kututup telinganya dari belakang, dan memintanya menebak, "Siapa coba?"
"Woi! Ini telinga gue!" Sinka menarik tanganku dari telinganya, lalu menggesernya hingga me-nutupi matanya sendiri. Kemudian, dia mencoba menebak, "Ngngng ... siapa, ya?"
Aku cekikikan. Kalo orang normal sih, pasti lang-sung tau itu aku. Atau seenggaknya, nggak bakalan mindahin dulu sampe nutupin matanya. Aku sih, emang niatnya pengin nutupin mata Sinka, tapi kuganti dengan menutup telinganya. Sedikit leluconlah. Lagi pula, aku yakin kok, Sinka udah tau ini aku.
"Ayo-ayo ... tebak aku!" aku tertawa kecil. Sinkamenggigit jarinya, mencoba berpikir. "Ng.....Spo-
ngebob Squarepants?"
Hohoho ... tentu aja bukan! Ayo-ayo ... sedikit lagi."
"Sailormoon? Wedding Peach? Power Ranger Pink? Iteung?"
"Hah? Iteung?" aku kaget.
"Iteung tuh, tokohnya Kabayan gitu, deh!"
Hm ...nggak ketebak juga. Langsung kupindahkan tanganku ke pinggir tulang rusuknya, mengge-litikinya penuh perjuangan. "Iiih ... mana novelnya?" seruku sambil tertawa-tawa.
"Ampun-ampun!" Sinka mencoba melepaskan tanganku, dan menjauh menjatuhkan dirinya di kasur. "Hahaha ... elo ke mana aja, sih? Sampe pulang malem gini? Ngambil kelas karyawan, Neng?"
"Kelas karyawan apaan? Kelas malem? Enak aja!" Aku melemparkan ranselku ke atas meja, kemudian sama-sama menjatuhkan diri di atas kasur. "Mana novelnya?"
"Iya-iya. Ada di kantong gue. Ntar, deh. Besok aja bacanya. Gue bawa banyak, kok!"
"Hihihi ...rambut kamu dilurusin, ya? Kemarin kan, kamu baru aja dikeriting. Sekarang kok, dilurusin lagi?"
"Biarin dong, ah. Gaya. Masa nggak boleh, sih?"
Aku mencubit gemas hidung Sinka, hingga Sinka memberontak minta dilepasin. Aku langsung turun dari kasur, mengganti seragamku dengan piyama.
"Hey! Shania. Gimana kabar...Bison?" Sinka tertawa-tawa kecil.
"Ngngng...Bison mana? Bison di Afrika sih, masih banyak. Bison di Amerika udah langka banget. Kamu mau melihara Bison di Bogor?"
"Aduh, ya. Bison temen sekelas elo gitu, IholMasa sih, gue ngeceng Bison beneran!" Sinka bangkit, kemudian duduk.
"Ng...baek-baek aja. Tadi di kantin, aku ketemu dia. Biasa, lagi makan ama temen gengnya."
"Elo kan, sekelas? Kok, ngomongnya 'tadi di kantin' sih?"
"Ya ... dia kan, jarang di kelas. Sering keluar kelas terus."
"Ya ampun ... cakep banget, deh! Entar kalo sempet, tolong mintain photo box-nya, ya? Gue mau perbanyak tuh foto, terus bagi-bagiin ke semua te-men gue di Bogor."
Kuambil satu pakaian kotorku dari keranjang pakaian kotor, kemudian melemparkannya keras pada Sinka. "Aduh, ya. Gimana aku mau minta foto bonnya kalo kita masih ngerival juga ama anak-anak Jagad," kataku kemudian.
Iiih ... peduli amat gitu! Elo musti janji. Gue tungguin pokoknya." Sinka melemparkan lagi pakaian kotor yang kulempar ke arah keranjang, tapi nggak masuk. "Oh, iya. Gue pengin nunjukin elo sesuatu!"
Sinka bangkit dan berlari menuju ranselnya. Dia mengaduk-aduk ranselnya dan mencoba merogoh sebuah benda. Namun, yang ditemukannya pertama kali adalah novel-novel yang ku-minta.
"Oh, ini nih novelnya!"
Kemudian, dia melanjutkan merogoh ranselnya lagi. Dan dalam beberapa detik, benda yang dicarinya berhasil ditemukan.
"Apaan tuh?!" Aku mengancingkan piyama, kemudian menghampirinya. Sebuah kotak persegi
hitam, dan bentuknya seperti notebook.
"Aaa ... notebook,'" seru Sinka, mengeluarkannya, kemudian membuka monitor yang menjadi penutupnya.
"Iiih ...ya ampun! Dapet dari mana, nih?" Aku menyentuhnya dan mencoba melihat tampilan yang mulai muncul di layar.
"Beli dong, ah! Cuma lima jeti, di Jakarta. Ada pameran elektronik gitu, deh. Harusnya sih, notebook ini harganya sembilan juta. Tapi, didiskon jadinya lima juta! Om Johnny yang beliin. Hadiah ulang tahun gue getoh!" Sinka nyengir-nyengir bangga, tersenyum lebar, dan menggoyangkan badannya pertanda senang.
"Ulang tahun kamu kan, masih tujuh bulan lagi?!"
"Biarin dong, ah. Gimana Om Johnnynya aja! Mumpung ada duit. Eh, Om Johnny juga ngasih ini buat elo!" Sinka mengaduk lagi tasnya, kemudian mengeluarkan lima lembar voucher kartu prabayar. "Hah? Voucher?"
"Iya...buat elo semuanya. Ada lima! Yang seratus ribuan lagi!"
"Kamu kok, dikasih lima juta? Aku cuma lima ratus ribu!"
"Nggak usah sirik! Lumayan, kan? Daripada nggak!"
"Huh aku menggerutu, cemberut.
" Ve! Sinka! Makan dulu!" Bibi Nurmala, ibunya Sinka, memanggil kami dari luar kamar.
"Udah deh, udah. Makan dulu, yuk!" Sinka menarik tanganku, beranjak menuju ruang makan.
Aku yang sedang kesal karena hanya dibelikan voucher, diam cemberut. Namun, aku mencoba bertanya sama Sinka, "Pamerannya masih ada, kan?"
"Kalo nggak salah sih, sampe akhir bulan depan. Yuk, makan! Gue belum makan dari tadi." Esoknya di sekolah, aku mencoba menceritakan notebook itu sama Shania.
"Iiih ... bagus banget, lho! Ada The Simsbol Aku kan, pengin bisa maen Sims di mana-mana. Kalo cuma di komputer rumah sih, bosen. Lagian, aku juga bisa bawa tuh notebook ke sekolah. Jangan cuma Rebonding sama Kompilasi yang bisa bawa-bawa notebook ke sekolah. Kita juga harus bawa."
"Terus, gue harus gimana atuhl Gue teh bingung. Da gue mah nggak bisa ngebeliin elo note-book satu pun. Komputer di rumah gue wae, dibeliin bokap gue. Jadi, gue kudu gi mana?"
"Ngngng ... maksudnya, tolong dong, cariin cara supaya aku bisa beli tuh notebook."
"Hm...!" Shania mendengus kesal. "Gimana kalo kita ngerampok bank?"
"Aduh, ya. Mendingan aku bawa-bawa komputer rumah ke sekolah, daripada punya notebook tapi cuma keliling-keliling penjara."
"Nggak akan masuk penjara, kok! Paling juga, ngngng.... masuk lembaga pemasyarakatan gitu, deh!" "
"Sama aja, o'on!" Aku mencubit gemas pipi-nya Shania.
Shania yang mencoba melawan, akhirnya mengeluarkan ide lagi, "Ya udah, elo cari kerja aja!"
"Cari kerja gimana?" Aku melepaskan tangan dari pipinya.
"Ya cari kerja sampingan gitu, deh. Jadi pelayan, kasir, atau yang agak gampangan mungkin, jadi babysitter."
"Heh! Yang udah jadi sarjana aja nyari kerjanya susah. Apalagi aku yang baru mau naik kelas 3 SMA. Mau nyari kerja di mana coba?"
"Cari aja iklannya di koran. Banyak, kok!"
"Terus, mau berapa lama? Aku kan, masih sekolah."
"Cari yang kerja satu atau dua minggu banyak, kayak babysitter1. Nyokap gue juga pernah jadi baby sitter di suatu hari zaman dahulu kala. Pas SMA katanya. Ya ... cuma dua mingguan. Kan, yang punya bayi teh mau pergi ke luar kota, bayinya ditinggal sendiri. Jadi weh nyokap gue teh baby sitternya."
"Iya-iya, aku ngerti. Tapi, emangnya ada yang gajinya langsung lima juta?"
"Ada ... tapi ngurus bayi gorila!" Kami berdua langsung terbahak, tertawa keras. Kemudian, Andela nimbrung sambil menunjukkan kartu peserta ulangan umumnya.
"Hore! Gue udah dapet kartu peserta. It's an easy thing to get, Honey! Cepetan ke loket SPP. But, you must have paid your SPP. Cepetan!"
"Gue mah udah dapet dari kemaren," Shania mengibaskan tangannya sekali ke arah Andela. Aku jadi teringat kalau aku belum mengambil kartu
peserta. Sisa gawat, nih! Padahal, aku udah lunas SPP!
"Aku mau ke BP dulu, ya!" Aku bangkit dan meninggalkan mereka tergesa-gesa. "Cepetan, ya!" seru Andela. "Dijual terpisah!" lanjut Shania. "Apaan, sih?" Andela mendorong pelipis Shania .
AKU menghentikan lari perlahan, dan menatap kumpulan murid yang ngantre ngambil kartu peserta di loket SPP. Banyak sekali, kelas satu dan kelas dua. Aku menghampiri kerumunan itu, dan melihat orang-orang sedang membayar SPP.
Eh, mana? Bukan, kok! Yang ada di sini pada bayar SPP. Aku kan, udah bayar.
Aku menerobos kerumunan dan langsung bertanya pada petugas yang sibuk mencap kartu bayaran.
"Bu, ngambil kartu peserta di mana, ya?" seruku keras di tengah bisingnya suara.
"Ke wali kelas, kartu peserta mana" jawabnya nggak menoleh.
Ya ampun! Terus, ngapain juga aku ke sini?
Aku berbalik dan berlari menghampiri ruang guru. Wali kelasku, Bu Lina, sedang mengecek beberapa lembar kertas. Aku berjalan sopan memasuki ruangan itu, melewati beberapa guru dengan senyuman manis, dan cepat-cepat menghampiri Bu Lina.
Namun, belum juga aku sampai di mejanya, seorang cowok menghalangi jalanku. Tiba-tiba, dia
berada di depanku, berbicara dengan Bu Lina. Sepertinya, cowok itu adalah Keynal. Jagad leader.
Aku berbelok, dan berdiri di sampingnya. Dia langsung melirikku sinis, segan dengan kehadiranku. Aku nggak memedulikannya. Kutatap Bu Lina yang masih sibuk membuka-buka kertas, hingga Bu Lina menghentikan kesibukannya dan bertanya pada kami, "Ada apa kalian teh ke sini? Kenapa kalian teh?"
Oke, sebelum lanjut ke cerita berikutnya, kuceritakan dulu tentang Bu Lina. Dia itu wali kelasku. Dan jangan heran kalo bahasanya aneh. Aku dan temanku di Tweenies, menyatakan Bu Lina berpenyakit KSBK. Singkatan dari; Kelebihan Sentence, Belepotan Klausa. Saking parahnya, kami menyatakan lagi bahwa Bu Lina itu mengidap CNJ. Singkatan dari; Capek Ngedengernya Juga. Yah, dengan nada bicara sangat Sundanese, juga volume suara yang lumayan tinggi, beliau guru PPKn.
"Mau ngambil kartu peserta, Bu!" serobot Keynal. Ugh, padahal aku hendak mengatakan kalimat itu. Aku tersenyum dengan raut muka bertuliskan, "Aku juga."
"Oh, kalian teh sudah membayar SPP belum? Da nanti teh kepala sekolahnya marah-marah ke Ibu kalo kalian belum bayar mah. Kalian teh harus membayar SPP dulu. Harus lunas. Agar supaya, nanti administrasinya jadi lancar, gituh"
"Udah dong, Bu!" seru Keynal bangga, menyerobotlagi.
Aduh, ya. Terus, kapan aku bisa ngomong?
"Oh, sudah? Kalian teh udah membayarkan SPP kalian? Bagus atuh kalau gitu mah" Bu Lina pun mengeluarkan tumpukan kartu peserta dari dalam tasnya. "Tapi, mana kuitansi lunasnya?"Kuitansi lunas ?Hah, aku kan, lunasnya dua bulan lalu! Jadi, nggak ada acara kuitansi kuitansian segala!
"Nggak dikasih kuitansi, Bu!" seruku, cepat cepat.
Keynal hanya menolehku judes, merogoh sesuatu dari dalam sakunya sebuah kuitansi lunas dan menyerahkan pada Bu Lina.
"Ah, dia mah dasar tukang boong, Bu!"seru Keynal
Heh! Kurang ajar!
"Bu ... saya tuh lunasnya udah dua bulan lalu. Dan waktu itu nggak pake ngasih kuitansi segala, Bu," jelasku.
"Sebentar atuh, ya. Ibu cek dulu," Bu Lina merogoh tas hitamnya, dan mengambil tumpuk-an lecek daftar absen kelas kami. Pada lembar keempat, Bu Lina menaikturunkan telunjuk di atas nama-nama murid, mencari namaku.
"Su ... Mar ... Ni! Mana? Belum. Kamu belum bayar!" serunya.
"Aduh, ya, Bu! Nama saya tuh Jessica Veranda! Bukan Sumarni!"
"Oh Jessica,. Kirain Ibu teh kamu Sumarni. Hihihi ...." Bu Lina tertawa kecil. Secara refleks, tangannya mendorong lenganku. Dengan jelas, aku dapat melihat Keynal cekikikan.
"Itu tuh! Absen nomor 17." Aku menunjuk
namaku langsung, dan telunjuk Bu Lina yang masih naik-turun juga, akhirnya berpindah ke atas namaku.
"Oh, iya. Kamu udah bayar! Udah lunas." Bu Lina manyun.
"Cepetan, Bu! Mana kartunya!" pinta Keynal tiba tiba memaksa.
"Iya ini. Ada di sini. Eh, sebelum kalian dapet kartunya, tolong beliin bakso tahu buat Ibu di kantin, ya! Sama minumnya, beli lemon tea di si Ucup!" Bu Lina menunjuk-nunjuk arah kantin, dan berseru setengah berbisik.
"Kartunya dulu atuh, Ibu!" rengek Keynal.
"Ih...beliin Ibu dulu makan. Ibu teh belum makan dari pagi. Ibu teh laper." Bu Lina tertawa-tawa.
"Itu ada siVe, Bu!"
"Mana yang namanya Ve? Mana?" Bu Lina celingak celinguk menatap keluar jendela.
Aduh, nyadar, dong! Aku tuh ada di sini gitu, lho!
"Saya yang namanya Ve, Ibu ...!" kataku agak kesal.
Bu Lina menoleh lagi padaku. "Oh, kamu yang namanya Ve? Katanya Jessica. Jangan-jangan, kamu nipu Ibu lagi, ngaku-ngaku namanya Jessica padahal namanya Ve karena belum bayar SPP."
"Aduh...ngapain aku nipu Ibu. Nama saya Jessica Veranda. Dipanggilnya Ve!"
"Oooh ... gitu!" Bu Lina mengerti, manggut-manggut. "Ya udah atuh, tolong beliin Ibu bakso tahu dulu. Nanti kartunya Ibu kasihin."
Yah, oke-oke! Aku bakalan ke kantin sekarang.
"Kamu juga ikut, Keynal!" Bu Lina setengah berteriak pada Keynal yang masih berdiri di depan mejanya.
"Males, ah!" jawab Keynal enteng.
"Eeeh, males-males! Ayo cepet temenin Ve! Nanti kalo udah, kalian ke sini lagi buat ngambil kartunya, ya?"
Meski agak kesal, Keynal berjalan juga dengan muka cemberut ke arahku. Dia langsung menye-jajarkan dirinya di sampingku, namun pindah ke belakangku ketika kami melewati koridor menuju kantin. Kami sama sekali nggak berinteraksi satu sama lain. Terlalu aneh bagi orang-orang kalo melihat ada Tweenies jalan berdua bareng sama Jagad.
It would make some juiciest gossips in the school.
Lagi pula, kasihan Jagad. Mereka tuh benci banget yang namanya Tweenies. Di setiap kesempatan, Jagad emang udah hobinya ngejek Tweenies. Menurut mereka, Tweenies adalah sekumpulan cewek menyebalkan yang mencoba menarik perhatian dengan prestasi yang dibuat. Atau bersikap baik pada tiap orang untuk menggaet kepopuleran. Pokoknya, mereka bilang, Tweenies itu nyebelin.
Emangnya, mereka nggak nyebelin?
Aku, sebagai salah satu spearheader Tweenies, sama-sama jijik ama mereka. Jagad itu kumpulan cowok bodoh yang dalam hidupnya hanya diprioritaskan untuk bermain. Setiap hari mereka ke mal! Okelah, kita juga sebagai Tweenies memang pengunjung mal-mal yang ada di Bandung. Tapi,
kita nggak maen sampe setiap hari. Kalo Jagad, maennya pas malam. Mereka tuh ngedugem di Fame, atau ngeband, atau bikin pesta-pesta. Mereka lebih nyebelin, bukan?
Aku berjalan lebih cepat darinya dan berusaha meninggalkannya. Tapi, Keynal sepertinya mempercepat langkahnya pula, mencoba mengejarku. Aku yang merasa diikuti, semakin mempercepat langkah. Hingga akhirnya .... Buuuk!!!
Keynal menarikku, mencegah badanku terjatuh. Aku yang sedang terhuyung, berusaha mengendalikan diri, dan berhasil berdiri beberapa detik kemudian. Keynal masih menjagaku dari kemungkinan jatuh.
Sebelum kusela dia untuk melepaskan tanganku, aku merasakan suasana berbeda antara aku dengan Keynal.
Hm ... penuh perlindungan.
Tatapannya membuatku tenang. Kami bertatapan hingga akhirnya menyadari status kami.
"Lain kali hati-hati, dong!" katanya sinis.
"Kamu jangan pegang-pegang aku, ya!" Aku ber-balik dan kembali berjalan cepat ke arah kantin. Mukaku kesal, namun hatiku tersenyum.
Ternyata, orang semenyebalkan Keynal masih bisa nolong cewek yang mau jatuh di sampingnya. Berarti, Keynal emang baik.
"ELO tadi ke mana, sih?" tanya Andela begitu dia mendapatkan tempat duduk yang nyaman di angkot.
Aku langsung duduk di sampingnya, dan membereskan tasku. "Ke mana kapan?"
"Tadi...waktu istirahat. After you take your test card, elo ilang gitu aja."
Aku berpikir lagi. Oh, iya. Aku kan, iagi ngebeiin Bu Lina makanan, bareng Keynal. "Ngng ... Nggak ke mana-mana. Loket SPP penuh, jadi agak lama." Aku mengibaskan tangan sekali ke arah Andela, berlagak centil mencoba mengatakan, "nggak ada apa-apa".
7 feel that you are hiding something from me. Ayo, ceritain! Tadi siang elo kenapa?" Andela menatapku serius.
"Ya ampun, nggak kenapa-napa, kok!"
Kupasang mimik dengan senyuman terlebar. Me-mantra mantrai Andela agar mau pindah dari pokok bahasan.
"Ayo, Ve! Elo nyembunyiin sesuatu, ya?" "Eh, Shania ke mana, sih? Kok, nggak bareng ama kita?"
"Jangan ngubah topik pembicaraan. Tell me, please! What's happened with you?"
Aku mengembuskan napas besar akhirnya, dan mencoba berpikir gimana cara ngasih tau Andela tentang kejadian tadi. "Oke ... tadi siang ...!"
Din...diiin!! Mobil tersentak, oleng, dan ngerem mendadak. Klakson mobil berseru-seru kesal. Aku dan Andela terbanting ke depan, begitu pula penumpang yang lain.
Ketika angkot yang kunaiki hendak membelokkan jalurnya ke kanan, sebuah sedan hitam menyerobot cepat, hampir menabrak pagar pembatas. Mobil berhenti dan orang yang menyetir sedan itu malah mengacungkan jari tengah ke arah sopir angkot. Kemudian mobil itu melaju lagi, cepat meninggalkan angkot. Kontan saja sang sopir marah-marah, mengeluarkan kata-kata kasar menghina pengemudi mobil itu.
"Ya ampun...siapa, sih?!" Andela ikut-ikutan kesal, dan mencoba melihat lebih jelas lagi sedan hitam itu.
Aku mencoba duduk tegak, dan melihat mobil yang menyerobot tadi. Itu mobilnya Keynal Jagad. Aku hafal dua huruf terakhir plat nomornya. Itu benar benar Keynal! Juga stiker-stiker bazar yang menempel di rear window.
"Eh, Ve, Ve! Itu kan, mobil Keynal. Kurang ajar banget!" seru Andela menunjuk-nunjuk. Tangannya mengepal, lalu meninju telapak tangan yang lain.
"Yup. Betul!" gumamku yakin.
Semua orang dalam angkot menatap mobil yang mulai menghilang itu, hingga setiap orang reda akan kemarahannya, dan mengatai-ngatai si pengemudi dalam hati. Angkot pun kembali berjalan tenang, lebih hati-hati daripada tadi.
"Ya ampun, dasar nyebelin tuh orang!" seru Andela kesal.
Aku hanya tersenyum, diam menatap kekesalan semua orang.
"Oke ... kita lanjutin lagi. Sampe mana tadi?" "Ng ...tadi ...kita lagi ngobrolin notebook1." Aku
tersenyum, berbohong, mudah-mudahan saja Andela nggak akan ingat untuk meneruskan obrolan tadi.
"Oh ... oke. Let's move on."
"Ngngng...katanya di pameran eletronik Jakarta, ada notebook baru, bagus, harganya cuma lima jutaan. Murah, kan?! Aku pengin beli, deh."
"Eit-eit-eit, tunggu! Elo jangan coba-coba ngeboongin gue, ya! remember we're talking about your place when we have our break. Ayo, lanjutin yang tadi."
Aku mendengus besar sekali lagi. "Ya ya. Siang tadi, aku emang ngambil kartu peserta, tapi di Bu Lina, bukan di loket SPP. Dan ... aku ketemu Keynal waktu mau ngambil kartu." "Terus?"
"Yaaa...aku ama Keynal berdiri berdua, ngehadap Bu Lina, minta kartu peserta buat ulum besok!"
"Haaa ...?" Luna melongo. "Kkk ... kalian berdiri berdua? Dia ... dia ngejek elo nggak?"
"Nggak, sih. Keynal kebanyakan diem daripada ngomong."
Huh ... nyerobot-nyerobotjuga, sih!
Luna manggut-manggut. "Terus?"
"Terus? Terus ya ... gitu, deh! Nggak ada yang aneh, kok. Biasa aja."
AKU menjatuhkan badan di atas kasur. Kipas angin yang berputar di langit-langit, memberikan kesejukan tersendiri di tengah panasnya udara siang. Suara-suara burung yang berkicau mencari makan di genting rumahku, berisik nggak tentu
namun damai untuk didengar. Oooh ... indahnya hari ini. Braaak ...!
Sinka tiba-tiba menggebrak pintu, dan berlari membawa notebooknya. Kumpulan kabel pun bergantungan di tangannya yang lain.
" Ve! Gue bawa kabel modem, nih!"
Aku bangkit dan heran dengan maksudnya, "Apaan, sih? Ngagetin aja!"
"Ini nih. Om Johnny tadi ngasih kabel ini buat dihubungin ke telepon. Jadinya, ntar kita bisa maen The Sims online lewat notebook gue! Hihihi ... akhirnya!"
"Jadi, selama ini notebook kamu nggak ada Internetnya?" "Nggak."
"Terus, sekarang?"
"Ngngng ... ya pake telepon elo! Tenang aja. Nyokap elo kok, yang bakal bayarin pulsanya nanti."
Justru itu, Sinka-Oon! Emangnya gampang cari duit?
"Tungguin ya! Gue mau nyambungin dulu ke telepon di luar!" Sinka bangkit, mengulur-ulur kabelnya. Dia bergerak mundur, setengah berlari, bersama kabel agak kusut di tangannya. "Bentar, ya!" serunya menenangkan. Kemudian Sinka berbalik, hendak keluar kamar. Namun ....
Jeduuug ...!
Sinka menabrak pintu dengan keras. "Aduh! Siapa sih, yang nutupin pintu ini?!" seru Sinka kesal.
Bukannya kamu yang tadi gebrak-gebrak pintu?.' Sinka pun keluar dari kamar, dan beberapa menit kemudian, kembali lagi. Lalu, dia menyambungkan kabel yang belum terpasang ke komputer, mengutak atiknya hingga registrasi Internet muncul di layar. Sinka mengeluarkan HPnya, melihat drafts, dan memasukkan beberapa password sebagai akses dunia Internet.
"Aaah ...I Berhasil!" serunya.
Sinka langsung membuka e-maif, juga friendster. Tiba-tiba, dia membuka situs resmi sekolahku.
"Heh! Ngapain kamu buka-buka website sekolahku?" Aku mendorong pelipisnya.
"Biarin aja dong, ah! Kali aja ada Bison di sini!" Sinka kembali mengutak-atik komputernya, namun menunggu loadingnya di window website sekolahku.
Kamu dapet dari mana alamat website sekolah aku?"
"Itu tuh! Di surat pemberitahuan ulangan umum elo. Di bawah tulisan akreditasi A, ada alamat website!"
Loading selesai. Tiba-tiba di layar, muncul tujuh cowok geng Kompilasi sedang bergaya. Gaya yang aneh. Namun, mengapa ditempatkan di page pertama ?
Sinka mengangkat telunjuknya, dan melihat satu per satu wajah dari Kompilasi tersebut. "Nggak ada yang cakep. Bison tuh yang mana, sih?"
"Aduh! Bison ... mana mungkin ada di kumpulan anak kayak gini. Cuma cowok-cowok pinter aja yang ada di sini. Dia sih, punya kelompok sendiri."
"Oh ... gitu, ya?!" Sinka pun melanjutkan mengklik ikon Click Here. Ikon yang diletakkan di pojok kiri bawah layar, ukurannya kecil, dan hampir nggak keliatan.
Kurang ajar banget sih, Kompilasi! Masa mau buka website sekolah sendiri aja akses masuknya sekecil gini?! Mana foto mereka jadi headline lagi! Dasar!
Pada tampilan berikutnya, ada peta sekolahku, yang suasana gedung dan daerahnya dibuat mirip Timur Tengah. Ada bangunan-bangunan Mesir, Yunani, juga Romawi di sana. A creative idea! Cuma sayang, waktu web ini dilombain, kagak menang.
Ah, mau menang gimana kalo tampilan pertama aja foto mereka?! It's a minus. Mendingan foto Tweenies. Minimalnya foto aku sendiri.
"Yang mana sih, kelas dua?" Sinka menggerak gerakkan kursor ke setiap gedung, dan membaca satu per satu keterangan yang diberikan.
"Ng ... ini nih!" Aku menunjuk sebuah gedung berbentuk huruf L di pojok kanan. Sinka langsung menyambar animasi gedung itu, dan mengklik dengan cepat gambarnya.
Kemudian muncul beberapa pilihan kelas, dan tiba-tiba saja Sinka mengklik kelasku.
"Kamu tau dari mana ini kelasku?" Aku menepuk bahunya pelan.
"Elo kan, emang sering cerita kalo elo ada di kelas itu. Gimana, sih?!"
Kemudian, layar menampilkan sebuah foto kelas, dan itu foto kelasku. Sinka menggeser scroll ke
bawah, dan terlihatlah empat puluh empat foto berbeda teman-teman sekelasku.
"Nah, ini nih! Hihihi Ovie mengklik gam-bar Keynal, dan muncullah foto Keynal sendiri, beserta thumbnail kecil fotonya yang lain, kemudian di samping foto itu terpampang pula biodata Keynal.
Sinka men-download halaman itu. Kemudian, melompat-lompat senang ketika loading copynya selesai.
"Hore-hore!" serunya tetap melompat-lompat di atas kasur.
"Hey! Kok, seneng banget, sih? Biasa aja, deh!" Aku cemberut.
"Ya jelas seneng, lah. Akhirnya, gue punya foto Keynal. Hihihi ... kalo minta ama elo sih, lama banget! Lihat nih, lewat Internet aja gue bisa dapet foto doi dalam waktu lima menit. Hebat, kan?!"
Gedebug!
Sinka jatuh dari atas kasur dan terpeleset seprei yang mulai keluar dari pinggirannya, hingga kakinya terlilit karena melompat-lompat.
"Aaawww sapa sih, yang naro seprei di atas kasur?!"
"JADI, elo teh, nyari kerja buat beli notebook?" tanya Shania, menyeruput milkshakenya dan melirik koridor, melihat lalu-lalang orang yang pulang pergi kantin.
"Ngngng ... nggak usah, deh. Ngapain sih, beli notebook? Ntar juga kalo udah gede, kerja, aku bisa kok, punya notebook."
"Lho? Pamerannya teh cuma sampe akhir bulan
depan aja. Kapan lagi atuh elo bisa beli note-book?\"
"Nggak apa-apa lagi, Shan! Pameran elektroniknya diadain tiap tahun. Nggak usah dipikirin lagi!"
"Yaaah ... padahal, gue teh udah ngeguntingin buat elo beberapa koran yang lagi nyari baby-sister."
"Babysitter, kaleee ...?!"
"Oh, iya itu. Sorry. Maafin eke. Baby-sitter."
"Hm ... makasih, Mil. Sori, ya! Kamu rajin banget nolongin aku. Aku sih, nggak apa-apa kalo sekarang nggak punya notebook kayak Sinka. Nggak terlalu ngaruh, kok! Notebook cuma kebutuhan tersier." Aku tersenyum menatap Shania. "Sori ya! Eh, gimana ulangan kamu?" tanyaku ngubah topik pembicaraan.
"Ya, ampun! Tegang banget. Ruangan gue diawasin ama guru matematika kelas tiga yang galak. Jadi, gue teh panas dingin. Gue nggak bisa nyontek si Mamat. Si Mamat kan, jago PPKn. Terus, masa sih, cuma pensil jatoh aja dilihatin. Gue jadi deg-degan. Jadi, gue teh panas dingin, Shania mencoba menceritakan pengalamannya penuh semangat.
Aku yang mendengarkan hanya tertawa kecil, juga mengangguk-angguk ketika beberapa kejadian yang disebutkan terjadi pula di ruang ujianku. Seperti buku kehadiran yang harus ditanda-tangani siswa, oleh beberapa anak diisi dengan nama ayah masing-masing siswa. Nama ayah memang menjadi salah satu permainan ejekan yang sering dimainkan teman-temanku sekelas. Setiap murid diketahui identitas ayahnya. Dan kalo ingin mengejek seorang
siswa, tinggal menyebutkan nama ayah siswa tersebut.
Hehehe ... sebenernya nggak sopan! Hari ini adalah hari pertama ulangan umum semester empat untuk menentukan kenaikan kelas sekaligus penjurusan antara IPA dan IPS. Mata pelajaran yang diujikan untuk hari ini adalah PPKn dan Biologi. Sekarang sedang istirahat sebelum ujian Biologi dilaksanakan.
"Hey!" seru Andela, berlari di koridor. "Gue dapet kisi-kisi Biologi buat ulangan nanti!" Andela menyambar kursi kosong di sampingku, dan menunjukkan kertasnya sambil terengah-engah.
"Dapet dari mana?" tanya Shania agak senang.
"Hosh ... hosh ... dari kelas dua-dua." Luna menunjukkan kertas itu pada Shania.
Aku nggak tertarik dengan kisi-kisi soal ini. Aku nggak bermasalah dengan Biologi. Memang, Andeladan Shania lemah di Biologi. Namun, mereka kuat di Kimia. Kalo yang ditunjukkan Luna sekarang adalah Kimia, mungkin aku akan menyalin kisi-kisi itu untuk kupelajari di rumah.
"Eh, Ca, HP kamu banyak yang misscall tuh!" seru Luna, menoleh padaku.
Oh, iya. Handphone-ku sedang dipinjam Rika, karena ada radionya. "Ya udah deh, tungguin ya! Aku mau ke kelas dulu!"
"Oke-oke ...!" Andela dan Shania mengangguk dan tersenyum meskipun matanya nggak lepas membaca kisi-kisi Biologi itu.
Aku berlari sepanjang koridor kantin, buru-buru
ingin segera melihat siapa yang meneleponku. Buuukk
Aku menabrak Eva anggota Rebonding Galz dibelokan pertama menuju lapangan. Naomi sedang memegang notebook, dan kulihat notebook itu terjatuh dari tangannya.
Braaak-Praaang
Notebook itu hancur berhamburan di lantai, beberapa serpihan kaca ada yang berhamburan keluar. Dan penutup bagian belakang notebook terbuka, kemudian tiga jenis kabel tipis menghambur nggak beraturan.
Oh-My-God! Ya ampun, ya ampun, ya ampun! Apa yang telah kulakukan?
"Aduh, sorry, Mi!" Aku langsung membungkuk dan mencoba membereskan notebook pecah itu.
"Aaarrrggghhh ...!" Naomi berteriak histeris, dia kesal dan marah. "Dasar bodoh! Elo punya mata nggak, sih?! Dasar banteng! Maen seruduk aja!" Naomi membungkuk, menangis, meratapi nasib notebooknya.
"Aku minta maaf, Mi!" Aku kembali memunguti serpihan yang hancur, namun Naomi ternyata marah besar.
Tiba-tiba Naomi menendangku keras, mendorongku hingga tersungkur dua meter darinya. "Pergi! Pergi, elo dari sini!" Kemudian, Naomi mengambil notebook hancur itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan membantingnya ke atas badanku.
Aku yang masih terbujur sakit, langsung menangkis. "Maafin aku, Mi!" Kurasakan lenganku
senut-senut ketika menangkis notebook itu.
"Maaf-maaf! Emangnya, notebook gue bisa diganti ama kata maaf elo apa? Notebook gue tuh harganya sepuluh juta, tau nggak, sih?! Dasar banteng!"
Tiba-tiba, Hanna-anggota Rebonding Galz juga datang, dan mencoba menenangkan Naomi.
"Kenapa, Mi? Kenapa?" tanyanya mendramatisir keadaan.
"Notebook gue, coba! Lihat, nih! Ada banteng maen seruduk aja!" Naomi mencoba menendang lagi kakiku.
Hanna menahannya. "Udah-udah! Nendang dia nggak bakalan bikin notebook elo balik lagi!"
Akhirnya Eva diam mendengar nasihat temannya itu. Meskipun aku masih bisa melihat aura kekesalan, dendam, dan marah Naomi yang ditujukan padaku. Embusan napasnya hangat, penuh kebencian. Matanya pun tetap melotot.
Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di seragamku. Keduanya langsung menengadah, menatapku. Maklum, Naomi tingginya sudah beda dua puluh senti lebih di bawahku. Jadi aku harus menunduk, dan Naomi menengadah.
"Oke-oke! Gue maafin elo sekarang. Tapi inget! Elo harus ganti notebook gue, besok! Dalam bentuk notebook, bukan duit."
"Besok? Mana bisa aku nyari notebook dalam sehari?!"
Dasar males! Oke, gue ganti. Notebook gue harus kembali minggu depan."
" Naomi...?" aku menatapnya pasrah, "Aku nggak punya duit sebanyak itu, atau nyari duit banyak secepat itu."
"Oke-oke-oke! Emang susah sih, kompromi ama orang miskin! Pokoknya, gue harus punya notebook lagi pas kita masuk hari pertama kelas tiga. Inget, ya! Hari pertama kelas tiga! Titik!" Naomi sempat meludahiku sebelum akhirnya berbalik pergi. Dia berjalan meninggalkanku penuh kekesalan, amarah, dan rasa dendam.
Monster? It's Ok!
HM...akhirnya nggak sia-sia juga gue ngeguntingin lowongan kerja Baby-sitter." Shania menyerahkan potongan-potongan kecil kertas koran itu padaku.
"Ya ampun, makasih ya, Shan. Untung ada kamu. Iiih ...aku bener-bener nyesel tadi pake lari segala. Coba aku jalan, mungkin aku nggak harus nyari duit buat ngegantiin notebook-nya Naomi "
"Elo punya tabungan? Or any other funds to help?" Andela merangkulku.
"Tabungan, sih...cuma dua jutaan. Dikit banget!"
"Ya udah..selamat kerja keras, ya! Kalo ada apa apa, jangan takut buat nelepon gue!" Andela mengedipkan matanya salah satu.
"Yakin elo teh nggak mau kita bantuin?" Shania menatapku serius.
"Udah dibilangin nggak usah. Nanti aku nge-repotin kalian. Nggak apa-apa, kok! Aku bisa ngurus semuanya sendiri." Aku bangkit dan memasukkan potongan koran tersebut ke dalam tasku. Kemudianaku melambai, pulang duluan meninggalkan mereka. "Aku pulang dulu, ya!"
"Iya ... hati-hati!" seru mereka berbarengan, melambai.
Aku berbalik meninggalkan mereka. Dan dari kejauhan, aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Malem nanti chatting, yuk!"
"Oke ... gue tungguin elo jam delapan!" Andela dan Shania. Kehidupan mereka makmur. Komputer mereka udah lengkap dengan modem, ditambah langganan Internet pakai broadband. Aku mana bisa begitu. Baru kemarin aja aku ngerasain punya Internet di rumah. Itu pun nyolong pulsa. Pake notebook Ovie lagi. Tapi kata Sinka sih, cuma Rp SD,- per menit. Nggak tau, deh. Mudah mudahan bener.
Malamnya, aku mencoba menceritakan semua kejadian itu sama mama. Mama sempat marah. Namun berhasil mengendalikan diri, dan membantuku dalam membimbing keadaan emosiku. Malam itu juga aku diajarkan bertanggung jawab, dan how to solve problem. Mama nggak marah atas ideku menjadi babysitter. Pekerjaan yang sedikit mudah bagi siswi SMA, dan nggak melelahkan. Asalkan menyukai anak-anak, dan sabar, pekerjaan itu akan bisa diselesaikan.
Mama pun mengizinkanku kalo suatu hari harus menginap dan mengurus beberapa bayi. Asalkan aku masih bisa bertanggung jawab atas sekolahku, dan kehidupan sosialku. Bahkan, semakin waktu melaju
perlahan, Mama semakin mendukungku melaksanakan program tanggung jawab.
Malam itu juga, aku menelepon dua belas nomor yang ada di potongan koran. Kebanyakan penuh pelamar. Kebanyakan pula minta bekerja tetap. Atau ada pula yang menginginkanku bekerja minggu ini. Pada minggu ulangan umum. Aku menolak sebagian besar tawaran itu. Masalah ya, mama hanya mengizinkanku untuk bekerja pada hari libur dan nggak ngeganggu pelajaran. Hari-hari selain itu, mama melarang keras. Untuk itu, satu minggu setelah ulangan umum aku bebas. Hari Jumatnya pembagian rapor. Dua minggu berikutnya liburan sekolah. Aku punya tiga minggu kosong untuk bekerja menjadi babysitter.
Oke, dari dua belas potongan yang aku punya, aku sudah menelepon sebelas di antaranya. Aku berhasil menarik janji dengan dua orang ibu muda. Upahnya lumayan besar. Kalo dijumlahkan semuanya satu juta. Ibu pertama memintaku bekerja Senin depan. Beliau mempunyai bayi kembar, namun harus meninggalkannya karena sedang mengurusi perceraian dengan suaminya. Dia menggajiku sebesar empat ratus ribu. Wawancara dilakukan Rabu nanti, tepat pukul empat sore. Untungnya, ujianku sudah selesai pada jam segitu.
Ibu yang kedua memintaku untuk bekerja dua hari penuh, mengurusi anak kecil berusia tiga tahun yang katanya, "nakalnya minta ampun". Ibu ini hendak pergi liburan ke Singapura bersama teman sekantornya, namun enggan membawa balita. Aku
harus menginap di rumah ibu ini, dan menjaga bayi itu sendirian. Suami si ibu sedang ada di Malaysia, dan nggak ada siapa-siapa lagi di rumah itu, selain kakak si balita yang berusia delapan tahun. Jadi, mau nggak mau, aku juga sebenarnya menjadi babysitter untuk seorang bocah berusia delapan tahun. Huh, kalo adiknya yang baru tiga tahun saja nakalnya sudah sangat kelewatan, apalagi kakaknya.
Namun, meski hanya digaji enam ratus ribu, aku diterima tanpa audisi lebih dulu. Aku hanya harus menghadiri wawancara akhir pekan ini.
Lucky me. I have two important project now! Hmmm ... tinggal nomor terakhir. Sebuah nomor HP yang susunan angkanya bagus sekali. Saking cantiknya, aku langsung hafal urutan nomor itu.
"Hallo, selamat malam," sapaku begitu telepon diterima.
"Ya...ada yang bisa saya bantu?" jawab yang di seberang ramah. Suara seorang wanita muda.
"Saya...saya hendak melamar untuk menjadi babysitter putra Anda."
"Oh, baikiah-baikiah. Anda sudah mengerti prosedurnya ?"
"Maaf, saya belum tau."
"Nggak apa-apa, kok. Begini, dua minggu iagi saya akan pergi ke Amerika. Menghadiri sebuah rapat penting, dan memakan waktu satu minggu. Jadi, kaio Anda memang berniat untuk menjadi pengasuh putra saya, Anda harus menginap di rumah saya selama satu minggu."
"Baiklah."
"Dan ... kebanyakan babysitter yang mencoba melamar langsung menolak begitu saya sebutkan ciri-ciri putra saya, jadi... mungkin ...."
Dalam pikiranku, langsung muncul beragam jenis bayi. Bisa saja bayinya sangat nakal. Atau bayinya agak-agak aneh. Atau bayinya sakit-sakitan. Atau bayinya terlalu berat. Atau bayinya terlalu lemah. Atau bayinya idiot, embisil, debil. Atau mungkin bayinya terlalu cerewet? Saking cerewetnya tuh bayi begitu lahir langsung marah-marah?
Oh, anything it would like. I have to accept this job. Meskipun sudah ada aura nggak mengenakkan dari percakapan ini.
"Saya ... saya menerima apa pun yang terjadi," ungkapku deg-degan. Karena mungkin saja, ternyata bayinya adalah gorila.
"Anda... menerima bagaimanapun kondisinya ? Saya belum menceritakan tentang putra saya, lho!"
"Tidak apa-apa. Tapi, kalo Anda ingin memberikan beberapa ciri pada saya, silakan."
"Putra saya ini benar-benar bandel. Dia sangat manja dan bisa menghancurkan rumah dalam waktu lima detik."
Prang!
Tiba-tiba, terdengar suara benda pecah dari ujung telepon.
"Dede ... jangan pecahin guci itu. Gucinya seharga tujuh juta. Kalo lagi bete, pecahin yang harganya satu juta aja!" teriak wanita itu di ujung telepon.
Aduh, ya ... semakmur apa sih, wanita ini?
"Oh, maaf. Anak saya sedang marah karena nggak diizinin keluar rumah malam ini." Wanita itu tertawa kecil.
Anaknya kelelawar ya, Bu?
"Jadi... putra saya itu ...."
"Ya ...?"
"Ya ... putra saya itu membutuhkan sedikit tenaga ekstra untuk diasuh. Kalo Anda memang menerima tawaran ini, Anda harus membacakan beberapa dongeng sebelum dia tidur, atau Anda harus menemaninya mandi, atau mungkin terkadang Anda harus menyuapinya kalo dia main PS."
"Oh ... baiklah ...I" Aku nyengir-nyengir di depan telepon.
That's an ordinary thing! Anak kecil memang seperti itu.
"Rumah saya besar. Tapi jangan khawatir, Anda nggak harus mengurus rumah saya. Saya sudah mempunyai dua orang pembantu yang mengurus rumah ini. Jadi ... Anda hanya harus fokuskan dalam mengurus putra saya." "Ya, baiklah ...."
Segubuk - gubuknya rumah Anda pun, saya nggak berkenan untuk mengepel lantai atau menyapu. Saya ini hanya babysitter____
Kalau begitu, hari Minggu, minggu depannya lagi, temui saya di Preanger. Kita bicarakan tentang peraturan, gaji, juga sedikit hal yang harus Anda lakukan."
"Oke."
"Ngngng ... tapi Anda benar-benar menerima tawaran saya?"
"Ya ... mungkin saja. Insya Allah, akan saya coba."
"Ok ... ke, terima kasih sekali lagi. Kalau begitu, temui saya di Preanger pukul dua siang. SMS-kan nomor HP Anda. Nomor ini nomor rumahmu?"
"Ya, betul."
"Oh, oke ... Dede! Mau ke mana kamu? Jangan kabur! Mbok Jess! Cepat kejar si Dede. Oh, maafkan saya."
Wanita itu datang lagi sambil terengah-engah. "Ngomong-ngomong ... Anda punya pengalaman dalam mengurus anak?"
"Ngngng ... ya-ya ... beberapa bayi sih, sering!" ungkapku bohong.
"Oh, ya? Anda sudah memiliki buah hati?"
"Tentu saja belum. Saya masih enam belas tahun. Saya masih SMA. Saya menjadi babysitter hanya sebagai penghasilan tambahan," jawabku bohong lagi.
"Oh ... bagus sekali. Kalau begitu, kamu akan mengerti bagaimana perasaan hati putraku yang sebenarnya."
Apa ? Apa maksudnya ?
"Ngngng ... nama kamu?" Wanita ini sudah mengubah panggilan "anda" menjadi "kamu" sekarang.
" Jessica Veranda. Panggil saja saya Ve."
"Hm ... lumayan mirip dengan nama wanita wanita yang diceritakan anak saya di sekolahnya. Baiklah. Nama saya Nainira. Panggil saja saya Bu Nira. Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Ve."
" Ve...."
"Oh, maaf. Ve. Dede! Ayo! Mama ceritakan lagi dongeng kemarin, Sayang!"
Tuuut... tuuut....
Bu Nira menutup telepon duluan.
Oke ... sekarang aku sudah mendapatkan tiga orang ibu yang bayinya akan kuasuh. Aku tinggal berlatih saja, namun tetap memfokuskan pada pelajaran yang sedang diujikan minggu ini. God! Besok Pendidikan Agama sama Kimia. Aku belum ngapalin Kimia lagi!
SATU Minggu berikutnya, aku berhasil melewati ujianku dengan lancar. Aku nggak perlu memikirkan lagi cara mendapatkan uang. Tinggal mempersiapkan diri dengan baik, dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Hari Rabu, wawancaraku dengan seorang ibu yang hendak bercerai, lumayan sukses. Dan pada hari Minggu, wawancaraku dengan ibu yang memintaku menginap dua hari, berhasil pula.
Lalu pada Senin pertama di pekan kebebasan ini kami di Tweenies menyebutnya begitu aku akhirnya melaksanakan pekerjaan pertamaku.
Dear diary,
Ya ampun ... hari ini capek banget! Aku harus
kerja dari jam tujuh pagi sampe jam tujuh lagi. Lihat tuh, kakiku bengkak bolak-balik di dalem rumah. Mana bayinya ada dua lagi! Kalo yang satu nangis, eh, yang satunya lagi nangis juga. Nggak ada siapa-siapa lagi di rumah itu, padahal ada beberapa tamu nggak dikenal datang ke rumah itu. Iiih ngerepotin aja!
Eh, tapi banyinya lucu-lucu! Apalagi kalo udah ketawa bareng. Iiih jadi pengin cepet-cepet punya bayi, deh! Cuma kalo udah ngompol, uek ... menjijikan! Perceraian ama suaminya sih, sukses. Tapi kan, jadi kasihan aja ama anaknya. Baru beberapa bulan lahir, mereka udah ditinggal ama bapaknya. Sayang banget, padahal bayinya lucu-lucu.
Jam empat, saat ibunya pulang, tiba-tiba aku dipeluk gitu. Dia langsung curhat, tentang suaminya. Katanya sih, suaminya selingkuh gitu. Terus suaminya seorang pecandu narkoba, dan di kantornya korupsi.
Ya ampun, komplikasi banget sialnya tuh bayi.
Aku doain deh, biar Nasha dan Lasha, si bayi lucu itu, tumbuh sehat dalam lindungan Allah dan kasih sayang ibunya. Amiiin ...! Aku pengin banget ketemu mereka, n tar kalo udah pada gede. Pengin banget ketemu terus bilang, "Hei, aku pernah ngurus kalian, lho!"
Hehehe ... pede banget sih, gue! Udah, ah ... besok aku harus kerja lagi. Baru empat ratus ribu yang mampir ke rekeningku. Aku masih butuh berjuta-juta lagi buat ngegantiin
notebook-nya Naomi.
Met malem diary ... moga-moga aja, besok nggak akan lebih capek dari hari ini....
Esoknya, ternyata pekerjaan semakin berat dan menyulitkan.
Dear Diary ....
Huh, untung aku bawa kamu ke sini. Kalo nggak sih, aku bakalan kesepian. Mana pulsaku abis lagi. Mama udah ngirim katanya tadi. Tapi kok, belum nyampe juga, ya? Masalahnya, aku nggak bawa voucher yang dikasih om Johnny. Padahal, pulsaku udah SAKARATUL DEAD banget!
Tau nggak sih, ternyata rumah ini lebih seperti neraka daripada kemaren. Hell ...!
Ternyata, tuh balita bener-bener bandel. Dia udah mecahin dua piring, dua gelas, dua sendok, dua garpu, dua baskom, dua mangkok. Huh, kayaknya kalo mecahin satu lagi, dapet payung cantik, deh!
Untungnya, si kakak baru pulang ke rumah pukul tiga sore. Dianterin langsung ama mobil les piano-nya. Dikirain bakalan lebih bandel, ternyata nggak, kok! Wahahaha ... that makes everything more easy! Kakaknya malahan sedikit lebih baik. Kerjaan kakaknya cuma nonton film, atau kalo nggak, ngemil.
Kagak ada kerjaan, sih. But it's better. Jadi, aku dalam mengejar-ngejar si adik, bisa lebih tenang. Ya ampuuun ... tuh bocah kok, gesit
amat, sih?! Lari sana-sini naek-turun meja kapan bisa capeknya?! Jam sembilan malem aja masih loncat-loncatan di atas sofa. Iiih ... nyebelin! Bapaknya yang mana, sih? Kok, bisa melahirkan anak seperti ini?!
Oh, kuharap esok waktu berjalan lebih cepat. Kuharap matahari besok hanya muncul enam jam. Sumpahnya, aku nggak sanggup lagi ngejar-nge-jar bocah kayak dia! Iiih ... nyebelin-nye-belin-nyebelin banget tau?!
Hm ...!
Sekarang udah jam sebelas malem. Kakak ama adeknya udah pada tidur sekarang. Tinggal giliranku meregangkan otot, mengistirahatkan badan, dan tidur dengan nyaman menjaga bocah bocah ini.
Met tidur ... Diary ....
¦
#
#
The Rules
HARI Jumat, pembagian rapor semester keempat, sekaligus penentuan jurusan minat dan bakat. Dalam formulir yang ditawarkan sekolah, aku memprioritaskan IPA dibandingkan IPS. Alasannya, aku lebih analis, teliti, dan menyukai data-data. Meskipun dalam hasil psikotest dua bulan lalu, persentase nilai IPA, IPS, juga Bahasaku sama semuanya.
Dengan IQ yang katanya 142. Cukup pintar seharusnya. Namun, aku jarang sekali mendapat peringkat pertama di kelas.
Pembagian kali ini nggak diwakilkan orangtua. Setiap murid menerima langsung hasil belajarnya enam bulan terakhir, sekaligus deg-degan mengenai penjurusan yang akan mereka terima hari ini.
Shania dan Andela sama-sama milih IPA. Dan kuharap, kami bertiga masuk ke jurusan ini, lalu sekelas lagi di kelas tiga. Kami semua tegang. Harap-harap cemas memasuki jurusan IPA, lalu harap-harap cemas lagi dengan peringkat kelas
semester ini. Semester lalu, aku, Andela , dan Shania berturut-turut menempati posisi tiga, empat, dan lima. Semester sekarang sepertinya akan berubah.
Dan benar saja. Bu Lina mengumumkan kalau aku lagi-lagi berada di peringkat ketiga, Luna turun menuju tujuh, sedangkan Mila drop to the tenth. Tapi untungnya, kami semua masuk jurusan IPA. Enam puluh lima persen dari kelasku memasuki jurusan ini. Sisanya mendapatkan kursi IPS. Dan nggak satu pun yang diterima di Bahasa. Lagi pula, sepertinya nggak akan ada kelas Bahasa tahun ini.
Pulang pembagian rapor, aku dan Tweenies merayakan keberhasilan kami di mal. Kami makan makan dan nonton. Bahkan, kami sempat menemui Mozon, Rebonding Galz, juga Jagad yang sedang merayakan kenaikan kelas mereka.
Jagad kelihatannya sangat bersyukur karena berhasil naik ke kelas tiga. Aku melihat wajah Keynal begitu pucat menunggu pembagian rapor. Keynal sudah yakin dirinya di ambang tidak naik kelas. Dan semua orang setuju akan hal itu. Mungkin sekarang dia sangat bersyukur atas karunia ini dan naik kelas, tembus di kursi IPS.
Sambil menyantap makanan syukuran kami, aku pun menceritakan pengalamanku menghilang dari peradaban sejak Senin hingga Rabu.
"Ya ampun ... capek banget!" seruku, tergesa gesa menyeruput segelas cola.
"Hihihi ... terus gimana lagi?"Shania nggak sabar mendengar ceritaku berikutnya.
"Ya gitu, deh! Tuh anak sampe naek meja makan
pas mau aku mandiin. Iiih, masa sih, mau ngemandiin bocah tiga tahun aja aku mesti joging dalem rumah. Gesit banget, bo!"
"But you didn't collapse, right? Elo masih bisa tahan, kan?"
"Ya ... untungnya sih, bisa. Tuh anak masih bisa aku takut-takutin sampe bener-bener nurut. Dia suka langsung meluk aku kalo aku kagetin. Dan dalam kesempatan itu, aku langsung gendong dia masuk bak mandi. Kunci kamar mandi, jebur jebur-jebur .... Ya, akhirnya tuh bocah wangi juga aku mandiin. Tapi ...."
"Tapi kenapa, Ve?"
"Tapi ... waktu hari Kamis, kok, aku jadi rindu ama bocah-bocah itu, ya? Badanku tiba-tiba nggak enak dipake tiduran di atas kasur. Pengin banget lari-lari ngejar anak kecil. Dua hari di rumah itu serasa udah dua puluh tahun tinggal ama tuh bocah. Kayaknya udah deket ama mereka. Jadi, waktu aku ninggalin mereka, ugh, rasanya ... beraaat banget buat pisah. Okelah aku emang kesel kalo mereka udah ngelakuin yang macem-macem. Tapi hal nyebelin yang mereka lakuin, jadi bener-bener aku rinduin di rumah."
Andela mengelus punggungku. "Well, It's okay. I always feel that way. Pisah ama siapa pun juga, nyebelin, ngeselin, nyenengin, semuanya bikin sakit. Kita tuh serasa kehilangan sesuatu ... gitu. Seems like something gone in our life. Kita jadi mikirin dia terus. Kita jadi ngebayangin dia terus. And struggling to exit this thing is nothing. Kita nggak
bisa ngelakuin satu pun to solve. Itulah yang dinamakan rindu."
Rindu? Missing all that baby?
"Iya, betul. Makanya, gue teh nggak mau banget pisah ama kalian!" Mila tiba-tiba memeluk kami, dan merangkul erat.
"Udah, ih. Apaan, sih? Kita gak bakalan pisah, kok!" Kami bertiga tertawa-tawa.
"Hm ... kalem weh, elo teh masih ada satu lagi asuhan. Buat yang sekarang mah, elo jadiin bener-bener ngasuh."
"That's right. Kapan elo jadi babysitter-nya?"
"Ngngng ... entar kayaknya. Hari Minggu besok, aku baru wawancara. Katanya, nanti aku kerja satu minggu penuh. Dan kuharap sih, gajiku bener-bener gede ngurus bayi monster seminggu penuh." Aku menyeringai sambil cekikikan.
"Bayi monster?" tanya Andela dan Shania berbarengan.
"Yah ... bocah bandel, perusak, plus manja. Aku harus kerja ekstra keras satu minggu ke depan. Doain ya, aku nggak depresi di akhir masa bakti!"
"Hihihi ... tunggu ,. Kayak gimana sih, orok-nya?"
"Ngngng ... aku sih, nggak tau gimana bentuknya. Tapi waktu aku nelepon ibunya, dia tuh lagi mecahin guci yang harganya tujuh juta. Terus ibunya bilang, 'Dede, pecahin gucinya yang satu juta aja,' gitu!"
"Hahaha ... tajir amat tuh orang!" potong Andela.
"Betul. Dan si bocah, marah gara-gara nggak
diizinin maen keluar. Hihihi ... bocah modern zaman sekarang emang kayak gitu kali, ya?!"
"Ya ampyun ... anak kalong ya mbok, ya?!"
"Iya, kali! Mudah-mudahan sih, bayi monsternya kayak Pikachu gitu!"
Kami bertiga tertawa lagi. Naomi yang lewat bareng Rebonding Galz-nya, menatap sinis padaku dari luar. Aku yang merasakan hal itu, langsung tertunduk, namun cekikikan.
Calm down, honey! I'll give you back your notebook.
AKU melewati pelataran parkir, dan memasuki sebuah lobi besar, yang di dalamnya berkumpul beberapa meja bundar bertaplak putih. Sepertinya, sedang ada pesta orang-orang borju. Atau mungkin prom night.
Begitu aku melongok ke dalam pintu, men-coba mencari yang namanya Bu Nira, seseorang memanggilku dari belakang. Aku berbalik, dan menemukan seorang wanita muda, sangat rapi, sedang berjalan ke arahku.
Wanita itu memakai blazer putih dengan celana panjang yang putih pula. Penampilannya elegan. Rambut lurusnya diikat rapi tepat di belakang kepala. Make-up-nya nggak berlebihan, jalannya kayak model. Wanita ini cantik banget, tinggi pula. Kalo benar dia adalah Bu Nira, aku yakin putranya berumur sekitar tiga sampai empat tahun.
Dia mengulurkan tangannya padaku, "Saya Bu Nira. Kamu pasti Geca, kan?"
"Ya-ya ... saya Ve," jawabku tersenyum, membalas uluran tangannya.
"Bagus kalau begitu. Ayo ikut saya!" Bu Nira mengajakku ke lobi tadi, dan kami duduk di meja bundar terdekat.
Ternyata dari dalam, aku bisa melihat banyak sekali orang yang sedang membereskan ruangan ini. Ada yang sedang menata meja. Ada yang sedang menata dinding. Ada pula yang sedang menggotong bongkahan es berbentuk angsa.
"Maaf, lobinya sedang kacau. Malam ini perusahaan saya mengadakan peluncuran produk baru, sekaligus syukuran." Bu Nira merogoh saku blazernya, dan mengeluarkan secarik kertas. "Ini ... kamu bisa pelajari ini di rumah."
Bu Nira menyodorkan kertas itu dan aku menerimanya. Kubaca tulisan-tulisan yang ada di sana selewat dan kembali menatap Bu Nira.
"Saya mohon ... anak saya benar benar membutuhkan seorang pengasuh yang juga bisa menjadi temannya. Anak seusiamu pasti mengerti suasana hatinya."
Aku tersenyum.
"Mulai besok, saya diminta perusahaan untuk mengikuti workshop produk sejenis di Amerika, selama satu minggu. Nah, sebetulnya sebelum kamu, saya sudah sering menyewa jasa pengasuh bayi. Tapi nggak ada yang betah satu pun, dan minta berhenti di tengah-tengah. Bahkan, ada pula yang sudah yakin di awal, namun begitu melihat anak saya, langsung membatalkan pekerjaannya.
Bagaimana denganmu?"
"Ngngng ... akan saya coba semampunya."
"Sebetulnya nggak begitu berat, kok. Kamu hanya harus menemaninya, atau mengobrol dengannya. Yaaah ... terkadang dia sangat cerewet. Terkadang dia rewel, manja, juga genit. Bahkan kadang-kadang sangat bandel. Pokoknya, ajak dia mengobrol saja. Dia suka membicarakan hal-hal yang mungkin ... gadis-gadis seperti kamu jarang ada yang suka. Jadi ... dibutuhkan ketahanan mendengarkan cerita yang mungkin kamu nggak akan suka."
"Oh, baik ... saya ... saya akan berusaha keras."
"Yang kamu pegang sekarang adalah daftar yang wajib kamu lakukan setiap waktunya. Selama satu minggu ke depan, kebetulan putra saya sedang libur sekolah. Jadi ... dia akan banyak berada di rumah. Di bawah tulisan itu, ada daftar hal yang nggak boleh anak saya lakukan. Tolong patuhi peraturan ini, agar dia nggak semakin bandel."
Aku tersenyum lagi.
"Oh, untuk masalah gaji ... ngngng, mungkin ... kamu boleh menentukannya sendiri." Apa? Sendiri?!
Aku melongo, merasa seperti mendapatkan suatu anugerah.
Aku bisa menentukannya sendiri? Nggak saiah, nih?! Kalau gitu, aduh, berapa ya? Berapa ya? Apa langsung empat juta aja gitu? Hehehe... kebanyakan kaleee ...! Takutnya nggak sopan! Eh, tapi, guci tujuh juta aja dipecahin ama tuh anak
nggak apa-apa. Biasa-biasa aja. Empat juta kayaknya nggak ngaruh deh, ama keuangan mereka.
"Ngngng... maaf. Gimana kalau ... empat juta?" tanyaku tersenyum, deg-degan nunggu reaksi Bu Nira. Senyumku semakin lebar mencoba menatap ramah Bu Nira. Keringat di setiap cabang tubuhku mulai mengambur keluar.
Bu Nira melongo kaget.
Tuh ... kan?! Kayaknya empat juta kebanyakan, deh. Aku harus siap-siap untuk mengatakan kalimat, "Saya cuma bercanda kok, Bu."
"Kok, dikit banget, sih?" serunya heran.
Apa? Dikit?
"Kenapa kamu nggak sekalian minta sepuluh juta aja? Empat juta sih, terlalu dikit. Cuma seharga HP pembantu saya." Bu Nira mengeluarkan sebuah agenda kecil dari sakunya.
"Ngngng .... Nggak usah deh, Bu. Jangan terlalu banyak," pintaku menolak tawaran besarnya. Bukannya aku sok rendah hati, tapi buat apa aku megang duit sebanyak itu?
Empat juta tuh masih dikit?! Giia!
"Eh, gimana, sih? Udah, ah. Sepuluh juta aja," Bu Nira keukeuh dengan gaji yang akan diberikannya padaku.
"Ngngng .... Lima juta aja, deh. Sepuluh juta kebanyakan. Gimana saya megang uang sebanyak itu, Bu?"
"Kok, pake nawar segala, sih? Udah, deh. Sebelas juta aja."
"Ibu, Nggak usah. Jangan kebanyakan!"
"Gimana, sih?! Kok, nawar? Udah ah, sebelas juta pokoknya!"
"Ngngng ... enam juta aja, deh." "Ah, kamu tuh mintanya dikit banget. Udah, deh! Nggak usah komentar lagi. Dua belas juta. Titik!" Bu Nira menuliskan angka tersebut di buku agendanya. Oh ... My ... God ...!!!
Mimpi apa aku semaiem bisa dapet duit sebanyak ini sekali kerja?! Ya, ampun ... mukjizat banget! Semonster apa sih, anaknya sampe aku digaji sebanyak ini?!
Dua belas juta, bo! Dua belas juta!
"Baiklah ... sekarang, Ibu ingin bertanya. Apakah kamu ... bisa dipercaya?" tanya Bu Nira serius.
Aku yang asyik membaca daftar peraturan karena trying to not to be panic, mendongak bingung. (Baca peraturan di halaman 81!)
"Ngngng ... apa ya? Ngngng ... sebentar."
Kukeluarkan sepotong kertas kecil dari dalam -tas, lalu menuliskan alamatku. Kuambil pula foto terbaruku, dan kartu pelajarku.
"Ini semua jaminannya. Nggak ada yang palsu. Kalo ternyata saya ketauan dan terbukti melakukan hal-hal di luar kesepakatan, atau melakukan perbuatan yang merugikan, Anda bisa menuntut saya di alamat ini. Atau kalau nggak percaya, Anda bisa menghubungi sekolah saya sekarang juga. Saya memiliki surat berkelakukan baik, dan nggak pernah terlibat dalam kenakalan remaja, apalagi tindakan kriminal."
Bu Nira tersenyum, membaca kartu pelajarku.
Peraturan
Lakukanlah:
• Beri makan Dede minimal 3 kali sehari. Pagi, siang, malam. Dede termasuk malas makan. Berikanlah dia makanan kesukaannya. Makanan kesukaan bisa ditanyakan ke pembantu;
• Menemaninya menonton teve. Jangan biarkan dia duduk di sofa sendirian; Dede nggak tahan nonton teve kalo nggak ada orang di sampingnya untuk berbagi komentar;
• Menemaninya melakukan segala hal. Sepanjang liburan ini, Dede akan melakukan banyak hal di rumah. Temani dia ketika melakukan kegiatannya;
• Menemaninya sebelum tidur. Dede akan tertidur lelap kalo ada yang bercerita di sampingnya, lalu mengelus rambutnya, dan menyelimutinya;
• Memandikannya, minimal satu kali sehari. Setidaknya ajak dia berenang.
Dilarang:
• Membuat hatinya kecewa;
• Membiarkannya pergi keluar ketika malam;
• Membiarkannya nggak ditemani;
• Mengajaknya pergi keluar.
Inilah Putraku, Namanya »»¦
AKU membuka pintu perlahan-lahan, memeluk mama begitu masuk. Beliau sedang menatap foto keluarga berpigura di ruang tamu.
"Ya ampun, Ma. Nggak nyangka, deh Kuceritakan semua kejadian yang kudapatkan siang tadi. Mulai dari gaji yang terlalu besar, sampai jamuan makan hotel ketika hendak pulang.
"Baguslah kalau begitu, Mama doain kamu lancar dengan kerjaan kamu nanti."
"Oh, makasih Ma. Nggak kebayang deh, gimana rupanya tuh anak. Monster atau apa, sih? Dibilang monster kayaknya nggak. Dibilang balita juga nggak mungkin."
"Emang kenapa, sih?" Mama heran.
"Ya ... gitu, deh. Katanya anaknya bandel, manja, nggak mau diem. Dia harus selalu ditemenin ke mana pun. Ditambah, dia tuh sering keluar malem. Dan aku nanti harus menjaga dia dari keluar malem-malem."
"Kamu udah lihat fotonya, Ve?"
"Belum, sih. Asalnya Bu Nira mau bawa foto anaknya, cuma kelupaan. Jadinya belum liat. Huh ... besok aku mulai kerja."
"Ya udah. Semoga aja, kamu sukses dengan pekerjaan ini."
"Ma, jangan kangenin aku satu minggu ke depan, ya!"
Mama mencubit hidungku. "Tenang aja! Paling juga kucing tetangga yang kangenin kamu!"
Aku tertawa kecil, dan berjalan menaiki tangga. Namun sebelum mencapai bagian tengah, mama udah memanggilku lagi. "Eh, Ve , Ve! Ada Nabilah tuh!"
" Nabilah mana?"
" Nabilah yang dari Pameungpeuk itu, yang rambutnya keriting lurus."
" Nabilah?" Aku berpikir lagi, dan meng ....
Oh my God! Ardhya ada di sini?,' Kuambil langkah cepat menuju kamarku, dan menggebrak pintu.
BRAK!
Sinka dan Nabilah yang lagi di depan notebook sama sekali nggak kaget. Mereka masih asyik menatap layar monitor. Namun lima detik kemudian, begitu sebuah proses loading di notebook Sinka selesai, mereka akhirnya berbalik.
"Ya ampuuun! Sapa, sih? Ngagetin aja!" seru Nabilah kesal.
"Aduh, ya! Kamu kagetnya telat, woi!" Aku menghampiri mereka berdua. "Kamu ada acara apa ke sini?" Kulemparkan tasku ke atas ranjang.
"Biasa. Tiap bagi rapor semester genap, gue suka kemari," ujarnya bangga, kembali menatap notebook Sinka.
Biasa apaan? Cuma Lebaran ama tahun baru aja datang kamu ke sini, kok! Kapan kamu liburan semester langsung maen ke Bandung? Ini baru pertama kali bukan ?
"Oooh ...," jawabku pendek, membuka ikatan rambut. "Gimana perjalanan dari Pameungpeuk ke Bandung?"
"Seperti biasanya. Gue cuma nemu dua belokan."
"Maksud kamu?"
"Yaaa ... entah kenapa, gue juga heran, ngi-tung beribu-ribu belokan, tetep aja belokannya cuma ada dua. Kanan dan kiri."
Aduh, ya ... plis deh! Penting, ya? Nabilah, sepupuku dari Pameungpeuk. Sebener-nya dia itu menyenangkan, cantik, dan baik. Tapi semua itu hanya "sebenernya", terkadang Nabilah lebih sering nyebelin. Suka ngebuntutin orang sampe WC. Atau ngomongin hal-hal yang sebetulnya nggak penting. Mata agak sipitnya menjadi ciri khas. Terkadang bermuka judes, bahkan kadang-kadang bermuka dua. Hehehe ... dia memang jaim. Wajahnya datar di setiap tempat, meskipun aku pernah menemukannya cekikikan sendiri di dalam kereta api.
Unlike Nabilah, Sinka dari Bogor lebih nggak penting untuk dibicarakan. Dia lebih sombong (maaf ya, Sin! Maksudku, takabur), dan selalu menunjuk-
kan setiap benda terbarunya pada setiap orang. Saking seringnya, terkadang aku menemukan Sinka sedang menunjukkan diary barunya sama pedagang es keliling. Bibirnya yang agak tebal menjadi ciri khas khusus. Manjanya minta ampun, dan rengekannya minta tolooong! Masih lebih mending dari, Nabilah Sinka is the iemot one. Ovie sering memarahi setiap benda di dekatnya kalo kesal, atau membantingnya sampai rusak meskipun barang barang itu nggak berdosa. Kasian banget, sih ...I
"Lagi ngapain tuh?!" seruku sambil menjatuhkan diri di samping Sinka.
"Lagi natap komputer," ungkap Nabilah buru buru, takut pertanyaanku dijawab Sinka. Dasar kamso ... kampungan so much1.
"Iya, aku juga tau. Maksudku, lagi buka apa tuh?" tanyaku lagi dengan tenang, meskipun kesal kalo Nabilah udah menjawab seperti itu.
"ya ... lagi buka komputer. Masa buka buku, sih?" jawab Nabilah lagi cepat-cepat, beserta wajah judes dalam ngejawabnya.
Hm ... aku mendengus, kemudian mengangkat tubuhku, mendongak menatap notebook. Ya ampun ternyata Sinka lagi-lagi ngebuka website sekolahku. Dan lagi-lagi, foto Keynal hampir memenuhi halaman.
Mengetahui yang sedang dilihat mereka adalah nggak penting, aku pindah ke atas sofa di samping lemari. Aku tiduran sambil memainkan salah satu boneka yang terjatuh dari atas lemari. "Kamu ke sini
bareng siapa, bil?"
"Bareng sama desiran angin dan kehangatan sore."
Aku melemparkan bonekaku pada Nabilah.
Dia terdorong sedikit, dan tersentak. Kemudian mengambil bantal, lalu balas melemparkannya padaku. "Apaan, sih? Nggak penting tau!" serunya.
Aduh, ya. Bukannya kamu yang selama ini kagak penting, huh!
"Jam berapa kamu berangkat, bil?" tanyaku lagi, berbasa-basi.
"Sesuai jam keberangkatan."
"Naik apa?"
"Alat transportasi."
"Oh jawabku pendek sambil bangkit dan
berjalan keluar kamar. Saat menuruni tangga hendak menemui mama, tiba-tiba dari belakang, aku mendengar pintu kamarku dibuka dan ditutup.
baru saja keluar. Dia menatapku judes dari anak tangga dan menyilangkan tangannya di depan dada. Aku nggak peduli, bergegas menuju mama.
Dasar aneh!
Mama sedang mengupas jeruk begitu aku menjatuhkan diri di atas sofa, di sampingnya. Getaran yang kubuat, membuat mama bergerak naik turun.
"Ma ... punya ide mengatasi anak bandel?" tanyaku santai.
Mama menggeleng, memasukkan sekerat jeruk ke dalam mulutnya.
"Anak manja?"
Mama menggeleng lagi. Tangannya ditengadahkan di depan mulut, mengeluarkan biji jeruk.
"Ngngng ... anak yang sering keluar malem?"
Mama menggeleng lagi. Lebih lama.
"Oke, bagaimana dengan ... merawat seorang anak laki-laki?"
"Mama nggak pernah punya anak bandel, manja, dan keluar malem. Anak Mama pun perempuan semua."
Tiba-tiba, Nabilah datang dari belakang kami. Meloncati sofa dengan gagah, lalu duduk di antara kami. "Minggir-minggir-minggir!" serunya menggoyang goyangkan pinggul.
Mama acuh dengan kelakuan Ardhya tersebut. Mama hanya mengambil sekerat jeruk lain, dan mengunyahnya penuh nikmat. Aku mengembuskan napas besar. Dan menatap keluar jendela. Sekaligus menggeser beberapa senti badanku ke samping.
"Ceritain lagi dong, kayak gimana sih, bayi yang bakal kamu urus!" pinta mama dengan mulut penuh dengan daging jeruk.
"Jangan sebut dia bayi, Ma!"
"Iya, pokoknya itu, deh."
"Ya ... dia sih, ibunya kelihatan masih muda. Tapi kayaknya tuh anak udah seumur delapan sampai sembilan tahunan. Udah agak besar."
Nabilah langsung bangkit, dan berjalan melewati kakiku. Dia menggeser-geser punggung kakiku dengan betisnya, dan melewatiku tanpa hirauan apalagi permisi.
Apaan sih, nih cewek?
"Dari mana kesimpulan kayak gitu?" tanya mama
lagi.
"Dari hal-hal aneh yang aku dapatkan sampai saat ini. Anaknya itu udah sekolah. Dia suka ngomongin tentang cewek di sekolahnya. Dia suka keluar malem. Dan Bu Nira rajin banget bilang 'kamu pasti mengerti suasana hati putraku'."
"Mungkin karena kamu masih sangat muda, kamu dikira sangat mengerti apa yang sangat kekanak kanakan."
"Nggak lho, Ma! Bukan itu alasannya. Aku juga masih bingung. Sebab, Bu Nira pernah ngomong gini, 'untung kamu masih enam belas tahun'."
"Yaaa ... anaknya suka daun muda atau bron-dong kali?!" kata mama.
Brondong? Nih ibu gaui amat, sih i
Aku membanting sebuah bantal di sampingku ke atas sofa, memukulkannya kesal. "Apaan yang daun muda? Aku ini manusia. Bukan dari kingdom piantae1."
Tiba-tiba, Nabilah datang lagi dengan secangkir teh hangatnya. Dan lagi-lagi, Nabilah duduk di antara aku dan mama. Kemudian meletakkan cangkirnya, menyilangkan kaki, dan mengibas ngibaskan tangan di dekat leher. "Aduh panas di sini. Tante, misi deh, sebelah sana dong, dikit! Gerah, nih."
Aduh, ya! Sofa di ruangan ini tuh banyak, Neng Ardhya! Kenapa sih, tergila-gila banget ama sofa ini? Sama aja kan, ama sofa yang di samping. Masih satu merek, satu warna, dan satu pabrik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar