Jumat, 30 September 2016
Palasik
Palasik adalah makhluk supranatural yang dipercaya oleh masyarakat Minang kabau. Palasik ini berwujud manusia yang memiliki ilmu hitam jahat tingkat tinggi.
Palasik juga sama seperti manusia pada umumnya, mereka memiliki pasangan dan berkeluarga lalu memiliki keturunan. Yg kemudian anak dari palasik tersebut akan menjadi palasik pula.
Palasik suka memangsa bayi, yang baru lahir, dan bahkan bayi yang masih dalam kandungan pun dapat di incar oleh palasik.
Pada zaaman dahulu, kalau ada bayi yang sakit, maka hal pertama yang terbesit dalam fikiran keluarganya adalah palasik.
Pada zaman yang sudah serba modern ini, mungkin sudah tidak ada lagi hal hal seperti itu. Namun percaya atau tidak, palasik masih ada. namun sudah tak sesadis zaman dahulu. Sudah tidak sefenomenal dahulu.
Nenek moyang zaman dahulu menyebutkan, Untuk mengetahui jika manusia itu adalah palasik atau bukan, bisa dilihat di wajah palasik tersebut. palasik tidak mempunyai parit di antara hidung dan bibir.
dan juga, pada cerita zaman dahulunya, jika wanita yang sedang membawa seorang bayi berjumpa dengan palasik, maka jangan lari, melainkan dekatilah si palasik sembari menuntun tangan si palasik ke bayi dan katakanlah bahwa "ini adalah cucumu", jika wanita tersebut menghindari palasik tersebut, maka dapat dipastikan anaknya akan meninggal secara perlahan.
Berikut contoh kisah nya:
Dahulu kala di daerah Baso, Agam Sumatra Barat, terdapatlah sebuah rumah, atau lebih tepatnya bisa disebut gubuk, berukuran kecil yang mana hanya ada 1ruang tamu, dan 1kamar tidur di persimpangan jalan menuju daerah Baso.
Disana hidup sepasang suami istri yang sudah memasuki umur 60an. Suaminya bernama Adam, dan istrinya berna Liyah. Mereka tidak dikarunia seorang anak pun. Rambut kedua pasangan itu sudah memutih, kulit keriput, dan gigi tinggal beberapa buah saja.
Pada suatu hari, datanglah sepasang suami istri dari rantau yang hendak menanyakan alamat kepada bapak Adam, bapak Adam mempersilahkan pasangan dari rantau tersebut untuk masuk kerumah beliau terlebih dahulu.
"Siapa namamu nak?" Tanya bapak adam kepada orang rantau tersebut setalah mereka dipersilahlan duduk.
"Saya Satria Pak, dan ini istri saya Intan"
"Kami sedang menuju kerumah Datuak Koto Nan Kayo, tapi kami kesulitan untuk menemukannya. Maklum Pak, saya sudah hidup dirantau sejak umur 5tahun." Lanjut Satria lagi setelah memperkenalkan dirinya dan istrinya.
ibu Liyah datang sambil membawakan 3gelas air putih, lalu kemudian menaruhnya di hadapan Bapak Adam, Satria, dan istrinya Intan.
"Ini minumlah dulu, mungkin kalian lelah sudah menempuh perjalanan jauh. Nak Satria merantau didaerah mana?' tanya ibu Liyah.
"Saya merantau di Medan buk, sudah 20tahun lebih disana, mengikuti dagang orang tua" jawab Satria sambil tersenyum lega setelah menelan stengah gelas air putih yang disuguhkan oleh Ibu Liyah.
"Ini istri kamu, Intan ya, tadi ibu dengar dari dapur, udah isi berapa bulan?" Tanya ibuk Liyah kepada Satria dan Intan sambil berusaha ingin memegang perut Intan yang tengah hamil 7bulan.
"Sudah 7 bulan bu" jawab Intan cepat sambil berusah menghindarkan kontak langsung ibu Liyah terhadap dirinya. Jujur saja, dia agak risih jika ada orang yang tidak ia kenal menyentuhnya.
Ibu Liyah sadar betul akan hal itu, namun ia masih tetap saja berusaha untuk melakukan kontak langsung dengan Intan. Hingga membuat Satria angkat bicara.
"Maaf buk, istri saya emang lagi suka aneh-aneh, kadang dia juga gak suka disentuh ama saya, maklum, bawaan kehamilan" ucap Satria ramah mencari alasan kepada Ibu Liyah.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang dan akhirnya mendapatkan alamat yang akan ditujunya, Satria pun hendak izin untuk pergi.
"Maaf pak, Buk, kita harus pergi, udah mau magrib, kita berangkat dulu ya."
Satria dan Intan keluar dari rumah tersebut, yang diantar oleh Bapak Adam dan Ibu Liyah. Dan tak lupa juga Satria mengucapkan terimakasih. Hingga akhirnya mereka masuk kemobil dan pergi meninggalkan rumah Bapak Adam tersebut.
Diperjalanan menuju rumah Datuak Koto Nan Kayo, terjadilah suasana keheningan diantara Satria dan istrinya.
"Kenapa Tan? Kok diem aja?" Ucap Satria masih fokus mengemudi di jalanan yang terlihat sepi dan mulai gelap.
"Gapapa Bang, cuma berasa kayak ada yang aneh aja" jawab Intan tanpa melihat suaminya.
"Hmmm ga usah difikirkan, namanya juga di tempat baru, jadi ya wajarlah." Ucap Satria sambil mengenggenggam tangan kanan istrinya untuk menenangkannya. Walaupun sebenarnya dalam diri Satria pun ia juga merasakan hal yang sama.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Datuak Koto Nan Kayo. mereka telah dinanti oleehh Datuak dan keluarga Datuak disana.
"Lama sekali? Tersesat ga?" Ucap Datuak kepada Satria ramah setelah mereka berjabat dan berpelukan, dan telah disuruh masuk ke dalam rumah. Sekarang mereka berada di ruang tamu, sambil duduk melingkar dengan semua anggota keluarga Datuak.
"Ah tidak Datuak, tadi saya dikasih petunjuk sama Bapak-bapak, nama Beliau Bapak Adam" jawab Satria.
Seketika raut wajah Datuak berubah,
"Bapak Adam?" tanya Datuak memastikan.
"Iya, kenapa emangnya Datuak?" Tanya Satria melihat kecemasan Datuak.
"Ah tidak apa-apa, tidurlah bersama-sama diruangan ini nanti ya." Ucap Datuak menghilangkan kegelisahan Satria. Satria pun menyetujuinya, tanpa mempertanyakan apa apa lagi.
bincang-bincangpun berlanjut hingga jam 10, mereka pun memutuskan untuk tidur bersama-sama dengan mengkondisikan ruangan.
Pada saat sudah memasuki dini hari, tiba-tiba berhembuslah angin yang sangat kencang hingga menghempaskan pintu antara ruangan utama dengan ruangan dapur. Sehingga membuat Intan terbangun. Samar-samar dari gorden jendela ia bisa melihat seraut wajah Bapak Adam dan Ibu Liyah. namun sayangnya hanya ada kepala dan lehernya saja, Spontan ia berteriak sehingga membangunkan Adam dan keluarga Datuak.
"Kenapa?" Tanya Satria sambil memeluk istrinya yang sedang gemetaran menangis ketakutan.
"Di jendela.." ucap istrinya tak sanggup melihat ke arah jendela yang menampakan potongan kepala dan leher tersebut.
Semua mata mengarah ke arah jendela, banyak ekspresi yang keluar, ada yang takut, terkejut, syok dan sebagainya.
Satria yang melihat hal tersebut hanya bisa terus istigfar mengucap nama Allah sambil terus menenangkan istrinya.
Suasana semakin mencekam, angin semakin kencang berhembus, kepanikan semakin menjadi.
Datuak Koto Nan Kayo, segera membacakan doa-doa, agar makhluk tersebut pergi. Setelah beberapa saat, angin pun mulai kembali berhembus normal, dan makhlus tersebut sudah tidak terlihat lagi di jendela.
Suasana kembali berangsur-angsur netral.
"Itu tadi palasik, dia mengincar janin yang ada dalam kandungan istrimu." Ucap Datuak kepada Satria memecah keheningan.
Satria terkejut teramat sangat, hingga tak mampu berkata-kata lagi. bagaimana tidak, makhluk yang disebut palasik tersebut mengancam nyawa calon buah hatinya bersama Intan."
"Besok kamu dan istrimu haruslah segera meninggalkan kampung ini, kembali saja lah ketanah rantau. Bisa bahaya jika kau tetap disini" ucap Datuak lagi kepada Satria.
"Apakah anak saya akan baik-baik saja Datuak?" Tanya Satria khawatir.
"InsyaAllah, maka dari itu, kau harus tinggalkan kampung ini, agar palasik yang ada di daerah ini tidak mengincar dan kemudian menghisap darah anakmu."
"Datuak akan buatkan penangkalnya, agar palasik tidak mengikutimu" lanjut Datuak.
"Besok kau sudah harus tinggalkan kampung ini, kembalilah saat anakmu sudah besar nanti" ucap Datuak sambil mengusap bahu Satria.
"Baik Datuak, besok saya akan langsung kembali ke Medan. Terimakasih Datuak" lanjut Satria kemudian mencium tangan Datuak.
Sampai menjelang subuh pun, Satria masih terjaga, ia benar-benar khawatir terhadap calon anak dan istrinya. Hingga saat setelah sholat subuh, barulah Satria tertidur.
Pada pagi menjelang siangnya, Satria dan Intan bersiap-siap untuk balik ke tanah rantau asalnya. Semua rencana untuk bersilaturrahmi dengan keluarga terpaksa disudahi.
Setelah diberikan penangkal palasik, Satria dan Intan pun pergi, kembali ke Medan, dengan tidak melewati jalan di dekat rumah Bapak Adam dan Ibu Liyah.
Mereka dilepas oleh Datuak dan keluarganya.
Satria dan Intan pun kembali hidup seperti sedia kala, mereka telah dikarunia seorang putra.
Biarlah kisah palasik tersebut menjadi kisah mistis yang pernah menjadi bagian tersendiri dalam kehidupan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)