Rabu, 04 Mei 2016

Pembahasan Singkat Tradisi-Tradisi dalam Komunikasi


1.       Tradisi Sibernetika
Teori ini memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam hal ini komunikasi sebagai proses informasi dan masalah yang banyak dihubungkan dengan keramaian, kelebihan beban, dan malfungsi. Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Sistem ini bersifat terbuka, sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi dilingkungan akan diproses didalam internal sistem. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

Tradisi ini juga nampak paling masuk akal ketika muncul isu tentang otak dan pikiran, rasionalitas, dan sistem-sistem kompleks. Teori informasi berada dalam kontek ini. Demikian pula konsep feedback menjadi penting dalam hal ini. Perkembangannya dapat pula disebut teori-teori yang dikembangkan dari teori informasi seperti yang dilakukan Charles Berger untuk komunikasi antar personal dan Guddykunt untuk komunikasi antar budaya.
2.       Tradisi Retorika
Tradisi retorika awalnya diajarkan oleh seorang ahli fisika dan filsuf Yunani, Aristoteles.  Aristoteles adalah orang pertama yang mengembangkan ketrampilan mengenai komunikasi publik. Retorika menurut Aristoteles bertujuan untuk mempersuasi, dan tidak diartikan sebagai alat untuk memprovokasi/menyuap bahkan memaksa audien. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasif  yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.
Tradisi Retorika adalah ilmu mengolah kata dengan tujuan mempersuasif, seni membangun argumentasi dan seni berbicara yang berorientasi pada pendekatan logis dan emosional dimana komunikan menggunakan seni dan metode dalam mempengaruhi komunikator.

Pada awalnya, tradisi retorika berhubungan dengan persuasif atau penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian berkembang mencangkup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
3.       Tradisi Semiotik
Tradisi ini memfokuskan pada tanda-tanda dan simbol-simbol. Komunikasi dipandang sebagai sebuah jembatan utama kata-kata yang bersifat pribadi. Tanda-tanda atau simbol-simbol yang ada mendatangkan sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin dibagi. Tradisi ini memang cocok untuk memecahkan masalah, kesalahpahaman, dan respon-respon subyektif. Tradisi ini juga banyak memperdebatkan bahasa yang meliputi tanda, simbol, makna, referensi, kode, dan pemahaman. Contoh: suhu tubuh yang panas bahwa tubuh itu terkena infeksi.
Semiotik atau penyelidikan simbol-simbol membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi,perasaan, dan kondisi di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda  tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi,melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.
4.       Tradisi Sosial Budaya
Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasiberlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan kebudayaan suatu masyarakat. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu.
Teori ini lebih menekankan gagasan dan tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
5.       Tradisi Kritis
Tradisi Kritis (komunikasi adalah refleksi penolakan terhadap wacana yang tidak adil).Tiga asumsi dasar tradisi kritis: Menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif. Ilmuwankritis menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang dalam konteks. Mengkaji kondisi-kondisi sosial dalam usahanya mengungkap struktur-struktur yang seringkali tersembunyi.
Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis. Bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah. Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia. Tradisi ini tampak kental dengan pembelaan terhadap kalangan yang lemah. Komunikasi diharapkan berperan dalam proses transformasi masyarakat yang lemah.
Tradisi ini berakar pada tradisi pemikiran The Frankfurt School ini menempatkan praktekkomunikasi sebagai bentuk pengorganisasian dari kekuasaan dan penindasan. Penguasa menjadikanmedia komunikasi sebagai alat kontrol sosial. Penguasa di sini tidak hanya pemerintah tetapi jugapara pemilik media sebagai Wacana kritis dari tradisi ini meliputi ideologi, tumbuhnyakesadaran, emansipasi, kekuasaan dan dominasi.
6.       Tradisi Fenomenologi
Teori-teori dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif mengintepretasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Teori ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.
Komunikasi dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini. Dan hal ini pula yang kemudian diadobsi secara teoritis untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang timbul yang mengakibatkan terkikisnya hubungan yang sudah kuat. Inti tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi fenomenologi dapat menjelaskan tentang khalayak dalam berinteraksi dengan media. Demikian pula bagaimana proses yang berlangsung dalam diri khalayak.
7.       Tradisi Sosio Psikologi
Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatian antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. perhatian pada perubahan sikap (attitude). Hubungan media dan khalayak tentunya akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Media menjadi stimulus dari luar diri khalayak yang akan menyebabkan terjadinya perubahan sikap. Kasus lain seperti komunikasi persuasi. Pengaruh komunikator terhadap perubahan sikap khalayak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar