Rabu, 15 April 2015
Love Story 3
AKU membuka pintu kamarku, langsung melemparkan ransel ke atas sofa. Nabilah dan Sinka lagi mainin notebook di atas ranjang.
Ya ampun, mereka masih ada di sini?
Kuganti pakaianku dan mencoba menyapa mereka, juga mencoba nggak menangis. Karena, selama diantar oleh sopir pribadinya Bu Nira, aku menangis di jok belakang. Pak Agus mencoba mengajakku bicara. Tapi, aku nggak pernah meresponsnya.
Plis dong ah, kalo aku lagi nangis kayak tadi, jangan ngajak ngobrol.
"Hai! Kalian masih betah di Bandung? Kukira kalian akan sudah pulang begitu aku selesai bekerja." Kumasukkan tangan ke lengan baju, dan menarik tepi kaus menutupi tubuhku.
Nabilah menoleh padaku, "Kami lagi buka website sekolahmu."
"Aku nggak tanya itu!"
"Tapi, elo tanya itu waktu gue ke sini minggu kemaren, kan?"
"Aduh, ya. Itu kan, minggu lalu."
Aku meninggalkan mereka di kamar dan beranjak menuju telepon. Kabel modem panjang yang dihubungkan ke pesawat telepon, menarik perhatianku hingga aku sampai di depan telepon. Kutelepon Shania pertama kali.
"Hallo ... Shania cantik di sini!" sapa Shania langsung begitu mengangkat.
"Hey! Nggak sopan. Mengangkat telepon pertama kali seharusnya nggak seperti itu. Bagaimana kalo walikota yang meneleponmu?"
"Halo, walikota ya? Iiih ... aku Shania, Pak! Usia enam belas tahun, cantik, baik budi, dan rajin menabung. Hidup cinta!"
"Hahaha Shania. Sejak kapan kamu mengangkat telepon untuk pertama kalinya?! Kenapa tiba-tiba kamu menyempatkan diri mengangkat telepon?"
"Ngngng ... karena teleponnya berdering ?"
"Lupakan itu. Jangan bercanda lagi. Aku lagi bete sekarang."
"Elo teh ada di mana, Ve? Di wartel?"
"Aku udah nyampe rumah. Udah beres pekerjaanku. Hm, tinggal menikmati sisa liburan dan ... menghadapi satu masalah besar selanjutnya."
"Dino?"
"Kamu tau tentang itu?"
"Gimana gue nggak tau kalo Andela nelepon ke
gue buat pertama kalinya, minta bantuan gue. Gue sih males, Andela. Ih, kenapa sih, si Andela nggak menyeleksi lebih dulu pasangan chatnya?"
"Jadi ... punya ide untuk menghadapi si ... Dinosaurus itu?"
"Mulai menggunakan gue-elo? Yang gue tau sih, si Andela agak cemas minta bantuan elo. Andela pikir, elo teh nggak akan mungkin ngomong gue-elo."
"Hahaha ... lagi, Shania. Aku udah tau tentang itu, tenang aja. Maksudku barusan, adalah ... 'adakah ide tentang bagaimana cara muntah secara sopan di depan mukanya'?"
"Ngngng ... membawa kantong kresek? Gue suka membawa kantong kresek kalo kira-kira bakalan muntah di perjalanan."
"Oh, my next ha-ha, Shania. Tidakkah kau mengerti bagaimana pertanyaanku barusan?! Kamu tau kan, wajahnya itu bagaimana? Tidakkah kau punya pendapat bagaimana caranya berinteraksi dengan orang berwajah seperti dia?"
"Nggak tuh."
" Shania!" aku menggeram, "Kita ganti topik! Sebelum aku memutuskan kabel teleponku yang keriting ini." Entah kenapa ibuku malas sekali rigerebonding kabel telepon ini.
"Oh, oke mau ngomongin apa? Oh, ya! Babymon! Ceritain sama gue maksud elo dengan, CUTE? Apakah dia teh benar-benar, Pikachu? Atau sejenis, Sailormoon ?"
"Dia ... dia ... dia bayi berumur dua tahun yang
sangat lucu!" Aku nyengir sendiri di telepon, berbohong.
"Oya? Bayi dua tahun yang mampu membedakan mana guci tujuh juta dan mana guci satu juta?"
"Dia memecahkannya asal-asalan, kok! Tenang aja, ibunya hanya bercanda. Gucinya nggak benar-benar seharga tujuh juta. Mungkin sekitar, ya, enam juta sembilam ratus ribuan. Itu pun kata pembantunya," aku berbohong lagi.
"Ouw, begitu ya. Dan dia .... bayi dua tahun yang sering keluar malam ?"
"Maksudnya keluar malem tuh ... dia selalu main di halaman rumahnya, di kebun depan rumah, bermain sendiri sekitar jam tujuh atau jam delapan malam. Semua orangtua pasti khawatir, seandainya mendapatkan bayi mereka sering keluar pada jam segitu," aku bohong lagi. Sepertinya, aku mulai berubah menjadi pathological liar.
"Ouw. Keren. Dan ... dia bayi dua tahun yang sudah sekolah lalu menceritakan wanita-wanita di sekolahnya?"
"Kenapa nggak? Maksud ibu itu adalah playgroup. Nggak benar-benar sekolah."
"Tapi, dia benar-benar bercerita tentang cewek cewek di sekolahnya bukan?"
" Shania, apa barusan aku nyebutin umur dua tahun? Maaf, maksudku delapan tahun. Hehehe Aku menyeringai di ujung telepon.
"Delapan tahun? Dan elo menyebutnya ... bayi?"
AKU menyeruput bubble coral tea-ku sampai habis, lalu membuang gelas plastiknya ke tempat sampah. Shania ada di belakangku. Sendirian, mengawasiku. Kupinta dia menemaniku hari ini, ketemu sama yang namanya Dino. Aku lakukan ini untuk jaga-jaga seandainya aku pingsan, sehingga Shania menjadi satu-satunya orang yang mengetahui alamat rumahku dan bisa mengantarku ke sana. Atau jangan-jangan, Andela udah ngirimin alamatku sama si Dino? Jahat sekali Andela! Aku nggak akan pernah memaafkannya kalo itu benar.
Kududuki bangku yang diletakkan rapi di depan studio bioskop. Pukul tujuh, lantai empat, BIP, jangan telat! Dan sekarang ... dan sekarang ... sekarang masih pukul setengah tujuh!
Hehehe ... aku sengaja kepagian setengah jam, seenggaknya saat aku melihat wajah anehnya, aku bisa kabur dulu dan melakukan latihan sekali lagi "How to meet alien from andromeda?".
Sepuluh menit sebelum pukul tujuh, tiba-tiba duduk seorang cowok cakep-banget-di sampingku. Cowoknya tinggi, badan berisi, kulit agak gelap, rambutnya keren, style-nya keren, dan wow ... senyumnya, bo… Kucing tetanggaku aja bisa kalah. Dan yang membuatku gelisah, dia mulai menatapku, tersenyum manis, serasa aku udah mengenalnya sebulan lalu.
"Hei! Dikirain bakalan telat, ternyata elo datang lebih pagi dari gue," sapanya tiba-tiba.
Aku tersentak heran, dan semakin menatap wajahnya yang ganteng. "M-maaf ... Anda siapa,
ya?"
Sebelum cowok itu menjawab pertanyaanku, dapat kulihat Shania tiba-tiba duduk di kursi kosong di samping kursiku, dan telinganya yang tiba-tiba melebar membuatku yakin dia berusaha nguping.
"Ya ampun, cakep banget! Ternyata gue nggak salah tebak. Elo pasti yang di tengah itu, kan?" ujar cowok itu aneh.
Aduh, ya, ngelantur aja nih cowok!
"Helo, Mas ... Helo! Are you there?"
"Masih pake bahasa Inggris juga, ya?"
"Apaan, sih? Maaf, bisakah Bapak berbicara lebih connecting people lagi supaya saya bisa menjawab komentar atau keluhan bapak? Saya nggak mengerti!" kataku.
Cowok itu langsung tertawa, terbahak. Dia menertawakanku, lalu beberapa saat kemudian, dia mengulurkan tangannya. "Gue Dino. Didin Mulyono Pangestu. Kaget, ya?" katanya tersenyum serasa menang.
Wajahku langsung datar. Suddenly heran. Dia ... dia Dino? Dino yang bakalan ketemuan sama aku? Dino yang jeleknya minta ampun di foto? Dino yang menurutku sama sekali nggak punya style?
"Mas adiknya?" tanyaku karena nggak yakin.
Dia tertawa lagi. "Aduh, aduh. Elo tuh lucu banget, sih? Dari pertama chatting juga gue yakin elo pasti sekocak ini. Makanya, gue nggak sabar pengin cepet-cepet ketemuan ama elo." Dia menggeleng-geleng, "Gue ini Dino. Elo pasti kaget ngeliat gue. Bukannya gue mau nipu elo. Tapi,
kebanyak-an cewek cuma mau ketemuan ama cowok yang cakep-cakep. Jarang banget ada yang niat ama yang, hiii kayak foto yang elo terima."
Kamu tuh cakep gitu, lho! Masa sih, masih nyamar juga!
"Ouw ...!" Aku tersenyum lebar. Nggak tau harus berbuat apa.
"Yaaa ... foto yang elo terima emang foto gue. Sengaja gue bikin sejelek mungkin. Gue cuma ngetes. Kira-kira, cewek secakep elo bakalan mau nggak ketemu ama orang kayak gini? Dari Banjaran lagi!"
Aku tersenyum manis. Hehehe ... berarti aku lulus tes, dong. Andela dan Shania yang nggak. Mereka kan, nolak mentah-mentah.
"Dan ... gue nggak nyangka kalo elo yang difoto di tengah itu. Gue emang ngeharepin itu elo. Ternyata ... ya, itu elo. Meskipun kalian bertiga cantik-cantik dan wajahnya hampir mirip."
"Maksudnya, apa?" Aku mengernyitkan dahi.
"Foto yang elo kirim ke gue. Foto elo ama temen elo. Yang pada pake baju pink terus rok putih itu! Kalian foto bertiga, kan?"
Andela brengsek! Heh! Kenapa sih, nggak bilang-bilang ngirimin foto tujuh belas Agustus an tahun lalu ke si Dino ?!
"Oh, yang itu ya ... hihihi ... aku baru inget! Sori-sori. Maksudku, gue baru inget!" Aku tersenyum lagi. Ya ampun, aku lupa harus mulai menggunakan gue-elo di sini. Dan juga, sedikit bahasa Inggris.
Dino mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa, sih?"
"Ah, nggak. Gue ... hanya ... feeling so sick."
Ya ampun ... aku ngomong apa barusan ?
Dino terbahak, tertawa lucu mendengar jawabanku. Kemudian setelah reda, Dino menerawang, menatap keadaan sekitarnya. Dan sialnya, Dino menemukan Shania sedang duduk di kursi di samping kami.
"Hey! Itu temen elo, kan? Yang difoto di kiri, kan?" Dino menunjuk Shania.
Aku menoleh dan mendapati Shania panik. Mila buru-buru meraih sebuah majalah, pura-pura membaca.
Oh ... ingin sekali aku mengatakan ....
1. Shania, dapat dari mana majalah itu? Sepertinya majalah baru.
2 Shania.... majalahmu terbalik! Aku nggak tau kalau kau bisa membaca dalam keadaan majalah "terbalik" seperti itu.
Shania lalu pura-pura menurunkan majalahnya, pura-pura celingukan, pura-pura menunggu seseorang, pura-pura menemukanku, dan pura-pura kaget menemukanku ada di sini.
"Eh, Ve...I Sori-sori ... Luna?! Apa kabar, Andela? Ke mana aja, nih!" Shania bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiriku, menenteng majalahnya.
Kemudian kami melakukan ritual cipika-cipiki,dan Andela sempat membisikan sesuatu begitu pipi kami beradu, "Mana si aliennya? Kok, elo teh malah
kenalan ama cowok kasep, sih?" Kemudian, Shania bangkit lagi dan tersenyum.
Aku tersenyum lebar. Dan sebelum Dino minta Shania gabung bareng kami, Shania dengan sigap mengangkat pergelangan tangannya dan berseru panik, "Ya ampun ... setengah jam lagi gue les piano!" Shania, lagi-lagi aku ingin mengatakan ....
1 Shania., sejak kapan kamu les piano? Yang ku tau, les menyanyi pun nggak kamu ikuti meski pandai menyanyi.
2. Shania, apa yang kamu lihat di pergelangan tanganmu? Nggak satu pun jam tangan menempel di situ, Shania!
"Ya udah deh, aku mau ke salon dulu!" katanya lagi tiba-tiba. Shania melambai manis dan bergegas pergi.
Hm ... melanjutkan yang tadi.
3. Shania, kenapa ke salon dulu kalau sebentar lagi harus les piano ?
4. Salon bukan ke arah sana. Itu bioskop!
"Temen elo aneh, ya!" komentar Dino begitu Shania menghilang.
"Y-ya .. dia emang kayak gitu, kok. Terkadang idiot, terkadang embisil, terkadang pula debil. Nggak tau, deh. Tapi dia bisa dapet ranking sepuluh waktu bagi rapot kemarin."
Dino tertawa lagi, menertawakanku. "Waduuuh
... jangan-jangan, gue awet muda nih, barengan ama elo terus. Kocak dan rame. Fun. Bodor."
Apanya yang kocak? Yang aku tau sih, berdasarkan poling, aku cuma dearest among other. Dan, Shania yang mendapatkan gelar funniest among other. Sementara Andela, mendapatkan faboious among other. Jadi, kayaknya aku nggak terlalu lucu, deh. Nggak terlalu ngelawak. Tapi kok, cowok ini ketawa terus, ya?
"Oke-oke ... udah, deh. Sekarang ... gue mau nanya ama elo. Menurut elo, gue ... gimana?" tanyanya tiba-tiba bernada serius, tapi dia tersenyum.
Aku merengut, langsung berwajah datar, heran. "Maksudnya apaan, nih?"
"Yaaa ... menurut elo, gue tuh gimana, sih?"
"Ngngng ... gimana, ya? Gue nggak tau. Elo, ya ... normal."
Dino cekikikan lagi. "Emangnya ... aku ini alien, apa?"
Y up! Seenggaknya ... di foto itu. Aku tersenyum lebar, dengan pesan; sori, cuma bercanda.
"Waduh ... nggak akan beres nih, ngobrol ama elo. Hm ... kita pindah, yuk, makan. Gue belum makan nih, dari tadi." Dino bangkit dan mengulurkan tangan padaku.
Aku berdiri dan langsung menjabat tangannya. "Senang berkenalan sama elo," ucapku langsung, meski aku tau dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Tapi aku ini cewek cantik enam
belas tahun yang kocak dan periang. Aku nggak butuh uluran tangan siapa pun untuk bangkit dari duduk. Tungkaiku masih kuat.
Dino ... cekikikan lagi! "Elo tuh lucu banget, deh!" pujinya.
Aku tersenyum. Beberapa langkah kemudian, kurasakan dia mencoba menggenggam dan meremas tanganku. Aku langsung melepaskan tangannya. Plis deh, ah! Nggak sopan banget! Baru kenal udah berani kayak gitu?!
Akhirnya Dino melepaskan tangan jahilnya dan kami nyampe di counter bakmi yang beken. Tapi, dia terus-menerus tertawa sepanjang perjalanan, dan membuatku ingin berteriak, "Gue jadi feeling so sick berjalan dengan elo!"
Cowok Brengsek!
KUAMATI wajahnya dari tadi, mencoba mencocokkannya dengan selebritis aja di dunia ini. Dino benar-benar mirip dengan seseorang. Tapi ... siapa, ya? Aku pernah lihat aktor berwajah seperti ini, tapi ... sungguh, aku lupa namanya. Namun yang pasti, Dino bakalan masuk daftar cowok keren versi Tweenies. Dan, dia sepertinya berpeluang masuk lima besar, di bawah Key tentunya.
Aku melirik jam dan mendapati sekarang sudah hampir pukul setengah sembilan. "Ngngng ... Dino. Gue pikir bahwa sekarang udah larut malam," ungkapku, tersenyum manis.
Hoooh ... maafkan aku, Andela. Aku kesulitan melepaskan kebakuan.
"Oya? Biasa aja, ah! Katanya elo suka maen malem. Jam segini sih, masih siang!"
"Oya? Hihihi aku tertawa kecil meskipun
dalam hati mengutuk Andela.
Heh! Lun, jangan asal ya, kalo chatting.' Aku tuh
kapaaan ke luar rumah lebih dari jam sembilan ?!
"Tapi, gue pengin pulang," pintaku memelas, benar-benar mencoba pergi dari situasi membosankan ini.
Sedari tadi, sejak masing-masing makanan kami habis, kami ngobrol ngalor-ngidul nggak keruan. Entah apa yang dibicarakan, tapi mudah sekali bagi kami ganti topik dari topik yang sedang dibicarakan. Nggak tau, deh. Bisa-bisanya dari ngomongin Miss Universe langsung nyambung ke bakteri dalam usus. Pokoknya, nggak penting!
Dino lebih sering tertawa setiap aku menunjukkan aksen-aksenku, menjawab komentarnya, atau sedikit mengeluh ala orang barat. Dia selalu cekikikan. Katanya aku terlalu lucu. Biasa aja, deh. Lucu apanya sih, aku? Lucunya pelawak, atau lucunya badut?
"Ngngng .... oke, mungkin elo lagi capek. Ya udah, gue anterin pulang, ya!" Dino bangkit, menarik jaketnya kemudian menjajahku keluar counter.
Kami berjalan menyeberangi jalan, memasuki BIP lagi karena mobil Dino memang diparkir di sana. Meskipun udah kubayangin kalo dia bawa Mercy atau minimal BMW, ternyata aku mendapati Dino hanya membawa Suzuki Ceria. Nggak ada yang menarik berada dalam mobil ini. Hanya bau mobil biasa, tanpa pewangi.
Mobil ini keluar pelan dari BIP, dan meluncur cepat di jalan Merdeka. Sebuah SMS menarik perhatianku. Jadi, aku nggak begitu memerhatikanjalan
Invasi org cakep?
Knp alien itu tdk datang?
SMS dari Shania. Entah berada di mana dia sekarang.
Yap. Dan cowok cakep ^ yg duduk di sampingku adalah ^ Dia!
Balasku kemudian sambil cekikikan. Dino ikutan tertawa kecil melihatku cekikikan. Sambil memegang setirnya, dia menatapku dalam.
Aku ngeles, lalu memandang jalanan di sekitarku.
Lho, di mana ini?
Tiba-tiba kami berada di jalanan sepi. Samping sampingnya rumah, terus pohon-pohon gede. Di mana ini?
"Mau ke mana ini, Din?" tanyaku, celingak celi-nguk lagi melihat keadaan.
Cetrek!
Sebelum Dino menjawab, kunci otomatis yang diletakkan di pintu pengemudi, mengunci pintu di sampingku. Aku terkunci. Apa-apaan sih, ini?
"Kita ke kosanku dulu di daerah Dipati Ukur," katanya.
"Apa? Ah, nggak! Gue pengin langsung pulang!" Aku berontak.
"Bentar, kok." "Nggak!"
Dino mengulurkan tangannya, lalu mengusap rambutku.
"Iiih ... apaan, sih?!" Aku menangkis tangan itu sampai Dino mundur menghindar. Cowok ini mulai gila. Walaupun mungkin salahku juga, nerima ajakan cowok asing ke mobilnya.
Dino malahan seneng. Dia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, menunjukkan gigi atasnya. Ugh! Deskripsi mupeng kayak gitu, nggak ada indah-indahnya!
Brengsek!
"Aku turun di sini!" paksaku, menggedor-gedor kaca jendela.
"Bentar aja, kok!"
Kulihat keadaan lingkungan benar-benar zona merah. Sangat berbahaya, tinggal pepohonan, dan sebagian rumah berjarak jauh, juga jalanan sepi, yang ada di sekitarku.
Wah, mulai nggak beres, nih!
Sambil memelankan mobilnya, tapi masih cukup kencang bagiku untuk meloncat langsung, Dino menatapku penuh nafsu.
Aaarrrgggh! Cowok brengsek!
Satu tangannya meraih tanganku, masih sam-bil konsen nyetir. Aku terjebak di pintu, nggak berkutik. Tangannya beraksi, tapi aku pukul terus tangan itu.
Brengsek!
Kucoba membuka kunci pintu, tapi nggak bisa. Sepertinya sudah direkayasa agar nggak bisa dibuka di sini. Kurang ajar!
Kenapa harus mobil gini, sih ?!
Andai ini adalah bus kota, setidaknya aku masih bisa lari ke belakang. Mobil ini terlalu kecil bagiku karena Dino berhasil beberapa kali menyentuh tubuhku.
Buk! Buuukkk! Aku memukul terus tangan tangan setan itu!
Tiba-tiba, tangan itu mencekik leherku, dan menarikku mendekatinya. Sekuat tenaga aku melepaskan tangan Dino. Tapi sulit! Sakit sekali begitu kutarik.
Aaaarrrgggh! Pekikanku bahkan nggak terdengar.
BUUUGGGHHH!!!
Sebuah hantaman keras. Menghantam bagian samping mobil. Tepatnya bagian kemudi.
Sebuah mobil berwarna gelap menabrak mobil Dino yang melaju agak lambat, jadi oleng karena tabrakan. Tapi, Dino dengan gesit langsung melepaskan cengkramannya dari leherku, kemudian balas menabrakkan mobilnya pada mobil hitam itu.
Bruuuk! Bruuukkk!
Kedua mobil bertabrakan di tengah jalan, ketika sedang melaju. Pokoknya mirip di film action, deh! Dan, aku ada di dalam mobil ini. Benar-benar merasakan gimana hantaman keras itu membuat tubuhku berguncang ke sana kemari, membuatku berkeringat dan berdegup kencang.
Tapi kupikir, mobil hitam itu menang. Mobil Dino benar-benar oleng sampai berhenti karena menabrak pohon besar.
Craaash! Tabrakan!
Untungnya, kecepatan nggak begitu tinggi, karena Dino masih sempat mengerem. Kami berdua selamat, tanpa luka sedikit pun karena terlindung sabuk pengaman, dan hanya tersentak sedikit.
Dino langsung keluar dari mobil dan menghampiri si pengemudi tadi, yang juga menepikan mobilnya di belakang mobil Dino.
Aku ikut keluar melihat pintu pengemudi terbuka begitu saja. Dari luarlah, aku melihat Dino dan Key berantem. Duel. Key melancarkan pukulan-pukulan keras. Dino belum sempat membalasnya. Dan dengan mudah, Dino terjatuh, kemudian satu kaki Key menginjak dadanya.
Sambil terengah-engah, Key berteriak, "Awas, ya! Jangan pernah deketin cewek itu lagi! Kalo bisa, cewek mana pun! Mau mati elo?!"
Cowok brengsek seperti itu harus dikasih pelajaran orang sedunia. Aku nggak nyangka dia begitu brengseknya, sampai-sampai bertampang mupeng di dalam mobil.
Aaarrgggh! Beruntung sekali aku selamat!
Dino nggak berontak. Dia kalah di bawah injakan Key. Dan bagiku, barusan adalah pertarungan hebat yang terlalu singkat.
Dino memuku Key l, tapi Key berhasil menangkis. Dan giliran Key yang memukul, Dino malah nggak bisa apa-apa, terus aja dipukul sampe jatuh ke tanah. Sampe Key berhasil nginjek si Dino.
Hore ... hebat! Keyis my hero.
Aku menghampiri mereka, dan menarik Key agar nggak nafsu menghabisinya. Kutarik kaki Key dari dada Dino. Cowok brengsek itu terengah-engah di atas tanah. Kasian, deh. Dan dengan agak sulit, aku mendorong mundur Key dari arena pertarungan.
Udah, ah. Nih cowok-cowok jangan sampe pada berantem lagi! Udah malem nih, nggak rame, nggak ada yang nonton.
Key masih mencoba maju ingin menghajar Dino lagi. Tapi, aku pun nggak nyerah mendorong Key mundur.
Hehehe ... kayak di film aja, deh.
Berhasil juga, sih. Karena Key dan aku langsung masuk ke dalam mobil, lalu hengkang dari situ.
Aku langsung meraih knop pintu, membukanya, lalu masuk. Sebelum aku selesai memasangkan sabuk pengaman, Key udah menginjak pedal gas kuat-kuat, membuatku terhentak ke belakang dengan keras.
"Kamu tuh ngapain sih, kencan ama orang kayak gitu?!" Key mendengus kesal.
" Key... aku, aku nggak tau, Key! Aku nggak tau dia cowok kayak gitu!"
"Tapi itu kan, bahaya, Ve!"
Aku diam nggak menjawab komentarnya. Kutatap jalanan gelap di depan, yang mulai memasuki daerah pemukiman. Key mengerutkan keningnya, kesal.
"Kamu ... kamu gimana bisa tau aku ama dia?" tanyaku.
Mulanya Key hanya menolehku sekilas, lalu kembali pada kemudinya. Namun dia menjawab juga. "Aku ... aku sebenernya nggak tau kamu lagi ngapain. Kebetulan aja, aku dari BEC tadi, lagi ... beli something. Ya, aku terus ngeliat kamu makan ama cowok itu. Aku ... buntutin kamu terus. Dan aku, ngeliat dengan jelas, dia mulai ngelakuin hal biadab di mobil tadi," katanya. Hm ... mulai kurasakan dia menggunakan kata aku mengganti namanya.
"Kenapa nggak nyamperin aku, sih?"
"Nyamperin kamu? Kirain ... kirain itu pacarkamu."
"Sejak kapan aku punya pacar kayak gitu?"
Key kembali diam dan sibuk nyetir.
Aku ingin sekali berteriak, "Terima kasih, ya Tuhan! Setidaknya Kau kirimkan seorang pangeran saja untuk menolongku malam ini. Meskipun itu harus Key."
Bukan lipstik!
MOBIL yang hingga saat ini belum kuketahui mereknya itu, berhenti tepat di depan pagar rumahku. Aku nggak segera membuka sabuk pengaman dan langsung pergi. Kami berdua terdiam di dalam mobil, memandang kosong objek keluar, di balik gelapnya malam.
"Ngngng ... Key, makasih, ya!" ujarku pelan. Kami langsung saling menoleh, dan kurasakan Key memandangku dengan cara lain.
"Kamu ... kamu lain kali hati-hati, ya!" pintanya.
Aku tertunduk, memikirkan kalimat Key barusan dengan dalam, dan setidaknya sedikit rasa ... malu. Kuanggukan kepala, lalu menyunggingkan senyuman terima kasih. Kuraih HP dalam tas, dan menemukan sekarang sudah pukul sepuluh malam.
"Aku ... aku pulang dulu!" pamitku, sedikit canggung. Entah mengapa rasanya, aku dan Key sepertinya mendapati situasi percakapan kami sedikit berbeda.
"Aku antar kamu," tawar Key tiba-tiba, membuka sabuk pengaman, berbarengan denganku.
Aku nggak menolak saat itu. Kubiarkan Key berjalan membuntutiku di belakang, hingga mencapai pintu depan.
Masih berjalan dengan tertunduk, kubalikkan badan dan menatap Key sambil tersenyum manis. Dia mendapatiku mencoba tersenyum dengannya. Dan dia pun tersenyum juga.
"Oke ... sampai jumpa. Met malem ...I" salamku melambai padanya.
"Tunggu tahan Key pelan.
Aku masih bisa mendengarnya. Kubalikkan badan dan menatap Key penuh arti.
"Kamu ... kamu masih babysitter-ku, kan?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Emang kenapa?" Alisku mengerut.
"Aku ... aku nggak jadi."
"Iiih ... kenapa, sih?"
"Nggak apa-apa. Sori kalo ganggu." Kami berdua terdiam lagi, kemudian saling tersenyum manis. Aku melambai lagi, masuk ke rumah. Kututup pintu dengan pelan, dan dapat kulihat Key masih berdiri di depan pintuku. Hm ... what an amazing night! Malam yang menegangkan sekaligus malam yang so sweet. Nggak pernah kusangka kalau yang namanya Dino tuh ternyata cakep banget! Tapi nggak pernah kusangka pula ternyata dia itu bajingan! Dasar brengsek. Huh, body masa kini ...
kelaku-an, masa gitu?!
Hiiiy ... malam yang menyeramkan tapi ingin kugarisbawahi pula malam ini sebagai malam yang manis. Key, nggak kusangka membuntutiku, lalu menolongku ketika aku benar-benar dalam "zona berbahaya". Alhamdulillah. Untungnya, masih ada orang yang bisa menolongku. Aku nggak tau lagi gimana nasibku selanjutnya seandainya Key nggak ada di sana tadi. Mungkin aku ... udah jadi individu baru yang penuh dengan trauma hidup dan noda hitam menempel besar di benakku.
Aku bergegas menuju dapur, menemukan mama masih membereskan piring-piring makan malam. Huh, kelihatannya banyak banget! "Hai! Gimana nge-date-nya?" goda mama, karena dia tau petang tadi aku hendak pergi kemana. Aku jujur sama mama kalau aku akan gathering dengan stranger dari Internet.
"Buruk. Dia berperangai buruk. Untungnya aku berhasil pergi dan ... kurasa nomor teleponnya akan kuhapus, atau kalau bisa kuganti nomor HP-ku dengan nomor yang baru. Setelah itu, sih ... aku jalan-jalan di BIP!" jawabku dengan sedikit mengubah cerita.
Mama tersenyum kecil, kembali menyibukkan diri dengan piring kotornya. Aku sempat heran mendapati piring kotor dalam jumlah yang banyak. Layaknya barusan ada.
"Banyak banget deh, Ma! Barusan siapa aja yang makan malam di sini? Orang-orang satu RT, ya Ma?"
Mama cekikikan. "Bukan. Bukan siapa-siapa. Cuma, yah, saudara sepupumu berikutnya. Michele, dan Elaine. Dia datang tepat lima menit ketika kamu pergi. Biasa. Lagi-lagi mereka liburan ke sini."
Hah? Sepupu lagi? Aduh, ya. Tinggal satu minggu menuju tahun ajaran baru, kenapa sih, saudara-saudaraku pada datang di minggu liburan terakhir seperti ini. Udah ada si Nabilahama si Sinka, masa sekarang ada Micheledan Elaine juga? Hiiih ... jangan-jangan aku tidur di kolong kasur malam ini. Tempat tidurku bakalan kelebihan muatan.
Ya ampun ... dunia serasa sesak, terlalu penuh manusia di kamarku.
Gdbuuug! Dugh! Dagh! Duuugh! Gdbuuug! Brak! Bruk!
Huh, lagi-lagi suara orang jatuh dari tangga kudengar malam ini. Kalau bukan si Sinka, pasti satu dari tiga sepupuku yang lainnya. Aku berbalik perlahan dan bergegas menuju tangga. Tuh kan, nggak jauh lagi. Sinka yang jatuh-lagi-lagi-malam ini.
"Ya ampun ... sapa sih, yang naro tangga di sini? " keluhnya, mengerang.
"Biasa aja, dong. Nggak usah lari-lari segala Ada apa, sih?" Aku membungkuk, membantunya bangkit.
"Itu ... itu ... itu ...I" Sinka tergagap-gagap menunjuk pintu depan.
"Itu kenapa?"
"Ngngng ... itu! Ya ampun, deh ... ah-ah-ah ... auw! Muah-muah-muah ... cilukba!" "Apaan, sih? Jijik banget deh, ah!" "Itu! Di pintu itu! Pintu itu!" seru Sinka sangat
panik.
"Kenapa, sih?"
Aku berjalan ke pintu depan, lalu perlahan membuka pintunya. Dan ....
Sama kagetnya dengan Sinka, aku menemukan Key masih berdiri di depan pintu rumahku.
" Key?" Aku mengernyitkan dahi.
Buuughl Sinka jatuh ke lantai ... pingsan.
Aku berlari ke arah Sinka.
"Sapa sih yang naro Bison ... di sana?" gumamnya kemudian.
Pluuukl Tengkuknya jatuh ke lantai. Benar benar pingsan sekarang.
Aduh, ya! Biasa aja deh, ah. Kayak yang ngelihat Justin Timberlake mampir ke rumah ini aja. Plis deh ... dia kan, cuma siKey,'
Aku menarik Sinka untuk dibaringkan di sofa. Namun ... ughf Berat! Ya ampun ... aku tuh lagi narik orang atau mobil, sih? Pokoknya, kalau Sinka bangun, ingatkan aku untuk memintanya diet. Ih, meskipun aku tau dia cuma 48 kg, tapi tetep aja bo! Nih cewek massanya lebih berat dari massa planet Mars!
Hop! Key tiba-tiba berada di depanku, dan mengangkat Sinka dengan mudah ke atas sofa. Aku membuntutinya dan langsung mengibas-ibaskan tangan di depan mukanya.
"Sin ... bangun, Sinka!" Aku menggoyangkan goyangkan badannya, tapi dia nggak bangun.
"K ... kenapa dia?" tanya Key.
"Gara-gara kamu ada di sini, tau! Dia kan, suka
sama kamu. Pantes aja pingsan juga. Kamunya sih, ada di sini!" Aku kembali mengibaskan tangan, juga sempat menggoyangkan tubuhnya agar dia bangun.
"Sinka ... halowww! Bangun, Sinka! Kenapa, sih? Hey! Bangun!" Aku menampar-nampar pipinya pelan, mengguncangkan bahunya, memijit legannya, menjambak rambutnya, menekan-nekan dadanya ... ya ampun! Diapa-apain aja kok, masih pingsan juga?!
Aku menoleh ke belakang, dan ... hey! Key hilangi Dia nggak ada lagi di sini. Ke mana dia? Dia pergi! Oh, cepat sekali dia hilang. Tapi ... hmh peduli amat, sih?
Lima menit kemudian, setelah menempuh perjuangan yang mendebarkan, dengan keringat basah mengisi kesabaran, akhirnya ... si Ovie bangun juga!
"Aduh ... kenapa sih, sofanya warna putih?" gumamnya pertama kali begitu membuka mata.
"Emang kenapa, sih? Sama aja, kan?"
"Gue pengin yang kembang-kembang di sana!"
"Udah deh, ah. Sini. Duduk. Kamu tuh aneh, pake pingsan segala!"
"Tadi! Bison! Ada Bison di pintu!"
"Nggak! Nggak ada apa-apa! Halusinasi kamu aja!" ujarku berbohong, berusaha menjaganya nggak pingsan lagi. Karena kemungkinan, Sinka akan pingsan kalo kusebutkan nama Key.
Sinka duduk dan mencoba bernapas dengan tenang. Dia menatap karpet, dan kuusap-usap tengkuknya, menenangkannya.
"Michele sama Elaine-nya mana?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Ama Nabilah. Luluran lagi di kamar mandi."
"Luluran lagi? Luluran pake apaan?"
"Yaaa ... pake scrub yang kemaren dipake luluran juga! Yang botol pink itu!"
"Aduh, ya! Berapa kali sih, harus kukatakan kalo tuh botol buat nyuci muka, bukan buat luluran! Kalo pengin luluran, kenapa nggak ke salon aja?!"
AKU menarik selimut menutupi dada, dan mencoba memejamkan mata. Pukul dua belas malam. Huh, gara-gara kedatangan saudara sepupu lagi, aku harus menemani mereka ngobrol ngomongin perjalanan mereka dari rumahnya ke sini.
Elaine, nggak lebih baik dari Nabilah ataupun Sinka. Mirip Dora the Explorer ketika memakai ransel, dan mirip Putri Huan Zhu ketika berkebaya. Agak manja dan cara bicaranya dibuat-buat. Eliane ini adalah saudara sepupuku, asal Garut.
Michele? Hm, apalagi ini, sama-sama nggak lebih baik untuk dibicarakan. Dia tinggal di Bale Endah. Satu sekolah denganku, tapi kami beda kelas dan kami nggak terlihat seperti saudara sepupu di sekolah. Michele anggota OSIS, sehingga nggak punya geng yang mendominasi sekolah. Bahkan, OSIS sendiri mulai meredup, terinjak oleh Kompilasi, Mozon, Rebonding Galz,
Jagad, dan Tweenies.
Handphone-ku bergetar. Aku menyingkap selimutku dan bergegas meraih HP di meja. Bu Nira menelepon.
"Halo!" sapaku.
"Oh, Ve... taukah kamu Dede ada di mana? Katanya dia mau ketemu kamu sore tadi, tapi ng-gak kembali sampai sekarang. Saya cemas. Setiap diteiepon, seiaiu direject. Saya yakin HP-nya aktif, tapi dia seiaiu menolak untuk menerima panggilan saya," ujar Bu Nira cepat, terdengar sangat panik.
"Tadi sih, ada di sini. Tapi kalo nggak salah, dia udah pulang jam sepuluh tadi."
"Oh ... kira-kira ke mana, ya? Saya khawatir. Dede nyetir sendirian malam-malam gini."
"Saya akan mencoba mencarinya."
"Nggak usah, udah malem. Kamu tidur aja! Biar saya yang nelepon temen-temennya. Maaf udah ganggu. Makasih."
Hubungan telepon pun terputus. Aku meletakkan lagi HP ke atas meja, dan berjalan pelan menuju kasur lipat.
Hm ... key ke mana, ya? Terakhir aku nge-liatnya sih, pas Sinka pingsan tadi. Tapi, dia tiba-tiba ilang gitu. Lenyap.
I thought it's better for me to go sleeping.
But ....
Aku nggak bisa tidur. key kupikirkan terus menerus. Ya ampun, dia ke mana, ya? Dia nggak ketemu Doni terus ngehajarnya, kan? Dia nggak
sakit hati karena aku usir dia, kan? Dia nggak nyoba buat bunuh diri, kan? Dia nggak kecelakaan mobil karena ngantuk, kan? Dia masih baik-baik aja, kan?
Oh ... aku stres! Sepuluh menit menjelang tidur yang menyiksaku. Aku nggak bisa tidur dan mimpi indah kalo key terus-terusan ada di pikiranku. Oh, key. Di mana kamu?
Tiba-tiba ....
Kudengar entakan kaki berirama, sayup-sayup di bawah sana. Aku mengenal irama itu. Irama lagu yang dimainkan key melalui piano beberapa hari yang lalu.
Aku menyingkap lagi selimutku dan menuruni tangga dengan cepat. Kutemukan mama tertidur di sofa, dengan keadaan teve menyala.
Irama entakan kaki itu semakin jelas di bawah sini. Tapi di mana? Dari mana asalnya suara itu?
Aku menoleh ke pintu depan yang ternyata belum terkunci dengan tirai yang menyingkap sedikit. Ya ampun mama, kok, bisa-bisanya lupa nutup pintu. Papa juga ke mana lagi? Akhir-akhir ini kok, jarang banget aku ketemu ama papa!
Suara itu. Ya. Suara itu berasal dari luar. Seseorang mengentakkan kaki, menciptakan irama lembut itu. Aku bergegas keluar dan menemukan key sedang duduk di kursi teras depan.
" key?" Aku melongo kaget, sedikit nggak percaya, sedikit heran, sedikit kesal, dan sisanya ngantuk.
key menghentikan entakan kakinya, lalu menoleh padaku. Dia tersenyum, bangkit dari du-duk dan menatapku dengan pandangan lain.
"Kamu ngapain di sini, key? Udah malem ... tadi mama nyariin kamu."
"Aku ... aku lagi, nungguin kamu!" katanya sedikit tersipu.
"Apa?"
"Boleh kan, aku nungguin kamu? Aku pengin ngajak kamu ke rumahku lagi. Ngasuh aku lagi. Kita bisa maen bareng lagi. Maen PS, maen piano, maen air. Aku janji bakalan nurut sama kamu dan mama sekarang," katanya lembut.
"Kamu?" Aku mengembuskan napas. " key. Dengerin aku, ya! Kemaren aku di rumah kamu tuh, kerja. Bukan buat apa-apa lagi. Dan masa kerjaku udah habis. Jadi ... kamu harus ngerti dong, kalau sekarang ... kalau sekarang kita harus mulai jalanin hidup seperti biasanya. Kita sebaiknya musuhan lagi. Maksudku, kita seperti dulu lagi. Kamu ngejek aku. Dan aku pun ngejek kamu. Sekolah bakalan gempar kalo tau kita akur-akur aja. Itu tuh ... itu tuh bagaikan melanggar kodrat yang udah dibuat."
"Jadi ... nggak boleh, main sama musuhku?"
" key
"Oke-oke aku ngerti," sela key, "aku tau kamu nggak mau kita akur karena, karena aku kayak gini, kan? Yah, silakan aja. Aku ngerti, kok. Aku yang salah. Kamu nggak berhak aku kejar cuma buat aku ajak jadi temenku. Oke, sekarang aku ngerti, aku nggak mungkin buat temenan ama siapa pun juga. Aku nggak pantes buat temenan ama siapa pun ...."
"Maksudku, tuh, key..”
"Iya-iya, udah. Nggak usah ngejelasin lagi. Aku udah cukup ngerti. Mana ada sih, cewek yang mau deket-deket ama cowok kayak aku? Cewek mana, sih? Oke, tiap cewek sekarang tergila-gila ama aku, tapi kan ... yakin deh, mereka jijik kalo tau aku kayak gimana."
"Nggak gitu, kok, key!"
"Udahlah. Aku tau aku nggak pantes lagi buat hidup."
" key! Jaga bic…”
"Terus,kenapa kamu nggak mau temenan sama aku?!" potong key membentak. "Aku tau aku ini nggak normal. Aku tau aku ini aneh. Tapi kenapa sih, cuma minta jadi temen aja nggak boleh?! Haram, ya? Kenapa, sih? Kenapa sih, nggak ada yang ngerti kalo aku tuh lagi coba berubah! Kenapa sih, nggak ada yang mau ngedukung aku buat berubah!"
Aku menunduk, terisak karena mulai melihat key berkaca-kaca. Emosinya sedang keluar. Bahkan isakan sakit di dadanya, semakin lama semakin menyesakkan telinga yang mendengarnya.
"Aku ... aku tuh punya salah apa, sih? Sampe cuma buat punya temen cewek aja nggak boleh. Aku tuh semenjijikan apa, sih? Aku tuh nggak ngerti. Penjahat aja masih dikasihani, kok. Masih punya temen, kok. Kenapa aku nggak? Aku sadar aku tuh lain. Aku tuh childish, manja, jahil. Ya semuanya, semua yang buruk yang ada di pikiran kamu, sebutin aja, itu pasti aku. Aku emang nggak
pernah jadi yang paling baik, nggak pernah jadi anak yang pinter, nggak pernah jadi anak yang rajin. Tapi, apa karena itu aku nggak boleh punya temen?"
key mulai menitikan air matanya. Aku melihatnya dengan jelas. Begitu aku mendongak, kulihat aura mukanya benar-benar menyedihkan. key marah padaku, aku yakin itu. Tapi kan, aku nggak bermaksud untuk menjadi seperti itu.
"Selama ini ... aku, selalu ngejauhin ama yang namanya cewek. Kamu pasti tau itu. Cewek-cewek yang nyoba buat ngedeketin aku, biasanya aku cuekin atau ... aku judesin. Kamu juga pernah, kan? Aku tau. Tapi ... kamu tau nggak sih, aku tuh gitu karena apa? Kenapa aku selama ini nggak pernah deket ama cewek? Aku tuh nggak mau nyakitin hati mereka. Aku tuh nggak mau mereka tiba-tiba nyesel waktu tau aku kayak gini!"
Aku menunduk, menatap lantai lagi.
"Dan ... kayaknya, aku yakin nggak akan ada cewek lagi, yang mau ... jalan bareng sama aku ... apalagi kamu. Kayaknya, huh, sia-sia ya ... aku mimpiin kamu? Aku ngelamunin kamu, ngeharepin kamu bisa jalan sama aku."
Aku mendongak menatapnya. Heran.
Dia bawa-bawa aku?
key tersenyum meledek. "Huh, aku emang cengeng, nggak jantan." " key...," lirihku.
key mengucek matanya, kemudian merogoh sakunya mengambil kunci mobil seakan hendak pergi.
" Ve. Sori, ya! Aku udah ganggu kamu selama ini. Aku udah ngejailin kamu. Aku udah ngerepotin kamu. Aku, aku emang bukan cowok yang berguna." "key
Dia tersenyum. "Aku ... aku pulang dulu. Sori udah ganggu kamu tidur. Selamat malam."
Aku menatapnya dalam. key mundur perlahan-lahan, mulai meninggalkanku di teras depan.
"KEY!" teriakku.
Dia menoleh, melambai riang padaku. "Aku, aku pulang dulu, ya! Aku ngantuk. Eh, Ve ... kemaren aku bisa tidur sendiri lho, nggak usah ditemenin mama. Hebat, kan?! Aku juga mandinya dua kali kemaren. Aku makannya sendiri. Oh, iya ... harvest moon yang di PS udah tamat Ve,. Kuda-nya aku kasih nama kamu. Hahaha ... nggak apa-apa, kan?!" serunya senang, berjalan ke arah mobil.
"KEY! Tunggu!" pekikku sangat keras. Akhirnya dia berhenti, namun diam nggak berbalik. Dari posisinya, dia mendengarkanku.
"Key ... maafin aku, ya! Sori. Aku nggak maksud buat bikin kita harus musuhan. Aku justru pengin temenan ama kamu. Cuma ... kita butuh sedikit penyesuaian dulu di sekolah."
Key menatapku lama. Kemudian, dia mengangguk kecil, dan berbalik lagi menuju mobilnya.
Aku berlari menghampiri dia. " Key! Kalo kamu ngantuk, tidur di sini aja! Bahaya nyetir malem-malem!"
Key memutar kepala sekilas, namun hanya
tersenyum. Kemudian, dia menekan alarm mobil. Tiba-tiba aku teringat kata-katanya "Aku nggak pantes lagi buat hidup". Dan entah kenapa, aku jadi kepikiran kalo dia bakalan bunuh diri malam ini di jalanan.
Hihihi sedikit klise dan ironis. Tapi kan,
kemungkinan seperti itu sangat ada.
" Key! Inget, ya! Aku harus masih bisa ngeliat muka kamu besok pagi!"
"Maksudnya?" Key mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil.
"Yaaa ... jangan coba-coba buat bunuh diri malam ini! Inget, kamu harus selamat sampe rumah. Aku harus masih bisa liat kamu besok. Kamu harus tetep hidup, jangan karena gara-gara tadi, kamu tiba-tiba bunuh diri. Sumpah, Key. Aku nggak bermaksud buat bikin kita musuhan selamanya. Yaaa ... seenggaknya, nggak terlalu banyak yang tau kalo kita tuh temenan. Masalahnya ...." Aku membungkuk dan berbisik, "Aku nggak mau cewek-cewek seantero jagad raya tiba-tiba ngedeketin aku cuma buat minta dideketin ama kamu."
Mudah-mudahan Key tau maksudku selama ini. Kemudian, dia tersenyum dan bertanya dengan manisnya, "Jadi ... kamu ... mau jadi temenku?"
Aku nyengir-nyengir, berpikir sebentar. "Ngngng ... kayaknya nggak, deh. Hihihi ... karena aku bagusnya jadi babysitter kamu!" Kami berdua tertawa kecil sekilas. Hingga Key akhirnya masuk ke mobil dan menurunkan kacanya untuk melambaipadaku.
"Ngomong-ngomong ... di mana ya, tempat di Bandung jam segini yang sepi banget dan enak buat bunuh diri?" tanya Key tiba-tiba.
"Eh-eh-eh! Enak aja! Hush, jangan ngomong yang nggak-nggak. Pokoknya, aku harus masih bisa ngeliat kamu besok! Inget! Kamu masih harus hidup."
"Hidup? Yang nentuin hidup itu Tuhan. Kita nggak tau kapan kita mati ... bisa aja besok aku ... mati."
"Iya-iya, aku ngerti." Aku menggeram kesal. "Pokoknya, seandainya iya kamu mati besok, kamu cuma mati karena penyakit! Bukan karena kecelakaan akibat bunuh diri. Udah ah, jangan sompral! Inget, ya, jaga diri baik-baik. Jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh."
"Penyakit? Oke, paling juga aku mati karena penyakit ... Cinta!" Ih, dasar genit,'
Key melambai lagi melajukan mobilnya meninggalkan rumahku. Aku nyengir heran sambil melambai. Setelah kutatap mobilnya hilang di belokan jalan, aku kembali ke dalam rumah.... Key hari ini kamu aneh! Dan kurasa aku ... mulai menyukaimu.
Namun betapa kagetnya aku, menemukan ada lima orang lagi sibuk melakukan sesuatu di ruang tamu. Ada yang mengutak-atik monitor, ada yang menyiapkan kamera, ada yang menulis sesuatu, ada yang dandan, dan ada yang membereskan sesuatu.
Layaknya sedang syuting.
"Hey! Kalian ngapain?"
"Kita ... kita cuma ngerekam yang barusan aja!" jawab Sinka, nyengir.
"Apa-apaan sih, pake ngerekam segala?! Sinka ngapain kamu bawa-bawa kameraku? Lele, kamu nulis apa, sih? Ilen ... kamu lagi ngeberesin apa dalem koperku? Mama? Mama lagi ngapain ama monitor komputerku? Ngapain juga sih, mama ada di sini? Dan Nabilah... kamu ngapain dandan di situ? Sudah kubilang kan, itu tuh maskara, bukan lipstik! Masa warnanya hitam?!"
Truth or Twist?
AKU langsung masuk ke kamar Andela. Kutemukan dia sedang asyik ngobrol dengan Mila. "Hey! Sori, angkotnya telat."
Kulemparkan tasku ke atas meja dan bergabung bersama mereka. Shania menggeser sedikit posisi duduknya agar aku bisa duduk. Lalu dua detik kemudian, kami tenggelam dalam gosip-gosip baru.
Andela dengan semangat menceritakan kencannya bareng Ryan, cowok playboy terakreditasi A. Aku kaget begitu mendengar Andela kencan bareng Ryan, tepat Sabtu malam minggu kemarin.
"Tapi dia payah." Andela tertawa kecil, mendelik genit.
"Kenapa? Kenapa?" Shania nggak sabar mendengar cerita Andela berikutnya.
"Yeah, he is stupid so far. Dia nggak tau gimana caranya ngiris beefsteak pake pisau kecil, bahkan cara menyedot bubble menggunakan sedotan. And sometimes he got nothing with my English!"
"Oya? Ryan seburuk itu?" tanyaku, mengambil keripik di atas meja.
"Ya! Tapi .Luna menyeringai, "The way he moves his motorcycle, keren banget! Ada deh, potongan Valentino Rossi di tangannya. Ya ampun, sempat kaget dan menegangkan juga. But that is amazing. Elo mungkin nggak percaya kalo gue dibonceng ama dia di motornya, terus dia ... belok-nya, Miring ke samping, hampir nyentuh tanah. Kayak MotoGP gitu, deh. Padahal itu di jalan raya!"
"Gileee ...!"
"Seems sitting in roiiercoaster! Jantung gue berdebar-debar terus. Ya ampun, sempet sem-petnya coba, dia ngelepas stang motor padahal motor lagi cepet-cepetnya! Ih, kayak Fear Factor, deh ... screaming."
"Hebat-hebat!" Shania bertepuk tangan, lalu meraup segenggam keripik, "Elo, gimana cerita tentang babymon-nya? Ceritain dong, da gue teh pengin tau keseharian elo dikarantina di sana selama seminggu ...."
Aku tersipu melihat Andeladan Shania memandangku penasaran. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa aku mengasuh Bison selama seminggu, tapi nggak mungkin. Aku masih terikat janji dengan Bu Nira untuk nggak mengatakannya pada siapa pun.
"Ngngng ... ya gitu, deh ... fun Nggak terlalu berat, kok. Biasa aja."
Tiba-tiba HP-ku bergetar.
"Tunggu bentar, ya!" seruku sambil meraih HP.
Key menelepon. "Halo?" sapaku.
'Hai... halo! Selamat pagi!"
"Pagiii!"
"Lagi ngapain ?"
"Kumpul-kumpul bareng temen. Biasa. Mumpung masih liburan."
"Oooh ... aku .. aku pengin ketemuan, dong!" "Emangnya ada apa?"
"Nggak ... nggak ada apa-apa. Yah, pengin ketemuan aja." "Kapan?" "Malem ini?"
"Emangnya kamu bisa keluar, malem ini?"
"Afaaa ... tinggal kabur aja, kok! Kemaren aku pulang jam satu malem."
"Hm ... ya udah, jam berapa? Di mana?"
"Di rumah kamu. Jam tujuh."
"Di rumahku, jam tujuh? Oke, sampe ketemu lagi, ya!"
"Daaagh!"
"Sapa tuh?" tanya Andela begitu aku mematikan HP. "Ngngng ... papa!" jawabku, berbohong, mengambil lagi sepotong keripik dan mengunyahnya asyik.
Luna dan Shania mengernyitkan dahi. "Papa? Kedengerannya kayak yang mau ketemuan ama cowok, deh." Andela mulai penasaran, dan mengintrogasiku.
Aku tersenyum lebar. "Papaku, kan ... cowok!"
Shania memiringkan kepalanya. "Elo mau ketemuan ama papa elo, di rumah, jam tujuh malem?"
"Yaaa ...." Aku tersenyum lagi, mencoba nggak terlihat panik.
"Dan, elo barusan nanya ... 'emangnya kamu bisa keluar malem ini', elo ngomong gitu ama papa elo?" "Ngngng Aku terjebak. Shania dan Andela saling melirik. Tiba-tiba .... Buuukh!
Andela menindihku di atas kasur hingga badanku benar-benar terkunci nggak bisa bergerak. Aku lupa kalau Andela juga pernah mengikuti pencak silat waktu SMP. Dan dia bisa mengunci siapa pun juga hingga nggak mungkin lagi berkutik.
Shania mengambil kesempatan ini dengan meraih HP-ku. "Tahan dia, Andela. Gue mau nyari nomor teleponnya. Ve, udah cukup elo menyembunyikan sesuatu dari kami. Gue teh tau elo tuh ngebohong barusan."
Shania akhirnya menemukan juga nomor itu di received caiis, atas nama B4ByM0nJ. Oh, syukurlah. Aku nggak menuliskan nama Key di HP, jadi Shanianggak mungkin ....
Oh! Shania nekat menelepon nomor itu!
Shania meletakkan HP itu di telinganya, dan menatapku sinis. Aku memberontak sekuat tenaga dariAndela, tapi nihil. Aku benar-benar terkunci. Kakiku pun nggak bisa bergerak-gerak.
"Mari kita cari tau, siapa babymon itu," gumam Shania sebelum panggilannya diangkat. "Hah sapa Key dari seberang.
Shania tersentak kaget, namun langsung mencari informasi nama yang ditelepon menggunakan caranya sendiri.
"Oh, hai ... gue Jessica Veranda. Usiaenam belas tahun. Sumpah, gueVe. Ngngng ... bisakah gue tau nama elo?" "Hah?" Key bingung.
"Sori-sori. Barusan kan, elo teh nelepon. Nah, gue teh kelupaan euy, nama elo. Jadi ... bisakah gue tau nama elo, plis
"Kamu pasti bukanVe!"
"Idih! Gue Ve!."
"Jangan dengerin! Jangan dijawab!" teriakku. "Tuh kan, kamu apainVe hah?" Shania memutus hubungan telepon. "Huh! Gara-gara kamu!"
Andela melepaskan cengkramannya, namun langsung berwajah cemberut. Keduanya kesal nggak berhasil menemukan nama orang yang barusan meneleponku. Sekaligus penasaran dengan siapa yang aku urus seminggu kemarin. Dan kurasa, untuk beberapa saat ke depan, akan banyak serangan jitu dari Andela maupun Shania untuk mengetahui siapa orang itu.
Lima menit kemudian ...
SIAL! Aku ditipu. Sekarang .... aku dikunci di kamar mandi Luna. "Hey! Buka!" teriakku, menggedor-gedor pintu.
"Dieeem!" balas Andela.
Aku cemberut dari dalam, berharap nggak terjadi hal apa pun di sini. Dari rencana yang kudengar, sepertinya mereka akan menelepon Key menggunakan nomor HP lain. Dan sepertinya, giliran
Andela yang akan bicara.
Beberapa menit waktu berlalu, akhirnya pintu kamar mandi dibuka. Kutemukan Andela dan Shania berdiri sinis menatapku. Mereka menyilangkan tangan di depan dada. Mengunci tungkai. Berdiri layaknya Mozon.
"Oh ... elo mulai merahasiakan hal ini?" seringai Andela.
Aku tersenyum lebar, nggak tau apa yang harus kukatakan. Hoh, aku benar-benar stucked. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. "Hai ... pagi ini ... cerah sekali!" senyumku semakin lebar.
"Ya, lumayan." Shania celingak-celinguk menatap jendela.
"Bodoh!" Luna mendorong kepala Shania. "Mari kita bahas hal ini!"
Andela berbalik mendahuluiku. Sepertinya, detik detik berikutnya akan menjadi detik yang menegangkan dan sangat serius.
"Tunggu! Sebelum kamu marah-marah padaku, aku ... aku ingin marah-marah padamu," sanggahku tiba-tiba.
Andela berhenti dan berbalik. "Gue tau, untuk itu, kita bicarakan hal ini di sana."
"Tapi, ini tentang Dino!"
"Iya ... gue tau. Ayo kita ke sana!"
Aku berjalan membuntuti mereka menuju tempat tidur Andela. Kami semua duduk melingkar lagi seperti tadi.
"Kita mainkan permainan Truth or Lies." tawar Shania.
"Nggak ada permainan seperti itu, bodoh!" Andela
berkacak pinggang, "Kita mainkan, permainan, Truth ... or Twist. Bicaralah dengan jujur atau berputar dua puluh putaran di pojok sana. Yang melempar pertanyaan, berhak menjawab pertanyaannya sendiri ketika dua yang lain selesai menjawab pertanyaannya. Dimulai dari yang duduk di kanannya, lalu kirinya, dan dirinya sendiri. Mengerti?"
"Ya-ya! Gue mengerti! Gue dulu ." Shania mengangkat tangan.
"Ya ... silakan. Tapi harus serius, Shania...!" Andela mendengus.
"Ngngng ... jujurlah Shania serius, "elo lebih suka mana, ceri di atas krim, atau ceri di dalam krim?"
" Shania!" Aku dan Andela menggeram, "yang serius!"
"Gue teh serius, tau! Sebab, gue teh suka bingung kalo bikin kue. Jadi ... enakan yang mana sih, ceri di atas krim, atau ceri di dalam krim," sungut Shania, "kalo bisa pake alasannya juga!"
Yang duduk di kanan Shania adalah aku. Jadi, aku harus menjawab pertama kali. Andela dan Shania sudah melirikku.
"Ngngng ... aku lebih suka ceri di atas krim. Karena lebih manis dan menarik."
Shania dan aku langsung melirik Andela. "Gue lebih suka cherry inside the cream. Lebih misterius, and mysthicai."
Aku dan Andela yang kini menatap Shania. "Sebenernya mah, gue teh nggak suka kalo ceri digabungin ama krim. Gue mah lebih suka ceri dijejerin bareng buah-buahan lain, terus krimnya
dipolesi selai dan sedikit rum manis," jawab Shania.
Menggunakan satu jurus pamungkas, aku dan Luna menjitak Shania . Kini, giliran Andela yang bertanya, karena dia mengacungkan tangannya terlebih dahulu. "Oke ... sekarang aku!" serunya, kemudian menerawang dan berpikir.
Dua detik kemudian, dia menatapku sinis dengan aura kemenangan. "Sebutkan, cowok ter-akhir yang bareng elo, dan apa hubungan kalian?"
Yang berada di kanan Andela adalah Shania, jadi aku nggak menjawab lebih dulu. Andela dan aku menatap Shania.
"Ngngng ... bolehkah twist-nya hanya ... dua putaran?" tanya Shania ragu-ragu. Jelas sekali dia menyembunyikan sesuatu dari kami.
"Dua puluh putaran tanpa parkir untuk istirahat. Terus berputar tanpa henti di pojok sana. Dan ... gue puterin lagu keroncong selama berputar."
"Gue benci keroncong, Andela ," desah Shania.
"Kalo gitu, jujurlah!" Aku dan Andela menatapnya penasaran. Benar-benar ingin mengetahui apa yang disembunyikan di balik pikiran Shania.
"Oke ... jangan kaget, jangan marah, jangan kesal, jangan bereaksi, jangan tertawa, jangan men-jauhiku, dan terutama jangan bilang siapa-siapa ... setuju?!" Shania mencoba deal.
Aku dan Andela berpandangan, lalu mengangkat bahu, "Terserah."
"Oh ... oke!" Shania menenangkan dirinya. Dia mengembuskan napas, sebelum akhirnya ngomong cepat, "Gue bareng Boby malam minggu kemarin,
kencan di restoran mahal, dia yang nraktir, lalu nembak gue jadian, dan gue ... nggak ... nggak ... nggak menolaknya."
Aku dan Andela melongo sebentar mendengar jawaban Shania, lalu berebutan bertanya demi meyakinkan apa yang kami pikirkan nggak benar-benar terjadi.
"Bukan Boby si Rimba, kan?"
"Bukan Boby -nya Jagad, kan?"
Dengan ragu-ragu, merengek, Shania manggut manggut pelan. " Boby si Rimba ... Boby Jagad ... gue ... gue teh nggak bisa nolak dia ... kalian harus ngerti gue ... Boby baik banget ... dia ... dia pangeran gue selama ini. Punten atuh ... kalau gue teh nggak bilang-bilang sama kalian," Shania memohon-mohon.
Aku dan Andela mengembuskan napas. Andela mencoba menenangkan diri tau Shania bisa-bisanya menjalin hubungan dengan Jagad. Tapi aku tidak. Masalahnya, aku juga punya hubungan sama Jagad, malahan sama ketuanya. Jadi, aku diam saja. Karena masalahnya, sudah ada dalam surat-an takdir, yang namanya Jagad tuh, seharusnya musuh kami. Mereka terlalu sering mengejek kami. Mestinya, kami balas menekan mereka. Sayangnya tidak.
"Oke ... Ve. Elo sepertinya akan lebih menarik," seringai Andela.
"Ya ... dan, tolong jelaskan maksud elo dengan Babymon, yang setelah kami hubungi, ternyata ... seekor Bison," lanjut Shania.
Aku mengembuskan napas. "Okeee Aku
tersenyum lebar. Hm ... aku harus berbohong. Aku nggak mungkin mengatakan kalau aku menjadi babysitter Ve selama ini. Aku harus mengatakan hal lain lagi.
" Ve, adalah kakak dari balita yang aku urus minggu kemarin," jawabku tertunduk. "Karena seringnya kami bertemu, makanya ... kemudian kami berteman. Sumpah, nggak lebih."
Giliran Shania yang melongo, diikuti lagi oleh Andela.
"Hanya segitu?"
"Kalian serumah?"
Aku mengangguk-angguk, berusaha tersenyum manis, bukan tersenyum lebar.
Tiba-tiba Andela menghela napas, dan bersiap bicara, karena sekarang gilirannya. "Oke sepertinya ... sekarang giliran gue."
Aku dan Shania menatapnya.
"Kalo gitu, gue juga mau jujur, kalo gue ... made some relationship with ... Hamids." Tik, tok, tik, tok!
Detakan jam dinding mengisi ruangan ini. Hening, senyap, dan sunyi.
Aku dan Shania melongo mendengar pernyataan-Luna.
"Relationship berbentuk perang dingin?" tanyaku. "Ngngng ... bukan."
"Elo jalan bareng ama dia selama ini?" tanya Shania. "Nggak juga. Kadang aku jalan bareng Ryanatau Fauzan."
"Kamu temenan ama dia?" tanyaku lagi.
"Yah."
"Elo jadian ama dia?" tanya Shania lagi. "Belum."
Aku dan Shania tersentak kaget."Belum? Apa maksudnya dengan belum ...?"
Andela panik, namun mencoba menenangkan diri-nya. Kemudian dia mengembuskan napas, benar-benar panjang, dan memulai pembicaraan beratnya. "Senin malam kemaren ... elo tau kan, gue nggak ama kalian buat nemenin Ve ke-temu Dino ... cause ...I meet, Hamids ... and Hamids ... trying to propose me to become ... his girlfriend." Andela tersenyum lebar, "Take it easy, Honey. Not answering him yet!"
"Ali itu cengo, Andela," cecar Shania. "Dia nggak cengo!. Dan gue suka dia."
"Hamids itu bodoh."
"Dia nggak bodoh dan hanya nggak konsen sama pelajarannya gara-gara mikirin gue terus. " Hamids itu nggak romantis."
"Gue nggak peduli. Nggak harus romantis, kan?" Andela sewot.
" Hamids itu nggak punya kucing di rumahnya."
"Stop! Shania!" teriakku dan Andela berbarengan.
"Gue kan, hanya mengingatkanmu, Andela. Sebelum elo berhubungan terlampau jauh." Shania tiba-tiba khawatir.
"Elo tuh kenapa sih, kok, cemas banget!"
"Dia itu personel Jagad, Andela. Jagad!" "Iya ... gue juga tau! Terus kenapa? Elo sendiri
pacaran ama Boby. Emangnya dia bukan dari sekte Jagad, hah?!"
"Diem!" teriakku memotong kegilaan pertengkaran mereka. "Bisakah kalian diam dan bicarakan hal ini baik-baik?" Aku menatap mereka dengan serius.
Shania dan Andela kembali pada posisinya. Mereka masing-masing mendengus, dan mencoba tenang.
"Oh, jadi semua cewek di sini mulai menyukai cowok-cowok Jagad itu, hah?!"
Semuanya terdiam begitu kulontarkan pertanyaan barusan dan saling melirik.
"Bisakah untuk sekarang kita melupakan mitos bahwa Tweenies itu bermusuhan dengan Jagad? Bisakah yang namanya Tweenies itu berteman sama Jagad? Nggak akan kiamat kan, kalo Tweenies temenan ama mereka?"
Semua orang diam, menunduk dan nggak berani merespons pertanyaanku. Lalu, tiba-tiba muncul kata truth or twist dalam benakku.
Aku belum memainkan giliranku. Kenapa nggak kutanyakan aja tentang Jagad, ya?
"Oke, giliranku. Jawab dengan jujur atau berputar dua ratus putaran, bukan dua puluh. Pertanyaannya ... gimana kamu memandang Jagad sekarang, apakah mereka pantas untuk kita jadikan teman, sebenernya mereka itu gimana menurut yang kamu tau, dan ... apakah ada saran untuk memperbaiki hubungan kita dengan ... Jagad?"
"Banyak banget soalnya," protes Shania.
"Kalau gitu, aku menunggumu berputar dua ratus
putaran beserta lagu keroncong dari radio," sambutku sinis, mencoba membuat setiap cewek menjawab sesuai hatinya.
Oke, yang berada di kananku adalah Andela. Aku dan Shania langsung meliriknya.
"Hm ... first, gue ngeliat Jagad sebagai geng cowok yang patut kita kasihani karena otaknya bodoh, terkenal karena keburukannya, dan sering kena razia BP. Jagad juga kumpulan cowok jomblo hanya karena pemimpinnya jijik banget dengan makhluk berspesies cewek," Andela menghela napas.
"Second, mereka sangat pantas kita jadikan teman. Kenapa nggak? Selama ini kita sudah dicap sebagai geng yang kocak, berbakat, terampil, en-ter-tain, rajin menabung, dan low profile. Gue garis bawahin, tow profile. Artinya, kita benar-benar down to earth and 'no problemo' with all kind of human in this world. Kita seharusnya bisa me-nerima Jagad bagaimanapun juga, karena itu ... karena itu nggak ada salahnya."
"Third. Gue nggak terlalu tau gimana sosok Bison juga Rimba. Hanya, seminggu ini, se-enggak-nya gue lebih tau gimana personality, Hamids. Sejujurnya, menurut gue, Hamids itu cowok yang baik, dan nggak bodoh-bodoh amat. Hamids itu cowok yang kocak, baik, perhatian, dan ... hihihi cute and handsome. Kalian mungkin nggak akan nyangka kalo ternyata Hamids ngelindungin gue dari preman jalanan empat hari lalu. Dia bener-bener perhatian. Oh ... di mana lagi gue bisa nemu cowok seperhatian dia. Inget, lho! Dia bener-bener perhatian!"
"Last, gue nggak punya saran, tapi gue mohon, gue pengin kita baikan ama Jagad. Kalo bisa sih ... ama tiga geng yang laen juga. Plis ... kita tuh sekarang naik ke kelas tiga. Gue nggak mau tahun terakhir gue, diisi dengan macam-macam persaingan, rival-merival, bermusuhan. Gue nggak mau. Jujur aja, bukan cuma ama Jagad gue pengin baikan. Ama yang laen juga."
Aku dan Shania kontan memeluk Andela. Benar juga kata-katanya. Untuk apa kita mengisi tahun terakhir di sekolah dengan bermusuhan?
"Oke ... giliran gue," ucap Shania, lirih, bahkan kurasakan dia mulai terisak menangis. Sepertinya, kata-kata Luna tadi menyentuh hatinya. "Kahiji, gue mandang Jagad ... gue teh ngeliat mereka, sebagai kumpulan cowok ganteng yang terkenal lantaran bodoh."
"Kadua, Jagad ... teh pantes kita jadiin temen. Bener. Gue mah malahan pengin temenan ama Jagad. Kenapa sih, kita teh mesti ngejauhin Jagad cuma karena mereka suka ngejek kita. Lagi pula, sedalem-dalemnya mereka ngejek kita, toh kita tetap bersinar di mata ratusan siswa beserta guru di sekolah. Kita tetap mempunyai fans club," Shania menghela napas. "Ingetin gue buat ngajuin proposal ke kepsek buat ngebangun sanggar Tweenies, oke!" tambah Shania, intermezzo.
Aku dan Andela mengangguk sambil tersenyum.
"Ketiga, gue juga cuma bisa ngebahasBoby Yang laennya sih, gue nggak tau. Menurut gue mah ... Ricky tuh, cute . Bobytuh bodoh karena
dibuat-buat, bukan bodoh beneran. Si eta mah cuma bercanda selama ini. Bener, dia nggak bodoh. Terus, Boby tuh, humoris banget. Ih, ngegemesin, deh. Waktu gue jalan ama dia, dia ngelawak terus! Ya tentu aja gue teh geli men-dengarnya. Ngegemesin weh lah. Te-o-pe be-ge-te. Plus ... tentunya ganteng banget. Mukanya manis. Lucu. Nggak kukuuu ....!"
Shania memeluk-meluk dirinya. Aku dan Andela mengerutkan alis, heran!
"Oke, kaopat. Gue nggak punya saran buat kita bisa baikan ama mereka. Tapi, gue juga pengin baikan ama mereka, sama kayak Andela. Baikan sama yang laennya juga. Supaya, tahun terakhir kita teh bener-bener so sweet. Dan, oh iya, Boby udah minta maaf ama kita, lho! Dia minta maaf karena udah ngerepotin kita. Bener. Atas nama Jagad pula. Dan ... dia katanya titip salam buat kalian. Salam buat Andela dan Ve juga, ya ... katanya."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar