Minggu, 13 Maret 2016

Publik Relations Menghadapi Perilaku Media yang kadang Kurang Beretika


Di satu saat, wartawan bisa amat sangat dibutuhkan, baik oleh orang per orang, perusahaan atau institusi, bila memang menyangkut publikasi. Namun di saat lain, ia malah sengaja dihindari, dipukul atau bahkan diancam untuk dibunuh.

Berita buruk di media massa kerap kali menerpa perusahaan besar yang sudah berkaliber nasional.
yang kemudian citra perusahaanlah yang menjadi taruhannya. apa lagi zaman sekarang sudah banyak peusahaan-perusahaan baru yang akan menjadi penyaing perusahaan yang sudah ada.
Ketika menghadapi crisis management yang menyangkut citra perusahaan, seorang PR harus benar-benar mengerti duduk permasalahannya seperti apa. Yaitu bagaimana menyelamatkan citra. Bukan menilai siapa yang harus disalahkan dan menyalahkan.

Dalam hubungan PR dengan media, lobbying PR benar benar dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan wartawan. Unsur cepat, tepat dan akurat dalam menghadapi wartawan harus menjadi insting tajam seorang PR.
Dalam menghadapi media, selain lobbying, PR sebagai representasi perusahaan harus bisa menampakkan diri menjadi bagian baik dari perusahaan. Salah satunya, bisa dengan menggandeng pihak-pihak luar yang terlibat dalam krisis tersebut. Termasuk pihak luar yang berseteru dengan perusahaan. Intinya, itikad baik untuk menyelasaikan krisis harus bisa ditampilkan PR.

Dalam buku Public Relations Techniques that Work, Jim Dunn memberikan tips-tips penting ketika berhadapan dengan para wartawan :

1. Respon pertanyaan media dengan kompeten dan profesional
Para awak media, termasuk para kontributor, bisa menghadang dan memberondong banyak pertanyaan kepada Anda kapan dan di mana saja. Pastikan bahwa seluruh pertanyaan yang relevan mendapatkan respon yang sesuai dan professional.

2. Respon cepat pada panggilan media
 Bila deadline merupakan musuh para media, maka informasi yang akurat beserta aksesnya adalah ladang ‘emas’ bagi para awak media. Pastikan Anda segera merespon ketika mendapat panggilan dari media. Jangan lupa seluruh informasi penting yang perlu disampaikan kepada media sudah ada di tangan Anda.

3. Tidak ada kata “off the record” dalam wawancara
Meskipun masih menjadi perdebatan, hindari “off the record” dalam wawancara karena bisa menimbulkan persepsi bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu. Bila Anda tidak ingin media mengetahui lebih lanjut, jangan beritahu mereka.

4 Hindari memberikan informasi yang bersifat prediktif
Sudah tugas media untuk melaporkan fakta-fakta, maka berikan informasi yang berdasarkan fakta serta hindari informasi yang prediktif. Spekulasi fakta akan merugikan Anda bila nantinya para awak media menemukan fakta yang berbanding terbalik dengan spekulasi Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar